Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 38


__ADS_3

KRIIIIIING!!! KRIIIIIING!!! KRIIIIIING!!!


Nada dering ponsel itu bergema, membuyarkan kesunyian malam dan mimpi sang pemiliknya. Ratih meraih benda itu dan mengintip nama yang tertera di layarnya.


“Siapa, Ma?” tanya Yusuf, suaminya, yang matanya masih terpejam.


“Indira, Pa,” jawab Ratih setengah berbisik. “Maaf kalau tidurnya terganggu.”


“Tidak apa-apa. Angkat saja. Mana tahu ada yang penting.”


Seperti saran suaminya, Ratih menjawab panggilan dari adiknya itu.


“Ada apa? Kau tahu kalau sekarang sudah jam 1 malam, kan?”


[Iya, tahu. Mbak sudah tidur, ya?]


“Memangnya aku satpam jaga, jam segini belum tidur?”


[Maaf, deh.]


Ratih tertegun mendengar kata-kata bernada penyesalan dari adiknya itu. Kali ini dia yang menyesal. Apalagi Indira baru kemarin pulang dari rumah sakit.


“Ada apa? Ceritakan saja. Mbak memang berencana bangun sebentar lagi untuk mempersiapkan bahan-bahan memasak nanti pagi. Para keponakanmu yang rakus itu meminta Mbak memasak sesuatu yang spesial dan rumit cara memasaknya untuk bekal mereka.”


[Hehehe. Aku hanya ingin bertanya.]


“Bertanya tentang apa?”


[Anu, apakah Mbak mau memasakkan mie instan buatku? Mie instan yang biasa Mbak buat waktu kita masih kecil dulu.]


Ratih menghela napas. Sebagian hatinya lega karena adiknya menelepon bukan karena sesuatu yang penting, sebagian lagi hatinya kesal karena adiknya menelepon selarut ini bukan karena sesuatu yang penting dan seharusnya bisa disampaikan besok.

__ADS_1


“Baiklah, besok aku akan membeli mie instannya. Merk seperti itu sudah jarang dijual dan tempat yang kutahu jual itu hanya di toko dekat rumah kita dulu.”


[Aku sudah beli.]


“Oh, baguslah kalau begitu. Besok bawa ke sini saja.”


[Tapi aku mau sekarang.]


Wajah Ratih memerah. Mungkin karena rasa kantuk yang masih berputar-putar di kepalanya, ia tidak bisa menahan kemarahannya terlalu lama. “Kau ini bukan anak kecil lagi! Tidak mungkin malam ini -”


[Tadi aku mimpi mama.]


Satu kalimat pendek yang dikatakan Indira itu mampu meredam kemarahan kakaknya, bahkan mengubahnya menjadi rasa sedih dan kasihan. Ratih mengerti bagaimana perasaan adiknya saat ini. Tanpa disadari, air mata mulai mengalir di pipinya.


“Baik, kau boleh datang. Mbak akan tunggu. Atau mbak saja yang ke sana?”


[Tidak usah. Mbak buka saja pintu apartemen Mbak.]


Ratih melongo. Ia merasa bodoh karena sejak tadi mereka bercakap-cakap via telepon, padahal jarak mereka tidak terlalu jauh.


“Dia sudah di depan pintu apartemen kita sejak tadi.”


Yusuf tersenyum dan merasa geli dengan tingkah adik iparnya itu. “Ya sudah, suruh 'anak sulung' kita itu masuk. Ia pasti sudah kedinginan sejak tadi menunggu di luar.”


Untung saja, Ratih memiliki suami yang sangat pengertian. Saat Yusuf pertama kali mendekatinya dulu, Indira masih kecil. Ia menjadi salah satu saksi pertumbuhan Indira sejak saat itu sampai sekarang menjadi pengacara. Indira juga lama tinggal bersama mereka. Maka tak heran jika mereka berdua menganggap Indira adalah anak sulung mereka.


Ratih menuruti perkataan suaminya. Ia berjalan ke depan dan membuka pintu apartemen. Dan benar seperti dugaan suaminya, Indira yang memakai jaket tebal dan topi kupluk serba hitam sedang menggigil kedinginan. Di tangannya ada kantung plastik besar berisi mie instan dan berbagai bahan untuk menemai mie tersebut.


“Kenapa tidak dari tadi kau bilang sudah di sini?”


