
“Ayo, kenapa lambat sekali?”
Indira meneriaki Rama yang masih berjalan tertatih-tatih karena menahan rasa sakit di perutnya. Luka yang disebabkan oleh abangnya itu belum sembuh benar. Dan sebagai informasi, luka itu semakin parah karena ia berlari saat kabur dari para polisi yang menjaganya di rumah sakit.
“Rama masih kesakitan. Jangan paksa Rama untuk jalan cepat.”
“Tapi, jika kita tidak cepat, orang itu akan segera pergi,” balas Indira.
Karena tidak sabar melihat kelambatan Rama, Indira sampai menarik lengan pria itu hingga ia berteriak kesakitan.
“Sudah Rama bilang, Rama tunggu di mobil saja,” ujarnya sambil memelas.
“Tidak bisa. Kamu yang mengenalnya, sedangkan aku tidak.”
“Lho, bukannya Kakak pernah bertemu dengannya?”
Indira tersenyum kecut sambil mengangkat bahunya dan berkata, “Waktu itu malam, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.”
Yang mereka maksud adalah Rinjani. Ya, investigasi mereka kali ini membutuhkan bantuan dari Rinjani karena keterkaitannya dengan orang yang ingin mereka temui. Menurut informasi dari Abi, orang itu adalah orang yang seharusnya berbicara dengan Mischa beberapa saat sebelum Abi datang ke rumahnya.
Mengingat perjumpaan mereka satu-satunya adalah ketika Rinjani mencium Abi dengan agresifnya, Indira merasa canggung jika menghadapinya seorang diri. Untuk itu, ia perlu Rama untuk mendampinginya.
“Ngomong-ngomong, dari mana Abi bisa tahu jadwal kegiatan Mischa? Padahal manajernya sendiri yang bilang hari itu jadwal kegiatan Mischa hari itu kosong karena dia ingin berlatih untuk persiapan audisi film dari luar negeri.”
“Entahlah,” jawab Rama sekenanya karena ia sedang sibuk menahan rasa sakit di perutnya yang mulai kambuh kembali.
Sadar Rama tidak memedulikannya, Indira berhenti berbicara dan fokus mencari keberadaan Rinjani. Katanya di telepon sebelum Indira dan Rama berangkat tadi, ia sedang mengikuti kegiatan gotong royong membersihkan taman kota sambil mempromosikan nama Bima Sakti.
“Wah, banyak sekali mereka,” kata Indira saat melihat banyaknya orang yang sedang membersihkan taman kota dengan mengenakan kaus bergambar Bima Sakti. “Untung saja aku mengajakmu. Sekarang, tugasmu mencari di mana dia.”
Sambil menahan sakit, Rama menjelajahkan pandangannya ke setiap sudut taman. Karena tak kunjung menemukannya, ia jadi ragu apakah benar-benar masih mengingat wajah Rinjani. Maklum, sudah setahun ia tidak bertemu dengan wanita itu.
“Rama! Sedang apa kalian di sini?”
__ADS_1
Terdengar suara seorang wanita dari belakang yang mengejutkan Rama. Suara itu tidak asing di telinganya, tapi itu bukan suara Rinjani. Setelah sadar siapa pemilik suara itu, Rama malah mulai ketakutan. Ia menolehkan wajahnya ke belakang dengan perasaan khawatir dan ketika sudah mendapati si empunya suara, lututnya mendadak lemas.
“Kakak Regina?!”
Regina sudah berdiri sambil tersenyum pada Rama. Kemudian, ia sadar ada aura yang tak baik di sekitarnya. Benar saja, ia melihat seorang wanita menatapnya dengan tajam seakan hendak menerkamnya. Wanita yang ia kenal sebagai pengacara Abi bernama Indira. Mereka berdua pun saling melemparkan tatapan tajam.
“Sedang apa kalian di sini?” tanya Regina ketus. Sebenarnya, ia tak pernah berbicara seketus itu pada Rama mengingat ia sudah menganggap Rama seperti adiknya sendiri. Ia hanya tidak suka dengan keberadaan Indira.
“Eh, hanya mengunjungi teman. Kebetulan, dia sedang ada di sini,” jawab Rama sambil cengengesan. Ia bisa merasakan hawa permusuhan di antara kedua wanita yang ada di hadapannya tersebut.
“Siapa? Yang mana orangnya? Apakah temanmu itu berhubungan dengan kasus Abi?”
“Bukan urusanmu,” ujar Indira.
Sejak Regina memutuskan untuk berseberangan dengan Abi, secara otomatis ia menganggap Indira yang adalah penasehat hukum Abi sebagai lawannya. Sedangkan Indira sudah menganggap Regina sebagai lawannya sejak ia tahu kedekatan wanita itu dengan Abi.
