Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 70


__ADS_3

Abi meringis kesakitan sambil menekan batang hidungnya yang mengucurkan darah segar. Hatinya masih terkejut, bukan hanya karena pukulan dari Indira, melainkan pelukannya juga. Untuk pelukan itu, Indira juga masih merasakan malu.


“Harusnya kau berterima kasih padaku,” kata Abi. “Jika tidak, kau takkan bisa melihat akhir cerita One Piece.”


Wajah Indira semakin merah karena malu. Setelah beberapa kali mengejek kegemaran Abi yang sama sekali tidak menggambarkan dirinya sehari-hari, kini Abi menemukan hal serupa dari dirinya. Tapi, ia masih berusaha membela diri. “Memangnya kenapa? One Piece itu keren, kok. Aku bangga menjadi penggemarnya. Dan aku tidak segila seseorang yang memenuhkan kamarnya dengan poster idolanya dan setiap melihat poster itu, wajahnya berubah mesum.”


“Ya, ya. Ejek saja. Sebentar lagi kau akan menangis karena kudengar Oda, penulis One Piece, sedang sakit parah dan kemungkinan besar tak tertolong lagi.”


“Jangan bicara omong kosong seperti itu!”


Amarah Indira bangkit kembali dan ia mengangkat kotak P3K itu lagi. Tapi kali ini tak jadi dihantamkannya pada wajah Abi yang sudah ketakutan karena masih merasa trauma.


 “Aku baru tahu kalau kau sekasar ini,” gerutu Abi. Ia memeriksa tisu yang digunakannya untuk menahan aliran darah dari hidungnya.


“Orang yang suka bercanda dengan kematian memang pantas dikasari. Seperti aksi bodohmu melewati jembatan tadi.”


“Sudah kubilang, percaya padaku. Aku punya lisensi stuntman spesialisasi mobil. Aku sudah belasan kali melakukan aksi seperti itu.”


Indira menatapnya, lalu memalingkan wajah sambil berkata, “Kamu sendiri yang membuat dirimu tidak bisa dipercaya.”


Abi merasa ada yang aneh dari sikap Indira tersebut. “Ada sesuatu yang tidak kuketahui?”


Indira masih menatapnya dengan tajam. Sebenarnya, ingin ia pendam perkataan ayahnya tadi. Tapi, ia ingin mendengar pembelaan dari Abi. “Tadi Jack bilang kematian Mischa karena penyakitnya dan kemungkinan besar kamu tahu itu karena Rama pernah mencuri rekam medisnya untukmu.”


Abi terdiam. Ia tidak tahu kalau Indira akan membahas hal itu. “Ya, memang. Aku pikir Rama sudah menunjukkannya padamu.”


“Ia memang cerita tentang pencuriannya, tapi akhirnya ia tidak menunjukkannya padaku karena kamu melarangnya dengan alasan tidak ada yang penting dari sana.”


“Memang, saat itu aku berpikir tidak ada yang penting karena kita menemukan tersangka, yaitu Benjiro. Tapi, makin lama aku menyadari kalau ia tidak melakukan pembunuhan.”


“Jika Mischa mati karena penyakit, lalu apa yang membuatmu berpikir kalau ada ‘orang berbahaya’ yang ingin menjebakmu?”

__ADS_1


Abi diam sejenak sambil berpikir. Lalu ia bertanya, “Kau tidak lihat yang mengejar kita tadi? Kau pikir, siapa yang menyuruh mereka?”


Kini giliran Indira yang terdiam berpikir.


“Aku paham kenapa Jack menceritakan hal itu padamu. Ia ingin kau menutup kasus ini sesegera mungkin karena semakin kau terlibat, semakin besar bahaya yang akan kau hadapi,” ujar Abi. “Ia tak salah. Seperti tadi -”


“Itu karena kamu sendiri yang menjual informasi tentangmu!”


Memang, Abi tak bisa membela diri jika Indira marah karena hal itu.


“Baiklah, aku minta maaf. Tapi, aku takkan bisa mendapatkan informasi yang kita butuhkan


-ika tidak melakukannya.”


Indira mengatur napas dan mencoba untuk membuang sisa-sisa amarah di hatinya. “Baiklah, sekarang katakan siapa ‘orang berbahaya’ itu. Mengingat aku sudah terlanjur berada dalam bahaya karenanya, aku sudah berhak untuk tahu.”


“Tapi itu akan -”


“Tidak ada tapi-tapian. Katakan sekarang!” potong Indira dengan sisa amarah yang belum berhasil dibuangnya.


“Bagaimana jika kita mencari makan dulu? Aku belum makan sejak perutku ditusuk.”


Dengan geram, Indira berkata, “Baiklah. Tapi, jangan coba-coba menipuku!”


                  *


“Ah, enaknya. Inilah rasa kebebasan sebenarnya,” celetuk Abi di sela-sela tegukan segelas jus alpukat dingin. Ia baru saja menghabisi sepiring nasi goreng. Matanya sesekali melirik Indira, yang terus menatapnya dengan tajam bak singa yang takkan membiarkan buruannya lepas.


