Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 50


__ADS_3

Regina menatap fotonya yang sedang berdua dengan Roy. Saat itu mereka sedang berada di acara ulang tahun kakaknya Roy. Selama ini Regina sering menolak untuk berkencan dengannya dan menggunakan kesibukan kerja sebagai alasannya. Namun, saat kakak Roy meminta langsung padanya untuk datang, ia tak kuasa menolak. Di momen itu, untuk pertama kalinya Roy bisa melihat tunangannya itu mengenakan gaun yang anggun. Karenanya, ia tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan mengajak Regina untuk berfoto. Itu adalah satu-satunya foto mereka berdua dalam posisi yang cukup dekat.


Beberapa rekannya melihat Regina sedang memegang fotonya bersama mendiang tunangannya dengan tatapan kosong. Mereka tak berani menegurnya dan memberikan kesempatan bagi Regina untuk mengenang tunangannya.


Meski sedang menatap foto itu, ia tidak sedang mengenang Roy atau momen ketika foto itu diambil. Pikirannya masih dipenuhi oleh pertengkarannya dengan Abi kemarin. Di satu sisi, ia merasa puas karena bisa melampiaskan amarahnya dan membela marwah profesinya yang selama beberapa waktu terakhir jatuh karena ulah ekstrim sahabatnya itu. Ia juga marah karena Abi sama sekali tidak memiliki empati sedikitpun untuk Roy. Tapi di sisi lain, ia menyesal. Tentunya hubungan yang telah mereka jalin sejak mereka SD, telah rusak karena kejadian kemarin. Regina juga merasa enggan untuk bertemu kembali dengannya.


Hanya saja, ia masih tidak kepikiran, bagaimana bisa Abi sama sekali tidak menunjukkan kedukaannya untuk Roy? Meskipun mereka telah bermusuhan selama belasan tahun, seharusnya ia merasa kehilangan karena itu artinya mereka sudah saling kenal selama belasan tahun juga.


“Bagaimana dengan pemakaman tunanganmu? Kau tidak ikut menemani keluarganya sebelum jenazahnya disemayamkan?” tanya Iptu Nyoman, atasannya, yang baru saja lewat dari depan meja Regina.


“Pemakamannya berjalan sederhana, Pak. Sepertinya karena ia meninggal karena bunuh diri, hanya sedikit orang yang melayatnya,” jawab Regina santai. “Dan aku bukan lagi tunangannya. Sebelum ia meninggal, hubungan kami telah putus dan aku mengembalikan cincinnya. Jadi, tidak apa-apa jika ada yang ingin bertanya tentangnya padaku. Aku akan menjawabnya selama aku tahu jawabannya.”


Regina sengaja memperkuat volume suaranya agar teman-teman sekantornya bisa mendengar dan tidak bersikap canggung lagi seperti sejak awal ia datang ke kantor, namun mereka yang mendengarnya malah semakin merasa canggung.


“Sebaiknya kau istirahat dulu.”


“Aku benar-benar tidak apa-apa, Pak. Aku sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dariku.”


“Tidak, kau butuh istirahat. Emosimu saja tidak stabil. Memaksa diri bekerja dalam kondisi seperti ini justru menjadi gangguan bagi rekan-rekanmu”


“Tapi aku -”


“Tidak ada tapi-tapian. Sekarang, kau pulang dan istirahat! Ini perintah!”


Regina tidak bisa membantah atasannya lagi. Ia mengambil tasnya lalu pergi dari kantornya dengan perasaan dongkol. Selama belasan tahun berkarir di kepolisian, baru kali ini ia dipulangkan di tengah jam tugas untuk beristirahat. Tapi bukan itu yang membuatnya kesal, melainkan karena dianggap terpengaruh atas kematian Roy.

__ADS_1


Ia tahu jika selama ini dirinya sering berharap Roy hilang dari hidupnya. Karena itu, ia merasa jahat dan tidak layak untuk berduka sekarang, ketika harapannya sudah terwujud. Mata Roy yang berkaca-kaca dan menarik belas kasihannya ketika mereka terakhir kali bertemu, selalu membayangi pikirannya. Belum lagi perasaan bersalahnya setiap kali keluarga Roy menghubunginya.


Ia menaiki motor trail hitam miliknya dan melajukannya dengan kecepatan yang cukup tinggi. Angin kencang menerpa matanya yang tidak tertutup helm. Menyegarkan dan mampu membuatnya lupa sejenak dengan masalah yang kini memenuhi pikirannya.


Tiba-tiba ia mengerem motornya. Ada sesuatu yang terlintas secara mendadak di kepalanya. Kemudian, ia mengeluarkan ponsel dan mencari sebuah nama. Kak Lidya! Itu adalah nama kakak perempuan dari Roy. Ia pun segera menghubungi nama itu.