“O ya, bagaimana luka di perutmu? Sudah sembuh?” tanya Regina lagi pada Rama, tapi dengan mata tetap mengarah pada Indira.
Ucapan Rama terhenti karena Indira mendadak menutup mulutnya dengan telapak tangan. Terlihat wajahnya sangat khawatir karena sesuatu yang seharusnya tidak dikatakan oleh Rama, terlanjur dikatakannya.
“Kenapa? Kalian terkejut aku tahu tentang luka itu?”
Wajah Indira semakin pucat, diikuti oleh Rama yang akhirnya sadar telah melakukan kesalahan. Jika Regina tahu tentang luka di perut Rama, artinya ia juga tahu tentang apa yang telah mereka lakukan di rumah sakit bersama Abi beberapa waktu yang lalu.
*
Mereka masih saling tatap. Ada suasana menegangkan di antara mereka. Di pikiran Indira hanya ada satu pertanyaan yang berulang-ulang bergaung di kepalanya, ‘Bagaimana wanita arogan ini mengetahui kejadian itu?’
“Hei, Rama! Sedang apa kau di sini?”
Suara wanita lain terdengar dari salah satu sudut taman. Rinjani sedang melambaikan tangannya pada Rama dengan wajah senang. Kemudian, ia segera berlari menghampiri.
“Ka, Kakak Rinjani,” ucap Rama dengan nada gugup.
__ADS_1
“Kenapa kau seperti orang yang ketakutan?” tanya Rinjani bingung. Matanya beralih ke arah Indira. “Lho, bukankah kau wanita yang bersama Abi malam itu dan -”
Lagi-lagi Indira harus menutup mulut orang lain dengan telapak tangannya. Meski belum terlalu akrab, ia harus melakukannya terhadap Rinjani. Matanya melirik ke arah Regina seolah ingin memberitahukan alasan dari perbuatan spontannya itu.
“Oh, kau polwan sombong yang selalu lengket di sisi Abi tanpa perasaan malu, ya?”
Tanpa Rama dan Indira duga, Rinjani langsung menabuh genderang perang di hadapan Regina. Kini mereka berdua yang saling menatap dengan aura yang lebih suram.
“Ah, rupanya kau wanita itu.”
Ini bukan pertemuan perdana mereka. Satu tahun yang lalu, Rinjani menemani Abi bertemu dengan Regina untuk melaporkan tentang kecurigaan mereka atas rekayasa kematian Kerinci. Mereka sangat yakin jika Kerinci dibunuh, bukan bunuh diri. Sayangnya, Regina menolak untuk menindaklanjuti laporan mereka karena hasil pemeriksaan sudah keluar dan mengatakan dengan jelas bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan dan itu adalah murni bunuh diri.
Saat itu, Rinjani sampai memaki Regina dan seluruh polisi dengan sebutan anjingnya para orang kaya. Ia juga sampai meludah di depan Regina. Jika tidak ada Abi di sana, mungkin mereka sudah baku hantam.
Maka, wajar jika saat ini mereka masih menyimpan kebencian satu sama lain.
“Rupanya kau sekarang sudah menjadi ‘anjing’nya orang kaya juga, ya?” ejek Regina sambil menunjuk wajah Bima Sakti yang ada di kaus Rinjani.
“Apakah seorang wanita cerdas sepertimu tidak bisa membedakan yang mana anjing, dan yang mana tim sukses?”
Regina terdiam sejenak. Ia sadar bahwa sebagai polisi, ia tidak boleh membuat keributan yang tidak perlu.
“Baiklah, kita tidak usah berkelahi. Aku hanya ingin bertemu dengan majikanmu itu,” kata Regina yang rupanya tidak tahan untuk tidak memberikan kata-kata sarkas.
“Maksudmu, Bima Sakti? Aku tidak tahu. Aku hanya tim sukses, bukan pengasuhnya,” kata Rinjani masih dengan nada ketus.
Regina sadar kalau sia-sia berharap jawaban dari wanita itu. Ia pun memilih untuk pergi dari tempat itu dan bertanya dengan orang lain.
“Rama, nanti aku akan bicara padamu. Aku tahu kau orang baik dan aku tahu jika kau berbohong, jadi sebaiknya jangan menutupi apapun dariku.”
Kemudian, Regina berlalu pergi tanpa meninggalkan kata-kata pamit, khususnya untuk Indira dan Rinjani. Rama hanya bisa melihat dan bergumam dalam hati
Benar kata bang Abi dulu, no women no crime.
__ADS_1