Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 128


__ADS_3

Abi masih terbaring lemas di atas ranjang. Rasa sakit di bahu kirinya masih kerap menyerang. Tapi, ia mulai bosan. Ia ingin melakukan berbagai aktivitas. Apa daya, yang bisa ia lakukan hanya berjuang sampai di posisi duduk saja.


“Sudah dibilang dokter, jangan bergerak dulu.”


Terdengar sebuah suara dari pintu. Di sana sudah ada Regina dengan wajah kesal. Tangan kirinya berkacak pinggang, sementara tangan kanannya disibukkan oleh kantong plastik berisi berbagai buah dan makanan.


“Aku bisa mati bila terus-terusan berbaring dalam keadaan sadar,” gerutu Abi yang akhirnya memilih kembali rebah karena takut omelan Regina akan memanjang.


Sudah tiga hari ini Regina setia menemaninya. Sang ibu masih belum sehat benar, baik fisiknya karena kebakaran itu maupun mentalnya karena baru saja kehilangan putra bungsunya. Sementara Rinjani enggan merawat orang sakit dan memilih sibuk melacak keberadaan tuan Jireh dengan bantuan berbagai koneksinya.


Sebenarnya Abi sangat mengharapkan keberadaan Indira, terutama untuk merawatnya. Tapi, ia tahu kondisi mental pengacaranya itu sedang kurang baik pasca kematian Jack Off the Record, ayah kandungnya. Abi lebih setuju Indira disibukkan oleh pekerjaan daripada hanya menemaninya di rumah sakit.


Lagipula, pekerjaan Indira sangat banyak. Selain menindaklanjuti permohonannya ke mahkamah konstitusi, ia juga harus mengajukan permohonan pengujian perda tentang pemanfaatan pulau-pulau reklamasi yang dikeluarkan oleh gubernur baru, Arya Topaz Gumilang.


Selain itu, ia juga akan mengajukan Peninjauan Kembali ke pengadilan negeri untuk putusan kasus Abi sebelumnya, mengingat ditemukannya berbagai bukti baru.


Abi juga harus mendukung Indira yang kembali bekerja sebagai pengacara. Sebenarnya, ia tidak pernah kehilangan pekerjaannya itu. Otto Reighl yang menjabat sebagai ketua APHU, organisasi yang menaungi Indira sebagai pengacara, tidak pernah mengeluarkan pernyataan resmi. Bahkan, saat Indira baru ketahuan menyembunyikan Abi, Otto langsung menghubungi Indira dan memastikan kasus itu takkan memengaruhi posisinya di APHU. Hanya saja, saat itu Indira mengaku ingin beristirahat beberapa bulan dulu, yang sebenarnya untuk mendekati pak Burhan a.k.a tuan Jireh.


“Aku bersyukur saat ini pengacara-pengacara lain mau membantunya,” ujar Abi.


Wawancara yang dilakukan oleh Abi dan Jack Off the Record membuka mata masyarakat tentang keberadaan organisasi Raja Pati dan perbuatan-perbuatan mereka selama ini. Beberapa pengacara berlagak menjadi pahlawan kesiangan. Mereka mendatangi dan menawarkan korban-korban dari kasus yang mencurigakan. Alhasil, sebagian besar dari mereka berhasil mengungkap sangat banyak kasus yang melibatkan Raja Pati, baik yang sudah jatuh putusan maupun yang masih dalam proses persidangan. Perlahan, ‘kerajaan gelap’ itu runtuh, terutama karena kosongnya tahta kepemimpinan.


Bahkan, ada beberapa pengacara yang membantu kasus pembakaran Batavia Baru, kasus pembunuhan Shasha dan tentu saja kasus tabrak lari yang membunuh Rama. Bagi Abi, itu adalah hal yang sangat bagus karena selama ini ia merasa kasihan setiap kali melihat Indira berjuang sendirian sebagai pengacara. Bahkan, ia sadar kalau dirinya sering menyusahkan Indira karena memaksanya menangani kasus-kasus lain.

__ADS_1


“Membantu? Ke mana mereka selama dua bulan ini? Indira sudah mengungkap kasus-kasus hukum yang aneh pada publik dan mereka ketakutan untuk mengusiknya saat mereka mendengar kabar kau ditangkap dan Indira dipecat dari profesi pengacara. Sekarang, ketika wawancaramu heboh dan Indira semakin dipuja karena mengajukan permohonan ke mahkamah konstitusi dan mahkamah agung, mereka berbondong-bondong menawarkan diri untuk mengusut kasus-kasus yang dicurigai berkaitan dengan tuan Jireh.”


Regina seakan tak terima dengan ucapan Abi karena ia melihat sendiri betapa banyaknya pengacara di negeri ini yang menyudutkan dan menghina Indira selama dua bulan terakhir, bahkan sejak ia memukul Okan Katalis dan dikeluarkan dari IKAKUM.


“Setidaknya masa-masa kelam ini sudah berakhir,” kata Abi sambil melihat ke arah jendela dengan senyum yang tersungging di bibirnya.


Ya, satu per satu masalah mulai menunjukkan titik terang. Kasus pembunuhan yang Mischa sudah semakin terungkap karena kesaksian dari Tracy Ross. Wanita cantik itu ternyata berada di lokasi kejadian saat Mischa mengalami serangan jantung dan meninggal. Ia bahkan merekam kejadian saat Benjiro datang dan merekayasa kematian Mischa dengan menyamar sebagai Mischa dan menjadikan Abi sebagai kambing hitam. Ia juga merekam percakapan Benjiro saat berbicara dengan tuan Jireh melalui telepon. Abi dan Bima Sakti sama sekali tidak terlibat.


