Revenge By Law

Revenge By Law
PASAL 46


__ADS_3

Pikiran Abi saat itu masih mengembara liar. Ia masih mencari jawaban atas kejanggalan yang ia temui saat menganalisis kejadian pembunuhan Mischa. Karenanya, ia sampai tidak menyadari kehebohan di selnya.


“Hei, kau tidak mau makan?” tanya Urip pada Abi yang dilihatnya di pojokan dengan tatapan kosong.


“Makanlah, biar kami enak menelannya. Kan ini semua dari penggemarmu,” timpal Rakka.


Bukan kali ini saja Abi mendapat kiriman banyak makanan cepat saji. Dan tiap kali kiriman datang, selalu teman satu selnya yang paling senang. Tapi, ia masih tidak tahu siapa yang mengirimnya. Penjaga selalu bilang kalau itu dari penggemarnya.


“Tidak apa-apa. Aku juga tidak terlalu suka makanan cepat saji,” tolak Abi dengan lembut.


“Kalian berdua sedang memikirkan apa, sih? Ketika makanan datang, sebaiknya kita berhenti memikirkan masalah kita dan fokus pada makanan. Itu adalah salah satu kunci kebahagiaan,” kata Tejo sok bijak.


Abi kaget mendengar kata ‘kalian berdua’. Ia melihat ke sudut lain, ada Edu yang sedang duduk termenung. Bedanya dengan Abi, wajahnya terlihat sedih. Padahal, meski baru, ia sudah dikenal sebagai salah satu tahanan yang ceria.


Malamnya, ketika lampu sudah dipadamkan dan waktunya bagi para tahanan untuk tidur, Edu meminta pada Amran untuk bertukar tempat tidur sehingga ia bisa berbaring di samping Abi.


“Bro, kudengar kau hebat tentang hukum. Apakah kau bisa menolongku?”


Abi membuka matanya. Ia melihat wajah Edu yang mengguratkan kekhawatiran dan kesedihan.


“Kau tertangkap tangan saat mencopet. Rekaman CCTV-nya juga memperlihatkan kejadian dengan baik dan wajahmu terlihat jelas di sana. Aku tidak bisa membantumu. Terima saja hukuman yang akan diberikan kepadamu dan bertobatlah.”


“Bukan kasusku,” katanya kesal karena mengungkit kesalahannya yang membuatnya berada di rutan ini. “Kau tahu kenapa aku mencopet? Karena keluargaku bangkrut. Kau tahu kenapa keluargaku bangkrut? Karena kami ditipu. Kau tahu bagaimana kami ditipu?”


Abi menatap mata Edu lalu membalikkan badannya. “Aku tak peduli. Bukan aku yang membuat keluargamu bangkrut.”


“Hei, dengar dulu.” Pria gemuk berambut gondrong itu menarik bahu Abi dan berusaha membalikkan badannya. Tapi Abi menolak.

__ADS_1


“Apakah kau tidak merasa aneh saling pandangan dengan pria dalam posisi tidur? Kita tidak seintim itu. Tidurlah, sebelum petugas jaga melihatmu,” kata Abi mencoba mengakhiri pembicaraan. Masalahnya yang harus dipikirkan sudah sangat banyak. Ia tidak ingin menambah beban pikiran lagi dengan masalah orang lain.


“Baiklah, akan kuberi tahu,” kata Edu yang masih berharap agar Abi membantunya. “Keluarga kami memiliki tanah yang sangat luas. Dua tahun yang lalu, sebuah perusahaan konstruksi ingin membangun mal di tanah itu. Alih-alih membelinya tunai, mereka menawarkan opsi membayar dengan saham. Kata mereka, karena nilai proyeknya sekitar 1 triliun dan harga tanah kami sekitar seratus milyar, mereka akan memberikan kami 10% saham. Lalu kami mendengar masukan dari kenalan-kenalan kami yang pengusaha kalau itu adalah pilihan terbaik karena lokasi itu sangat strategis untuk didirikan mal. Setiap tahun, kami akan mendapatkan keuntungan sebanyak 10% dari total keuntungan mal dan itu sangat besar. Tapi, karena suatu hal yang mereka bilang ilusi atau apalah, saham kami berkurang menjadi hanya 0,1%.”


Abi masih tidak memberikan respons. Bahkan, ia sengaja mendengkur agar Edu berhenti bercerita. Tapi, pria itu tidak menyadarinya dan tetap bercerita.


“Sejak itu, hidup kami menderita. Setiap kali lewat mal New World, hati kami tersayat-sayat. Makanya, aku mencopet di mal itu. Sebagai bentuk balas dendam. Dan juga karena ada kesempatan.”


Akhirnya Edu sadar kalau Abi sudah tertidur dan sejak tadi ia hanya berbicara sendiri. Kemudian ia memutar badannya dan menatap ke langit-langit sel. Matanya sempat berkaca-kaca, sebelum ia menutupnya untuk tidur.


Tiba-tiba Abi memutar badannya dan langsung duduk. Kemudian ia memegang bahu Edu dan menggoyangnya hingga pria gemuk itu terbangun. Ia terkejut melihat wajah Abi yang terlihat sangat antusias, tidak seperti saat ia bercerita tadi.


