
Dua belas tahun yang lalu
“Hei, Cimut.”
Indira memalingkan wajahnya dan mencari sumber suara. Di dunia ini, hanya satu orang yang pernah ia dengar menyebut nama itu dan nama itu ditujukan padanya: Cimut atau akronim dari Kelinci Imut.
“Ivonne! Berhenti memanggilku seperti itu!” mohon Indira pada seorang gadis cantik yang sedang senyum-senyum di depan gerbang masuk.
“Tidak mau. Kau memang Cimut.”
Gadis yang dipanggil Ivonne itu mengejek sebelum berlari karena dikejar oleh Indira.
Ivonne adalah sahabat baik Indira. Mereka sudah saling mengenal sejak pertama kali masuk SMP. Masa-masa mereka di sekolah ini sebagian besar dihabiskan bersama. Hanya di kelas tiga ini mereka tidak sekelas, namun mereka tetap menjaga kekompakan dan total hanya di jam pelajaran saja mereka tidak bersama.
Sedangkan panggilan Cimut atau Kelinci Imut diberikan oleh Ivonne untuk Indira karena gigi kelincinya ditambah tubuhnya yang mungil. Meski sering mengajukan protes, sebenarnya Indira suka dengan panggilan itu dan Ivonne mengetahuinya sehingga ia tak pernah berhenti memanggilnya demikian.
“Jangan ganggu aku dulu. Aku sedang stres,” kata Indira saat ia berhasil menangkap dan 'menghukum' Ivonne dengan cubitan kecil.
“Stres kenapa? Kau belum belajar untuk ulangan matematika nanti?”
Langkah Indira terhenti. Wajahnya memucat dan keringat dingin mulai mengalir di keningnya. “Nanti ulangan matematika? Di kelasku atau di kelasmu?”
“Bodoh! Jadwal matematika kita selalu sama dan kemarin si Tina, teman sekelasmu, mau pinjam catatanku karena katanya hari ini kalian ulangan juga.”
“Mati aku! Aku sama sekali tidak belajar!” kata Indira histeris. Tiba-tiba mendadak tenang kembali. “Ah, belajar pun tak pernah berpengaruh. Aku pasti tetap akan mendapat nilai rendah.”
Ivonne memperhatikan wajah Indira yang kembali murung. “Jadi, apa yang membuatmu stres?”
“Mbah Rini menyuruh kami datang ke acara ulang tahun nenek kami nanti. Kemungkinan setelah istirahat kedua nanti mbak Ratih akan menjemputku. Aku stres karena seumur hidup tidak pernah mengenalnya. Sedangkan mbak Ratih stres karena kemungkinan ia akan bertemu bapak di sana,” keluh Indira. “Ah, padahal kami tidak diundang di acara itu.”
__ADS_1
Ivonne mengerti apa yang dikatakan oleh Indira. Mbah Rini adalah nenek mereka dari pihak ibu yang menampung mereka sejak ibu mereka meninggal, meski ia tidak lagi sanggup merawat mereka karena usia tuanya.
Sementara nenek yang dimaksud adalah nenek dari pihak ayah. Indira pernah bercerita kalau papanya sangat jarang menemui mereka. Bahkan ia hanya ingat bertemu papanya 3 kali seumur hidupnya. Dan kata mbak Ratih, papanya tidak pernah menafkahi mereka. Mereka hidup dari uang pensiun suami mbah Rini atau kakek mereka dari pihak ibu.
“Ya sudah, jangan pergi,” saran Ivonne santai.
“Kamu sih enak, gampang ngomong begitu karena bukan kamu yang mengalaminya,” kata Indira. “Enak sekali punya keluarga yang normal sepertimu. Ada papa dan mama yang perhatian padamu.”
Ivonne tersenyum, namun Indira merasa senyumnya terasa getir. Tapi, Indira pura-pura tidak menyadarinya.
Indira tidak tahu, jika senyum itu adalah senyum terakhir yang ia lihat dari wajah sahabat baiknya itu.
*
Mbak Ratih menggandeng Indira yang terlihat kikuk di tengah banyak orang. Mereka tidak menyangka kalau acara ulang tahun neneknya akan semeriah ini. Memang, mereka pernah mendengar rumor kalau orang tua dari papa mereka adalah pebisnis sukses yang kaya raya. Karena status itulah, mereka tidak merestui anak laki-laki mereka satu-satunya menikah dengan wanita miskin seperti mama dari Ratih dan Indira.
Hal ini semakin diperparah dengan tidak adanya anak laki-laki yang bisa diberikan oleh sang mama. Keluarga papa mereka masih menganut budaya patriarki, di mana laki-laki sebagai pemegang kekuasaan tertinggi dan pewaris utama keluarga, baik dalam hal nama, harta dan kehormatan.
