
Indira berjalan mondar-mandir sambil menggigit kukunya. Di depannya, Abi hanya bisa duduk sambil memandang pengacaranya itu. Abi tahu apa yang dikhawatirkan Indira dan menurutnya itu adalah hal sepele. Masih banyak hal yang lebih layak untuk dikhawatirkan sejak ia memutuskan untuk membelanya .
“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau punya catatan kriminal?” tanya Indira. Nada bicaranya tidak lagi sesopan kemarin.
“Bagaimana aku menceritakan hal seperti itu kemarin? Bahkan sebagai pengacara, kau sama sekali tidak bertanya tentang kasusku. Setelah menandatangani surat perjanjian jasa, kau pergi begitu saja.”
Indira terdiam dan berpikir sejenak setelah ucapan Abi itu. Memang benar yang dikatakannya. Kemarin ia terlalu gugup dan berpikir sudah membahas kasus terlalu banyak karena menjawab satu pertanyaan dari Abi.
Setelah menyadari kesalahannya, Indira duduk dan mencoba untuk lebih tenang. Ia membuka dokumen yang ada di atas meja dan membacanya dengan teliti. Meski ia sudah melakukannya berkali-kali sebelum datang ke rutan. Abi tersenyum melihat tingkah Indira yang tergolong aneh bagi seorang pengacara.
“Baiklah, kita akan membahas tentang kronologis kejadian menurut sudut pandang Saudara. Mohon Saudara ceritakan semua yang terjadi di hari penangkapan itu.”
Abi tersenyum kembali karena ucapan Indira yang kembali dalam mode sopan.
“Saat itu aku menunggu pesanan di belakang mal Sukajadi. Tiba-tiba masuk pesanan pengantaran barang yang lokasinya sekitar 3-5 kilometer dari tempatku menunggu. Saat sampai sesuai di titik penjemputan, aku melihat sebuah rumah besar dengan pagar yang tinggi. Itu adalah rumah di mana mayat Mischa ditemukan.” Abi diam sejenak agar catatan yang ditulis Indira tidak tertinggal terlalu jauh. “Seorang pria keluar pagar dan memberikan kardus kecil berisi paket yang akan kukirim ke suatu tempat. Penampilan pria itu mirip Mischa, tapi aku tidak yakin karena aku baru sekali melihatnya di televisi. Tarifnya tiga puluh satu ribu delapan ratus. Ia memberikan uang seratus ribu dan berniat pergi tanpa meminta kembalian. Namun, aku memaksanya untuk menerima kembalian, enam puluh delapan ribu dua ratus. Di tengah perjalanan mengantarkan barang ke alamat tujuan, dua orang polisi menghentikanku dan langsung mencurigai paket yang ada di tanganku. Lalu salah satu di antara mereka membukanya dan ternyata itu adalah narkoba. Setelah itu, aku ditangkap dan di sinilah aku berada sekarang.”
Setelah berhenti menulis, Indira menatap Abi seperti merasa ada yang kurang dari kronologi itu. “Saudara tidak masuk ke rumahnya?”
“Tidak.”
“Lalu, kenapa bisa ditemukan beberapa benda yang ada sidik jari saudara di rumah itu?”
Abi menaruh tangannya yang terborgol itu ke atas meja agar sikunya dapat menopang tubuhnya yang mencondong ke arah Indira. Pengacara wanita itu tahu kalau Abi ingin membisikkan sesuatu padanya dan ikut mencondongkan tubuhnya.
“Benda-benda itu kusentuh saat interogasi pertama, sebelum mayat Mischa ditemukan. Mereka menawariku minuman dengan menggunakan gelas itu dan rokok beserta pemantik perak yang ada di lokasi itu.”
“Bagaimana dengan pisau? Tidak mungkin polisi memberikanmu pisau saat interogasi.”
__ADS_1
“Bukan pisau. Mereka memberikanku sendok plastik tebal untuk mengaduk minuman di gelas. Sendok itu dipatahkan dan dijadikan gagang pisau yang ditemukan di TKP.”
