Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 104


__ADS_3

Seminggu lebih beberapa hari yang lalu, saat pistol mengacung ke belakang kepala Abi


Abi menutup telepon tanpa mendengar ucapan penutup dari tuan Jireh. Ia merasa sangat bangga dengan apa yang telah dilakukannya, meski perasaan itu diiringi oleh rasa takut juga karena yakin bahaya besar akan mendatanginya.


Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara, seperti suara senjata yang sedang dikokang.


“Aku akui, kau sangat berani sehingga bisa bersikap sekurang ajar itu pada tuan Jireh. Aku jadi punya alasan yang lebih kuat untuk menghabisimu.”


Abi melihat ke arah jendela yang membiaskan bayangannya dan petugas yang sejak tadi menemaninya. Petugas itu sudah berdiri di belakangnya dengan senjata teracung ke arahnya. Abi melihat ke arah kamera pengawas. Sesuai dugaannya, kamera itu dalam keadaan mati.


“Tuan Jireh menyuruhmu menghubunginya sekarang. Ada yang harus kau lakukan padaku. Aku tak mengerti apa, tapi katanya ada perubahan rencana,” ujar Abi berusaha tenang. Ia tahu, nyawanya sedang dalam bahaya.


Petugas itu terlihat ragu. Kemudian, ia berusaha merogoh ponsel di sakunya dengan tangan kiri sehingga tangan kanannya yang sedang memegang pistol sedikit bergeser. Melihat celah yang sangat kecil itu, Abi menendang kursinya ke belakang sehingga mengenai bagian dada ke bawah dari petugas itu. Dengan sigap, Abi memukul pistol itu hingga terpelanting. Petugas itu terlihat bingung karena pistol yang akan ia gunakan untuk mengeksekusi Abi. sudah tidak ada lagi di genggamannya. Kebingungannya itu membuatnya tidak sigap saat menyambut pukulan dari Abi.


Tanpa mengalami kesulitan berarti, Abi berhasil merobohkan tubuh petugas itu. Dengan brutal, Abi menghajar bagian wajahnya hingga babak belur. Setelah memastikan tidak ada lagi pergerakan dari petugas itu, ia mengambil kunci dari sabuknya.


Setelah berhasil melepaskan borgol dari tangannya, Abi berusaha mengatur napasnya yang tersengal-sengal sambil melihat petugas yang wajahnya sudah bersimbah darah itu. Abi berusaha memikirkan apa lagi yang harus dilakukannya. Kemudian, sebuah ide melintas di pikirannya. Ia segera mengganti pakaiannya dengan pakaian petugas itu. Kebetulan, postur tubuh mereka sama.


Butuh waktu beberapa menit baginya untuk berganti pakaian dengan orang yang sedang pingsan. Abi kembali mengecek pria itu. Meski wajahnya sudah hancur, Abi masih mengingatnya. Ia yakin belum pernah melihat wajah itu di lapas ini. Kemungkinan ia bukan benar-benar petugas. Ia pasti adalah pembunuh bayaran yang dikirim oleh tuan Jireh dan diketahui oleh ketua lapas dan para petugasnya.


Tiba-tiba mata Abi terfokus pada ponsel milik orang itu. Ponsel itu hendak dipakainya untuk menghubungi tuan Jireh setelah Abi menipunya. Abi menekan beberapa nomor dan menyimpannya dengan nama Mr. J, lalu melakukan panggilan ke nomor itu.


[Halo.]


Terdengar suara yang tak asing bagi Abi. “Sabar Parulian.”


[Tidak ada nama itu! Yang ada De Syado!]

__ADS_1


“Baik, baik. De Syado. Aku Abi,” kata Abi dengan wajah tersenyum.


[B, Bos! Bagaimana kau bisa menelepon? Bukankah kau sedang di lapas Maharaja saat ini?]


“Panjang ceritanya. Sekarang aku mau meminta tolong padamu. Kau pernah dengan suara seseorang yang pernah kukirimkan padamu dulu?”


[Oh, suara penjahat itu. Kenapa?]


“Aku ingin kau menirukannya.”


Beberapa saat kemudian, Abi keluar dengan pakaian petugas. Ia sengaja mengoleskan darah pria itu ke wajahnya dan menutup sebagian mulutnya dengan tangan.


“Lama sekali. Apakah ia melawan?” tanya seorang petugas yang menyambutnya.


“Begitulah. Ternyata ia lawan yang tangguh,” jawab Abi.


“Ia keburu menyadarinya dan merebut pistolku. Aku harus menghajar wajahnya sampai jariku patah sehingga tidak bisa menggunakan pistol itu lagi. Aku ingin kau mengurusnya. Pistolku masih ada di sana.”


Kedua petugas itu mengangguk sambil tersenyum girang. Mereka masuk ke ruangan tadi dan beberapa saat kemudian terdengar bunyi tembakan yang agak pelan karena pistol itu menggunakan peredam. Abi berjalan menuju tempat yang diarahkan oleh petugas lain. Mereka menuju ruangan kepala lapas.


