
Seorang wanita muda turun dari sebuah mobil sedan berwarna hitam. Ia mengenakan selendang untuk menutupi kepalanya, masker untuk menutupi mulutnya dan kacamata hitam untuk menutupi matanya. Bahkan dengan aksesoris setertutup itu, ia masih menutupi setengah wajahnya dengan telapak tangan saat berjalan menuju pintu kantor polda.
Di dalam gedung itu, sebagian besar polisi sedang larut dalam tontonan wawancara seorang pria yang sempat mengusik kepolisian di seluruh negeri ini, yaitu Abimanyu Alexander. Bahkan, terlaksananya wawancara itu juga menunjukkan bobroknya kinerja mereka. Bagaimana tidak? Seorang pria biasa telah berhasil lolos dua kali dari penjara dan bahkan sekarang bisa duduk santai melakukan wawancara.
“Pledoi? Maksud Anda, nota pembelaan? Ah, iya. Di persidangan terakhir, Anda menyatakan menolak memberikan pledoi. Apakah ini adalah pledoi yang seharusnya Anda bacakan pada persidangan tersebut?” tanya Jack.
“Bisa dikatakan demikian. Tapi, banyak hal yang terjadi pasca persidangan itu dan saya sudah menambahkannya pada pledoi yang akan saya bacakan sekarang.”
“Baiklah, tanpa memperpanjang waktu, saya akan mempersilakan Anda untuk membacanya sekarang.”
Abi meluruskan posisi duduknya sehingga berhadapan lurus dengan kamera. Meski pengantarnya adalah membacakan, Abi tidak membacakan apa-apa. Semua yang ingin ia ucapkan ada di otaknya sekarang.
“Kepada Yang Terhormat, seluruh masyarakat yang menonton wawancara ini. Perkenankan saya menyampaikan nota pembelaan saya atas segala sesuatu yang telah dituduhkan pada saya sebelumnya.
“Saya berterima kasih untuk komitmen Majelis Hakim dan Penuntut Umum selama persidangan lalu, yang memeriksa perkara ini dengan cermat dengan tetap menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah (presumption of innocence) dan bukan dengan asas praduga bersalah (presumption of guilty).
“Namun demikian, dengan penghormatan yang tinggi terhadap profesi hakim dan jaksa, saya menyadari hukum harus ditegakkan demi adanya masyarakat yang adil, damai dan sejahtera dengan menyatakan bersalah dan menghukum orang yang bersalah dan membebaskan orang-orang yang tidak bersalah. Untuk itu izinkanlah saya untuk memberikan pembelaan terhadap kasus yang dituduhkan pada saya, meski saya sadar pembelaan ini tidak akan mengubah putusan yang telah diberikan pada saya.
“Berhubung ini bukan nota pembelaan resmi seperti yang diatur dalam Pasal 182 ayat (1) KUHAP, maka maklumkanlah saya jika tidak menyusunnya sesuai dengan tata cara penyusunan nota pembelaan yang seperti biasanya dan tidak tertulis.”
__ADS_1
Semua orang terpana dengan perkataan Abi yang sangat tersusun rapi, meski tanpa teks yang dibacanya. Selain itu, dari pembukaannya saja, terlihat kalau Abi sudah dapat membuat nota pembelaan sebaik itu, meski tanpa bantuan kuasa hukum.
“Saya akan mulai dengan kronologi awal mula saya terjebak dalam kasus ini. Seperti yang pernah saya ceritakan sebelumnya dan saya mendengar banyak orang yang memercayainya. Saya hanyalah seorang driver ojek online yang menjalankan tugas saya, yaitu mengantarkan barang sesuai pesanan melalui aplikasi.
“Seperti biasa, saya tidak pernah menanyakan atau membongkar barang yang akan saya antar. Saya juga sudah ratusan kali mengantar barang berbentuk seperti itu tanpa masalah. Maka, aneh bagi saya jika di tengah jalan, beberapa polisi mencurigai barang yang saya antar dan ternyata itu adalah narkoba. Sebuah kebetulan aneh yang merupakan takdir buruk bagi saya.
“Saat pemeriksaan, saya dianiaya agar mengakui bahwa pemberi barang itu adalah Mischa Radjasa. Bahkan, pihak kepolisian mengadakan konferensi pers dan mengumumkan saya telah mengakui hal tersebut, meski pada kenyataannya tidak.
