
Abi menatap pria dengan bekas luka di pipi kirinya itu. Ia tahu suatu saat akan berhadapan dengannya, tapi tak menyangka jika saat itu datang secepat ini.
“Silakan duduk. Banyak hal yang ingin kuceritakan padamu,” kata pria itu. Karena Abi tidak bergerak, ia memberikan isyarat pada sipir yang membawa Abi untuk menyuruhnya duduk.
“Duduk!” perintah sipir itu sambil mendorong Abi dan memaksanya duduk. Kemudian ia duduk di sudut ruangan sambil mengintip ponselnya.
“Mungkin kau lupa denganku. Aku adalah -”
“Reynold Harris. Lahir di Dumai, 27 Juli 1985. Golongan darah O. Alamat menurut KTP, jalan Bunga Perjuangan No. 4B kelurahan Tanjung Jati kecamatan Bukit Raya, namun rumah tinggalnya di perumahan Royal Palace blok A29. Pangkat terakhir adalah Brigadir Polisi, berkali-kali gagal naik pangkat karena tindakan-tindakan indisipliner yang dilakukannya. Anehnya, ia tak pernah dipecat.”
Reynold terpana sejenak lalu tertawa. Ia bahkan memberikan tepuk tangan untuk penjelasan panjang dari Abi tentang identitas dirinya.
“Wah, kupikir kau tidak mengingatku, rupanya kau mengenalku lebih dari pacarku. Aku akan mengoreksinya sedikit. Aku tidak naik pangkat bukan karena gagal, tapi karena sengaja. Pangkat tinggi akan memberikanmu tanggung jawab yang tinggi serta perhatian yang tinggi. Aku tidak suka, karena itu akan menyulitkan pekerjaan sampinganku. Kenapa aku tidak dipecat meski kerapkali melakukan tindakan indisipliner? Karena beberapa orang penting membutuhkanku.”
Abi tahu kalau pria itu mencoba untuk mengintimidasinya dengan menceritakan beberapa rahasia kotornya dengan percaya diri.
“Aku juga berpikir kau tidak mengingat janjiku lima belas tahun yang lalu.”
“Tentu aku ingat. Aku masih ingat wajah bodoh tak berdayamu yang mengatakan akan membalas dendam pada kami melalui hukum. Itu adalah salah satu komedi terbaik yang pernah kudengar. Lalu, apa yang sudah kau lakukan selain mencari tahu biodataku?”
“Kau tak perlu tahu. Tunggu saja dengan sabar.”
“Aku hanya khawatir kau kehilangan motivasi untuk balas dendam. Lima belas tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menyimpan dendam. Padahal aku sudah tidak sabar untuk melihat pembalasan dendam seperti apa yang ingin kau lakukan pada kami,” ejek Reynold. “Atau, apakah aku harus memberikanmu sedikit motivasi?”
__ADS_1
Gema suara tawa polisi bertubuh besar itu kembali memenuhi ruangan. Abi penasaran dengan motivasi yang ditawarkan oleh Reynold. “Silakan saja. Itu akan membuatmu semakin menyesal.”
Reynold merogoh kantong dan mengeluarkan beberapa lembar foto. “Aku baru saja menangkap dan menginterogasi pelaku pembakaran rumah. Mungkin kau mengenalnya.”
Awalnya Abi tidak ingin terprovokasi dengan tidak melihat foto-foto itu, namun ia penasaran dan meliriknya. Matanya terbelalak dan kini ia tidak lagi sekadar melirik, tapi sampai memelototi foto-foto itu.
Di foto itu ia melihat ibunya yang dalam kondisi menyedihkan. Wajahnya penuh dengan luka-luka lebam. Ia melihat ke arah Reynold dengan tatapan penuh amarah. Meski menyadarinya, ia sudah tidak peduli telah masuk ke dalam jebakan polisi jahat itu.
“Kau yang melakukannya?” tanya Abi dengan suara yang semakin berat.
“Sebenarnya aku sedang tidak ingin memukul wanita tua, tapi polisi-polisi di sana takut melakukannya. Terpaksa aku turun tangan,” kata Reynold sambil menggerak-gerakkan tangannya seakan ingin menunjukkan pada Abi bagaimana ia memukul ibunya.
Kemudian Abi menggebrak meja dan telapak tangannya jatuh ke atas foto-foto itu. Ia meremas dan mengoyaknya. Wajahnya memerah karena emosi yang sudah memuncak hingga ubun-ubun kepalanya.
“Kenapa? Kau ingin menakut-nakutiku dengan pasal-pasal? Silakan. Aku takkan takut. Kau pikir aku bisa bertahan menjadi polisi sampai sekarang karena pasal-pasal?”
Reynold menepuk pipi Abi seakan ingin membuatnya semakin marah. Ia bahkan mengeluarkan selembar foto lagi. Foto saat ibunya terkapar di lantai dan ia mengarahkan tinjunya ke pipi sang ibu sambil tertawa.
