Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 93


__ADS_3

Andika masih menatap Abi seakan ingin memastikan apa yang baru saja didengarnya. Tuan Jireh? Bagaimana bocah ini bisa berhubungan dengan sosok menyeramkan itu?


“Ayolah, kau pasti tidak berniat mencari masalah dengan orang itu,” kata Andika seraya berharap Abi sedang bercanda.


“Berniat? Kau pikir siapa yang selama ini kulawan?”


“Jangan! Jika kau sudah melakukannya, hentikan! Kau takkan bisa melawannya.”


“Kenapa? Dia sendiri menikmatinya?”


“Dia tahu kalau kau melawannya?”


“Tahu? Dia sendiri yang mengatakannya padaku.”


“Secara langsung?”


“Tidak secara langsung. Ia meneleponku.”


“Itu juga termasuk secara langsung! Apa yang kau katakan?”


“Banyak. Intinya, aku mengancam untuk menghancurkannya. Ia telah menggangguku, jadi aku harus membela diri dengan melawannya.”


Andika tidak mampu berkata-kata lagi. Lututnya lemas hingga ia tak sanggup berdiri. Sejak pertama kali mendengar nama itu, ia tidak pernah sekalipun mendengar ada orang yang berani melawan tuan Jireh. Kekejamannya sudah termasyur di dunia ‘bawah tanah’. Tidak ada yang tidak gemetar saat harus menghadapinya. Dan kini, anaknya sendiri dengan santainya mengatakan telah mengancam tuan Jireh, bahkan secara langsung.


“Bukankah ibumu berkata untuk tidak membalas orang yang melakukan kesalahan?”


“Sudah kukatakan, mamaku tidak mengajarkanku untuk tidak membalas perbuatan jahat seseorang. Aku hanya disuruh untuk berpikir tenang dan memutuskan harus membalas atau tidak. Misalnya narapidana yang memukulku tadi. Aku tahu, ia melakukannya hanya untuk mendapatkan pengakuan dari ketua gengnya. Kudengar ia selalu ditindas di gengnya. Dengan memukulku, mungkin teman-temannya akan sedikit menghargainya dan itu tidak merugikanku kecuali sedikit rasa sakit. Tapi untuk tuan Jireh, aku sama sekali tidak memiliki alasan untuk diam. Aku harus membalasnya. Tidak dengan kekerasan, tapi dengan ini.”

__ADS_1


Abi menyeringai dengan telunjuknya menempel ke bagian samping kepalanya. Andika masih kehabisan kata-kata melihat keberanian pemuda itu. Ia tahu, kenekatan itu tidak diturunkan darinya. Pasti dari ibunya.


“Aku takkan memaksamu untuk membantuku. Aku bisa melakukannya sendiri. Aku sudah sangat berpengalaman dalam mencari informasi,” imbuh Abi. “Dengan tidak menggangguku atau merahasiakan apa yang kulakukan saja, aku akan sangat berterima kasih padamu.”


Andika masih terdiam. Kepalanya belum berhenti berpikir di tengah dilema yang sedang melanda hatinya. Di satu sisi, ia tidak ingin berurusan dengan tuan Jireh. Salah satu faktor yang membuatnya bisa bertahan selama puluhan tahun di lapas ini adalah dengan menjauhi masalah, terutama yang berhubungan dengan tuan Jireh. Tapi, di sisi lain, ia sangat ingin membantu putranya. Menjadi dekat dengan Abi adalah ambisi terbesarnya setelah karir militernya hancur lebur.


“Baiklah, aku akan memberitahumu semua yang kutahu tentang tuan Jireh dan tentang lapas ini. Tapi, aku punya syarat yang sederhana. Kau pasti bisa melakukannya.”


Abi menatap ayah kandungnya itu sejenak, lalu menjulurkan tangannya sambil berkata, “Baiklah, aku setuju.”


                  *


“Apakah kau ingin tidur terus sepanjang hari?”


Teriakan seorang ibu membangunkan anak gadisnya yang masih terlelap meski waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi. Anak gadis itu adalah Regina. Ia mengambil cuti seminggu dari pekerjaannya, tak lama setelah putusan pengadilan untuk Abi keluar. Kini, sudah tiga hari ia menjalani cuti di rumah orang tuanya dan ia menghabiskan waktu selama itu dengan kegiatan yang tanpa arti seperti makan, tidur dan maraton drama Korea.


“Bukankah selama ini tidak ada darah yang mengalir ke otakmu, makanya kau tidak pernah menggunakannya?”


Regina membuka matanya. Perkataan sang ibu cukup melukai perasaannya. Tapi, sebenarnya ibunya memang selalu berbicara seperti itu. Bukan hanya padanya, tapi juga pada ayahnya, pada tetangga, pada ketua RT, bahkan pada pak pendeta. Sang ibu memang sudah dikenal dengan reputasinya sebagai wanita bermulut pedas.


