
Abi dan Jack masih saling menatap. Indira melihat ada sebuah percikan mengerikan di antara tatapan mereka. Ketegangan yang sangat luar biasa, seperti dua ekor singa yang sedang mengambil ancang-ancang untuk saling serang.
“Ah, ternyata kau adiknya. Mirip sekali. Untung saja aku pernah melihatmu di siaran persidangan yang lalu. Wajahmu beberapa kali disorot kamera,” kata Jack yang wajahnya sudah sumringah. Lalu ia menatap ke arah Indira. “Pantas saja dari tadi kau terlihat tegang dan bahkan mengajakku makan di sini. Rupanya agar aku tidak melihatnya.”
Abi dan Indira kebingungan melihat sikap pria menyebalkan itu. Mereka saling pandang seakan meminta jawaban satu sama lain.
“Eh, dia -”
“Iya, papa tahu. Kalian pasti sedang mencuri sesuatu dari gedung itu untuk investigasi. Seperti saat kalian mencuri rekam medis Mischa. Santai saja. Papa juga sering melakukannya.”
Butuh beberapa detik bagi Abi untuk mencerna perkataan Jack, sebelum ia tersenyum dan mengubah cara bicaranya menjadi terlihat lebih bodoh dan cerewet seperti Rama.
“Hehehe, iya, Om,” kata Abi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Melihat situasi tidak sekacau yang ia sangka, Indira buru-buru menarik lengan Abi dan mengajaknya pergi sebelum situasi benar-benar kacau. “Kami pergi dulu.”
Hanya dalam waktu beberapa detik saja, mereka berdua sudah lenyap dari pandangan Jack. Pria itu melongo sejenak, sebelum akhirnya tersenyum.
“Ternyata kau cukup hebat hingga bisa melarikan diri dari penjara, Abimanyu Alexander.”
*
“Kamu sudah menemukan dokumennya?” tanya Indira.
“Tentu saja,” jawab Abi sambil melambaikan ponselnya.
“Untung saja,” kata Indira sambil menghembuskan napas lega.
“Ya, untung saja. Jika tidak, kita akan kehilangan nyawa di sana.”
Indira menaikkan alisnya seakan tak setuju dengan ucapan Abi. “Kau terlalu melebih-lebihkan. Memangnya pria itu akan membunuh kita?”
Abi tidak langsung menjawab. Ia masih sibuk dengan kemudinya. Tanpa Indira sadari, mobil yang mereka tunggangi melaju dengan sangat kencang.
__ADS_1
“Bukan dia, tapi orang lain,” jawab Abi. “Lihat mobil di belakang kita.”
Indira melirik ke belakang. Ia melihat dua pasang lampu mobil mengikuti mereka dengan kecepatan yang hampir sama.
“Siapa mereka?”
“Entah. Ada beberapa kemungkinan.”
“Maksudnya?”
“Jika mereka ingin menghentikan kita, kemungkinan mereka polisi. Jika mereka hanya ingin menyusul kita, kemungkinan mereka adalah wartawan. Tapi jika mereka ingin membunuh kita, kemungkinan mereka terkait dengan kasus pembunuhan Mischa atau dengan dokumen ini.”
“Apa maksudmu dengan ingin membunuh kita? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sudah kamu lakukan? Aku tidak ingin mati karenamu!”
“Tenang saja, aku sudah terbiasa berkendara di jalanan. Ingat, aku adalah driver berpengalaman.”
“Tapi kamu driver motor. Ya, seharusnya kamu bukan driver, tapi rider!”
Indira menjerit karena panik, sementara Abi masih sibuk memainkan setir mobilnya untuk menjauh dari mobil-mobil yang sedang mengejar mereka di belakang. Akhirnya, Abi berhasil mengecoh mereka dan jalan mereka terpisah.
“Bukan Jack, tapi aku sendiri yang memberitahukannya,” kata Abi yang dibalas dengan mata melotot dari Indira.
“Pada siapa kamu memberitahukannya?”
“Wanita yang ada di gereja tadi,” jawab Abi santai. “Aku meminta sesuatu yang penting padanya. Sebagai imbalan, dia bisa menjual informasi tentang aku yang melarikan diri dari rumah sakit. Syaratnya, ia bisa menjual itu sejam setelah kami melakukan kesepakatan. Itu adalah setengah jam yang lalu.”
