Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 72


__ADS_3

Satu tahun sebelumnya


“Selamat pagi, Dunia!”


Semua penghuni Batavia Baru sudah hafal dengan suara cempreng gadis muda itu. Tak heran, ia adalah  gadis paling ramah di daerah ini. Namanya pun unik sehingga mudah diingat oleh orang, yaitu Kerinci.


Meski lahir dan besar di daerah itu, ibunya bukanlah PSK di sana. Orang tuanya hanya membuka usaha toko kelontong di sana. Beberapa tahun yang lalu, ibunya meninggal karena kanker dan ayahnya semakin sibuk dengan toko mereka, sehingga membuatnya harus hidup mandiri. Hampir semua warga menyayanginya karena merasa kasihan dan mengingat bagaimana ayah dan mendiang ibunya dulu sangat ramah dan baik. Keramahan dan kebaikan itu seakan turun padanya.


Sebenarnya, ia memiliki kakak perempuan yang punya jarak usia cukup jauh di atasnya. Namun, sejak tamat SMA, sang kakak merantau ke kota lain untuk bekerja di pabrik. Tidak banyak kenangan yang ia miliki bersama kakaknya itu.


“Bang Abi,” panggil Kerinci saat melihat Abi sedang sibuk mempersiapkan perlengkapannya sebelum mengojek.


“Apa, Bocah?”


“Penampilanmu kemarin: numero uno,” katanya sambil mengacungkan dua jempol. Wajahnya yang manis menampilkan senyum lebar yang menghangatkan hati.


“Penampilan apa?” tanya Abi karena merasa kemarin tidak ada terjadi sesuatu yang spesial di hidupnya.


“Halah, tidak usah berpura-pura. Aku tahu kalau itu Abang.”


Perkataan Kerinci itu semakin membuat Abi bingung. Kemudian, ia menyadari sesuatu. Ya, kemarin malam ia membantu tante Elvida menghadapi debt collector. Bukan agar tidak membayar utang-utangnya, Abi merasa tante Elvida membutuhkan pertolongan Advokat Malam karena pinjaman yang berbasis online tersebut sudah menjurus ke arah penipuan. Mulai dari penawaran pinjaman yang memaksa, ketidaktransparanan persyaratan, isi perjanjian yang berubah tanpa sepengetahuan tante Elvida, serta kekerasan saat penagihan utang. Dan seperti biasa, Advokat Malam berhasil memenangkan kliennya tanpa harus melewati proses persidangan.


Tapi, kenapa bocah ini malah memujiku? Apakah ia tahu kalau aku adalah Advokat Malam?


Belum sempat ia memikirkan jawaban dari pertanyaan hatinya, Kerinci sudah tersenyum dan mengkonfirmasikannya sendiri. “Sebagai seseorang yang paling mencintaimu di muka bumi ini dan sebagai calon istrimu, tentu aku tahu kalau pria berpenampilan dan bergaya bicara norak itu adalah Abang.”

__ADS_1


Abi hanya melongo melihat gadis yang baru duduk di kelas dua SMP itu tersenyum sambil pergi meninggalkannya. Ia sama sekali tidak menyangka gadis itu bisa mengenalinya, meski ia sudah berjuang untuk penampilan yang sama sekali berbeda dengan kesehariannya.


“Hei, awas kalau kau cerita pada orang lain, ya. Aku akan menyuruh Rama untuk menggodamu dan menjadikanmu istrinya nanti. Apalagi, kalian sangat cocok karena suara kalian sama-sama cempreng,” teriak Abi yang dibalas dengan wajah mengejek Kerinci.


“Lebih baik aku menjadi perawan tua daripada menjadi istri si bodoh itu.”


Tapi, ia juga mengenal Kerinci. Ia tak perlu khawatir meski Kerinci tahu rahasia besarnya. Gadis itu takkan pernah membocorkan identitasnya pada orang lain. Bahkan Abi yakin kalau Kerinci sadar, informasi itu akan berharga selama hanya dirinya yang tahu.


 Abi, seperti warga Batavia Baru lainnya, tak pernah gagal tersenyum saat melihat keceriaan Kerinci. Selain ramah, gadis itu juga dikenal ringan tangan. Tak jarang ia mau memberikan barang dagangan ayahnya pada warga yang sedang kesulitan, meski ia harus berlari keliling kampung karena dikejar oleh sang ayah.


Namun, keceriaan gadis itu mendadak lenyap. Warga Batavia Baru tidak pernah lagi mendengar sapaan ramah dari suara cemprengnya. Ia bahkan sudah jarang terlihat oleh warga. Menurut informasi dari sang ayah, sudah beberapa hari belakangan Kerinci mengaku sakit dan mengurung diri di kamarnya. Ayahnya curiga jika ia berselisih dengan temannya di sekolah.


Hingga suatu malam, Abi mendengar ketukan pintu rumahnya diiringi suara cempreng Kerinci yang terdengar bergetar. Firasat Abi tidak baik, hingga ia melihat Kerinci sedang berdiri di balik pintu dengan wajah yang semakin tirus dan pucat serta tubuh yang penuh luka goresan. Gadis kecil yang biasanya ceria itu pasti sedang mengalami kejadian yang sulit.


