Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 35


__ADS_3

Indira memandang cermin yang memantulkan wajahnya. Tidak ada riasan apapun. Ia tahu, make up yang akan dipakainya, seperti yang biasanya ia pakai, takkan mengubah banyak wajahnya tanpa make up.


Di benaknya terbayang-bayang kejadian di rutan kemarin. Itu adalah ketika Regina berdandan, mengubah wajahnya yang lusuh dan penampilannya yang tomboy menjadi cantik dan anggun.


“Apakah make up bisa mengubahku sedrastis itu juga?” Indira membuka kotak riasannya dan mengambil lipstik. Kemudian ia meletakkannya kembali. “Ah, dia memang aslinya cantik. Make up hanya untuk menghilangkan kelusuhannya saja.”


Tapi matanya kembali mengarah ke dalam kotak riasannya. Mendadak wajah Abi melintas di pikirannya, membuatnya tanpa sadar membongkar kotak riasannya dan mulai berdandan.


“Apa-apaan ini? Kenapa aku berdandan karena mengingatnya?”


Indira ingin menghapusnya, namun urung dilakukan setelah memperhatikan hasil karya tangannya. Cukup memuaskan.


Tiba-tiba terdengar suara Rama memanggilnya dari luar. Ia pun berjalan dan membukakan pintu untuk pria cerewet itu.


“Wow, you look so beautiful,” puji Rama ketika melihat wajah Indira, membuat wanita itu tersipu malu.


“Really? Tidak terlihat menor?”


“*Of course no*t.”


Indira tersenyum. Lalu ia terlihat ragu, sebelum melemparkan sebuah pertanyaan. “Apakah Abi akan berpikiran seperti itu juga nanti?”


“One hundred percent,” kata Rama. “Sayangnya, hari ini kita batal menjenguknya lagi. Bang Abi menyuruh kita menyelidiki sesuatu.”


Senyum Indira mendadak lenyap, berganti dengan wajah kesal. Rama sampai bingung melihat perubahan air mukanya.


“Tunggu, aku hapus dulu riasan ini.”


Indira menutup pintu, padahal Rama sudah bersiap untuk masuk.


                  *


 “Apakah tidak masalah dengan pacarmu karena kita menggunakan mobilnya hampir setiap hari?” tanya Indira saat mereka dalam perjalanan ke sebuah tempat.


“No problem. Shasha tidak pernah memakai mobil ini. Bahkan, kemungkinan ia lupa punya mobil ini?”

__ADS_1


“Benarkah? Memangnya dia orang kaya?”


“Lumayan, tapi mobil ini tidak dibeli dengan uangnya. Ini dikasih oleh kliennya.”


“Memangnya, apa pekerjaannya?”


“Seperti mama kami\, pel*c*r\,” jawab Rama santai. Sangat santai sehingga membuat Indira bingung. “Tapi dia lebih canggih\, tidak nongkrong di kafe\, di diskotik atau di pinggir jalan.”


“Lebih canggih?”


“Iya, ia menggunakan aplikasi yang bernama OBO-Jek. Open BO berkedok ojek. Jadi, kliennya memesan jasanya dan menentukan lokasi pertemuan. Lalu, driver seperti Shasha menghampiri tempat itu dengan seragam ojek online sambil membawa bingkisan berisi makanan. Selain untuk mengurangi kecurigaan warga sekitar, seragam ojol juga sangat bagus untuk meningkatkan imajinasi kliennya.”


Indira sampai geleng-geleng kepala mendengar penjelasan dari Rama. Ia sangat terheran-heran. Pertama, karena Rama begitu santai memiliki pacar yang memiliki profesi seperti itu. Kedua, karena munculnya moda prostitusi terbaru yang cukup canggih dan unik.


“Jadi, sekarang kita mau ke mana?”


“Ke rumah salah satu langganan ojek bang Abi. Ia adalah seorang dokter forensik.”


“Untuk apa kita menemuinya?”


“Bang Abi punya beberapa pertanyaan untuk beliau. Terkait kondisi jenazah Mischa.”


“Apa saja pertanyaannya?”


Rama merogoh kantung dan meraih ponselnya lalu membuka isi pesan dari Abi. “Bang Abi menyuruhku memberikan laporan autopsi jenazah Mischa dan bertanya, apakah ia mati karena dipukul, menghirup asap terlalu banyak, terbakar atau karena penyakit?”


