
Indira menyusuri lorong rutan dengan langkah bersemangat. Ia mendengar suara ribut sudah menunggunya di depan pintu masuk rutan. Suara itu pasti berasal dari para awak media yang menunggu keterangannya, pengacara dari seorang tersangka yang paling mencuri perhatian saat ini.
Memang benar yang diucapkan Abi tadi, “Sebentar lagi kau juga pasti akan mendapatkan sorotan media karena menjadi pengacaraku. Asal kau tahu, posisi itu sempat menjadi rebutan banyak pengacara. Jadi, kau harus membanggakannya.”
Mengingat kata-kata itu, Indira senyum sendiri. Tentu saja, dengan segala resiko yang akan ia hadapi di masa depan, ia harus bangga karena menjadi pengacara seorang Abimanyu Alexander. Namun, mendadak ia ragu bisa menghadapi pers dengan baik mengingat beberapa waktu yang lalu karirnya di dunia hukum hampir hancur karena salah berbicara saat di depan wartawan.
“Harus bisa! Aku pasti bisa,” gumamnya menguatkan dirinya sendiri.
Baru saja melangkahkan kakinya ke luar pintu rutan, blitz kamera sudah menghantam matanya diiringi oleh berbagai pertanyaan dari para awak media.
“Bagaimana keadaan Abimanyu Alexander terkini?”
“Apakah Anda ditunjuk oleh tersangka atau Anda sendiri yang menawarkan diri?”
“Bagaimana persiapan untuk pemeriksaan ulang?”
“Apakah Abimanyu Alexander akan menuntut polisi yang menyiksanya pada pemeriksaan sebelumnya?”
“Apakah Abimanyu Alexander menyangkal tuduhan pembunuhan Mischa?”
“Bagaimana dengan bukti yang ditemukan di TKP? Apakah Abimanyu mengakuinya atau mencurigai TKP telah direkayasa?”
__ADS_1
Masih banyak pertanyaan lain yang dilemparkan pada Indira. Namun, gadis itu sama sekali tidak mendengar semua pertanyaan itu karena ia sudah mempersiapkan kata-kata untuk disampaikan kepada publik melalui ‘mulut’ pers. Ia justru sibuk melepaskan tatapan liar ke arah kerumunan, seperti sedang mencari seseorang. Setelah merasa yakin tidak ada sosok yang dicarinya, ia pun membuka suara.
“Perkenalkan. Saya Indira Christina dari Indira Christina Law Office and Legal Consultant. Terhitung mulai kemarin, saya ditunjuk oleh bapak Abimanyu Alexander untuk menjadi penasihat hukum beliau selama proses hukum untuk kasus yang menimpa beliau berlangsung. Bapak Abimanyu akan melakukan pemeriksaan ulang besok dan akan saya dampingi. Untuk kejadian sebelumnya, bapak Abimanyu menyatakan tidak akan melayangkan gugatan dan menganggap semua sudah selesai karena itikad baik yang ditunjukkan oleh pihak kepolisian padanya. Tentang tuduhan pembunuhan dan perantara narkotika, bapak Abimanyu menyangkal sepenuhnya dan akan membuktikannya di pengadilan. Kami akan berjuang agar keadilan dapat ditegakkan. Bukan hanya keadilan untuk bapak Abimanyu, tapi untuk semua driver ojol yang mungkin akan mengalami kejadian serupa. Geen straf zonder schuld, tiada maaf bagi kesalahan.”
Saat hendak meninggalkan tempat dengan perasaan bangga karena dapat menyelesaikan kalimatnya dengan keren, Indira melihat ekspresi bingung para pencari berita tersebut. Akhirnya ia sadar kalau ia salah menerjemahkan ungkapan Geen straf zonder schuld.
Ah, bodohnya aku!
* * *
Abi tertawa saat menonton berita tentang wawancara Indira tadi siang. Ia tidak bisa membayangkan betapa malunya Indira saat itu. Teman-teman sekamarnya yang ikut menyaksikan berita tersebut juga ikut tertawa.
“Tentu saja. Dia memenuhi kriteria pengacara yang kucari,” jawab Abi yang baru saja menyelesaikan tawanya. “Hanya dia yang bisa memenangkan kasusku.”
Dipo, penghuni rutan teranyar yang baru saja menyelesaikan pemeriksaan terkait penipuan investasi online, tertarik dengan pernyataan Abi. Ia mendekati rekan sekamarnya itu dan berkata, “Memangnya mencari pengacara ada kriterianya? Bukankah tingkat kemenangan seorang pengacara berdasarkan harga dan popularitasnya?”