Indira sedikit terkejut dengan pernyataan Abi. Ia masih meragukan kebenaran ucapan kliennya tersebut. “Apakah Saudara yakin gagang pisau itu adalah benda yang sama dengan sendok plastik yang diberikan para penyidik?”
“Periksa saja sendiri hasil forensiknya dan lihat bentuk sidik jariku. Apakah posisi sidik jari seperti menggunakannya untuk menusuk atau mengaduk teh?”
Mata mereka saling beradu pandang. Indira seakan sedang memeriksa kejujuran di mata Abi, sementara Abi penasaran apakah penasihat hukumnya itu akan memercayainya atau tidak.
“Saya percaya pada Saudara. Tapi saya tetap akan memeriksanya. Dan saya benci dengan pembohong, terutama jika saya telah percaya padanya.”
Abi tersenyum dan seakan ingin mempermainkan Indira dengan berkata, “Jika kau percaya, tentu kau tidak perlu memeriksanya.”
Benar saja. Indira galau dengan ucapan Abi. Kepolosannya membuat ia merasa bersalah karena telah menunjukkan kecurigaannya. Padahal, hubungan antara penasihat hukum dan klien harus dilandasi oleh saling percaya. Tapi, seperti nasihat kakaknya, ia tidak boleh menjadi pengacara yang bodoh karena terlalu mudah percaya. Skeptisisme adalah sikap yang tepat dalam menghadapi dunia yang liar dan penuh ketidakpastian ini.
“Baik, aku takkan memeriksanya jika kau bisa memberikan informasi lain yang lebih meyakinkan.”
“Aku benar-benar tidak peduli jika kau ingin memeriksanya. Akan lebih baik bagimu untuk semakin yakin jika aku bukanlah pembunuhnya,” ujar Abi selesai tertawa. Akhirnya ia melihat secercah kepercayaan di mata Indira. “Tapi aku akan selalu memercayaimu. Sebagai buktinya, aku akan memberitahukanmu sebuah rahasia besar. Itupun jika kau ingin mendengarnya.”
Tawaran yang dilemparkan Abi cukup menggiurkan. Akhirnya, Indira menerima tawaran itu dengan kembali mencondongkan tubuhnya ke arah Abi. Pria itu tersenyum dan membisikkan sesuatu ke telinga Indira. Terlihat wajah Indira berubah menjadi tegang.
“Be, benarkah? Jadi dia -” Indira menghentikan kalimatnya saat Abi menempelkan jari telunjuknya ke bibir sambil melirik ke arah petugas sipir.
“Daripada memikirkan tentang tuduhan pembunuhan, sebaiknya kita membahas tentang tuduhan kurir narkotika terlebih dulu,” kata Abi ketika melihat wajah pengacaranya sudah mulai tenang. “Dan jangan pakai kata ganti yang terlalu resmi. Pakai saja aku, kau, kamu, gue, elu atau apapun yang biasa kau gunakan sehari-hari.”
Indira ragu untuk menerima masukan dari Abi. Namun, demi kenyamanan komunikasi dengan kliennya, ia pun mencobanya. “Seandainya kamu lolos dari tuduhan pembunuhan, kamu tetap terjerat pasal 111, 112, 113, 114, dan 132 UU nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika dengan ancaman minimal 4 tahun penjara dan maksimal hukuman mati.”
“Bagaimana jika terbukti tidak sengaja?”
__ADS_1
“Saudara, eh, kamu tetap bisa terjerat pasal 132 ayat (1) juncto pasal 114,” jawab Indira.
“Sudah kuduga. Hukum yang aneh,” gumam Abi sambil menyandarkan tubuhnya. “Bagaimana mungkin ketidaksengajaan dan ketidakalpaan dianggap sebuah kesalahan? Geen straf zonder schuld, tiada pidana tanpa kesalahan. Dan salah satu unsur penting dari kesalahan menurut hukum pidana adalah adanya kesengajaan atau kealpaan. Seorang driver ojol mengantarkan barang dari satu tempat ke tempat lain tanpa mengecek isi barang tersebut bukanlah sebuah kesengajaan atau kealpaan, tapi tanggung jawab pekerjaan.”
