Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 94


__ADS_3

Abi mengikuti setiap langkah Andika dengan tetap menjaga jarak agar tak menarik perhatian petugas. Di mana-mana mereka selalu bersama. Di ruang makan, di lapangan, di aula, sampai di toilet. Andika menceritakan semua hal yang ia ketahui tentang lapas itu layaknya seorang pemandu wisata. Sebagai narapidana paling sepuh, Andika cukup hebat dalam melakukan tugas itu.


Di lapas ini, ada lima level narapidana yang lokasi penjaranya berada di area yang terpisah. Level lima berisi para narapidana dengan kasus yang berkaitan dengan keamanan negara, seperti terorisme dan spionase. Jumlahnya juga tidak terlalu banyak. Mungkin hanya lima sampai sepuluh narapidana. Lokasi penjaranya juga agak terpisah dan jarang diberi izin keluar.


Level empat berisi narapidana dari kalangan rakyat jelata. Kasusnya beragam. Ada yang pencurian, perampokan, penipuan, pembunuhan, pengedar narkoba dan sebagainya. Menurut berita, mereka dikirim ke sini sebagai penyeimbang agar lapas ini tidak dianggap sebagai lapas eksklusif.


Level tiga adalah level untuk para narapidana dari kalangan artis atau public figure. Meski banyak dari mereka yang sengaja ‘memesan’ lapas ini sebagai tempat penebusan dosa atas kesalahan mereka, sebenarnya alasan ada ruang untuk mereka di sini adalah sebagai, apa istilah zaman sekarang? Ah, endorsement. Perlakuan pada mereka tidak terlalu istimewa, tapi tidak boleh buruk. Mereka harus melihat lapas ini sebagaimana lapas yang baik. Karena, begitu bebas dari tempat ini, biasanya mereka akan diwawancara untuk menceritakan pengalaman mereka di sini.


Level dua adalah para pengusaha dan pejabat. Lapas mereka didesain khusus dan mewah. Wajar saja, kasus mereka kebanyakan adalah korupsi.


“Korupsi 1 triliun, didenda 10 milyar, mereka masih untung banyak. Tentu mereka akan menggunakan sebagian kecil dari keuntungan mereka untuk menyewa kamar khusus,” kata Andika.


“Lalu, kau ada di level mana? Kenapa tidak di level 2?” tanya Abi dengan nada sinis.


“Aku adalah tahanan politik. Saat ditangkap, semua hartaku disita negara dan tidak memiliki kuasa apapun. Mendapatkan fasilitas level 3 saja sudah lumayan,” jawab Andika. “Dan kau harus bersyukur. Karenaku, kau tidak ditempatkan di level 4.”


“Bukan aku yang meminta.”


Level 1 adalah kasta tertinggi di lapas ini. Andika sendiri tidak tahu narapidana seperti apa yang mengisi level itu atau di mana letak penjaranya. Yang pasti, mereka tidak pernah bergabung dengan narapidana lainnya, baik itu saat kegiatan makan, ibadah, bersantai di lapangan, apalagi saat kerja bakti.


“Mungkin mereka adalah pendiri negara ini,” ujar Andika bercanda.


“Atau merekalah yang disebut ‘maharaja’ itu,” imbuh Abi. “Lalu, apa peran tuan Jireh?”


Andika menutup mulut Abi dan menatapnya kesal. “Jangan kuat-kuat. Nama itu seperti sebuah kutukan di sini.”

__ADS_1


“Kutukan?”


“Bukan sekali dua kali orang yang ketahuan menyebut nama itu akan bernasib sial. Meski tahu, semua orang dilarang untuk membahasnya.”


“Memangnya, siapa dia?”


Andika melepaskan tangannya dari mulut Abi lalu kembali berjalan. “Seperti yang kau tahu, ia ‘penyedia layanan’ bagi para tahanan, khususnya untuk level 1 dan 2. Dialah yang mendesain kamar mewah mereka, lengkap kamuflasenya sehingga jika ada wartawan yang berhasil meliput sampai ke dalam, tidak ada yang bisa menemukan kemewahan itu.”


“Pasti itu hasil karya PT. Laras Jaya Karya. Mereka pernah memenangkan sebuah penghargaan internasional karena salah desain gedung kamuflase milik mereka.”


