
Setelah kejadian di pulau terluar
Sebuah helikopter mendarat di landasan dengan perlahan-lahan. Abi dan Regina berdiri dari duduknya seakan bersiap untuk menyambut. Seorang tentara turun dari helikopter itu terlebih dulu, lalu membantu seseorang turun. Itu adalah Indira.
Indira yang sedang terbungkus selimut tebal mendadak menangis saat melihat Abi melambaikan tangan padanya. Ia segera berlari dan memeluk pria itu. Regina yang berada di dekat mereka merasa terabaikan. Tapi, ia maklum dan hanya tersenyum saja.
Rencananya kali ini berjalan dengan sempurna. Abi telah bersepakat pada Tandika Andronikus, juru bicara presiden itu, bahwa ia akan melakukan wawancara setelah lokasi tuan Jireh ditemukan. Ia tidak bisa memalsukan waktu wawancara seperti yang pernah dilakukannya bersama Jack dulu. Tuan Jireh pasti akan lebih teliti.
“Tuan Jireh telah mati. Aku tidak sengaja mendorongnya dari helikopter. Aku telah membunuhnya,” ujar Indira dengan suara lirih.
“Wah, kau hebat,” balas Abi bercanda. “Tidak, itu bukan pembunuhan. Kau hanya membela diri dan hal itu terjadi tanpa sengaja. Dari cerita yang kudengar, saat itu helikopter memang sedang tidak stabil dan kau hanya membalas dorongan yang ia lakukan padamu.”
Tak berapa lama kemudian, utusan dari Tandika Andronikus menyampaikan ucapan terima kasih pada Abi mewakilinya dan presiden. Berkat Abi, pemerintah berhasil menemukan lokasi Harta Hemas disimpan.
Dari tubuh tuan Jireh, ditemukan sebuah benda mirip EDC (Electronic Data Capture) dari sebuah bank di luar negeri. Benda itu biasanya digunakan Nyonya Hemas ketika tuan Jireh memerlukan uang untuk proyek ambisius mereka. Biasanya, Nyonya Hemas memasukkan kata sandi dan tuan Jireh tidak diperbolehkan untuk mengetahuinya.
Saat wawancara, Nyonya Hemas memberikan isyarat berupa kode morse yang diberikan dengan cara memukul meja. Isyarat itu adalah kata sandi yang dimaksud. Setelah mengetahui kematian tuan Jireh, Nyonya Hemas akhirnya mengaku hendak menyuruh tuan Jireh untuk menarik semua uang itu dan menyembunyikannya di tempat lain. Ia berharap suatu saat tuan Jireh membebaskannya dengan menggunakan uang itu.
“Nah, sekarang barulah semua benar-benar berakhir,” ujar Regina. Abi dan Indira tersenyum seolah setuju dengan pernyataan itu.
*
Beberapa bulan kemudian
Indira sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen. Wajahnya terlihat kusut dan memendam kekesalan yang besar. Ia pun sadar kalau ada satu dokumen yang tidak terlihat.
“Abi! Abi!”
Abi keluar dengan wajah bingungnya. “Ada apa?”
__ADS_1
“Di mana salinan BAP untuk kasus pak Kornelius?”
Abi garuk kepala, lalu berjalan dengan santai ke arah meja Indira dan membuka lacinya.
“Kau sendiri yang meletakkannya di sini agar tidak lupa,” kata Abi. “Makanya, sudah tahu sibuk, malah maraton nonton anime.”
“Bukan urusanmu. Dasar, K-Popers cengeng.”
“Lebih baik daripada wibu aneh.”
Setelah kejadian menegangkan yang berujung pada kematian tuan Jireh dan ditemukannya Harta Hemas, Abi menjalankan persidangan karena permohonan peninjauan kembali yang diajukan oleh Indira diterima oleh pengadilan negeri.
Hasilnya, putusan yang sebelumnya diterima Abi untuk kasus kepemilikan atau pengedaran narkoba dibatalkan oleh mahkamah agung dan ia mendapatkan putusan yang baru, yaitu tidak bersalah. Dengan kata lain, Abi bebas.
Sejak saat itu, Abi membenahi hidupnya. Pemerintah membantunya ujian paket C dan memberikan beasiswa penuh untuk melanjutkan kuliah di fakultas hukum sebuah perguruan tinggi yang cukup bagus.
