Revenge By Law

Revenge By Law
YANG TERLEWAT: PASAL 67


__ADS_3

Sebelumnya, penulis meminta maaf karena melakukan kesalahan upload episode/pasal, yang mana seharusnya episode/pasal ini diupload setelah pasal 66 dan sebelum pasal 68. Semoga tidak mengganggu pembaca dalam menikmat pasal selanjutnya. Terima kasih.


--------------------------------------------------------------------------------------------------


Di rumah sakit


Rama menahan tangisnya karena rasa sakit di perutnya akibat tikaman Abi dan rasa sakit di hatinya karena ditinggal begitu saja oleh Abi. Apalagi sekarang ia harus tidur di hadapan salah satu polisi yang jaga.


Tiba-tiba ia mendengar suara pintu terbuka. Seorang wanita berpakaian suster membawa talam menyapa polisi yang berjaga di dalam. Wanita itu segera menghampiri ranjang Rama dan memeriksa infusnya.


“Sepertinya sudah habis. Saya ganti dulu, ya, Pak,” ujar sang suster meminta izin. Rama pun mengangguk pelan. Ia kesulitan mengeluarkan suara berat seperti abangnya.


Suster itu selesai mengganti infus Rama dan kembali meminta izin. Kali ini untuk memeriksa luka di perut Rama. Dengan ragu, Rama menurut saja. Kalau menurut perkataan Abi, ia seharusnya tidak merasa khawatir karena abangnya telah menjahit perutnya dengan sangat rapi. Serapi hasil jahitan dokter sebenarnya. Ya, Abi sangat percaya diri dengan hasil jahitannya karena ia sudah berkali-kali menjahit lukanya sendiri. Sejak kecil Abi sering membawa luka akibat kecelakaan saat bermain atau karena berkelahi. Awalnya, tante Jenny yang saat itu masih kesulitan dalam keuangan, menjahit sendiri luka anaknya. Tapi karena terlalu sering, ia mengajarkan teknik menjahit pada Abi.


Meski demikian, firasat Rama tidak baik.


“Waduh, kok masih keluar darah, ya? Apakah jahitannya bermasalah?” gumam suster itu. Ia kemudian bertanya pada Rama, “ Jahitannya berantakan. Ini bisa berbahaya. Untung saja segera ketahuan. Apakah tadi Bapak ada bergerak secara berlebihan?”


Rama hanya diam. Ia masih kecewa karena terlalu percaya dengan kemampuan menjahit sang abang yang ternyata malah membahayakannya.


Melihat Rama yang hanya diam, polisi itu membantunya menjawab pertanyaan sang suster, “Tadi ia sempat ke kamar mandi dengan adiknya. Cukup lama dan mereka terlihat tidak akur. Apakah itu berpengaruh?”


“Bisa jadi. Sepertinya luka pasien harus kembali dijahit,” kata suster itu.


Rama terkejut. Ia takut kalau harus dijahit lagi. Air matanya mulai mengalir di pipi dan ia seperti ingin meminta tolong, tapi tak tahu pada siapa.

__ADS_1


Yang bisa dilakukannya hanya memaki dirinya yang harus mengalami nasib sial ini.


                  *


“Dasar bajingan,” umpat Indira. Ya, hanya satu orang yang bisa membuatnya berkata kasar. Bahkan hanya satu orang yang ia panggil dengan kata panggilan ‘kau’. Dia adalah Jack Off the Record. Dan meski mendengarnya dengan jelas, Jack berpura-pura tidak mendengarnya dan terus memasang wajah ramah.


“Apakah kau sedang ada urusan di sini?”


“Pergilah! Aku sedang tak ingin berbicara denganmu,” kata Indira pada Jack dengan nada membentak.


“Ah, pasti putriku sedang melakukan investigasi. Kudengar salah satu klienmu mengajukan gugatan pada perusahaan ini,” ujar Jack. Ia pura-pura tidak mendengar pengusiran dari Indira. “Dengan siapa kau ke sini?”


“Hanya aku sendiri,” jawab Indira berusaha menutupi kegugupannya.


“Sendiri? Kenapa kau duduk di kursi penumpang, bukan kursi supir?”


“Itu bagian dari investigasiku. Orang-orang yang lewat pasti akan lebih fokus melihat ke arah supir. Makanya, aku duduk di sini agar tidak menarik perhatian.”


Jack mengangguk karena jawaban Indira cukup masuk akal.


“Tapi, sejak kapan kau bisa menyetir mobil?”


“Siapa kau sehingga aku harus memberitahumu kapan aku bisa menyetir mobil? Pergilah! Kau hanya mengganggu investigasiku.”


