
Regina membuka pintu dan mendapati Iptu Nyoman sedang terlihat stres. Ia melihat file video yang baru saja diberikan oleh Tracy Ross, artis cantik yang mengaku sebagai pacar mendiang Mischa.
Tapi, bukan itu alasan utama ia mengalami stres saat ini. Berita tentang penyelidikan pihak kepolisian terkait ucapan Abimanyu Alexander di sebuah wawancara eksklusif, di mana polisi menyatakan semua itu adalah bohong, yang menjadi pemicu stres sang Iptu. Sebelum wawancara itu ditayangkan, ia sudah mendapatkan kabar itu lengkap dengan bukti-buktinya, baik tentang panti asuhan yang berkamuflase menjadi sarang kejahatan maupun tentang terowongan di penjara.
“Bagaimana, Pak?” ujar Regina meski mantan atasannya tersebut tidak terlalu senang melihat kedatangannya. Ia juga duduk di hadapan Iptu Nyoman meski belum dipersilakan. “Saya juga terkejut dan mencoba menyangkal ketika ada orang memberitahukan hal yang sama pada saya. Apalagi, saya sangat tahu besarnya loyalitas dan rasa hormat Bapak terhadap kepolisian.”
Iptu Nyoman masih belum bersuara. Ia menatap Regina tajam dengan suara gertakan giginya. Memang, Regina tidak salah. Ia hanya kesal dan ingin melampiaskannya pada Regina karena sesuatu yang selama ini ia percaya harus diakuinya telah rusak. Sesuatu yang dimaksud adalah integritas seluruh anggota kepolisian.
“Lalu, apa maumu sekarang?” tanyanya dengan nada pasrah.
“Asal Bapak tahu, saya tidak bangga ketika mengatakan semua ini pada Bapak. Bahkan, tujuan saya menceritakannya adalah agar Bapak ikut bersama saya untuk memperbaiki kerusakan ini. Tapi, semua kembali pada Bapak lagi.”
Iptu Nyoman terlihat ragu dengan tawaran Regina. Tapi, ia tak punya pilihan lain. Seperti kata Regina barusan, ia ingin memperbaiki kerusakan ini, yang sempat membuatnya nyaris malu memiliki status sebagai polisi.
“Baiklah, apa rencanamu?”
Regina tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Iptu Nyoman.
*
Indira mencari kunci kantornya di antara tumpukan kunci dengan teliti. Matanya sudah mulai kabur sehingga kali ini lebih sulit dari biasanya. Akhirnya, ia menemukannya. Segera ia menggunakan benda itu untuk membuka pintu. Kemudian, ia masuk dengan langkah gontai. Hari ini sangat melelahkan baginya.
__ADS_1
Tanpa Indira sadari, di belakangnya ada sosok yang sudah mengikuti sejak dari halte bus. Ia adalah Jesse Arnold. Dengan senjata jenis Berreta 71 Kaliber 22 yang dilengkapi oleh peredam suara tersembunyi di balik kemejanya, pria itu beraksi dengan penuh percaya diri.
Perintah tuan Jireh sangat jelas, yaitu mengakhiri hidup seorang pengacara wanita bernama Indira Christina. Meski sempat tertarik dan mengaguminya, Jesse Arnold lebih bahagia bila bisa membunuh wanita berambut pendek tersebut. Ia melihat Indira Christina sebagai titik lemah tuan Jireh, sosok mengerikan yang sudah menjadi teladannya sejak ia masih muda dan baru berkarir di dunia hitam ini.
Ia memperhatikan ke sekeliling gedung. Indira telah masuk dan mengunci pintu kantornya. tebakan Jesse, ia sedang menuju ke lantai dua yang dijadikan sebagai tempat tinggal. Kemudian, pria itu menemukan atap jendela yang berbaris seakan memberikannya jalan untuk naik ke lantai dua. Dengan sigap, ia memanjat atap tersebut hingga bisa mencapai lantai dua sebelum Indira.
Sepertinya keberuntungan sedikit berpihak padanya. Ia menemukan sebuah jendela yang tak dikunci. Tanpa ragu, ia masuk melalui jendela tersebut. Ternyata itu adalah jendela dapur. Mendengar langkah Indira yang baru saja mencapai lantai dua, Jesse segera merapatkan tubuhnya ke dinding sehingga keluar dari sudut pandang wanita itu.