Karena mendengar cerita itu, Indira menanam perasaan bersalah karena menjadi akar dari kehancuran keluarganya. Untung saja, Ratih menyadari hal tersebut dan selalu mengatakan jika itu sama sekali bukan kesalahannya, tapi salah papa mereka yang karena tuntutan budaya, lupa kalau seorang anak, baik itu laki-laki ataupun perempuan, adalah pemberian berharga dari Tuhan.
“Sebelum mama mengandungmu, mereka sudah sering bertengkar, bahkan tak jarang papa memukul mama hingga babak belur. Ternyata papa masih berhubungan dengan keluarga besarnya dan mereka selalu menghasut agar papa menceraikan mama. Namun, dengan alasan demi anak-anak, mama bertahan dan enggan untuk bercerai,” terang Ratih saat itu, yang membuat hati Indira sedikit tenang.
Suasana pesta semakin meriah dan kedua kakak-beradik itu masih belum mendapat sambutan dari siapapun. Mereka benar-benar merasa terasing di tengah lautan manusia.
“Mbak, kita pulang saja, yuk,” kata Indira yang sudah berada di puncak ketidaknyamanannya. Ratih pun menyetujuinya.
“Baik, sekarang kita akan berkenalan dengan cucu kesayangan Oma. Cucunya yang berharga dari anak laki-laki satu-satunya.”
Ratih dan Indira menoleh ke arah pembawa acara yang baru saja mengatakan hal tersebut. Cucu yang dimaksud pasti mereka karena papa mereka adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga itu.
__ADS_1
Namun, hal yang sangat mengejutkan terjadi. Mereka melihat sang papa menaiki podium untuk menghampiri mamanya sambil menggendong anak laki-laki. Di belakangnya mengikuti seorang wanita.
“Wah, pantas saja selama ini ia menelantarkan kita. Ternyata ia sudah punya keluarga baru,” gerutu Ratih. “Ah, aku sangat kesal jika mengingat mama bertahan untuk tidak bercerai demi kita, sementara dia dengan mudahnya menghapus keberadaan kita dalam hidupnya. Harusnya dulu mama mendengar saran mbah untuk melaporkan pria itu karena sudah menyiksanya.”
Ratih mengajak Indira pergi dari tempat itu. Namun, sebelum pergi, Indira sempat saling bertatapan dengan papanya. Hanya beberapa detik, tapi momen itu menjadi awal mula kebenciannya muncul. Sejak saat itu, ia enggan untuk menganggap pria itu sebagai orang tuanya.
*
Ratih dan Indira turun dari bus dengan wajah kuyu. Perjalanan satu jam terasa jauh lebih lama bagi mereka, terutama jika sambil mengingat kejadian di pesta ulang tahun tadi. Mereka marah dengan papa mereka, juga merasa kasihan dengan mendiang mama.
“Bagaimana acaranya? Mereka bersikap baik pada kalian?” tanya mbah Rini saat menyambut kedua cucunya.
“Ini semua karena Mbah menyuruh kami ke pesta terkutuk itu,” omel Ratih yang langsung berjalan ke kamarnya.
Indira yang lebih tenang menceritakan semua yang terjadi di pesta itu. Meski sempat terkejut, mbah Rini bersikap normal seakan memaklumi situasi tersebut.
“Memang, laki-laki lebih lemah dari perempuan. Ketika mereka kehilangan pasangan hidup, mereka sulit bertahan sehingga buru-buru mencari penggantinya. Beda dengan perempuan kebanyakan yang mampu bertahan sendiri, bahkan jika dibebankan dengan keberadaan anak-anaknya. Yang disayangkan dari papa kalian adalah karena menelantarkan kalian. Jika ia memang ingin menikah, silakan. Tapi, seharusnya ia tetap mengurus kalian.”
“Mungkin ia akan kesulitan mendapatkan jodoh jika kami ada di sampingnya,” celetuk Indira.
Hari sudah mulai larut. Ia pun bersiap untuk mandi agar bisa belajar untuk ulangan sejarah besok. Ia tidak ingin kekacauan yang ia lakukan di ulangan matematika tadi pagi terulang lagi besok.
“O ya, tadi Mbah dengar, ada siswi di SMP-mu yang ditemukan bunuh diri. Kamu kenal?”
“Aku belum dengar kabarnya. Aku kan dari tadi siang di luar kota.”
“Benar juga. Tadi Mbah ketemu dengan guru bahasa Inggrismu di warung. Dia yang kasih tahu tentang kabar itu.”
“Oh, bu Sri,” kata Indira. “Ibu itu ada bilang nama siswi yang bunuh diri itu?”
__ADS_1
“Kalau tidak salah, namanya Ivonne.”
Jantung Indira seperti berhenti mendadak, lalu berdetak lebih kencang dari biasanya. Napasnya mulai sesak dan keringat mulai keluar dari pori-pori di keningnya. Kemudian ia mengoceh, berdoa agar Ivonne yang dimaksud bukanlah Ivonne yang ia kenal.