Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Kedatangan Gin


__ADS_3

Assalamualaikum authornya jangan dimarahi donk nanti nangis loh..🤣🤣🤣


Aku semakin gemas baca komeent kalian yang marah marah sama aku..🤣🤣


Kak Resia komennya lucu banget,,auto ngakak..🤣


Oke segitu aja dulu autbor menyapa..jangan lupa tinggalkan jejak ya..happy reading.


*******


"Habisi dia." Perintah Marco.


"Jangan bermimpi brengsek."


Tepat saat anak buah Marco hendak menarik pelatuknya, suara berat milik Dhafa membuat mereka terkejut setengah mati. Diiringi dengan sesuatu yang dingin menempel ditengkuk anak buah Marco.


"Jika kau berani melepas satu saja peluru dari senjatamu, aku pastikan peluruku yang lebih dulu bersarang dikepalamu."


Pria yang menodongkan senjata kearah Azriel hanya bisa menelan salivanya yang terasa kering dengan susah payah. Suara dingin dan mencekam milik Dhafa mampu membuatnya gemetar ketakutan.


Dhafa menyeringai dengan Vino yang terus memandang waspada disebelahnya. Kedua pria itu terus memindai seluruh anak buah Marco, dengan sama sama menodongkan senjata mereka.


Marco yang tadinya terkejut kini nampak tertawa penuh kemenangan.


"Kau menggertakku ? Yang benar saja, kalian hanya berdua, sedangkan kami, lihatlah anak buahku bahkan bisa mengalahkan kalian dengan sekali tembakan saja." Ucapnya dengan nada sombong penuh percaya Diri.


Lagi lagi Dhafa menyeringai penuh misteri.


"Kami tidak berdua, tapi.."


"Bertiga, dan itu sudah cukup untuk mengalahkanmu dan juga anak buahmu Marco." Suara bariton dan berat seseorang memutus ucapan Dhafa dan membuat kaget seorang Marco.


Pria itu kembali terkejut untuk kesekian kalinya saat tiba tiba Azriel berjalan kearah Dhafa lalu berbalik padanya. Tersenyum miring seakan meledek kebodohan Marco yang sudah masuk perangkapnya.


"Apa maksud semua ini El ? Bukankah kau kehilangan ingatanmu ? Jangan Janga an kau...." Tanyanya heran.


Azriel menyeringai lalu menggendikan kedua bahunya.


"Well, seperti dugaanmu, aku baik baik saja dan aku mengingat semuanya, dengan kata lain aku tidak hilang ingatan."


Marco menggeram dengan tangan yang mengepal kuat. Keinginan untuk membunuh pria didepannya semakin kuat.


"Berani sekali kau menipuku El, aku tidak akan membiarkanmu hidup kali ini." Ucapnya dengan nafas memburu.


"Kau salah Marco, dari awal aku tidak pernah menipumu, aku hanya mengikuti alur permainanmu saja supaya kau keluar dari persembunyianmu. Dan ternyata rencanaku berhasil bukan ? Dan satu lagi aku sangat berterima kasih padamu, karena usulanmu yang memintaku mengusir istriku dari rumahku. Jadi aku tidak perlu mencari alasan lain untuk melindungi istri dan keluargaku."


Marco semakin menggelap, dia tidak menyangka jika selama ini rencananya berhasil diketahui oleh Azriel, dan parahnya justru sekarang semuanya berbalik menyerang kepadanya. Dengan kesal, dia memberi perintah pada seluruh anak buahnya ubtuk menyerang mereka bertiga.

__ADS_1


Azriel nampak tenang dan santai menghadapi serangan dari para anak buah Marco. Tidak ada sedikitpun rasa takut yang menyerang hatinya, begitu pula dengan Dhafa dan Vino yang terlihat lihai menghadapi lawan mereka. Hidup dijalanan sedari kecil membuat kedua pria itu sudah terbiasa dengan yang namanya kekerasan.


Azriel meraih salah satu pria didepannya yang sudah tidak bernyawa karena tembakan salah satu anak buah Marco yang salah sasaran. Dengan tubuh pria itu, Azriel membuat tameng untuk dirinya sendiri dari sasaran peluru lawan.


Azriel masih terus berusaha unyuk bertahan menghadapi serentetan peluru yang terus saja beterbangan ingin menerjangnya. Pria itu menunduk dibalik mobil, saat kedua matanya melihat ada senjata disampingnya, dengan cepat pria itu meraihnya.


Dengan senjata itu Azriel mulai menembak keseluruh anak buah Marco, sasaran tembakannya bukanlah bagian organ fital tubuh lawannya, tapi yang menjadi sasarannya adalah tangan tangan mereka yang memegang senjata api.