Abi menatap Dipo lalu tersenyum. Ia pun menjawab, “Mencari pengacara ibarat mencari jodoh. Butuh komitmen, kepercayaan dan tentu saja kecocokan. Karena, seperti istri, memilih pengacara yang salah akan menghancurkan masa depan kita.”
Pria bertubuh kurus dengan tangan penuh tato itu mengangguk tanda baru mendapatkan sebuah ilmu yang cukup berharga bagi seseorang yang untuk pertama kalinya menjadi tersangka kasus pidana.
Kemudian, perhatian mereka kembali teralihkan ke televisi. Berita tentang seorang pengacara wanita bernama Indira Christina masih berlanjut. Namun, kali ini dengan topik pembahasan terbaru.
__ADS_1
“Siapa sangka? Ternyata pengacara yang beberapa kali viral karena tingkah konyolnya itu adalah anak dari seorang jurnalis terkenal bernama Jaka Pradipta Wijaya, atau yang dikenal dengan julukan Jack Off the Record.”
Semua orang terkejut mendengar nama itu. Jack Off the Record bukanlah nama asing, khususnya di dunia jurnalistik. Dia punya andil besar dalam terungkapnya berbagai skandal besar di negeri ini. Kasus prostitusi sebuah sekolah swasta terkenal yang sebagian besar kliennya adalah para artis, kasus perjudian para anggota dewan yang menggunakan saham ‘pemberian’ perusahaan-perusahaan sebagai taruhan, kasus aliran dana tak wajar dari beberapa pimpinan komisi yang selama ini dianggap membela hak asasi rakyat kecil hingga kasus penculikan yang berkaitan erat dengan pasar gelap organ tubuh di mana menyeret juga nama beberapa pejabat ikatan dokter terbesar di negeri ini.
Apakah dia bisa disebut pahlawan? Tentu saja tidak. Bukan rahasia umum lagi jika dia adalah jurnalis bayaran. Terlalu jelas sikapnya yang selalu membela suatu pihak dan menyerang pihak tertentu. Misalnya, saat seluruh negeri heboh dengan berita penggelapan pajak, ia tidak bersuara. Bahkan ia pernah tertangkap kamera sedang makan malam bersama seorang petinggi dirjen pajak sehari setelah berita tentang penggelapan pajak itu mencuat. Yang ia beritakan justru kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang anggota dewan yang paling gencar dalam memperjuangkan pengusutan kasus penggelapan pajak tersebut.
“Wah, wah, wah. Tak diduga, ternyata pengacara kikuk itu adalah anak si musang Jack,” seloroh Tejo yang diikuti oleh tawa teman-teman satu selnya. Namun, tawa itu meredup ketika melihat ekspresi wajah Abi. “Dan kau sudah menduganya?”
Abi tertawa kecil sambil mengangguk.
“Jangan bilang kau memilihnya sebagai pengacaramu karena dia adalah anak seorang jurnalis paling brengsek di negeri ini.”
“Bukan, bukan karena itu,” sangkal Abi. “Tapi aku tak bisa berbohong kalau fakta tersebut tidak membuat situasi menjadi lebih menyenangkan. Aku ingin membuat seseorang senang.”
Seisi ruangan tersebut menatap Abi yang masih tertawa kecil dengan keheranan. Mereka benar-benar tidak bisa memahami jalan pikiran pria misterius itu.
Sementara itu, di tempat lain, seorang pria tua duduk di kursinya yang megah sambil menonton berita yang sama dengan yang ditonton oleh Abi dan rekan-rekannya di sel. Didampingi oleh asisten setianya yang berdiri di sebelahnya, ia tertawa sambil bertepuk tangan kecil seakan sedang menonton pertunjukan yang menghiburnya.
“Ternyata pemuda itu tak sepintar yang kubayangkan. Dia pikir dengan menyewa pengacara bodoh akan membuatnya menang hanya karena pengacara itu adalah anak seorang jurnalis terkenal. Sayangnya, jurnalis itu terlalu brengsek untuk diandalkan. Cepat atau lambat, Jack Off the Record justru akan menjadi senjata makan tuan bagi mereka,” kata pria tua itu sambil tertawa. “Sepertinya aku semakin tua hingga terlalu mengkhawatirkan seorang pemuda sombong hanya karena ia menyebutkan dua pasal di depan pers.”
Pria tua itu berdiri dari kursinya dan berjalan meninggalkan ruangan itu. Tawanya masih membahana seiring dengan langkahnya yang masih gagah. Asistennya mengikuti dari belakang, sedangkan televisi itu dibiarkan menyala.
__ADS_1