Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 45


__ADS_3

Beberapa minggu sebelumnya


Aula rutan Sukadamai sedang melakukan ibadah. Abi yang mengikuti ibadah, duduk bersebelahan dengan seseorang bertubuh besar dan penuh tato. Wajah seramnya cukup untuk menebar teror hanya dengan melihatnya saja. Semua orang memanggilnya Bos Dirga. Dan mereka berdua sedang terlibat dengan percakapan serius.


“Baiklah, katakan saja siapa orang yang ingin kau ketahui informasinya.”


“Mischa Radjasa,” ujar Abi mantap.


Bos Dirga berpikir sejenak. Otaknya sedang mencoba untuk mengingat nama itu. Terdengar familiar, tapi sepertinya tidak cukup dekat dengannya.


“Ah, artis itu. Bukankah dia yang kau bunuh itu? Ah, maaf. Aku sama sekali tak mengenalnya. Sepertinya kau salah bertanya.”


“Bukan, bukan Mischa Radjasa yang mati itu,” kata Abi. “Tapi ‘Mischa Radjasa’ yang pernah kutemui dulu. Yang menyuruhku mengantarkan paket berisi sabu-sabu dan membuatku harus mendekam di tempat ini.”


Bos Dirga menaikkan alisnya. Ia sama bingungnya dengan beberapa pengikutnya yang ikut mendengar.


“Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.”


“Aku ingin mengetahui informasi tentang seorang pria dengan tinggi badan sekitar 180 cm, kurus, warna kulit putih dan mata sipit. Seperti Mischa,” terang Abi, namun mereka masih bingung. “Perbedaannya, mata kirinya berwarna biru. Entah itu asli atau lensa kontak. Lalu, tubuhnya agak bungkuk dan memiliki bekas luka bakar di telapak tangannya. Kaki kanannya juga sedikit lebih panjang.”


“Tunggu, sebelum kau berharap banyak dariku, aku ingin tahu kenapa kau berpikir aku pasti mengenalnya?”


“Koin VIP,” jawab Abi singkat, namun langsung dipahami oleh sang bos kasino. Koin itu hanya dimiliki oleh orang-orang khusus di kasino miliknya. “Ia mengeluarkan koin itu ketika hendak memberikan uang biaya delivery.”


Bos Dirga dan para anak buahnya berbisik mendiskusikan sesuatu. Bisikan mereka terlalu bising sehingga mengganggu jalannya ibadah yang sedang berlangsung. Meski telah ditegur secara halus oleh pendeta yang sedang berkhotbah, mereka tak peduli.


Seorang sipir sadar kalau Abi sedang berada di dekat bos Dirga. Sesuai dengan perintah kepala rutan, mereka tak boleh saling berdekatan. Namun, ketika ia hendak mendekat untuk menyuruh Abi pindah tempat duduk, anak buah bos Dirga segera berdiri untuk menghalangi langkahnya. Sipir itu pun mundur.


“Apakah ada ciri-ciri lain?” tanya bos Dirga.


“Meski kurang jelas, aku mendengar ia kesulitan melafalkan huruf l. Ia selalu menggantinya dengan lafal r. Sepertinya ia keturunan Jepang.”


Bos Dirga dan anak buahnya kompak menyebut huruf o dengan pengucapan yang cukup panjang. Mereka kembali membuat keributan dan kali ini sang pendeta tidak bisa berbuat apa-apa selain melanjutkan khotbahnya.

__ADS_1


“Benjiro Michael!” Bos Dirga dan anak buahnya kompak menyebut nama itu. “Apakah ia benar-benar menyamar menjadi Mischa?”


Abi mengelus dagunya setelah mendengar nama itu. Terdengar tidak asing, tapi samar. Ia tidak mengenal nama itu begitu jelas.


“Begitulah. Siapa dia?”


“Salah satu pelanggan VIP di kasinoku. Ia merupakan salah satu pemasok narkoba terbesar di kota ini, bersaing dengan Silver Circle. Bedanya, ia hanya pengedar, bukan produsen seperti Silver Circle. Jaringannya juga tidak luas, tapi sebagian besar orang-orang penting seperti pejabat atau artis. Dan yang kudengar, sejak tahun lalu ia dipercayakan untuk menjadi perantara tuan Jireh dengan para anggota dewan.”


Wajah bos Dirga dan anak buahnya berubah panik sampai memucat setelah sadar telah mengucapkan sebuah nama yang seharusnya tidak boleh disebutkan. Abi yang belum pernah mendengarnya menjadi curiga melihat ekspresi mereka.