“Tidak hanya sampai di sana. Saya juga dituduh membunuh dan menyembunyikan jasad Mischa Radjasa. Padahal, banyak kebetulan yang juga tak kalah aneh seperti kebakaran yang terjadi dan secara tidak sengaja menunjukkan keberadaan mayat dan bentuk luka yang aneh.
“Kemudian, melalui berbagai persidangan, berkat kecerdasan kuasa hukum saya, kami berhasil menemukan satu per satu alat bukti yang menyangkal semua tuduhan itu. Mulai dari pesanan pengantaran barang yang telah diatur oleh aplikasi, bukan atas kehendak saya. Lalu, terungkapnya saksi palsu yang dihadirkan oleh jaksa penuntut umum, yang mana awalnya mengaku telah mendapatkan narkoba dari saya dan ternyata tidak. Lalu, temuan penyebab kebakaran yang sebenarnya dan menunjukkan bahwa saya bukan pelakunya.
“Saya tetap mendapatkan vonis bersalah untuk tuduhan sebagai kurir narkoba yang menurut saya sangat tidak masuk akal. Dan lucunya lagi, satu nama tiba-tiba muncul dari mulut Benjiro Michael. Nama yang dianggap sebagai dalang pembunuhan Mischa. Nama itu adalah Bima Sakti, seseorang yang sedang berjuang dalam kontestasi pilkada. Sebuah kebetulan yang aneh lagi, bukan?
“Pengacara saya yang hebat bernama Indira Christina itu sempat membela beliau dengan harapan sebuah kebenaran akan terungkap dan dapat menyelamatkan saya. Tapi sayang, ia harus berhenti menjadi pengacara Bima Sakti dan pria baik itu terpaksa menerima tuduhan itu tanpa perlawanan.”
Abi berhenti sejenak. Ia berdehem lalu melanjutkan pledoinya.
“Dan ternyata, setelah melalui berbagai perjalanan panjang, saya menemukan satu alat bukti penting dan krusial, yang mampu menyelesaikan kasus pembunuhan, atau lebih tepatnya rekayasa pembunuhan Mischa Radjasa ini. Satu alat bukti kuat yang akan menunjukkan bahwa semua yang dikatakan oleh Benjiro Michael adalah kebohongan. Seandainya alat bukti itu terkuak sejak awal, kita tidak perlu melewati rangkaian persidangan dan drama-drama yang rumit ini.”
__ADS_1
Semua orang yang menonton siaran itu terkejut. Mata mereka terbelalak. Alat bukti yang kuat? Apa itu? Mereka sangat penasaran dengan alat bukti yang Abi maksud.
“Mungkin saat ini alat bukti itu sedang melangkah menuju salah satu kantor polisi dan menyerahkan semua yang dibutuhkan untuk mengungkap kebenaran yang sesungguhnya dari kematian Mischa Radjasa.”
Seperti para penonton di seluruh tanah air, suasana di kantor polda saat itu juga sangat tegang karena ucapan dari Abi tersebut. Mereka sampai tidak sadar jika ada seseorang yang sedang datang untuk meminta bantuan.
“Maaf, apakah saya bisa bertemu dengan Iptu Nyoman?” tanya wanita dengan pakaian serba tertutup itu pada salah satu petugas jaga.
“Ah, Iptu Nyoman. Ada perlu apa, ya, Mbak?”
“Saya ingin menyerahkan sesuatu yang penting dan seseorang merekomendasikan untuk menyerahkan langsung pada Iptu Nyoman.”
Kebetulan, saat itu Iptu Nyoman sedang menonton di ruangan tersebut. Mendengar namanya dipanggil, pria bertubuh tinggi besar itu segera berdiri dan menghampiri wanita itu.
“Iya, Bu. Saya Iptu Nyoman. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pria itu dengan sikap yang ramah.
Wanita itu sempat terlihat ragu, kemudian ia mengeluarkan sebuah amplop putih dari tasnya dan menyerahkan benda itu pada Iptu Nyoman.
“Maaf, ini apa, ya, Mbak?” tanya Iptu Nyoman.
__ADS_1
“Ini adalah bukti rekaman saat Mischa Radjasa meninggal,” kata wanita itu, yang membuat para polisi yang ada di sana melihat ke arahnya. “Saya adalah Tracy Ross, kekasih Mischa Radjasa yang ada di lokasi kejadian saat itu.”