“Padahal Papa mau mengajakmu masuk ke dalam. Papa ada janji temu dengan salah satu CEO anak perusahaan PT. Laras Jaya Karya. Mungkin kau membutuhkan informasi darinya untuk investigasimu.”

__ADS_1


“Tidak, terima kasih. Dan berhenti menganggap dirimu sebagai papa kami. Kau adalah papa orang lain.”


Indira segera mengatupkan mulutnya. Meski sangat membenci Jack, ia tahu telah mengatakan sesuatu yang tidak pantas untuk dikatakan. Dan benar saja, wajah Jack tiba-tiba murung dan terlihat jelas ia sakit hati dengan ucapan putrinya tersebut.


“Baiklah, jika kau memang tidak mau ikut. Papa pergi dulu.”


Indira marah pada dirinya sendiri karena kini harus melihat kepergian papanya dengan perasaan bersalah. Sekarang ia seperti kalah jahat dari Jack.


Beberapa tahun yang lalu, saat Indira masih remaja, Jack menikah dengan wanita lain tanpa sepengetahuan Indira, Ratih dan ibu mereka. Ia bahkan punya anak laki-laki dari wanita itu. Yang lebih menyedihkannya adalah oma Heidi, orang tua Jack yang juga nenek Indira dan Ratih, menyetujuinya. Bahkan, ia melupakan mereka berdua karena baginya, cucu laki-laki jauh lebih berharga daripada cucu perempuan. Menurut tradisi keluarganya, bisa memiliki cucu laki-laki dari anak laki-laki merupakan suatu kehormatan tertinggi yang bisa diraih.


Sayangnya, ketika sang nenek tinggal menunggu akhir hidupnya dengan kebahagiaan yang sempurna, kabar mengejutkan itu datang. Cucu laki-laki yang ia banggakan meninggal karena tertabrak mobil saat bermain di taman kota. Saat kejadian, ibunya yang menjaga anak itu dan ia lalai karena sibuk berbicara dengan ibu lain yang ada di taman. Sejak saat itu, oma Heidi membenci menantu barunya itu. Ia bahkan memaksa untuk Jack menceraikan wanita itu dan menyuruhnya untuk menikah dengan wanita lain. Namun, setelah istri keduanya diceraikan, Jack mendapat vonis dari dokter kalau ia tidak bisa memiliki keturunan lagi.


Kematian anak, perceraian dan vonis dari dokter membuat Jack mengalami depresi berat. Hal itu juga berpengaruh pada kinerjanya sebagai reporter. Perbuatan buruknya yang pernah memanipulasi berita demi uang pun terbongkar. Ia pun memilih untuk menghilang tanpa jejak.


Karena telah ditinggal sendirian, oma Heidi merasakan penyesalan terbesar dalam hidupnya. Ia berusaha untuk berdamai dengan Indira dan Ratih. Menurutnya, meninggal dengan didampingi oleh dua cucu perempuan akan jauh lebih baik daripada tanpa anak dan cucu sekalipun. Sayangnya, Indira dan Ratih sudah kadung sakit hati dan menyalahkan nenek dan ayahnya sebagai penyebab penderitaan dan kematian ibu mereka. Dan akhirnya, nenek mereka meninggal tanpa didampingi keturunannya.


Saat kembali dari pengasingan dirinya, Jack mencoba mendekati kedua putrinya. Namun, seperti yang ia duga, ia mengalami penolakan keras. Apalagi saat itu Ratih sudah menikah dan Indira sudah bisa hidup mandiri. Mereka sama sekali tidak membutuhkannya.


“Menyebalkan. Kenapa aku harus bertemu dengannya di tempat ini, di saat seperti ini?” gerutu Indira. Tiba-tiba ia membelalakkan matanya seakan teringat sesuatu yang penting. “Kenapa ia ada di tempat ini, di saat seperti ini? Gawat, ia akan masuk ke gedung itu. Jika berpapasan dengan Abi, ia pasti bisa mengenalinya. Ia punya insting yang menyeramkan.”


Indira segera keluar dari mobilnya lalu memanggil Jack. Pria itu pun menoleh dan cukup terkejut karena putrinya yang selama ini dingin, memanggilnya terlebih dulu.


“Ada apa, Putriku?”


Indira terlihat ragu. Ia ingin menolak rencana yang terlintas di pikirannya saat itu, tapi tak ada jalan lain lagi. Demi Abi. “Bagaimana jika kita makan sebentar. Di minimarket itu. Ada yang ingin kutanyakan. Terkait kasus yang sedang kutangani.”

__ADS_1


Jack terlihat melongo karena tak percaya. Beberapa detik kemudian, ia tersenyum dan membungkukkan badannya bak memberi penghormatan lalu berkata, “Baiklah, Putriku. Dengan senang hati.”


__ADS_2