“Siapa tuan Jireh?” tanya Abi.


Bos Dirga tidak langsung menjawab. Baru kali ini Abi melihat wajah yang biasanya menunjukkan ekspresi seram itu terlihat setakut ini. Ia merasa telah menemukan sesuatu yang luar biasa, namun masih tertutup sebuah tabir yang tebal.


“Maaf, dia adalah satu-satunya orang yang tidak ingin kubicarakan pada siapapun.”


                  *


Sudah pegal leher Rama yang sedari tadi bergerak lebih intens dari biasanya. Bukan hanya karena mengikuti tempo musik, sedari tadi kepalanya berputar untuk mencari seseorang. Lalu matanya berhenti mencari dan mulai membaur dengan suasana lantai dansa. Ia mulai menggerakkan seluruhnya tubuhnya mengikuti irama lagu.


Fokus, Rama! Fokus! Ini adalah tugas penting! Kau harus menemukan orang yang telah mengkhianati bang Abi!


Rama menampar pipinya untuk mengembalikan kesadarannya yang sempat hilang, kemudian kembali mencari.


Perhatian Rama terfokus pada seorang wanita yang menari dengan hebohnya. Ternyata bukan hanya dia, tapi hampir seluruh orang yang berada di lantai dansa menatapnya dengan kagum. Wanita itu bergerak dengan sangat lincah dan energik. Rama ingin mengenal wanita itu. Dengan percaya diri, ia datang dan menghampiri.


Namun, ia terkejut ketika akhirnya bertatapan mata dengan wanita itu. Dan aanita itu juga terkejut melihatnya.


“Shasha! Sedang apa kau di sini?”


Rupanya wanita itu adalah pacarnya.


“Aku janjian dengan pelangganku di sini. Tapi ia belum datang,” jawabnya santai. “Lalu, kau sendiri sedang apa di sini? Menggoda cewek lain, ya?”

__ADS_1


“Ti, tidak. Rama hanya-”


Perkataan Rama terhenti saat melihat seorang pria bertubuh tinggi masuk ke dalam klub. Ia mengenakan jaket panjang dan kacamata berwarna hitam. Tubuhnya agak bungkuk dan tangannya selalu berada di dalam saku jaket. Ia berjalan menyusuri tangga. Menuju lantai 2.


“Kau mengenalnya?” tanya Shasha karena melihat pacarnya memperhatikan pria itu dengan serius.


“Tidak, tapi dia adalah tujuanku ke sini malam ini,” jawab Rama.


“Pasti berkaitan dengan kasus abangmu yang keren itu, kan?” tebak Shasha yang dikonfirmasi dengan anggukan kecil Rama.


“Rama ingin mendekatinya. Ada yang ingin Rama selidiki darinya,” kata Rama sebelum melangkahkan kakinya untuk mengikuti pria itu.


Shasha geleng kepala lalu memegang baju Rama sehingga ia tidak bisa berjalan lagi.


“Kau tak bisa ke sana. Dia adalah VIP dan mereka biasanya ke ruangan khusus di lantai 3 yang tak bisa dimasuki oleh sembarangan orang.”


“Tapi Rama harus -”


“Pria itu adalah Benjiro, salah satu pengedar sabu-sabu terbaik di kota ini. Konon, dia memiliki relasi dengan banyak pejabat dan artis. Dia seperti memegang ‘kunci’ mereka. O ya, dia selalu duduk paling ujung, jauh dari sinar lampu dan benda-benda elektronik. Kata orang, dia electrophobia. Kemungkinan besar karena trauma akibat pernah kesetrum. Di tangan kanannya ada bekas luka bakar. Bisa jadi itu adalah luka setrumnya.”


Rama melongo sejenak lalu tersenyum bahagia sampai mencubit kedua pipi kekasihnya karena gemas. “Pacar Rama memang hebat. Bagaimana kau bisa mengenalnya?”


“Dia adalah pelanggan yang sedang kutunggu.”


Rama kembali melongo. Sukmanya bak meninggalkan raganya kini. Shasha sampai melambaikan tangan tepat di depan wajahnya.


“Kenapa? Kau seperti orang yang sedang kesurupan.”


Rama menatap Shasha dengan mata berkaca-kaca. Perlahan tangannya terangkat dan memegang kedua bahu kekasihnya itu. Kemudian ia mulai berkata-kata dengan suara yang lebih berat dari biasanya.


“Sepertinya kita memang dijodohkan oleh dewa langit.”


Shasha mengangkat alisnya karena keheranan. “Bukannya di agamamu tidak ada dewa langit?”

__ADS_1


__ADS_2