Dengan mengumpulkan tenaga bak akan mengangkat beban ratusan kilo, Regina berusaha untuk duduk lalu berdiri. Langkahnya masih tertatih ketika hendak menuju kamar mandi. Ia malah berhenti di meja makan dan langsung melahap telur mata sapi yang baru saja dimasak ibunya.


“Sebenarnya kau makhluk apa? Masa’ telur mata sapi dimakan begitu saja? Belum cuci muka pula,” bentak sang ibu yang tiba-tiba datang dan memukul pundak Regina dengan kencang.


“Aromanya menggoda,” tukas Regina cuek. Ia kembali melanjutkan perjalanannya ke kamar mandi.


Sebenarnya, Regina masih merasa stres. Meski Abi mendapatkan vonis yang cukup berat, ia tidak terbukti merekayasa kematian Mischa. Usahanya selama ini untuk membuktikan kalau Abi yang merancang kasus ini untuk membalaskan dendam pada Roy dan keluarganya, sama sekali sia-sia. Penyelidikannya selalu saja mengarah pada Benjiro.

__ADS_1


Justru, semakin lama ia menyelidiki, semakin banyak keanehan yang ia temukan pada pria bertubuh besar itu, dan semakin menjauhkan Abi dari kemungkinan keterlibatannya.


Bagaimana tidak? Proses persidangan Benjiro berjalan terlalu lancar. Seluruh bukti bermunculan dengan sangat mudah dan gamblang. Benjiro juga sangat kooperatif dan mengungkapkan semua kejadian dengan cukup detail. Sangat aneh jika mengingat betapa rapi dan bertekadnya ia merancang semuanya untuk mengkambinghitamkan Abi dulu.


Bahkan kemarin, saat vonis penjara seumur hidup yang dibacakan, wajah Benjiro terlihat sangat tenang, seakan tidak terjadi apa-apa.


Tapi, kenapa Abi bilang kalau bukan Benjiro yang membunuh Mischa? Padahal Benjiro mengaku telah melakukannya. Ah, Abi memang aneh. Mungkin ia berkata demikian agar persidangannya bisa berlanjut lebih lama. Mungkin ia menikmati ketenarannya selama kasus ini. Atau ia memang ingin dipenjara, makanya mereka tidak mengajukan nota pembelaan.


“Daripada menganggur tak jelas dan membuat suasana rumah lebih suram, mending kau bantu ibu ke swalayan. Belikan beberapa barang. Nanti daftar belanjaannya ibu catat,” kata Ibu Regina karena sudah tidak tahan melihat kelakuan putrinya itu.


“Aku tidak suka belanja. Ibu saja.”


“Ibu juga tidak suka menampungmu di rumah ini, tapi ibu harus melakukannya.”


Balasan sang ibu tak mampu dilawan oleh Regina. Mau tak mau ia pun harus setuju untuk melakukan perintah itu. Ia akan pergi ke swalayan.


Ada satu alasan yang kuat kenapa Regina selalu berusaha menolak tugas belanja dari ibunya, meski pada akhirnya ia tetap melakukannya. Pertama, karena ibunya selalu menulis harga barang lebih murah dari yang sebenarnya. Ia selalu menanggung kekurangannya. Kedua, ia menghindari pertanyaan tetangga tentang kapan menikah. Apalagi setelah tahu tunangannya meninggal, pasti akan banyak pertanyaan untuk dirinya.


Regina mengenakan hoodie hitam lusuh kesukaannya dipadukan dengan celana jeans buntung yang warna birunya sudah berubah menjadi putih. Ia melengkapi penampilannya dengan sebuah kacamata hitam milik ayahnya. Bahkan untuk penampilannya itu saja ia harus berseteru dengan ibunya dulu.


Dengan langkah gontai, Regina melangkah menyusuri jalan. Jarak tempuhnya cukup jauh, tapi ia lebih memilih berjalan, karena selain alasan kesehatan, ia tak ingin mencuri perhatian para tetangga dengan suara ribut motor Harley Davidson miliknya.


Regina sudah hampir tiba di swalayan. Ia tinggal menyeberangi jalan untuk bisa tiba di sana. Matanya melihat ke kanan dan kiri. Ada sebuah mobil sedan yang datang dari sisi kirinya, tapi masih jauh dan ia masih sempat menyeberang sebelum mobil itu lewat.


Namun, kakinya mendadak terpaku ke tanah saat ia melihat bagian tempat duduk mobil itu. Ia tidak bergerak meski sedan warna hitam itu sudah hampir mendekatinya dan bersiap untuk menabrak. Untungnya, mobil itu berhasil mengerem mendadak hanya beberapa meter dari tubuh Regina. Supir mobil itu sempat memaki Regina sebelum akhirnya memilih pergi karena Regina hanya mematung dan tidak memberikan reaksi apapun.


Wajar jika Regina bersikap seperti itu. Ia melihat dengan jelas sosok yang duduk di samping supir mobil itu. Tidak salah lagi, ia adalah Benjiro.

__ADS_1


__ADS_2