
“Kau sudah bertemu dengannya?” tanya pria tua itu dengan suara beratnya. Seorang pria lain yang mengenakan setelan rapi menunduk. Setelah menegakkan kepala, ia membetulkan posisi kacamata klasiknya yang sudah miring.
“Sudah, Tuan. Saya telah menyampaikan semua yang Tuan suruh,” kata pria kurus itu kepada bosnya, tuan Jireh.
Tuan Jireh mengangguk sambil membakar ujung cerutunya. Kemudian, ia hisap cerutu itu dalam-dalam lalu menghembusnya panjang. Terlihat ia sangat menikmatinya. Pria kurus berkacamata klasik itu tahu, jika sang bos melakukan hal seperti itu, artinya ia sedang tertekan karena sebuah masalah. Tak salah lagi, masalah itu adalah Abi, seorang tahanan dari kalangan masyarakat biasa yang memberikan perlawanan cukup sengit padanya.
“A, anu. Maaf jika saya lancang. Tapi, kenapa sekarang kita harus melibatkan Indira Christina?”
“Untuk membuat permainan semakin seru,” ujar tuan Jireh. “Selama ini Abimanyu Alexander sangat bergantung pada wanita itu. Tapi, melihat bagaimana reaksinya saat bajingan kecil itu mencoba untuk memperpanjang masa tahanannya, sepertinya wanita itu belum tahu tentangku. Bajingan kecil itu pasti ingin menjauhkannya dari pertarungan kami. Kau tahu apa artinya?”
“A, apa, Tuan?”
“Wanita itu cukup berharga baginya,” kata pria tua itu sambil menghisap cerutunya kembali. “Abimanyu Alexander itu adalah seorang pria sejati. Ia tidak akan takut mempertaruhkan nyawanya, tapi takkan pernah membiarkan orang yang berharga baginya terluka. Wanita itu akan menjadi titik lemahnya.”
Sang asisten menatap tuannya dengan perasaan bingung. Kemudian ia kembali bertanya, “Tapi, bukankah Indira Christina juga adalah orang yang berharga bagi Anda?”
Pria tua itu menatap asistennya tajam seakan kata-kata barusan telah menyakiti perasaannya. Asisten tersebut sempat merasa ketakutan setengah mati, sebelum akhirnya tuan Jireh tertawa. “Aku bukan pria sejati, tapi petarung sejati. Kau tahu apa perbedaannya? Seorang petarung sejati hanya fokus pada kemenangan, tak peduli harus mempertaruhkan apapun.”
Tuan Jireh kembali menghisap cerutunya dalam-dalam lalu melepasnya dari mulut. Kemudian, ia meletakkan ujung cerutu yang masih menyala itu ke sebuah tubuh yang tergeletak tak berdaya di depan kakinya. Tubuh itu dipenuhi dengan luka bekas penganiayaan hebat sehingga nyaris tidak dikenali lagi. Bahkan ketika ujung cerutu itu menyentuh kulitnya, si pemilik tubuh tak lagi sanggup untuk berteriak.
“Lagipula, setelah pengkhianat ini memberikan blue print PARADISE pada Abimanyu Alexander, aku tidak bisa menebak isi kepala bajingan kecil itu. Jadi, sekalian saja aku memberinya sedikit petunjuk tentang lokasinya sehingga aku bisa menebak langkah yang akan ia ambil selanjutnya.”
Tuan Jireh tertawa keras sehingga ruangan yang besar itu dipenuhi oleh tawanya. Ia sudah tidak sabar untuk melihat aksi Abi selanjutnya, sebelum akhirnya ia hancurkan.
*
Wajah Abi kembali tegang. Masih tersisa rasa malu campur kesal karena Indira menyaksikan secara langsung ekspresi kagumnya pada sang idola, yang tidak disadarinya terlihat sangat aneh. Tapi itu tak lebih penting dari kenyataan bahwa Indira tahu nama tuan Jireh.
__ADS_1
Siapa tuan Jireh? Bagaimana kau tahu nama itu?
Saat ini Abi tidak tahu sejauh mana Indira mengetahui Jireh. Bisa lebih sedikit, bisa juga lebih banyak darinya. Ia juga tidak tahu apakah Indira tahu jika Abi tahu tuan Jireh.
“Sayang sekali kau tidak mendampingiku di pemeriksaan kemarin. Padahal dulu aku harus menghina kepolisian karena diperiksa tanpa didampingi oleh pengacara.”
Indira terkejut. Itu sama sekali tidak ada dalam dialog yang ia tulis. Bahkan foto Eunha adalah lembar terakhir. Akhirnya ia sadar kalau Abi tertarik dengan tuan Jireh. Padahal ia hanya seorang klien yang berkonsultasi tentang status hukum atas kepemilikan propertinya di pulau reklamasi yang sedang bermasalah itu.
