
Mata Rinjani menerawang ke seluruh ruangan. Ia jadi ingat masa-masa ketika ia diwawancarai untuk pekerjaan di pabrik dulu. Sekarang ia juga sedang diwawancarai untuk sebuah pekerjaan, tapi ia takkan digaji seperti dulu. Ia akan bekerja secara sukarela sebagai bagian dari tim sukses salah satu kandidat gubernur periode berikutnya.
“Apa yang Saudara ketahui tentang pak Bima Sakti?” tanya seorang pewawancara yang membuat Rinjani berhenti menerawang.
“Ah, dia adalah orang yang hebat. Mantan dokter yang membangun beberapa klinik murah untuk orang-orang miskin di kota ini. Ia punya pabrik obat yang besar dan diproyeksikan tahun depan akan ekspansi ke luar negeri. Ia juga sering membantu masyarakat yang ingin membuka usaha dengan meminjamkan bunga tanpa modal pada mereka. Selain itu, ia mengeluarkan uang pribadinya untuk memperbaiki banyak jalan yang rusak di kota ini. Ia juga dikenal ramah karena sering datang ke acara-acara kondangan warga dan memberikan amplop yang isinya sangat besar untuk mempelai.”
Para pewawancara mengangguk-angguk dengan penuh kagum atas penjelasan Rinjani yang cukup lengkap dan sangat positif. Namun, ada salah satu pewawancara yang sejak awal menatapnya dengan penuh curiga.
“Perlu kami koreksi sedikit. Mulai sekarang, jangan pakai ‘ia’ untuk kata ganti saat menyebut pak Bima Sakti. Sebaiknya, gunakan kata ‘beliau’ agar terdengar lebih sopan,” ujar pewawancara berambut gimbal dan berkacamata itu. “Dan juga, beliau sampai sekarang masih seorang dokter, bukan mantan.”
Rinjani mengangguk. Baru saja beberapa menit ia duduk di ruangan ini dan melakukan perbincangan dengan mereka, Rinjani sudah ingin menghajar orang di sana. Jika ia tidak ingat ini adalah permintaan Abi, bahkan sampai membuat Abi kabur dari penjara, mungkin saat ini ia akan membanting kursi dan pulang.
“Maaf.” Hanya itu kata yang mampu diucapkan Rinjani sekarang.
Sesaat sebelum Abi pergi dari kafenya, ia memang meminta Rinjani untuk memata-matai Bima Sakti. Padahal, menurut cerita yang dituturkan sebelumnya, seharusnya yang diselidiki adalah petahana. Gubernur Theodore adalah satu-satunya bacagub yang setuju dengan reklamasi dan musuh misterius Abi berkaitan erat dengan proyek di pulau reklamasi.
“Apa yang memotivasi Saudara untuk menjadi tim sukses pak Bima Sakti?” tanya pewawancara yang lain, yang terlihat lebih ramah.
“Saya melihat pak Bima Sakti adalah orang baik dan hebat. Ia, maksud saya beliau, memiliki potensi yang sangat besar untuk menang. Dan jika suatu saat nanti beliau jadi gubernur, saya yakin beliau bisa memajukan provinsi kita tercinta ini,” jawab Rinjani dengan penuh percaya diri. Tapi, sepertinya jawaban itu terlalu umum dan membuat para pewawancara kurang puas. Hal ini terlihat dari wajah mereka yang masih cemberut. “Yah, saya juga ingin pak Bima Sakti memberikan modal tambahan pada para pengusaha kecil seperti saya agar saya bisa mengembangkan usaha kafe saya.”
Para pewawancara itu memelototi Rinjani sejenak lalu mengangguk-anggukkan kepalanya seakan merasa lebih yakin dengan jawaban Rinjani yang terakhir.
“Tim sukses adalah perpanjangan tangan dari pasangan calon. Tim sukses harus bisa menyampaikan pesan-pesan pasangan calon kepada masyarakat seperti program bila terpilih nanti. Apakah Saudara punya strategi khusus untuk memenangkan pak Bima Sakti?”
“Tentu saja. Seperti yang saya katakan barusan, saya punya kafe dan tempatnya sangat strategis. Saya akan mensosialisasikan semua program dari pak Bima Sakti di sana.”
__ADS_1
Para pewawancara mengangguk karena merasa puas dengan jawaban Rinjani kali ini.
“Pernah bergabung dengan salah satu partai politik? Misalnya, partai yang mengusung pak Bima Sakti?”
Rinjani tertawa terkekeh-kekeh seperti sedang mengejek. “Masuk partai? Kita tahu bahwa partai politik itu busuk dan isinya hanya kumpulan orang jahat yang tujuannya adalah bagaimana caranya bisa mengeruk uang rakyat sebanyak-banyaknya dengan visi misi mereka yang terlihat baik dan keren.”
“Ehm, Saudara salah menilai partai politik,” kata seorang pewawancara yang merasa tersinggung dengan ucapan Rinjani. Kebetulan, dia adalah salah satu kader dari partai politik yang mengusung Bima Sakti.
