
"Tolong...siapapun tolong aku."
Suara erangan milik pria yang terdengar menyedihkan mampu tertangkap oleh telinga milik Akia yang saat ini sedang duduk diatas Black, motornya yang berwarna hitam. Sontak gadis itu mengrenyit lalu menajamkan indera pendengarnya dengan seksama.
Dan suara itu kembali terdengar dan kini terdengar agak keras, membuat Akia langsung berdiri lalu berjalan menyusuri jalan setapak yang sangat sepi. Entah apa yang dilakukan gadis itu dimalam yang sepi begini, yang jelas keberadaannya disana sekarang adalah sesuatu hal yang tidak mungkin terjadi tanpa catatan takdir dari yang Kuasa.
Allah mengabulkan doa pria itu dengan menghadirkan sosok Akia yang saat ini berada ditempat sunyi itu. Akia sendiri saat ini sebenarnya hanya ingin merilekskan pikirannya yang terasa kusut karena memikirkan ulah Viona yang semakin hari semakin tidak terkendali. Ada saja ulah wanita iblis itu setiap harinya yang membuat dia selalu berselisih paham dengan papanya.
Akia berjalan semakin masuk kedalam hutan, dan sampai akhirnya dirinya sampai dipinggiran tebing yang terlihat sangat gelap. Matanya menyipit seperti mencari sesuatu.
Kemana suara pria tadi ? Kenapa mendadak menghilang, tidak mungkin jika itu hantu, masa iya dijaman modern begini masih ada yang namanya hantu.
Akia mengangkat kedua bahunya saat tidak menemukan apa yang dia cari, gadis itu kemudian berbalik hendak kembali ketempatnya semula.
Namun baru saja satu langkah dia berjalan, suara itu kembali terdengar lagi.
"To...long..."
Kali ini suara itu terdengar sangat lemah, bergegas Akia kembali berbalik lalu mengeluarkan ponselnya dan menyalakan lampu senter. Betapa terkejutnya dia saat dibawah sana, tepatnya diatas pohon nampak tubuh seorang pria terjepit diantara pohon pohon yang tidak begitu besar dan bisa saja pohon itu sewaktu waktu patah. Dan jika itu terjadi maka bebatuan besar dibawah sana akan menyambut tubuh besar itu dengan sukacita.
Astaga, dia ternyata manusia, aku pikir tadi memang benar benar hantu.
"Hei bertahanlah, aku akan menolongmu. Jangan bergerak sedikitpun, kau mengerti." Teriaknya lalu secepat kilat gadis itu berlari kearah motornya diparkir.
Akia mengambil sesuatu yang selalu dia bawa, seutas tali. Entah juga apa yang dipikirkan gadis itu, kenapa bisa membawa tali kemana mana, yang jelas saat ini seutas tali itu begitu bermanfaat untuknya.
Dengan berlari Akia menelpon Dhafa, memintanya untuk putar balik ketempat mereka berdua tadi. Tadi dia memang bersama Dhafa, hanya saja pria itu pulang terlebih dahulu, ada urusan mendadak yang harus dia selesaikan.
"Hei, cepatlah putar balik kesini, gue tunggu 5 menit loe harus sampai. Jika sudah sampai ikuti jalan setapak, gue butuh bantuan loe cepat."
Tut
Gadis itu memutuskan panggilannya tanpa menunggu jawaban dari pria disana. Mungkin saat ini pria itu berdecak kesal, karena lagi lagi dia memberikan perintah sesuka hatinya.
Akia sampai ditempatnya tadi, lalu dengan hanya menggunakan lampu senter dari ponselnya, gadis itu mulai melakukan pertolongan.
Akia melilitkan salah satu ujung tali pada sebatang pohon besar, lalu melilitkan ujung tali lainnya ditubuhnya sendiri, setelah sebelumnya dibagian atasnya dia buat lilitan simpul yaang akan dia gunakan untuk mengikat tubuh pria itu.
Setelah dirasa kuat, Akia mulai berjalan hati hati turun kebawah. Tebing yang cukup terjal membuat gadis itu sedikit mengalami kesulitan, namun dia pantang untuk menyerah, selagi dia masih mampu maka dia akan melakukannya sampai berhasil.
Setelah perjuangannya yang begitu keras, akhirnya Akia sampai pada tubuh yang saat ini tersangkut pada pohon kecil diatas tebing.
__ADS_1
"Kau masih bisa mendengar suaraku ? Anggukkan kepalamu pelan jika kau masih bisa mendengarnya." Tanyanya berusaha membuat pria masih tetap tersadar.
Pria itu menganggukkan kepalanya dengan lemah. membuat Akia bernafas lega. Dengan cepat gadis itu membuka lebar simpulan tali tadi, lalu mengikatkan pada tubuh pria tersebut. Walaupun susah karena harus extra hati hati, akhirnya tubuh pria itu berhasil dia lilitkan jadi satu dengan dirinya.
Krek
Bersamaan dengan pohon itu yang akhirnya patah dan meluncur kencang kebawah, Akia berhasil menyelamatkan pria itu tepat pada waktunya.
Dengan tertatih tatih, Akia berusaha memanjat tebing itu dengan menyeret tubuh pria itu yang terasa berat. Peluh membasahi tubuhnya, bahkan nafasnya pun tersengal sengal. Namun semangat gadis itu begitu besar untuk menyelamatkan pria tersebut.