Dia hanya salah satu klienku yang ingin berkonsultasi tentang asetnya di salah pulau reklamasi.
“Maaf, aku sibuk sehingga tidak sempat mendampingimu.”
Indira melihat tulisan Abi dengan seksama.
Kau melihat wajahnya? Seperti apa?
Abi menunggu jawaban dari Indira. Matanya terus menatap tangan pengacaranya yang bergerak menuliskan sesuatu. Ia sudah tidak sabar untuk mengetahui seperti apa rupa orang yang selama ini menjadi momok paling menakutkan baginya.
Aku tidak melihatnya. Yang datang adalah asistennya bernama Jesse Arnold. Kenapa? Apakah kamu pernah mendengar nama itu?
“Apakah kamu diperlakukan dengan baik oleh para penyidik itu?”
Kekecewaan memenuhi hati Abi. Ia pikir bisa mengetahui wajah tuan Jireh.
Tidak pernah. Aku hanya ingin tahu masalah apa yang sedang dihadapi oleh tuan Jireh. Seperti katamu tadi, mungkin ada kaitannya dengan proyek PT. Laras Jaya Karya di sana.
“Tidak baik dan tidak buruk. Kebetulan, salah satu penyidiknya adalah Regina. Kau masih ingat Regina, kan?”
__ADS_1
Indira mengangguk sambil menuliskan penjelasan tentang kasus tuan Jireh secara sederhana.
Jadi, tuan Jireh berinvestasi pada salah satu pengembang di pulau Jupiter. Tapi…
“Tunggu, Regina? Si polwan rocker itu? Bukankah dia temanmu? Bagaimana dia bisa memeriksamu? Apa saja yang ia katakan?”
Abi menunjuk ke arah kertas dan pena Indira sebagai isyarat agar ia melanjutkan tulisannya, tapi wanita itu bergeming. Ia balik memberikan isyarat tidak akan melanjutkan tulisannya jika Abi tidak segera menjawab pertanyaannya. Pada akhirnya, Abi yang menyerah.
“Ya, dia dan satu orang rekannya yang memeriksaku. Aku tidak tahu kenapa bisa. Mungkin karena kami tidak punya ikatan darah atau karena ia menyembunyikan hubungan pertemanan kami atau memang hal itu diperbolehkan.”
Meski telah dijawab, tatapan tajam Indira tidak berubah. Ia pun mulai menulis, seperti yang diminta oleh Abi.
Intinya, tuan Jireh ingin menginisiasi seluruh investor dan pengembang yang telah menggelontorkan modal untuk mengajukan gugatan kepada pemerintah karena izin reklamasi yang tak kunjung keluar, bahkan terancam gagal. Padahal, sudah dilakukan beberapa proyek pembangunan di sana dengan dasar izin pelaksanaan yang mengacu pada pergub beberapa tahun yang lalu.
“Apa yang kalian bicarakan? Masalah pribadi? Atau kalian bernostalgia tentang masa-masa remaja kalian yang indah? Wah, pasti perbincangannya sangat seru. Sayang sekali, harusnya kalian ke restoran saja bincang-bincangnya.”
Abi bingung melihat sikap Indira yang sepertinya sangat kesal padanya. Apakah Indira berpikir kalau Abi telah meminta maaf dan berdamai dengan Regina, tapi lupa untuk meminta maaf padanya? Ah, mungkin Indira hanya asal bicara karena tidak ada lagi dialog yang bisa dibaca.
Lalu, solusi apa yang kau berikan padanya? Apakah kalian masih berhubungan sampai sekarang?
“Tidak, dia hanya bertanya tentang beberapa hal terkait kasus, terutama tentang Benjiro. Tidak ada pembahasan pribadi. Bahkan, kami pura-pura tidak saling mengenal. Sepertinya ia masih marah karena kasus kematian Roy yang lalu. Padahal aku berniat untuk meminta maaf padanya karena pernah bersikap kurang ajar. Yang pasti, saat itu tidak terjadi keseruan apapun. Ia bekerja dengan profesional.”
Aku hanya menyuruhnya untuk mendiskusikannya terlebih dulu pada asosiasi pengusaha sebagai wadah para pelaku usaha memperjuangkan hak mereka. Jika asosiasi tersebut tidak memberikan solusi lain selain melalui jalur hukum, maka mereka bisa mengajukan gugatan. Tapi, apakah benar kau tidak mengenal tuan Jireh? Kau seperti mengkhawatirkannya.
“Wah, dia sangat beruntung karena seorang Abimanyu Alexander berniat untuk meminta maaf padanya.”
Abi terkejut dengan satir yang dilemparkan Indira padanya. Tapi, ia berpura-pura untuk bersikap normal dan berpikir hanya perlu membaca yang ditulis oleh Indira, karena perbincangan mulut mereka hanya untuk mengelabui para penyadap. Matanya pun mengarah pada tulisan Indira.
__ADS_1
Dasar bajingan!