
Andika masih belum bisa percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Wanita itu, wanita yang dulu sangat ia hormati, yang harusnya telah tiada sekitar tiga puluh tahun yang lalu, kini tersenyum di hadapannya.
Padahal, sudah banyak bunga yang ditabur untuknya, sudah banyak airmata yang tumpah karena tidak ikhlas atas kepergiannya, sudah banyak cerita indah tentang kenangan akan kebaikannya, bahkan sudah diberikan satu hari untuk berduka baginya.
“Apakah Nyonya benar-benar masih hidup?”
Wanita itu tersenyum. Ia berdiri dari kursinya dan menghampiri Andika. Tangannya meraih tangan mantan tentara kesayangan suaminya itu lalu meletakkannya ke pipi kirinya.
“Lihatlah, aku benar-benar hidup.”
“Tapi, Nyonya telah meninggal. Saat itu Nyonya -”
“Memangnya kau pernah melihat mayatku?”
Andika terdiam. Memang, ia tidak pernah melihat jenazah sang Ibu Negara. Alasannya, demi menghormati mendiang. Saat itu kediktatoran Hemas cukup kuat dan ia beserta keluarganya dianggap makhluk yang derajatnya setingkat di atas manusia.
Saat presiden dengan ciri khas kumis tipis itu lengser, orang-orang mulai berkonspirasi tentang mendiang istrinya. Konspirasi yang paling kuat adalah mendiang mati karena tak sengaja tertembak saat anak-anaknya berseteru. Tapi, teori bahwa wanita itu masih hidup tidaklah populer.
“Nyonya!”
Setelah yakin bahwa wanita itu benar-benar orang yang ia kenal, Andika bersujud memeluk kakinya sambil menangis.
“Sudah, jangan menangis,” kata wanita itu seraya membelai rambutnya. “Aku lebih bahagia di sini daripada berada di samping bajingan tua itu.”
Andika menengadahkan kepalanya karena bingung. Ia yakin, bajingan tua yang dimaksud pasti mantan presiden Hemas, suaminya. Padahal, dulu mereka dikenal sebagai pasangan mesra yang tak pernah terdengar rumor buruk di antara mereka.
__ADS_1
“Kenapa Nyonya bisa sampai di sini?”
“Karena bajingan tua itu,” jawabnya yang membuat Andika semakin bingung. “Ia memenjarakanku diam-diam dan memalsukan kematianku.”
“Kenapa Bapak melakukannya?”
Wanita itu melenguh karena mengingat kejadian buruk itu. “Karena aku memergokinya selingkuh dengan seorang artis muda. Ia juga memenjarakanku agar bisa lebih bebas berhubungan dengan ****** itu.”
Andika berdiri dan menatap wanita itu seakan tak percaya dengan cerita tersebut.
“Bapak tak mungkin melakukannya. Ia takkan mungkin menjalin hubungan dengan wanita lain, apalagi dengan wanita muda.”
Air muka wanita itu berubah menjadi sedikit kesal. “Ternyata kau tahu rahasia itu. Ya, sejak usia lima puluh tahun, ia sudah impoten.”
Wanita itu menatap Andika dengan sinis. Ya, hanya segelintir orang yang tahu kalau si nyonya memang suka menjalin hubungan dengan para pria muda. Dan Andika termasuk ke dalam segelintir orang tersebut.
“Tidak, ia sudah lama tahu akan hal itu dan tak pernah keberatan,” kata wanita itu yang membuat Andika bingung lagi karena apa yang dilihatnya dulu sungguh jauh dari kenyataan. “Tapi, karena Harta Hemas.”
Mendengar kata harta Hemas, Andika langsung terperanjat. Ia sangat familiar dengan istilah itu. Namun, menurut sepengetahuannya, Harta Hemas hanyalah rumor kosong yang dihembuskan oleh lawan politik Hemas saat itu sehingga menjadi salah satu pemicu pemberontakan rakyat yang berujung pada jatuhnya sang presiden yang telah berkuasa selama lebih dari tiga puluh tahun.
Namun, tak ada yang bisa membuktikan keberadaannya. Hemas memilih bungkam, anak-anaknya mengaku tidak mengetahuinya. Demikian juga dengan orang-orang terdekat sang presiden. Andika pun pernah mendapatkan pertanyaan tentang Harta Hemas saat di persidangannya dulu. Hingga akhirnya Hemas meninggal dunia, semua orang mulai melupakan hal itu dan menganggap Harta Hemas hanyalah sebuah kebohongan.