“Penyakit?” Indira heran dengan salah satu kemungkinan penyebab kematian yang dipertanyakan oleh kliennya tersebut. Sudah jelas Mischa ditemukan tewas di bawah salah satu sisi rumah. Sepertinya tidak ada yang berpikir ia mati karena penyakit.


“Iya, penyakit. Beberapa hari yang lalu, saat sidang terakhir berlangsung, Rama pergi ke salah satu rumah sakit langganan Mischa dan mencuri rekam medisnya.”


“Mencuri?”


“Ya, mencuri. Bang Abi menyuruhku melakukannya saat itu. Katanya, hanya saat itu musuh-musuhnya lengah karena fokus pada jalannya persidangan. Lagipula, ia tidak ingin melibatkan Kakak jika Rama melakukan tindak kejahatan.”


Mulut Rama tersenyum lebar, seakan ia sedang menceritakan hal keren yang pernah dilakukannya. Padahal, setiap kejahatan yang dilakukannya terkait kasus Abi membuat Indira stres karena hal itu bisa mempersulitnya sebagai pengacara.

__ADS_1


“Jadi, apa yang tertulis di rekam medis itu sehingga Abi berpikir kalau Mischa mungkin tewas karena penyakit?”


“Biar kutunjukkan fotonya. Ada di ponselku. Jadi, salah satu penyakit yang menurut bang Abi mencurigakan adalah -”


Tiba-tiba terdengar bunyi dentuman keras diiringi goncangan dahsyat dari bagian belakang mobil. Rama sampai tidak bisa mengendalikan mobil yang sedang berputar-putar dengan kencangnya.


Saat mobil berhenti dan dalam posisi terbalik, mereka melihat ada mobil jeep hitam di belakang mereka. Kemungkinan besar mobil itu yang menabrak mobil mereka.


Benar saja, belum lagi Indira dan Rama menenangkan diri, mobil itu kembali menabrak bagian depan mobil mereka sehingga terpelanting ke luar jalur jalan. Ban mobil mereka tinggal beberapa inci lagi dari parit besar yang ada di pinggir jalan.


Sepertinya mobil jeep itu belum selesai. Ia memutar kembali dan bersiap menabrak mobil kekasih Rama itu. Jika hal itu dilakukan, bisa dipastikan mereka akan masuk parit besar itu.


“Kamu tidak bisa memberikan perlawanan?” tanya Indira dalam situasi genting itu.


“Tenang saja. Mereka tidak tahu siapa Rama Alexander.”


Rama memasang wajah serius dan seakan sedang menunggu pergerakan jeep tersebut. Ketika mobil besar itu melaju untuk menghampiri mereka, Rama langsung tancap gas dan banting stir ke kanan sehingga justru sang jeep yang terperosok ke parit tersebut.


“Rasakan itu!” teriak Rama puas diiringi tepuk tangan dari Indira.


Namun, euforia yang mereka lakukan terlalu dini. Mobil lain kembali menabrak mobil mereka dari belakang dan kali ini membuat mereka terpelanting ke sisi jalan yang lain, menabrak sebuah tembok.


Dan benturan kali ini jauh lebih keras, sehingga mampu membuat mereka tak sadarkan diri. Sayangnya, kondisi jalanan saat itu sepi dan butuh beberapa menit hingga ada mobil yang lewat dan menyadari kecelakaan yang mereka alami. Sementara itu, kedua mobil penyerang mereka sudah menghilang.


                  *


 “Jack! Jack!”


Seorang pria meneriakkan nama reporter tua itu dengan lantang sehingga seisi kantor redaksi mendengarnya. Si empunya nama menoleh ke arah sumber suara.


“Ada apa, Ton? Kau seperti dikejar setan saja,” kata Jack Off the Record mengejek rekan kerjanya itu.


“Ini bukan waktunya bercanda,” kata pria itu sambil mengatur napas. Kemudian ia menunjukkan layar ponselnya. “Kau pasti belum baca berita ini.”


Jack masih bersikap santai ketika mengambil ponsel dari pria itu. Barulah wajahnya berubah ketika ia membaca berita yang dimaksud.

__ADS_1


“Dasar bocah keras kepala! Sudah kubilang untuk jangan terlibat dengan bocah kunyuk terkutuk sumber masalah itu.”


Jack menyerahkan ponsel itu pada pemiliknya dan berjalan keluar ruangan dengan penuh amarah.


__ADS_2