“Apa nama malnya? New World?”


                  *


“Apakah ada kabar baik?”


“Kenapa? Apakah kamu mendengar sesuatu?” Indira bertanya balik.


“Dari wajahmu seharian ini aku bisa tahu.”


Indira tertawa cengengesan. Ia pun menceritakan suatu hal baik yang terjadi padanya. “Kamu masih ingat klienku yang bernama Alya itu, kan? Yang kasusnya kamu rekomendasikan itu,” kata Indira yang dibalas dengan anggukan kecil dari Abi. “Ternyata dia berasal dari keluarga kaya-raya. Abangnya adalah Raditya Lesmana, mantan CEO jenius di salah satu perusahaan konstruksi raksasa nasional yang pernah diwawancarai majalah luar negeri dan sekarang sedang membangun perusahaan konstruksinya sendiri. Dia mentransfer uang dalam jumlah yang sangat besar ke rekeningku. Padahal aku sudah ikhlas meski tidak dibayar.”


“Baguslah. Anggap saja itu sebagai rezeki orang baik,” ujar Abi dengan senyum tipis.


Indira curiga melihat senyum tipis itu. Ia sadar kalau Abi sudah tahu hal itu sebelumnya. Kemudian ia membelalakkan matanya dan menunjuk ke arah Abi.

__ADS_1


“PT. Laras Jaya Karya! Itu adalah tempat kerja abangnya dulu dan juga perusahaan konstruksi milik ayahnya jaksa Jerold! Pasti pamrih yang kamu maksud berasal darinya juga, kan?”


Abi tertawa seakan memberikan jawaban ‘iya’ pada Indira. Memang, ia sudah menduga suatu saat Indira akan menebaknya.


“Bagaimana? Kamu tidak keberatan, bukan?”


Tiba-tiba Indira mendobrak meja. Terlihat kemarahan terpancar dari matanya. Abi sampai ngeri melihatnya. Ia seperti monster yang siap menerkam orang-orang di hadapannya.


“Ingat, aku hanya pengacaramu! Aku bukan pembantu atau alat yang bisa kau gunakan sesukamu untuk kepentingan pribadimu. Aku hanya akan mengurusi pekerjaanku yang terkait dengan kasusmu. Kasus narkoba dan pembunuhan Mischa Radjasa. Di luar itu, aku tidak ingin mengurusinya. Cukup kasus ibumu dan Alya. Aku tidak ingin berurusan dengan jaksa Jerold, apalagi untuk merusak citranya sebagai jaksa dengan mengganggu keluarganya. Terserah itu untuk kepentingan persidangan atau untuk melampiaskan dendam masa lalumu.”


Abi benar-benar ketakutan melihat kemarahan penasihat hukumnya itu. Pikirannya mendadak kosong dan ia tidak tahu harus berkata apa. Yang bisa dilakukannya hanya membiarkan emosi Indira yang sedang meledak itu bisa surut.


“Maaf, aku bersikap egois,” kata Abi perlahan, saat Indira sudah dapat duduk tenang.


“Baiklah, untuk kali ini, akan kumaafkan. Tapi aku takkan menuruti perintahmu lagi. Mulai sekarang, aku yang memutuskan apa yang harus dan tidak harus dilakukan. Termasuk tentang investigasi. Tidak ada perintah mendadak, terutama melalui Rama. Jika ada yang ingin diselidiki, kamu harus bicara langsung padaku. Jika aku tidak setuju, kamu harus terima.”


Yang bisa dilakukan oleh Abi hanya mengangguk ketakutan. Ia tahu bagaimana seramnya Indira jika marah. Ya, meskipun ia tidak punya niat untuk mengubah perlakukannya selama ini pada sang pengacara.


“Padahal aku ingin memberikanmu sebuah kasus menarik. Memang bukan KDRT, tapi kasus perdata. Berkaitan dengan kasus perdata perusahaan. Sayangnya, yang dihadapi adalah PT Laras Properti, salah satu anak perusahaan Laras Jaya Karya.”


“Ya, aku menolaknya. Kamu cari saja pengacara lain. Apalagi persidangan ketigamu sudah dekat. Masih banyak hal yang harus kupersiapkan.”


Abi mengangguk putus asa, menunjukkan ia menghargai keputusan Indira. Ia hanya bisa bergumam, “Mau bagaimana lagi. Sebenarnya aku sangat lemah dengan hukum perdata, apalagi hukum perdata perusahaan. Kupikir, kau pasti hebat dalam hal itu karena beberapa kali pernah menangani kasus perdata perusahaan.”


Telinga Indira seperti menerima sebuah sinyal istimewa. Ucapan yang diberikan oleh Abi itu seperti sebuah pengakuan bahwa Indira punya kelebihan yang tidak dimiliki oleh Abi dalam bidang hukum. Mendadak hatinya berbunga-bunga. Tapi ia merasa tidak bisa membuktikannya jika tidak menerima kasus yang ingin diberikan oleh Abi.


Lalu tanpa sadar, bertentangan dengan kemauan otaknya, ia berkata, “Ceritakan saja kasusnya padaku. Jika menarik, aku akan mengambilnya.”

__ADS_1


__ADS_2