Indira hanya bisa melongo. Yang Abi katakan barusan memang pengetahuan dasar dalam hukum, tapi cukup banyak bagi seorang awam. Ia teringat dengan rekaman jumpa pers yang kontroversial itu. Apakah kliennya benar-benar paham tentang hukum?
“Bagaimana kamu bisa yakin kalau kamu tidak sengaja dan tidak alpa? Apakah kamu punya bukti kuat?”
“Seharusnya ada.” Indira bingung dengan penggunaan kata seharusnya. Melihat kebingungan pengacaranya, Abi melanjutkan, “Orang itu memesan jasa pengantaran melalui aplikasi Ekstrim. Seharusnya masih ada riwayat pemesanannya di ponselku.”
Abi berhenti berbicara, membuat Indira menunggu kelanjutan kisahnya. “Lalu, di mana riwayat pemesanannya?”
“Saat awal penyidikan, mereka berkata bukti itu tidak ada tanpa menunjukkan ponselnya. Aku yakin, setelah aku memberikan perlawanan pada jumpa pers yang lalu, mereka pasti sudah benar-benar menghapusnya.”
“Apakah riwayat pemesanan seperti itu dapat dihapus oleh driver?” tanya Indira yang langsung dijawab dengan gelengan kepala. “Maksudmu, mereka menghapusnya langsung dari admin Ekstrim?”
“Aku punya kenalan yang bekerja di kantor Ekstrim. Ia pernah diminta oleh bosnya untuk menghapus riwayat pemesanan dari aplikasi driver maupun pelanggan karena salah satu driver dituduh mencuri paket kiriman pelanggannya.”
Abi melihat Indira yang tidak berkomentar apa-apa dan hanya termenung untuk beberapa saat. Wanita itu terlihat seperti kehilangan arah. “Aku pernah bertanya padamu apakah aku bersalah dan kau memberikan jawaban yang kuinginkan. Kau akan menentukannya dari semua informasi yang kukatakan padamu. Kau bilang kau memercayaiku.”
Tentu saja Indira ingat dengan kata-katanya itu karena baru kemarin ia ucapkan. Ia tertunduk malu karena merasa telah menjadi pengacara munafik dengan tidak memercayai perkataan kliennya.
“Maaf, aku hanya tidak menyangka akan menghadapi ancaman sebesar ini karena membelamu. Aku -”
Tiba-tiba Abi memegang tangan Indira yang basah karena keringat. Ia melihat wajah pria itu, sedang melemparkan senyuman hangat padanya.
“Aku akan berkata jujur padamu. Saat ini aku tidak tahu sebesar apa kekuatan lawan yang sedang kuhadapi. Aku tak tahu akan sejauh mana aku bisa melawan. Tapi aku ingin mengalahkan mereka dengan cara yang benar, yaitu dengan hukum. Untuk itu, aku membutuhkanmu. Aku membutuhkan bantuanmu. Aku tidak bisa bilang kau tidak sedang menghadapi bahaya dengan membelaku atau berjanji akan melindungimu -bahkan aku sendiri saja masih terkurung di penjara. Tapi aku berjanji, dengan membelaku, kau akan mendapatkan sebuah pengalaman yang dicari oleh semua pengacara sejati.”
__ADS_1
Indira terdiam dan mencoba mencerna semua ucapan Abi. Kalimat terakhir yang dijanjikan oleh kliennya itu tanpa diduga membangkitkan semangatnya. Semua keraguan dan kekhawatiran yang sempat menghinggapinya, kini sirna. Ia kembali yakin telah mengambil keputusan yang benar dengan menjadi pembela Abimanyu Alexander.