“Silakan duduk,” sambut sang ketua lapas saat melihat kehadirannya. “Sayang sekali kamera pengawas di ruangan itu harus dipadamkan sehingga aku tidak bisa melihat seorang pembunuh bayaran terkenal bernama King Cobra beraksi. Ada lagi yang bisa kubantu?”


“Tuan menyuruhku menghubungi beliau setelah selesai menjalankan misi. Ia ingin berbicara dengan Anda,” kata Abi. Ia segera mencegah kepala lapas ketika hendak mengambil ponselnya sendiri. “Pakai ponsel saya saja.”


Kepala lapas mengangguk tanda setuju. Ia menunggu Abi menekan tombol ponselnya lalu menyerahkan ponsel itu padanya. Sekilas ia melihat tulisan Mr. J di layar ponsel itu. Kepala lapas tahu kalau nama itu memang seperti kode wajib yang digunakan anak buah tuan Jireh untuk menamakan nomor ponselnya.


“Halo, Tuan,” kata kepala lapas dengan suara lembut.

__ADS_1


[Apakah anak buahku berhasil melakukan misinya?]


“Tentu saja, Tuan. Saya banyak membantunya, jadi tidak akan ada masalah.” Terlihat senyum kepala lapas tidak berhenti mengembang.


[Bagus. Sekarang antar dia ke kamar narapidana kelas satu. Aku ingin dia menyampaikan pesanku.]


Wajah kepala lapas mendadak berubah pucat. Ia berusaha menolak permintaan tuan Jireh, yang tak lain adalah De Syado yang sedang menyamar, namun akhirnya menyerah karena si ‘tuan Jireh’ memaksanya terlalu keras.


“Maaf, Tuan. Meskipun Tuan yang meminta, saya tidak bisa membawa seseorang menghadap Nyonya tanpa seizin Nyonya terlebih dulu. Ia akan marah besar pada saya..”


Abi tersentak. Nyonya? Artinya, narapidana kelas satu itu adalah seorang wanita. Abi tersenyum senang karena mendapatkan sebuah informasi baru yang sangat berharga.


Kepala lapas menutup panggilan itu dengan wajah yang masih pucat. Kemudian, ia menyuruh salah satu petugasnya untuk mengantar Abi ke suatu tempat.


“Katakan pada tuan Jireh permintaan maafku sekali lagi. Tentu tuan Jireh tahu betapa mengerikannya Nyonya jika marah. Bahkan tuan Jireh takkan bisa berbuat apa-apa,” kata kepala lapas saat melepas kepergian Abi.


Abi mengangguk lalu mengikuti seorang petugas yang diutus kepala lapas untuk mengantarnya keluar. Sebenarnya Abi ditawarkan untuk merawat lukanya terlebih dulu, tapi Abi menolak. Tentu, ia tidak ingin terlalu lama menyamar hanya demi mendapatkan pengobatan. Ia bisa mengobati dirinya sendiri.


Perjalanan mereka ternyata tidak menuju pintu masuk lapas. Petugas itu berjalan menuju blok penjara kelas dua. Abi sempat bingung. Yang lebih membingungkannya lagi mereka tidak ke kamar siapa-siapa, melainkan ke toilet. Untuk apa mereka ke tempat itu?


Dan kebingungan Abi akhirnya terjawab ketika petugas itu membuka pintu toilet paling ujung. Di dalam toilet itu ada sebuah pintu rahasia yang terbuka ketika tombol flushing ditekan. Abi takjub hingga petugas itu memanggilnya untuk segera masuk melalui pintu itu. Pantas saja para narapidana di kelas dua betah menjalani masa hukuman mereka. Bukan hanya disediakan kamar mewah, mereka juga bisa keluar masuk penjara dengan bebas melalui terowongan ini.


Di dalam pintu itu ada sebuah terowongan. Mereka berjalan menyusuri terowongan itu. Terowongan itu seperti sebuah saluran air besar yang gelap dan dengan medan yang cukup sulit untuk dilalui.


“Jika calon kita menang di pilkada nanti, tuan Jireh pasti akan membuat terowongan ini lebih baik lagi. Kita tidak perlu berjalan sambil meraba dan naik turun tangga yang curam ini,” gumam petugas itu. Ya, sebuah informasi bagus yang didapat Abi dari keluhan seorang petugas.


Perjalanan mereka berakhir di kamar mandi sebuah rumah. Di rumah itu sudah disediakan berbagai macam pakaian agar para narapidana yang ingin keluar bisa mengganti pakaian mereka. Tentu saja, lengkap dengan rambut, alis, kumis dan janggut palsu. Bukan hanya itu, di parkiran juga tersedia berbagai macam mobil mewah yang bisa mereka gunakan untuk berkeliaran di luar sana.

__ADS_1


Namun, karena bukan bagian dari narapidana elit, Abi hanya diizinkan untuk memakai pakaian dan kumis palsu. Tapi, ia memang hanya butuh itu untuk keluar.


__ADS_2