Beruntung pria itu masih tersadar, walaupun dengan tubuhnya yang lemah. pria itu juga sedikit demi sedikit mengeluarkan sisa tenaganya untuk memanjat.
Pada akhirnya Akia berhasil membawa pria itu selamat sampai keatas, lalu melepaskan lilitan ditubuh pria itu setelah dirasa aman. Sekarang giliran dia yang sebentar lagi akan sampai diatas. Namun sayang saat pijakan terakhir menuju atas tebing, kakinya terpeleset dan dia tidak ada satupun benda untuk dijadikan pijakan.
"Aaakkkkhh..."
Tubuhnya siap meluncur kebawah menghantam batu batu besar disana, jika saja tidak ada sepasang tangan kekar yang langsung menangkap tangannya.
Grep
Akia mendongak keatas, lalu tersenyum saat melihat sosok Dhafa yang menolong dirinya. Saat sudah sampai diatas, dia langsung mendapat hujatan omelan dari sahabatnya itu.
"Loe itu selalu saja bertindak ceroboh. Bagaimana jika terjadi sesuatu sama loe, paman pasti akan menghabisi nyawa gue." Sentaknya kesal pada gadis itu.
Dhafa mendengus kasar, namun tetap saja melaksanakan perintah gadis diidepannya. Dengan pelan dia membopong tubuh pria itu yang sudah sangat lemas.
"Dimana mobil loe."
"Ditempat biasa."
"Loe bawa ni orang, biar gue bawa motor ngikutin loe dibelakang."
"Loe yakin ? Lihat badan loe sendiri sangat kacau gitu."
"Jangan remehin gue, gue bukan gadis lemah asal loe tahu." Decaknya sinis.
Dhafa menggelengkan kepalanya, lalu tanpa membalas ucapan tajam Akia, segera membawa tubuh pria itu menuju rumah sakit terdekat dengan Akia yang mengikutinya dari belakang.
Saat sampai dirumah sakit, pria itu lalu dibawa menuju ruang IGD. Namun sebelum tubuhnya menghilang dibalik pintu, tangan pria itu mencekal kuat lengan Akia membuat gadis itu menatap bingung.
"Ada apa ?"
__ADS_1
"Tolong..jangan biarkan siapapun masuk kedalam. Please." Pintanya dengan suara lirih.
Akia tersenyum lalu menggenggam balik tangan itu.
"Tenanglah, jangan khawatir aku akan menjagamu disini." Jawabnya pasti.
Setelah meyakinkan pria itu, akhirnya dokter membawa tubuh lemahnya untuk segera diberi pertolongan pertama, mengingat bagaimana mengenaskannya tubuh pria tersebut.
Dhafa menatap kondisi Akia yang nampak terlihat sangat kotor dan berantakan. Perlahan pria itu mendekati sahabatnya lalu menepuk pundaknya pelan.
"Pergilah bersihkan diri loe, lihat tubuh loe sangat kotor Sya." Ucap Dhafa pelan.
"Biarkkan saja Fa, jujur gue penasaran, kenapa pria tadi bisa berada disana ? Kebetulan atau memang ada yang berniat mencelakainya."
"Mungkin kebetulan saja Sya."
"Tapi ini mencurigakan Fa, apalagi dia berpesan untuk tidak membiarkan siapapun masuk keruangan dimana dia dirawat. Loe juga denger sendiri tadi bukan."
Dhafa terdiam, jujur dia juga merasa curiga kenapa pria itu terlihat sangat panik. Baru saja dia berpikir, tiba tiba ada beberapa orang berpakaian hitam yang datang menuju kearah mereka berdua. Ada sekitar sepuluh orang dengan wajah sangar mereka yang tertutup dengan kacamata hitam dan jas hitam.
"Tunggu." Cegah Akia saat mereka hampir menyentuh handle pintu. "Siapa kalian, maaf kalian tidak bisa masuk."
Salah satu pria itu mencopot kacamatanya, lalu melirik tajam kearah Akia.
"Minggir nona, jangan ikut campur. Kami akan melihat kondisi bos kami."
Akia semakin curiga dengan tingkah aneh mereka, begitupun dengan Dhafa, pria itu sekarang memasang wajah waspada.
"Bos, siapa bos yang kalian maksud."
Pria itu menatap bingung, namun masih dengan wajah yang datar.
"Tentu saja bos kami yang baru saja anda bawa masuk nona."
Akia menyeringai tajam.
"Bagaimana kalian tahu jika kami berdua yang membawanya kerumah sakit ini. Apa kalian mengikuti kami, loe pikir gue bodoh. Kalau memang dia bos loe, kenapa bukan loe..loe..semua yang menolongnya. Kenapa loe semua malah membiarkannya kecuali loe semua memang mengharapkan kematiannya. Apa tebakan gue salah atau benar."
Pria itu terlihat mengeraskan rahangnya pertanda jika saat ini dia sedang marah.
"Jangan ikut campur urusan kami gadis sialan. Kalau tidak aku akan menghancurkanmu."
__ADS_1
"Coba saja." Tantangnya dengan tatapan menghunus tajam.
TBC