Jesse mengintip dengan perlahan. Terlihat Indira sedang duduk di depan televisi dengan tubuh nyaris rebah di atas sofa. Ia menghidupkan televisi dan menontonnya dengan mata hampir tertutup. Ia benar-benar lelah.
Tangan Jesse mulai terangkat dan kini moncong pistolnya sudah mengarah ke kepala Indira. Dengan sekali menggerakkan jarinya, maka nyawa Indira akan melayang.
Tiba-tiba Jesse merasakan sesuatu bergerak dengan cepat dari sebelah kirinya. Ia menoleh ke arah tersebut, ternyata sebuah kursi melayang cepat ke arahnya. Dengan refleks, ia menghindar sehingga kursi itu mengenai dinding di sampingnya dan hancur.
Jesse melihat ke arah Indira dan targetnya itu sudah tidak ada di tempat. Sepertinya, mereka sudah menduga kehadirannya. Kemudian, ia kembali menatap Rinjani tajam, lalu memasukkan senjatanya kembali ke balik kemejanya. Ia pun memasang kuda-kuda, menandakan siap untuk melawan Rinjani dengan tangan kosong.
“Menyenangkan. Aku bisa membunuh lebih banyak malam ini.”
*
Helikopter yang ditumpangi oleh tuan Jireh baru saja mendarat di sebuah lahan kosong yang luas dan sepi. Pria tua itu turun dan menyuruh helikopter itu pergi. Sang pilot sempat ragu karena tempat itu benar-benar sepi dan hari sudah malam. Namun, karena tuan Jireh yang memerintahkannya, ia pun menurut dan meninggalkannya sendirian.
__ADS_1
Selepas kepergian helikopter tersebut, tuan Jireh hanya berdiri saja sambil melihat ke sekelilingnya. Ia melupakan sejenak sosok yang bernama Abimanyu Alexander dan mengingat kembali masa lalunya bersama tempat tersebut. Meski masih belum terlihat apapun di sana, ia berpikir tempat itu adalah hartanya yang paling berharga saat ini.
“Wah, ternyata aku memang orang yang hebat.”
Terdengar sebuah suara datang dari kejauhan. Tuan Jireh menatap ke arah datangnya suara tersebut. Genggaman tangannya pada tongkat yang menopang tubuh tuanya semakin erat. Suara itu, suara yang akhir-akhir ini mampu meningkatkan amarahnya dengan mudah, akhirnya ia dengar secara langsung.
“Baiklah, aku mengakuinya,” ujar tuan Jireh. “Tapi, bukan berarti kau bisa mengalahkanku dengan mudah.”
“Ayolah, aku tahu kau bukan penjahat dengan kekuatan super. Membunuh pria tua sepertimu di tempat seperti ini bukanlah hal yang sulit.”
Tuan Jireh tertawa. Lalu, ia seakan tak menanggapi serius ucapan Abi. “Aku juga mengakuimu hebat karena aku tahu kau serius dalam perkataanmu untuk melawan hanya dengan menggunakan hukum. Jika seandainya saat ini kau membunuhku, aku tetap bahagia karena telah salah menghormati lawan.”
Sebenarnya, tuan Jireh tidak perlu merasa khawatir karena di balik jasnya ada pistol jenis Glock 17 yang bisa ia tembakkan kapanpun ia mau. Ia memang tidak punya kekuatan super, tapi keahliannya menggunakan senjata api tidak perlu diragukan lagi.
“Jadi, apa tujuanmu ingin bertemu denganku?” tanya tuan Jireh dengan suara berat.
“Sepertinya kau sedang buru-buru sekali. Memang, penjahat kelas kakap selalu punya kesibukan,” kata Abi dengan gayanya yang santai. “Baiklah, aku akan langsung ke intinya saja. Tentang pulau ini.”
Tuan Jireh sepertinya tidak suka dengan pembahasan tersebut. Ia menunduk sejenak lalu menghela napas panjang.
“Tanyalah sepuasmu karena setelah ini kau akan mati.”
__ADS_1
“Hei, santai sedikit, Pak Tua. Aku tahu kalau pulau ini adalah harta terbesarmu. Meski aku ragu esok masih akan seperti itu lagi.”
Abi tersenyum lebar. Ia semakin menikmati situasi ini, terutama ketika melihat tuan Jireh semakin kesal padanya.