Abi terlihat sangat bersemangat karena mendapatkan sebuah informasi yang sangat dibutuhkannya. Sementara Andika tidak menunjukkan ekspresi sesenang Abi.


“Kau benar-benar akan melawannya sampai akhir?” tanya Andika.


“Tentu saja. Aku sudah melangkah sejauh ini dan akan sangat menyedihkan jika aku berhenti di tengah jalan.”


“Menurut rumor, dia adalah orang yang sangat memahami hukum. Kemungkinan besar di kehidupan sehari-hari ia adalah berprofesi sebagai penegak hukum.”


Abi tertegun dengan kalimat terakhir ayahnya. Penegak hukum? Kenapa ia tak menyadarinya selama ini? Padahal dari gerak-gerik dan ucapannya, terlihat jika tuan Jireh memiliki wawasan yang luas tentang hukum dan meski kerap melanggar hukum, ia memiliki rasa hormat terhadap hukum itu sendiri.


“Ini adalah informasi yang sangat penting,” kata Abi dengan mata berbinar. Ia sampai menyalami Andika karena sangat berterima kasih untuk informasi itu.


“Hei, apakah kau tidak mendengar kataku barusan? Kemungkinan ia adalah penegak hukum! Aku mengatakannya padamu agar kau semakin sadar kalau pria itu terlalu kuat untuk dilawan. Ia bukanlah tandingan orang-orang seperti kita.”


“Bukan tandingan orang-orang sepertimu, tapi berbeda denganku,” kilah Abi. Terdengar angkuh, tapi ia memang percaya diri dengan perkataannya.

__ADS_1


 “Jangan gegabah, Anak muda. Aku juga pernah angkuh saat seusiamu dulu. Tapi, satu hal yang kupelajari: di atas langit, masih ada langit. Tidak ada artinya sombong.”


Abi tidak lagi membalas perkataan Andika. Tapi, bukan berarti ia mendengarnya. Perbincangan mereka terhenti ketika seorang petugas datang ke kamar mereka membawa sebuah kabar.


“Tahanan 3438,” ujar petugas itu menyebut nomor tahanan Abi. “Ada tamu.”


Abi berdiri dan mengikuti langkah petugas itu. Sementara Andika hanya bisa melihat punggung anaknya menjauh hingga akhirnya menghilang.


                  *


Abi memasuki ruang kunjungan dan cukup terkejut ketika melihat Regina sudah menunggu. Wanita itu terlihat sedang memikirkan sesuatu yang serius. Kedatangannya sebagai pengunjungnya cukup mengejutkan bagi Abi. Ia pikir wanita itu sudah mengakhiri hubungan pribadi mereka dan hanya mau menemuinya sebagai seorang polisi.


“Regina? Ada apa?”


“Eh, ada sesuatu yang ingin kutanyakan.”


Wanita cantik berpostur tinggi langsing itu terlihat canggung ketika menyambut Abi. Ia masih ingat sikapnya yang menyebalkan di masa lampau. Untungnya, Abi berpura-pura tidak mengingat perseteruan mereka dan ia bertingkah seperti sebelum Regina mengamuk padanya agar sahabat masa kecilnya itu bisa merasa nyaman.


“Apa itu?” Abi duduk di kursi yang ada di hadapan Regina.


Awalnya Regina ragu-ragu untuk bertanya, tapi ia harus melakukannya. “Tentang perkataanmu dulu. Apakah benar bukan Benjiro yang membunuh Mischa?”


Abi sedikit terkejut menerima pertanyaan itu. Kemudian ia tersenyum karena itu artinya Regina sudah mulai memercayai perkataannya dulu. Ini akan menjadi jalan yang baik untuk memulihkan persahabatan mereka.


“Ya, aku tidak bohong. Aku akan menjelaskan semuanya jika kau mau. Tapi, aku ingin tahu, kenapa kau menanyakannya sekarang?”

__ADS_1


Regina kembali terlihat ragu. Cukup lama ia menjawab dan membuat Abi penasaran. Akhirnya, ia menghela napas sebelum mengatakan jawabannya. “Aku melihat Benjiro berkeliaran di jalan. Aku yakin itu dia. Dan jika benar itu dia, padahal ia sudah divonis penjara, artinya ada seseorang yang membantunya di belakang.”


__ADS_2