Permohonan Indira untuk melakukan peninjauan kembali atas kasus tersebut sudah diterima oleh pengadilan negeri tempat vonis Abi dijatuhkan. Indira sudah sangat siap untuk menghadapi hal tersebut. Bahkan, sebelum Tracy Ross memberikan bukti pada kepolisian, Indira sudah menyusun semua dokumennya. Mereka yakin, pengadilan negeri akan mengubah putusannya dan membebaskan Abi.


Lalu, nasib Arya Topaz Gumilang yang berada di ujung tanduk. Seiring dengan rekaman percakapan di pulau rahasia antara Abi dan tuan Jireh masuk ke penyidik, kecurigaan langsung tertuju pada sang gubernur. Perda tentang pemanfaatan pulau-pulau reklamasi disorot sebagai bukti bahwa ia adalah kaki tangan sang pemimpin Raja Pati itu. Karenanya, Indira sedang bersiap untuk mengajukan permohonan uji materiil perda tersebut untuk memperkuat bukti tersebut.


Menurut prediksi Abi, hal itu akan menjadi pintu untuk membongkar kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan oleh Arya Topaz Gumilang di masa lalu, terutama saat ia masih menjadi bagian dari kepolisian. Melihat bagaimana jahatnya ia ketika menjadi kapolsek yang mengizinkan penyiksaan yang dilakukan pada Abi lima belas tahun yang lalu, bisa dipastikan kalau ia adalah polisi yang jahat di masa lalu.


Pemerintah pusat juga berjanji akan mengusut keberadaan Harta Hemas dan tentu saja akan mengembalikan semuanya kepada negara jika berhasil ditemukan. Masyarakat tentu saja mengharapkan hal itu segera terjadi karena, setelah puluhan tahun tidak menyadarinya, mereka tahu bahwa mereka telah dirampok.


Tapi, tujuan terbesar Abi adalah permohonan pengujian materiil undang-undang Nomor 12 Tahun 2011, khususnya pasal 96 tentang peran serta masyarakat dalam pembuatan peraturan perundang-undangan, termasuk peraturan daerah.


Sebagai salah satu masyarakat awam yang memahami hukum dan bagaimana hukum malah menjadi alat para penguasa untuk menindas masyarakat awam, Abi sangat ingin mengembalikan kekuasaan tertinggi di negara ini ke tangan masyarakat. Ia bercita-cita, meski legislatif dan eksekutif membuat serta mengesahkan undang-undang, peran masyarakat juga tidak diabaikan. Setidaknya, berikan ruang bagi masyarakat untuk terlibat secara langsung. Memang, berat untuk mewujudkannya mengingat jumlah warga negara di negeri ini sangat luar biasa banyaknya. Tapi, pasti ada cara agar hal itu bisa terwujud. Harapan Abi, tidak ada lagi undang-undang yang tiba-tiba muncul dan disahkan tanpa peduli apakah masyarakat setuju atau tidak.


“Bagiku masa-masa kelam ini belum berakhir, sampai tuan Jireh benar-benar tertangkap,” balas Regina. “Kita tidak tahu apa yang akan dilakukannya ke depan. Biar bagaimanapun, kita tidak boleh lupa kalau ia adalah monster yang mengerikan.”


Abi tersenyum melihat ekspresi Regina yang antusias bercampur jengkel.

__ADS_1


“Setidaknya, ia tidak punya cakar lagi sekarang.”


Regina baru selesai mengupas buah apel dan memberikan sepotong pada Abi. Sambil menyambut apel itu, Abi kembali melihat ke arah luar jendela.


“Lalu, apa yang akan kau lakukan jika keluar dari rumah sakit dan tidak perlu lagi ke penjara?” tanya Regina.


Abi tidak langsung menjawab. Ia tersenyum tipis dan terlihat memendam sebuah rasa sakit. “Aku ingin berziarah ke makam Rama. Aku terus merasa bersalah karena tidak hadir ke pemakamannya. Setelah itu, aku akan membesuk ayahku di penjara.”


Regina ikut tersenyum. Ia sangat bahagia karena pria yang ia kenal telah menanggung sangat banyak penderitaan sejak dulu, kini hidupnya berangsur pulih. Memang, masih ada luka-luka yang terlihat, tapi perlahan Abi bisa memulihkannya.


Tiba-tiba, sebuah ponsel berbunyi. Abi dan Regina terkejut karena selain ponsel Regina, seharusnya tidak ada lagi ponsel. Setelah menyelidiki dengan seksama, akhirnya mereka menemukan sebuah ponsel di dalam lemari kecil rumah sakit yang berada di samping ranjang.


Abi menekan tombol untuk mengangkat panggilan. Dengan hati-hati, ia mendekatkan telinganya ke ponsel itu dan mulai menyapa. “Halo.”


[Wah, wah. Sepertinya kau sedang menikmati kemenanganmu.]


Jantung Abi mendadak berdetak lebih kencang dari biasanya. Keringat juga mulai bercucuran di keningnya. Tidak salah lagi, itu adalah suara tuan Jireh.


“Di mana kau sekarang? Sedang meratapi kekalahanmu?”


[Begitulah. Aku sedang meratapi kekalahanku di suatu tempat. Tapi, aku tak pandai bersedih sendirian. Untuk itu, aku mengajak seseorang.]


Detak jantung Abi semakin kencang. Ia menutup bagian mikrofon ponsel itu lalu berkata pada Regina, “Tolong cek keberadaan Indira. Sepertinya ia dalam baha-”

__ADS_1


[Benar tebakanmu. Aku bersama pengacara cantik yang sangat kau cintai ini.]


__ADS_2