“Sepertinya aku salah. Aku tak bisa membalas dendam padamu hanya dengan mengandalkan hukum. Tak ada pasal yang cukup untuk menghukum orang sepertimu.”
Tiba-tiba Abi menarik kerah jaket Reynold dan membenturkan kepalanya ke kepala polisi itu. Tak cukup sampai di situ, ia melemparkan tinju sehingga Reynold hampir terjatuh dari kursinya. Sipir yang sedari tadi duduk di pojok terkejut. Ia segera memasukkan gawainya ke kantong dan segera menarik tubuh Abi.
“Brengsek! Brengsek! Brengsek!” teriak Reynold sambil memegang pipinya yang sudah lebam. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Kemudian, ia melemparkan tinju berkali-kali ke wajah dan perut Abi yang sedang ditahan oleh sipir.
__ADS_1
Kini Abi yang tersungkur. Ia memegang perutnya sambil meringis kesakitan. Kepalanya pun terasa pusing karena hantaman tinju Reynold yang besar. Polisi itu menatap si sipir seakan ingin menyalahkannya karena kurang sigap dalam mengantisipasi serangan dari Abi.
“Sekali lagi aku melihatmu menyentuh ponsel sialan itu, aku akan melaporkanmu pada kepala rutan,” ancam Reynold. Kemudian ia mengarahkan pandangannya kembali pada Abi. “Bawa dia ke sel strap. Kurung dia di sana sampai lukanya sembuh. Aku akan bicara pada kepala rutan tentang itu.
Sipir itu mengangguk lalu membantu Abi berdiri. Ia menarik Abi untuk membawanya ke sel strap, seperti yang diperintahkan oleh Reynold. Sementara, polisi bertubuh besar itu masih memegang pipinya. Ia memukul meja untuk meluapkan kekesalannya, sebelum pergi dari sana.
Sementara itu, Abi sudah berada di depan pintu sebuah sel. Ia sedang menunggu sipir yang sibuk mencari kunci sel yang tepat. Setelah berhasil, ia membuka pintu sel dan mendorong Abi masuk ke dalam.
Sel strap seperti penjara di dalam penjara, sebab di dalam ruangan ini narapidana atau tahanan dibatasi geraknya untuk bersosialisasi dengan sesama narapidana atau tahanan lain. Biasanya, para narapidana atau tahanan akan dimasukkan ke dalam sel ini jika mereka melakukan pelanggaran. Dengan kata lain, sel strap bisa dikatakan sebagai ruang hukuman.
Abi duduk menghadap tembok sejenak, lalu membaringkan tubuhnya. Ia memegang perut di bagian yang tadi dipukul oleh Reynold dengan keras. Setelah melihat kondisi tahanannya, sang sipir mengunci pintu dan pergi.
Keheningan menyergap sel itu. Tak ada suara yang terdengar kecuali dengungan nyamuk yang sedang mencari mangsanya. Mata Abi yang sedari tadi terpejam kini dibukanya. Ia melihat ke arah pintu dan tidak ada tanda-tanda seseorang melihatnya.
Ia merogoh celananya lalu mengeluarkan sebuah benda yang tak lain adalah ponsel. Itu adalah ponsel milik sipir tadi. Abi membuka kunci layar dengan pola yang sudah dihafalnya saat sang sipir menemaninya bertemu dengan Indira beberapa waktu yang lalu.
Dengan lincah, jari jemari Abi bergerak di atas layar. Setelah berhasil menonaktifkan nada deringnya, ia mulai membuka akunnya lalu masuk ke penyimpanan cloud. Di sana banyak sekali tersimpan berbagai folder yang diberi nama beberapa orang.
Selama ini Abi mendedikasikan hidupnya untuk menyelidiki gerak-gerik orang-orang yang terkait dengan kasusnya beberapa tahun yang lalu. Ia rela berganti pekerjaan sebagai penjaga warnet, pedagang online, office**boy, satpam klub malam dan pengemudi ojek online agar dapat menyelidiki mereka untuk mempersiapkan pembalasan dendamnya.
Semakin ia menyelidiki, semakin banyak kejahatan mereka yang terungkap dan semakin banyak juga nama yang terlibat. Tak sedikit orang-orang itu memiliki jabatan penting di kota ini. Dan tanpa sadar, ia menikmatinya. Karena memiliki banyak rahasia dari beberapa orang penting, ia mulai tidak lagi mengenal rasa takut. Ia seperti memiliki senjata yang sangat kuat.
Kemudian, ia berhenti mencari. Layar ponsel itu menampilkan sebuah foto yang ia butuhkan. Foto Reynold, pria yang tadi datang untuk memancing amarahnya, sedang bermesraan dengan seorang wanita di dalam kamar. Abi tersenyum, mengunduh foto itu dan beberapa foto yang sejenis, lalu logout dari akunnya. Ia punya rencana besar untuk hari esok.
__ADS_1