Indira tersenyum sambil memeluk tangan kakaknya dengan manja. “Untuk berjaga-jaga, seandainya Mbak tidak mau aku datang, aku akan pulang tanpa membuat perasaan mas Yusuf tidak enak.”

__ADS_1


“Bodoh!”


Ratih mengambil kantung plastik dari tangan Indira dan mengajaknya masuk. Ia tidak bisa marah jika melihat kemanjaan adiknya itu.


Pada dasarnya Ratih tidak pernah benar-benar marah pada Indira. Kalaupun marah, ia hanya melakukannya beberapa detik saja dan diusahakan agar tidak menyakiti hati Indira. Untungnya, sang adik termasuk anak baik yang tidak pernah melakukan hal yang pantas untuk diganjari amarah besar..


Kasih sayang Ratih yang melimpah pada Indira, bahkan meski ia sudah memiliki suami dan dua anak, tidak terlepas dari masa kecil mereka yang berat. Ratih lahir seminggu sebelum sang mama meninggal. Papanya, Jack Off the Record,  bukanlah ayah yang baik. Ia tidak pernah peduli dengan anak-anaknya.


Ketika Indira lahir, usia Ratih baru menginjak 11 tahun. Sebenarnya, sulit bagi Ratih untuk merawat bayi yang baru lahir di usia semuda itu. Tapi ia harus melakukannya.


Ia masih ingat hari di mana mamanya dikubur. Meski ingin, ia tidak bisa mengantarkan sang mama ke tempat peristirahatan terakhir karena harus menjaga adiknya di rumah. Papanya sedang tidak berada di tempat karena konon saat itu sedang bertugas dan sulit dihubungi.


Sampai sekarang, Ratih merasa sedih setiap kali mengingat pemakaman mamanya. Tak ada keluarga yang hadir di sana. Hanya beberapa orang tetangga dan para pelayan dari gereja.


Tapi ia lebih sedih ketika membayangkan adiknya yang saat itu masih bayi, menangis karena membutuhkan susu dan pelukan dari sang mama. Yang bisa dilakukannya saat itu hanya memberi pengertian kalau mama mereka sudah meninggal dan takkan datang untuk menyusui atau menggendongnya, meski bayi kecil itu takkan mengerti apa yang dikatakannya.


“Mbak, apa makanan kesukaan mama?”


Ratih yang sedang sibuk mengaduk mie, terdiam sambil berpikir. “Kakak tidak yakin. Tapi, semua makanan yang dibawa si Jack itu disukainya.”


“Ah, mendengar nama itu membuatku jadi kesal. Apalagi ingat kedatangannya di rumah sakit lalu.”


Ratih tertawa mendengar gerutuan sang adik. Seraya menuang mie yang sudah masak ke mangkuk, ia berkata, “Meski juga kesal melihatnya, Mbak paham kenapa ia datang menjengukmu walau tahu takkan disambut dengan baik. Demikianlah orang tua. Suatu saat, jika kau menjadi orang tua, kau akan mengerti.”


Indira menyambut mie yang diberikan oleh kakaknya. Ia menaburkan bawang goreng dan menambahkan sedikit saus.


“Sudah, kita tidak usah bahas pria terkutuk itu. Lebih baik ceritakan lagi tentang mama. Kemiripan apa yang paling jelas dari kami berdua?”


“Mutlak, jawabannya adalah hidung dan bibir. Bahkan ketika kau baru lahir, semua orang yang melihatmu terkejut karena seperti melihat mama.”


“Ya, bahkan saat aku kecil, aku ingat beberapa tetangga bilang, pantas saja mama meninggal karena kami sangat mirip,” ujar Indira yang mendadak murung, membuat Ratih merasa bersalah. “Andai mama sempat melihat wajahku, apakah ia juga akan berpikiran yang sama?”

__ADS_1


“Jangan dengar kata-kata bodoh itu. Aku juga mirip dengan si tua bangka itu, tapi sampai sekarang ia masih sehat wal afiat.”


Mereka berdua kembali tertawa. Malam itu, mereka bernostalgia tentang banyak hal yang telah mereka lalui di masa lalu. Meski saat ini mereka bisa mengenangnya sambil tersenyum, mereka tidak bisa lupa rasa sakit yang harus mereka alami karena harus berjuang menjalani hari-hari tanpa kasih sayang dari kedua orang tua mereka.


__ADS_2