Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 63


__ADS_3

Beberapa hari sebelumnya, saat Rama mengunjungi Abi


Rama masih mengelus mulutnya karena kesakitan setelah bertubi-tubi menerima tamparan keras dari abangnya. Ia sadar kalau dirinya memang telah melakukan kesalahan karena mengajak masuk Indira ke kamar sang abang. Padahal ia sendiri tidak pernah diizinkan masuk ke kamar itu oleh abangnya, kecuali untuk situasi-situasi darurat.


“Jadi, bagaimana pendapatnya setelah melihat dokumen-dokumen itu?” tanya Abi.


“Katanya, ada yang aneh dari dokumen itu. Seperti ada yang tidak lengkap,” jawab Rama.


Abi mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja sambil berpikir. Kemudian, ia mengatakan sesuatu dengan wajah yang sangat serius dan tidak ingin adiknya melupakan sedikitpun kata-katanya.


“Dengar, aku akan mengatakan sesuatu yang sangat penting. Jadi, simak baik-baik dan jangan sampai lupa. Suatu saat, jika kau mendengar kabar aku ditusuk, kau -”


“Abang ditusuk? Oleh siapa? Kita harus segera laporkan ke -”


PLAKKK!


Rama terdiam ketika Abi menamparnya kembali. Ia ingat kalau abangnya baru saja menyuruhnya menyimak baik-baik.


“Kau tidak perlu khawatir. Katakan juga kepada mama untuk tidak khawatir. Aku yang akan menusuk diriku sendiri.”


“A, apa?!”


Rama sama sekali tidak percaya dengan kata-kata Abi. Bagaimana mungkin seseorang mau menusuk dirinya sendiri?


“Apakah Abang sudah gila? Kenapa melakukan hal itu?”


“Dengar dulu! Jika aku melakukannya, berarti saat itu aku benar-benar harus keluar dari penjara. Tidak untuk selamanya, tapi untuk sementara waktu. Satu-satunya cara yang kupikirkan dengan sakit parah. Karena fasilitas klinik rutan sangat sederhana, maka pasien yang sakit parah akan dibawa ke rumah sakit. Sangat sulit untuk bisa mendapatkan penyakit parah sehingga melukai diri sendiri adalah hal paling masuk akal.”


“Tapi, itu sangat berbahaya?”


“Tidak, jika tidak mengenai titik-titik vital dan jika tidak terlalu dalam. Aku sudah pernah mempelajarinya dan aku pasti tidak akan apa-apa. Semoga saja dokter rutan bisa memberikan pertolongan pertama yang baik dan segera membawaku ke rumah sakit terdekat,” harap Abi.


“Jadi, apa yang harus Rama lakukan setelah itu?”


“Bertukar tempat,” jawab Abi yang membuat terperanjat.


“Bertukar tempat? Maksudnya, teleportation?”

__ADS_1


Tatapan Abi berubah kembali menjadi penuh kekesalan, menyadarkan Rama kalau ia telah salah bicara dan ia hanya menundukkan kepala.


“Kau menyamar jadi aku dan aku jadi kau. Persiapkan saja beberapa perlengkapan seperti perban, pisau, plester dan alat untuk memasang infus seperti tourniquet dan jarum IV. Kalau bingung, tanyakan saja pada mama. Dia pasti tahu apa saja yang dibutuhkan karena dia pernah menjadi perawat.”


“Ja, jadi, maksud Abang, Rama yang akan menjadi pasien dan Abang menyamar menjadi Rama, lalu Rama tinggal di rumah sakit dan Abang pergi?”


“Iya. Akhirnya kau mengerti juga.”


“Be, berarti perut Rama ditikam juga? W, why?”


Abi menghela napas lalu mendekatkan wajahnya pada Rama untuk membisikkan sesuatu. “Aku ingin menemui si Siti V. Apakah kau saja yang menemuinya?”


Rama terdiam dan wajahnya terlihat pucat. Lalu ia berkata lirih, “Baiklah, tikam saja perut Rama. Itu jauh lebih baik daripada harus bertemu dengannya.”


                  *


Beberapa hari sebelumnya, saat Indira mengunjungi Abi


Abi bingung karena Indira menuliskan kata makian yang ia yakini ditujukan untuknya. Ia bisa melihat urat di wajah pengacaranya itu. Kertas yang ada di tangan Indira juga terlihat sudah lecek karena ia genggam dengan kegeraman. Abi ingin menanyakan alasan kemarahan itu melalui tulisan, tapi Indira keburu sibuk menarikan pena di tangannya.


“Meski ia sahabat lamamu, kamu harus berhati-hati dengannya. Ia terlihat sangat bersemangat mencari kesalahanmu. Kemarin aku melihatnya mengunjungi klub langganan Benjiro.”