Sambil kuliah, Abi bekerja sebagai paralegal di kantor hukum milik Indira Christina. Saat ini, mereka dikenal sebagai duo hukum yang berhasil menangani berbagai kasus hukum. Klien mereka terus bertambah hingga mereka mulai membatasi klien.
Rinjani juga tidak pernah muncul lagi. Konon, ia sudah memutuskan untuk menjadi pecinta alam dan berkeliling untuk menjelajah keindahan alam di negeri ini. Meski Abi dan Indira tahu, ia melakukannya karena sedang menghindar dari rentenir.
“Kapan rencananya ziarah ke makam Rama?” tanya Indira.
“Entah, mungkin akhir pekan ini,” jawab Abi. “Mau sekalian ziarah ke makam papamu?”
“Sepertinya tidak. Aku baru berziarah ke sana dengan mbak Ratih dan keluarganya.” Indira menatap Abi seakan ada pertanyaan yang ingin diajukan, namun masih ragu. “Eh, kamu sudah cari tahu kabar tentang ayahmu?”
Mendengar pertanyaan itu, Abi terlihat tidak nyaman. Tapi, akhirnya ia tersenyum agar Indira tidak merasa bersalah.
“Aku rasa tidak perlu,” jawab Abi. “Meski ia hanya hadir sebentar di hidupku, itu sangat berarti bagiku. Pihak lapas menyatakan kalau ia telah hilang. Aku hanya berharap kalau ia sebenarnya kabur dari sana. Aku sudah pernah memberitahukan perihal terowongan itu.”
__ADS_1
Indira menyadari mata Abi yang sedang dipenuhi oleh air mata yang tertahankan. Ia tahu, pria tangguh yang ada di hadapannya itu sedang rapuh. Sejak mengenalnya, baru dalam kasus ini Abi seakan menolak untuk melihat kebenaran. Ucapan yang pernah ia dengar dari Nyonya Hemas sebenarnya petunjuk besar bahwa keadaan ayahnya sedang tidak baik-baik saja. Tapi, ia ingin menyangkalnya dan berpikir ayahnya sedang menjalani hidup bahagia, seperti yang telah ditanamkan tante Jenny padanya sejak kecil.
“Bagaimana kabar ibumu? Apakah tante Jenny sehat-sehat saja?” tanya Indira berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Seperti biasa. Masih sehat dan energik. Tentu saja, usaha kateringnya sedang bagus dan ia mengajak beberapa bekas tetangga kami di Batavia Baru untuk membantunya. Jadi, ia tidak merasa kesepian.”
“Baguslah. Aku turut senang,” kata Indira.
“Lalu, bagaimana denganmu?”
Tiba-tiba Abi mendekatkan wajahnya ke wajah Indira sehingga wajah wanita itu memerah.
“Me, memangnya kenapa denganku?”
Indira bisa melihat jelas senyum di wajah Abi. Ia merasakan jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Pipinya sudah terasa panas seakan hendak terbakar.
“Apakah kau tidak merasa kesepian?”
“Ke, kenapa aku harus merasa kesepian? Selama ini aku juga hidup sendiri. Tidak ada yang benar-benar menemaniku selain mbak Ratih.”
Indira berdiri dan pura-pura menyibukkan dirinya dengan buku-buku di lemari yang ada di belakang kursinya.
“Padahal aku tidak sedang membahas seluruh hidupmu. Aku hanya membahas tentang akhir pekanmu. Aku punya rencana untuk menonton di bioskop malam minggu ini dan berencana untuk mengajakmu jika kau merasa kesepian.”
Indira merasa sedikit malu karena salah menanggapi pertanyaan Abi. Ia tertawa kecil dan sambil membalikkan badannya, ia berkata “Baiklah, aku akan menemanimu menonton. Tapi, harus diperjelas kalau bukan aku yang kesepian, tapi ka-”
Mulut Indira langsung mengatup ketika melihat Abi sudah berdiri hanya sejengkal di depannya. Pria itu menopangkan tangannya ke lemari yang ada di belakang Indira. Wajah Indira kembali memerah dan jantungnya kembali berdetak tidak beraturan. Keringat mulai mengalir di keningnya. Pikirannya mulai liar membayangkan apa yang akan terjadi kemudian.
“Aku hanya perlu memperjelas satu hal. Itu bukan hanya sekadar kegiatan menonton biasa. Kita harus sepakat untuk menganggapnya sebagai kencan.”
__ADS_1
TAMAT