“Halo, Kak. Maaf tiba-tiba mengganggu. Aku ingin meminta sesuatu pada Kakak dan keluarga Kakak. Ini demi Roy,” kata Regina. Wajahnya terlihat sedikit gugup. “Aku ingin kita melakukan autopsi pada mendiang. Aku curiga kalau ia tidak bunuh diri, melainkan dibunuh.”


                  *


“Aku yakin ia dibunuh,” kata Abi pada Rama yang duduk di seberangnya, di ruang kunjungan. “Jika itu benar, aku sudah mulai bisa membaca alurnya.”


Rama yang sejak tadi menikmati klepon buatan ibu mereka, yang ia bawa untuk abangnya namun hampir semua ia yang makan, menaikkan alisnya karena terkejut dengan ucapan sang abang.


“Dibunuh? Memangnya polisi tidak bisa tahu apakah itu bunuh diri atau tidak?”


Sayangnya, ia tidak punya kuasa untuk mengajukannya. Regina yang menjadi satu-satunya harapan, sudah terang-terangan menolaknya hingga mereka harus berkelahi cukup hebat.


Rama mengangguk sambil menjilat jari-jarinya yang berlumur cairan gula merah, meski ia masih belum memahami semua perkataan abangnya itu. Ia menenggak air mineral untuk mendorong klepon yang masih tersangkut di lehernya.


“Jadi, bagaimana alur yang Abang baca itu?” tanya Rama setelah selesai minum.


Abi sudah membuka mulut, sebelum ia melihat wajah adiknya. Ia merasa topik yang ingin dibahasnya tidak cocok dengan lawan bicaranya. “Kujelaskan sekarang pun kau tidak akan mengerti.”


“Lalu, kenapa Abang mengatakannya padaku tadi?”

__ADS_1


“Sudah, sekarang ceritakan hasil penyelidikanmu terhadap Benjiro,” titah Abi pada adik satu-satunya itu.


Kemudian, Rama menceritakan hasil penyelidikannya yang sangat dibantu oleh sang kekasih, Shasha. Informasi yang diberikan bos Dirga terkait orang itu cukup akurat. Ia menambahkan beberapa hal, seperti keterlibatan pria bernama Benjiro itu dengan salah satu calon gubernur yang akan bertarung dalam pilkada beberapa waktu lagi.


Rama juga berhasil mengungkap sebuah fakta penting, yaitu selama ini Benjiro adalah pemasok utama Mischa. Ya, tanpa diketahui publik, Mischa merupakan pengedar besar di kalangan artis dan pejabat. Ia mampu menyediakan berbagai jenis narkoba dengan kualitas tinggi. Mischa juga sosok yang memperkenalkan Benjiro dengan orang-orang penting di negeri ini.


“Seperti simbiosis individualisme. Benjiro memasok barang haram kualitas terbaik pada Mischa dengan harga miring, dan Mischa memperkenalkan orang-orang berpengaruh yang ia kenal pada Benjiro.”


“Simbiosis mutualisme,” koreksi Abi sambil menampar pelan mulut adiknya.


“Ya, itulah.”


“Ada hal lain yang kau temukan di sana? Yang bisa dijadikan bukti?”


“Ada. Aku sudah cari tahu alibinya di hari saat Abang ditangkap dan saat rumah itu kebakaran,” kata Rama. Jarinya sedang meraih kelapa yang masih tersangkut di giginya. “Aku sudah foto buku tamu VIP klub itu. Biasanya, Benjiro pasti datang di hari Senin, hari ketika Abang ditangkap. Tapi, ia tidak ada di buku tamu hari itu. Lalu di hari Rabu, hari terjadinya kebakaran itu, ia juga tidak datang. Memang, ia tidak selalu datang di hari Rabu. Tapi di buku tamu ada nama Leoz Tan, artis senior yang adalah langganan Benjiro. Kata Shasha, satu-satunya alasan ia datang ke klub hanya untuk bertemu dengan Benjiro.


Abi mengelus dagunya sambil berpikir. Masih ada ganjalan besar di kepalanya. “Apakah motif pria itu membunuh Mischa berkaitan dengan narkoba atau dengan orang-orang penting?”


“O ya, ada sesuatu yang awalnya kupikir tidak terlalu penting, tapi sepertinya harus kusampaikan pada Abang,” ujar Rama dengan wajah serius.


“Apa itu?”


“Beberapa hari sebelum Abang ditangkap, Benjiro sempat nyaris ditangkap oleh seorang polisi dengan tuduhan pembunuhan, tapi ia bebas karena tidak ada bukti.”


“Siapa yang dibunuh?”

__ADS_1


“Aku tidak ingat, dan sepertinya hanya penjahat biasa. Yang kuingat adalah polisi yang menangkapnya,” jelas Rama. Wajahnya semakin serius. “Dia adalah Regina.”


__ADS_2