Mata Indira semakin melotot setelah mendengar penjelasan dari Abi. Tanpa sadar, ia memukul wajah Abi dengan kotak P3K yang ada di dalam dashboard. Hidung Abi sampai mengeluarkan darah segar karenanya.
“Apa yang kau lakukan? Yang penting aku bisa meloloskan kita dari kejaran mereka, kan?”
Tiba-tiba sebuah mobil yang datang dari sisi kiri menabrak mereka. Untung saja, Abi sempat mengelak sehingga tabrakan itu hanya memberikan efek yang kecil.
“Lihat! Mereka mengejar lagi! Kamu tahu? Aku paling takut mati. Aku tidak ingin mati! Aku masih ingin melihat akhir dari cerita One Piece!”
__ADS_1
Indira menangis sambil menjerit, membuat Abi sedikit terganggu. Namun, ia masih harus fokus pada mobil yang mengejar mereka. Dan sekarang tidak hanya satu, sudah ada mobil lain yang ikut menyusul mereka.
“Hei, kau percaya padaku?” tanya Abi tanpa menatap Indira.
“Dalam hal apa? Sebagai pengacara, aku percaya. Tapi sebagai orang yang mendampingimu selama pelarian dari rutan, aku tidak percaya.”
Abi bingung dengan jawaban Indira. Tapi, ia tidak sempat lagi mengusahakan kepercayaan penuh dari Indira. Ia akan mengambil sebuah keputusan yang pasti akan membuat Indira membencinya, dilihat dari reaksinya sekarang.
“Kalau begitu, benci saja aku. Nanti aku akan meminta maaf padamu.”
Indira menatap Abi dengan penuh curiga. Memang, pria itu menunjukkan gelagat akan melakukan hal yang aneh. “Jika kamu ingin mengajakku mati bersamamu, aku takkan memaafkanmu.”
Benar saja. Abi membawa mobil mereka ke arah sungai. Indira sangat tahu jalan itu. Jalan menuju sebuah situs yang saat ini sedang viral, yaitu jembatan gantung. Jembatan dari kayu yang dibangun oleh warga setempat dan dihiasi sedemikian rupa sehingga terlihat menarik. Meski demikian, kekokohan jembatan itu masih diragukan. Karenanya, jembatan tersebut diperuntukkan bagi orang-orang yang ingin memacu adrenalinnya.
Tentu saja, jembatan itu hanya untuk pejalan kaki. Bukan untuk mobil.
“Aku tahu rencanamu. Aku pastikan, itu bukan rencana yang bagus. Kita akan benar-benar mati. Putar mobilnya. PUTAR MOBILNYA SEKARANG JUGA!!!”
Sayangnya, teriakan Indira sia-sia. Mobil tetap melaju ke arah jembatan. Abi terlihat sangat fokus saat jembatan sudah mulai tersorot lampu depan mobil. Sementara mobil di belakang mereka masih mengejar dan sepertinya tidak tahu apa yang akan menyambut mereka di depan.
“AKU TIDAK MAU MATI SEKARANG!!!”
Mobil mereka melaju dengan kencang, menelusuri jembatan yang lebarnya, untung saja, pas untuk ban mobil mereka. Mereka mengalami ketegangan yang luar biasa selama mobil yang mereka tunggangi menelusuri jembatan yang panjangnya sekitar 60 meter itu. Dan ketegangan itu bertambah saat mereka baru berada di tengah jembatan, saat salah satu mobil yang mengejar mereka tidak bisa mengendalikan keseimbangan dan jatuh ke sungai, menyebabkan jembatan goyang cukup kencang.
“Mereka terjatuh. Mereka terjatuh,” kata Indira sambil menangis. Air mata sudah mengalir deras di pipinya. Ia membenamkan wajahnya ke dashboard yang ada di hadapannya.
Tiba-tiba ia merasakan sakit di kepalanya. Ternyata Abi baru saja memukulnya. Ingin ia membalas, tapi urung dilakukan karena sadar mobil telah berhenti. Ya, mereka telah sampai ke seberang sungai dengan selamat.
“Sudah kubilang, percaya padaku,” kata Abi dengan nada sombong.
Tanpa sadar, Indira memeluk Abi kencang sebagai rasa syukurnya karena Tuhan masih mengizinkan mereka untuk hidup. Menerima pelukan itu, Abi jadi salah tingkah hingga wajahnya memerah.
Dan beberapa detik kemudian, tanpa diduganya, kotak P3K kembali melayang ke wajahnya.
__ADS_1
“Brengsek!” umpat Indira.