Abi mengajak Indira makan di sebuah tempat yang cukup asing bagi pengacara wanita itu. Tempat itu adalah kafe sederhana yang memiliki view menarik. Terletak di daerah tinggi pinggiran kota, para pengunjung bisa menikmati cahaya kota yang hingar bingar dari atas, bak kumpulan lilin di atas kue tar yang besar. Andai bukan karena tingkah Abi yang menyebalkan, mungkin Indira akan berterima kasih karena diajak ke tempat seperti itu.


Meski sudah nyaris tengah malam, tempat ini masih saja ada pengunjungnya. Biasanya yang datang adalah para pasangan yang sudah melaksanakan kencan mereka dan ingin beristirahat sejenak dengan mengisi perut sambil melihat pemandangan yang indah. Biasanya, setelah ini mereka melanjutkan kencannya ke aktivitas yang lebih intim.

__ADS_1


“Bagaimana tempatnya? Bagus, bukan?” tanya Abi sambil melihat hamparan pemandangan yang terlihat dari jendela kafe yang terbuka. “Selain rumah dan masakan mamaku, tempat ini adalah hal yang paling sering kurindukan selama di rutan.”


Indira ikut menatap keluar. Ia setuju dengan perkataan Abi tentang keindahan tempat itu. “Jika kamu merindukan tempat ini sebesar itu, pasti karena ada sebuah kenangan indah yang kamu miliki di sini.”


Abi tersenyum. Dari ekspresi wajahnya terlihat kalau ia tidak menyangkal tebakan Indira. Beberapa tahun yang lalu, memang terjadi sesuatu yang sekarang berubah wujud menjadi sebuah kenangan indah baginya. Sayangnya, kenangan indah itu pasti menuntunnya pada kenangan lain, salah satu kenangan terburuk dalam hidupnya. Jika ada yang bertanya kenapa ia berhenti menjadi Advokat malam, maka kenangan buruk itu yang menjadi jawabannya.


“Apakah tidak masalah kalau kita tidak segera ke rumah sakit? Sudah ada orang yang tahu kamu kabur dari rumah sakit, pasti mereka akan mendatangi Rama dan membongkar penyamarannya,” kata Indira.


“Santai saja. Ini belum waktunya.” Abi masih menikmati jusnya sambil melihat ke arah jam yang menempel di dinding kafe. “Lagipula, melihat siapa yang mengejar kita, aku yakin wanita itu menjual informasi tentangku pada orang-orang yang akan membunuh kita. Mereka pasti lebih memprioritaskan kematianku. Jika polisi tahu aku kabur dari rumah sakit, tentu saja akan ada saingan mereka dalam hal mengejarku. Dan jika polisi yang menang, tentu aku hanya ditangkap dan juga mereka akan sulit untuk membunuhku.”


Kepala Indira mengangguk tanda ia berhasil mencerna maksud perkataan dari Abi.


“Sekarang, kamu sudah bisa mengatakannya,” kata Indira dengan suara ketus. Abi menghela napas panjang karena ternyata Indira mengingat janji yang tadi ia ucapkan.


“Ayolah, aku baru saja selesai makan. Ini akan menjadi pembicaraan yang berat. Butuh situasi yang benar-benar nyaman untuk menceritakannya.”


Wajah Indira semakin terlihat kesal. Ingin rasanya ia menghantamkan sesuatu ke hidung pria itu lagi. Niatnya segera lenyap ketika ponselnya berdering. Abi ikut melirik ke arah layar ponsel itu dan matanya terbelalak ketika melihat nama Jesse Arnold terpampang di sana.


“Jangan diangkat,” kata Abi setelah menahan tangan Indira yang hendak menekan tombol jawab panggilan.


“Ada apa denganmu? Ini dari salah satu klienku, asistennya tuan Jireh yang pernah kuceritakan dulu.”


“Aku tahu, makanya jangan diangkat.”


Indira menatap Abi dengan penuh kecurigaan. Ponselnya berhenti berdering, namun beberapa detik kemudian kembali berdering. Wajah pria itu mendadak serius, membuatnya kepikiran untuk memanfaatkan momen ini. “Aku akan angkat jika kamu tidak mengatakan siapa ‘orang berbahaya’ itu.”


Indira masih menunggu jawaban dari Abi dengan tangan yang menggoyang-goyang ponselnya. Abi tampak tegang karena ancaman yang dilontarkan oleh Indira. Di satu sisi, ia merasa sekarang belum waktunya untuk menceritakan tentang tuan Jireh pada Indira. Tapi, di sisi lain, ia tidak boleh membiarkan Indira mengangkat panggilan tersebut. Bukan tidak mungkin tuan Jireh bisa melacak keberadaan mereka hanya karena Indira berbicara dengan asistennya melalui telepon.


“Halo!” kata Indira dengan ponsel sudah melekat di telinganya.


Abi segera mengambil ponsel itu dari tangan Indira lalu menjatuhkannya ke lantai. Merasa belum cukup, ia menginjaknya hingga hancur.

__ADS_1


“Tuan Jireh! Orang berbahaya itu adalah tuan Jireh,” ujar Abi dengan napas tersengal-sengal.


Indira yang masih terkejut dengan aksi Abi hanya melongo. Matanya mulai berkaca-kaca seperti hendak menumpahkan air mata. Dengan lirih, ia berkata, “Aku tidak benar-benar mengangkatnya. Ponsel itu berhenti berdering dan aku hanya meletakkannya ke telinga dan pura-pura menjawabnya.”


__ADS_2