Abi merenungkan tulisan Indira. Padahal tidak perlu repot melihat nama-nama itu, karena orang yang paling berkaitan dengan PT. Laras Jaya Karya adalah tuan Jireh sendiri. Namun, ia hanya bisa diam. Ia masih tidak ingin melibatkan Indira ke dalam perseteruan antara dirinya dengan tuan Jireh, meski orang itu secara terang-terangan ingin melibatkannya.


 Aku bisa mendapatkannya. Tapi sedikit beresiko, dan mungkin akan melawan hukum. Apakah kau mau membantu?


“Ya, aku tahu. Meski ia sahabat lamaku, saat ini aku hanya percaya pada siapapun yang ada di pihakku. Aku takkan membuang waktuku untuk berbaikan dengannya,” ujar Abi.


Indira mendadak gugup ketika membaca tulisan Abi. Firasatnya mengatakan kliennya itu akan melakukan hal-hal yang aneh dan berbahaya.


Apa yang ingin kamu lakukan? Apakah kamu ingin kabur dan mencuri data-data itu ke kantor PT. Laras Jaya Karya?


“Kalau kamu berpikiran seperti itu, seharusnya kamu meminta maaf pada orang yang terang-terangan berada di pihakmu. Bukan padanya.”


Abi dan Indira saling menatap. Meski gilirannya menulis, Abi hanya memegang penanya dan tersenyum. Kemudian ia menulis satu kata yang sama dengan apa yang akan dikatakannya.


Maaf

__ADS_1


“Maaf.”


                  *


Sehari sebelum kejadian penikaman


Abi duduk di atas toilet dalam keadaan gelap gulita. Seperti biasa, ia menarik salah satu batu bata yang melekat di dinding lalu mengambil sesuatu dari dalamnya. Kali ini tidak hanya ponsel, melainkan bersama dengan sebuah pisau lipat dan pemantik. Tadi siang Abi mencurinya dari dapur rutan, saat ia bertugas untuk mengantarkan bahan makanan yang baru datang ketika mereka sedang bergotong royong.


Bilah pisau itu dibakar dengan menggunakan pemantik lalu ia mengelapnya. Kemudian, Abi memasukkan pisau tersebut, menyelipkannya di antara perlengkapan mandinya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tahu, yang akan dilakukannya besok akan sangat beresiko.


Abi kembali membaca artikel yang sudah dibacanya belasan kali, yaitu tentang anatomi perut. Ia meraba perutnya dan berlatih menusuknya menggunakan jari, sesuai dengan lokasi aman yang ditunjukkan oleh buku.


Kemudian, layar ponselnya berkedap-kedip. Ia tahu, tuan Jireh akan menghubunginya malam ini. Lalu ia menekan tombol menerima panggilan.


[Sepertinya asistenku menyukainya. Ia selalu berkata kalau wanita itu sangat cantik.]


Abi mengepalkan tangannya tanda kegeraman di hatinya sudah memuncak. Ingin rasanya ia menusukkan pisau yang ada di tangannya ke leher pria itu.


“Sudah kukatakan, jangan libatkan dia dalam perseteruan kita.”


[Sudah kuduga, kau pasti belum menceritakan tentangku padanya. Atau bahkan kau tidak melarangnya untuk berhubungan denganku lagi agar ia tidak curig. Berarti asistenku masih bisa bertemu dengannya.]


“Bajingan!”


[Ayolah, biarkan dua insan membangun kisah romantis di antara mereka. Atau jangan-jangan kau juga menyukainya?]


“Aku tidak tertarik dengan hal-hal tak berguna seperti itu. Aku hanya ingin kita bertarung sebagaimana pria bertarung. Apakah aku cukup tangguh sehingga kau harus mengancamku dengan mendekati orang-orang yang ada di sekitarku?”


Pria itu tidak langsung menjawab. Hanya ada suara tawa yang terdengar dari seberang telepon. Abi berusaha bersikap tenang meski setiap kali tuan Jireh tertawa, hatinya selalu diliputi perasaan yang mencekam.


[‘Sebagaimana pria bertarung’? Menarik. Padahal aku baru saja berkata pada seseorang bahwa kau adalah pria sejati, sedangkan aku adalah petarung sejati. Sebaiknya kau harus berhati-hati karena kau akan kalah jika berharap lawanmu bertarung sambil menegakkan prinsip yang sama denganmu. Bukan hanya kalah, kau akan kehilangan nyawamu.]


Abi menghela napas. Ia seperti tidak ingin berdebat mulut lagi dengan siapapun, terutama denga tuan Jireh. Ada hal besar yang akan dilakukannya besok.


“Ya, petarung sejati akan melakukan apapun untuk meraih kemenangan. Besok kau akan melihat seberapa jauh usahaku untuk meraih kemenangan. Lalu, kau bisa memikirkan kembali apakah meremehkanku adalah tindakan yang tepat atau justru berbahaya.”


Abi menutup panggilan. Kemarahannya semakin bertambah setelah menerjemahkan kata-kata tuan Jireh sebagai ancaman terhadap Indira.

__ADS_1


__ADS_2