“Ah, iya. Sepertinya saya salah. Yang saya maksud mengeruk uang rakyat itu anggota dewan,” ralat Rinjani dengan wajah polosnya. “Tapi, bukankah anggota dewan berasal dari partai politik juga?”
“Baik, Saudara diterima. Mulai besok, Saudara bisa bergabung dengan kami dan kami akan memberikan jadwal kegiatan kita selama pra kampanye dan pada saat kampanye,” kata seorang pewawancara yang ingin mengakhiri percakapan mereka dengan Rinjani yang sudah melebar entah ke mana.
*
Sebagai tim sukses, langkah awal yang harus dilakukannya setelah mendapatkan pakaian bergambar wajah Bima Sakti adalah mempelajari jingle yang diciptakan khusus untuk sang bakal calon gubernur.
Pemimpin sejati, tentunya Bima Sakti
Tak pernah berhenti, untuk membangun negeri
Penuh dedikasi, untuk membangun negeri
Rinjani mengernyitkan dahinya ketika pertama kali mendengar lagu itu. Butuh beberapa detik setelah mendengarnya untuk membuat dia sadar kalau nada dari lagu itu identik dengan lagu Ampar-Ampar Pisang. Liriknya juga sangat menggelikan karena terlalu klise, tapi juga terlalu melebih-lebihkan. Dan ternyata, itu hanya bait pertama. Masih ada bait kedua dan ketiga plus bagian chorus.
Tapi, tidak seperti para pewawancara yang tingkat keseriusannya melebihi HRD dari perusahaan besar, anggota tim sukses lainnya sangat ramah dan bersahabat. Mereka menyambut Rinjani dan beberapa anggota baru lainnya dengan hangat.
__ADS_1
Dari mereka, Rinjani banyak mendapatkan informasi terkait Bima Sakti. Meski sudah ada berbagai berita tentang profil Bima Sakti, yang mana telah Rinjani sebutkan saat wawancara, ternyata ada juga beberapa cerita tentang sang bacagub yang belum diketahui oleh masyarakat. Misalnya, Bima Sakti yang punya saham cukup besar di salah satu perusahaan kapal pesiar, dan ia ingin menyembunyikannya agar citra ‘sederhana’ tetap melekat pada dirinya. Demikian juga saham di beberapa mal dan hotel bintang lima.
Ada juga informasi tentang hubungan kekerabatan yang ia miliki dengan presiden saat ini. Lalu, informasi yang tak kalah mengejutkannya adalah ketidakharmonisan dengan istrinya yang seandainya ia tidak sedang ikut bertarung untuk memperebutkan kursi gubernur, mungkin sudah diceraikannya.
“Wah, dia sangat hebat dalam menutupi banyak hal,” kata Rinjani setelah mendengar informasi tersebut.
“Dan ada satu lagi yang paling seru,” kata seorang anggota tim sukses. “Sebenarnya, ia berteman baik dengan gubernur Theodore Fransiskus. Tapi, mereka menutupi hubungan pertemanan itu sampai pemilihan gubernur selesai.”
“Ironis, para pendukung mereka akan saling serang sampai pilkada berakhir. Ternyata, mereka berdua memiliki hubungan yang sangat baik,” gumam anggota yang lain.
“Saling serang?”
“Iya, saling serang. Mungkin saat ini belum terlihat di publik, tapi masing-masing kubu sudah mempersiapkan senjata mereka untuk saling serang. Bahkan, sekarang sudah dimulai. Walau menurut elektabilitas kita masih ketinggalan dari petahana, tapi kita lebih diuntungkan. Secara teknis, pak Bima Sakti belum pernah punya pengalaman sebagai kepala daerah. Tapi, itu yang membuat catatannya bersih. Sementara, kita bisa menemukan banyak kebobrokan dari kinerja gubernur Theodore selama ini dan hal itu bisa menjadi senjata yang sangat ampuh.”
“Eh, termasuk tentang reklamasi?”
“Tentu saja. Termasuk tentang reklamasi. Jika petahana menolak reklamasi, bisa dipastikan pak Bima Sakti akan mendukungnya dan tinggal mencari pembenaran untuk dukungannya itu. Ia tidak benar-benar memikirkan kebutuhan rakyat.”
Rinjani mengangguk kecil, lalu mengernyitkan dahinya setelah menyadari sesuatu yang cukup aneh.
“Sebenarnya, apa motivasi kalian menjadi tim sukses Bima Sakti jika memandangnya negatif? Padahal, kalian tidak digaji untuk pekerjaan ini,” ujar Rinjani pada para anggota tim sukses yang lebih mirip sekumpulan ibu penggosip.
“Menjadi tim sukses itu bukan tentang digaji atau tidak, tapi tentang investasi jangka panjang. Kau bisa bayangkan apa yang akan kita dapat jika pak Bima Sakti menang. Kita pasti akan mendapatkan pekerjaan bagus atau hak istimewa lainnya.”
Rinjani hanya tersenyum saat mereka tertawa. Kini ia sudah mengantongi banyak informasi penting tentang Bima Sakti. Ia tidak tahu apakah ada di antaranya yang dibutuhkan oleh Abi atau ia harus mencari lagi.
__ADS_1