“Jadi, benda itu benar-benar ada?”
“Tentu saja.”
__ADS_1
“Berarti, Bapak benar-benar ‘menjual’ negeri ini pada orang asing?”
Sang Nyonya tertawa melihat ekspresi tak percaya yang ditunjukkan oleh Andika. “Kau memang masih sama, Andika. Sangat naif. Bahkan, setelah puluhan tahun si tua bangka itu dilengserkan dan akhirnya mati, kau masih menganggapnya sebagai orang suci. Sebagai orang yang paling dekat dengan si tua bangka itu, aku akan mengatakan sesuatu yang paling jujur tentangnya untuk membuka pikiranmu sekarang: dia adalah penjahat paling mengerikan sepanjang sejarah negeri ini!”
Tubuh Andika lemas. Puluhan tahun ia menjalani masa tahanan dengan perasaan bangga karena bisa membela seorang pemimpin yang selalu memikirkan rakyatnya, yang berhasil membangun negeri ini hingga pertumbuhan ekonominya menjadi salah satu yang terbaik di dunia, yang akhirnya difitnah dan diturunkan secara memalukan dari kepemimpinannya yang dianggap diktator oleh para pihak yang bahkan setelahnya tidak mampu membawa negeri ini ke arah yang lebih baik dari era presiden Hemas.
Hanya dengan satu kalimat dari wanita itu, semua pemikiran itu hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasa telah menyia-nyiakan hidupnya selama hampir tiga puluh tahun di tempat ini.
“Kau tak perlu sedih. Sebentar lagi kau bisa memarahi si tua bangka itu,” kata si Nyonya yang membuat Andika tertegun.
“Ma, maksud Nyonya?”
Tanpa Andika duga, seseorang datang dari belakang dan langsung melilitkan sebuah tali yang tipis namun keras ke lehernya. Andika memberontak, namun pria itu lebih kuat daripadanya. Wajah Andika semakin memerah dan ia hanya bisa memandang wanita itu dengan wajah seakan bertanya, kenapa ia melakukannya?
“Aku mendengar kabar dari Jireh tentang seorang pemuda yang mengusik rencana kami. Rencana untuk membangun sebuah kerajaan tersembunyi. Dan ternyata, pemuda itu seharusnya dipenjara di sini dan telah berhasil kabur untuk kedua kalinya. Jireh yakin kalau pelariannya yang kedua ini dibantu oleh orang di dalam penjara. Dan akhirnya aku mendapatkan informasi yang mengejutkan, bahwa kau adalah ayah kandungnya.”
Tubuh Andika mulai melemas. Tangannya yang teracung ke arah wanita itu perlahan mulai turun dan matanya juga mulai tertutup.
“Kau harus tahu, si tua bangka itu bisa memimpin negeri ini dengan baik selama puluhan tahun tak lain karena aku. Karena aku selalu menyuruhnya untuk menyingkirkan duri yang mengganggu, meski duri itu kecil Lihat saja bagaimana ia setelah aku tak ada di sampingnya. Hanya seorang pria tua lemah yang membiarkan orang-orang memfitnah dan menyerangnya.”
Wanita itu berjalan ke arah Andika lalu membelai pipinya.
“Kau tahu kenapa aku dipenjara oleh pria tua itu? Karena aku menyarankan padanya untuk membunuh putra pertama kami karena ia pernah curi dengar percakapan kami tentang Harta Hemas dan terus menuntut bagiannya. Sayangnya, si tua bangka itu lebih mencintai anaknya dibandingkan istrinya. Meski tidak pernah memberitahukan tentang keberadaan Harta Hemas, ia melindungi putra sulung kami dengan cara mengasingkanku di tempat ini. Anakku saja bisa kubunuh, apalagi kau. Aku tak perlu berpikir panjang untuk membunuhmu karena kau telah menggangguku, meski sebenarnya dulu kau adalah prajurit kebanggaanku. Tenang saja, nasib yang sama akan segera mendatangi anakmu. Kalian bisa bertemu lagi di akhirat nanti.”
Kini mata Andika benar-benar tertutup dan tubuhnya sudah terkulai. Pria pembunuh itu melepas talinya dan Andika tersungkur ke tanah. Wanita itu tertawa dan kembali duduk di tahtanya.
__ADS_1