                  *


“Kami tidak ingin damai.”


Kata-kata itu Rinjani ucapkan dengan tegas, sesuai dengan arahan Abi, yang saat itu memakai alter egonya sebagai Advokat Malam.


Sudah dua hari sejak Kerinci mendatanginya dan mengadukan kejadian buruk yang telah ia alami. Salah satu teman cowoknya telah melecehkannya, bahkan mengajak beberapa temannya yang lain. Bukan hanya itu, teman cowoknya tersebut juga mengambil foto Kerinci dalam keadaan tanpa busana sebagai alat untuk mengancam Kerinci agar tidak melaporkan perbuatan bejat mereka.


Sejak saat itu, hidup Kerinci seperti hancur lebur. Ia tidak berani menceritakan hal ini pada siapapun, termasuk ayah dan kakaknya. Hingga akhirnya ia mencapai sebuah titik terendah dalam hidupnya. Ia tak sanggup untuk menahannya sendiri. Dan saat itu, wajah Advokat Malam yang terlintas di pikirannya. Firasatnya berkata, hanya sosok itu yang mampu menyelamatkannya sekarang.


Abi sudah mendengar semua cerita itu. Saran pertama yang diberikannya adalah Kerinci harus menceritakan ini pada keluarganya. Mengingat sang ayah adalah orang yang emosional dan memiliki riwayat penyakit jantung yang cukup parah, Kerinci memutuskan untuk memberitahukan kejadian ini hanya pada kakaknya yang berada di luar kota. Untungnya, Rinjani, sang kakak, memberikan respons yang bagus. Ia langsung mengambil cuti dari tempat kerjanya dan berkomitmen untuk mendampingi sang adik.

__ADS_1


Atas arahan Abi, Rinjani melaporkan para pelaku ke kantor polisi dengan tuduhan pemerkosaan dan pemerasan. Meski awalnya Kerinci menolak karena malu, Rinjani berhasil membujuk sang adik. Bahkan, Abi berjanji akan melakukan usaha semaksimal mungkin agar pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal.


Ternyata, pihak pelaku memberikan respons yang mengejutkan, meski tidak bagi Abi. Mereka menyangkal dan mengatakan kejadian tersebut didasari oleh perasaan suka sama suka dan tanpa paksaan. Bahkan, beberapa kuasa hukumnya mendatangi rumah Kerinci untuk membicarakan jalan damai. Untungnya, Advokat Malam dan Rinjani mewakili Kerinci untuk menghadapi mereka.


“Seperti kata klien saya, tidak ada jalan damai. Kasus ini akan diproses oleh pihak kepolisian dan tidak ada jalan damai,” ujar Advokat Malam.


“Tapi mereka melakukannya atas dasar suka sama suka.”


“Perempuan mana yang melakukan persetubuhan dengan banyak orang, yang sebagian besar tidak dikenalnya, dan menerima luka akibat siksaan atas dasar suka sama suka?” tanya Advokat Malam yang membuat para pengacara itu tertunduk. “Jika kalian mempertahankan pendapat kalian bahwa peristiwa ini dilakukan atas dasar suka sama suka, kita bisa lihat di pengadilan nanti. Kami sudah menyerahkan semua buktinya.”


“Tapi untuk tuduhan pemerasan, kami tidak setuju karena -”


Sang Advokat Malam menunjukkan foto-foto berisi percakapan melalui chat antara Kerinci dan pelaku. Di sana tertulis jelas bagaimana pelaku memberikan ancaman pada Kerinci akan menyebarkan foto dan videonya dalam keadaan tanpa busana melalui internet jika Kerinci melapor ke polisi. Bahkan ada rekaman suara saat pelaku menelepon Kerinci dan mengatakan ancaman yang serupa.


“Maaf, sepertinya kedatangan kalian ke sini tidak ada gunanya. Sebaiknya kalian pakai saja waktu kalian untuk mempersiapkan pembelaan di persidangan nanti.”


Para pengacara itu pergi tanpa membawa kabar baik bagi kliennya. Melihat bagaimana Abi menyerang mereka dengan sangat percaya diri, Rinjani merasa tenang dan yakin kasus ini akan mereka menangkan dan adiknya akan mendapatkan keadilan.


“Sayangnya, kau tidak bisa menemani kami di persidangan nanti,” kata Rinjani.


“Aku akan menemani kalian di persidangan nanti, meski bukan sebagai Advokat Malam. Meski punya pengalaman buruk dengan polisi, aku yakin masih banyak polisi yang melakukan tugasnya dengan baik. Demikian juga jaksa dan hakim. Sahabatku adalah seorang polisi dan aku tahu kalau dia selalu melakukan tugasnya dengan baik.”


Abi tersenyum dan diikuti oleh senyuman dari bibir Rinjani. Mengetahui sudah tidak ada lagi para pengacara itu, Kerinci keluar dari kamarnya. Rinjani langsung menyambutnya dengan pelukan dan mencoba menenangkannya.


“Tak perlu khawatir. Hukum pasti akan memberikan keadilan padamu.”

__ADS_1


__ADS_2