Melihat para musuhnya sebagian sudah tidak memegang senjatanya, perlahan Azriel keluar dari persembunyiannya, yang langsung disambut Marco dengan serangan. Pria itu menyerang Azriel dengan membabi buta, namun selalu dihadapi dengan santai oleh Azriel.


Saat Marco sedikit lengah, Azriel berhasil menendang perut lawan, yang membuat Marco meringis dengan badan terhuyung kebelakang. Tidak hanya itu, Azriel terus mendesak Marco dengan pukulan pukulan mematikan miliknya.


Buhg


Bugh


Satu pukulan dan satu tendangan berhasil Azriel berikan pada perut dan punggung Marco, membuat pria itu terduduk dengan rasa sesak didada. Tendangan Azriel begitu kuat, membuat sedikit darah keluar dari bibirnya.


Marco menyeringai, walau dalam keadaan lemah, pria itu terus meledek tanpa henti, mencoba menyulut api emosi pria didepannya.


"Aku tidak menyangka ternyata keahlianmu tidak pernah berkurang El. Kau masih tetap seperti dulu."


Azriel menatap waspada pada pria didepannya, tidak ingin sedikitpun dia merasa lengah. Marco adalah pria berdarah dingin dengan segala akal liciknya. Mampu membuat lawannya terbius dengan kemampuannya menipu lawan, seolah olah dia sangatlah lemah sehingga membuat lawan langsung lengah.


Dan saat itu, Marco langsung menyerang lawan dengan segala kekuatan yang yang tidak pernah diduga oleh lawannya.


Marco tersenyum miring, lalu meludah ketanah, mengejek pria yang pernah menjadi pertner kerjanya itu.


"Kau terlalu naif El. Sikap percaya dirimu itu terlalu tinggi. Kau pikir aku tidak mempersiapkan diri untuk menghadapimu ? Aku tahu dirimu dengan sangat baik El, dan aku tahu jika aku tidak akan pernah mampu untuk melawanmu sendirian."


Kening Azriel berkerut mendengar ucapan Marco.


"Apa maksudmu ?"


Marco tertawa demgan begitu keras, membuat Azriel sedikit menggeram.


"Kau akan terkejut dengan hadiah yang akan segera datang sebentar lagi El, atau mungkin kau akan menyukainya."


"Katakan demgan jelas padaku maksud perkataanmu Marco. Siapa yang kau..."


"Halo El...."


Azriel tercekat dengan hati yang bergemuruh hebat, suara ini dia begitu mengenalnya. Dengan cepat Azriel berbalik, dan betapa terkejutnya dia saat melihat sosok pria didepannya. Tersenyum penuh seringaian licik dibibirnya, dengan tangan yang satunya menghisap sebatang rokok.


"Kau tidak merindukanku El ? Sepertinya tidak, tapi aku sangat merindukanmu. Setiap detik, dan menit selalu berharap bisa bertemu denganmu dan membalaskan perbuatanmu padaku yang menyebabkan luka diwajahku ini. Kau tahu satu mataku bahkan tidak bisa melihat, dan itu karenamu."


"G-gin...?"

__ADS_1


"Hahahahaha....." Pria itu tertawa keras dengan suara yang sangat mengerikan. " Kau masih mengingat namaku ternyata, syukurlah aku pikir kau lupa, karena jika kau lupa aku akan mengingatkanmu." Ucapnya sembari melirik kearah Marco.


"Hei Marco kenapa kau duduk ditanah seperti itu, kemarilah, apa kau tidak ingin menyambut kedatangan bosmu ?"


Marco berdiri lalu melangkah mendekati pria yang bernama Gin tersebut dengan langkah tertatih tatih.


Azriel mengedarkan pandangannya, dilihatnya kini anak buah dua pria itu yang semakin banyak. Dan dia juga melihat bagaimana Dhafa dan Vino yang nampak kewalahan menghadapi begitu banyaknya anak buah Gin.


"Kau salah karena datang tidak membawa anak buahmu El, lihatlah bagaimana kedua sahabatmu yang sudah tidak berdaya menghadapi orang orangku ?" Tanya Gin dengan pongahnya.


Azriel menghela nafas panjang sembari melirik kearah Dhafa dan Vino yang saat ini sedang terduduk dengan tidak berdaya.


Kami pasti akan kalah, anak buah Gin begitu kuat.


"Apa maumu ?"


Gin tertawa senang, suara tawanya begitu seram.


"Ayolah El, jangan menjadi pria yang lemah, aku bahkan belum sedikitpun bermain main denganmu. Masa kau sudah harus menyerah sih."


Azriel mendengus, membuat Gin semakin tertawa keras.


"Jangan perlihatkan wajah marahmu itu El, kau terlihat sangat jelek. Ayolah kesendirianmu bukan satu penyebab kau menjadi lemah bukan."


"Dia tidak sendiri brengsek, ada kami bersamanya. Jika satu centi saja kau berani melukainya aku pastikan aku sendiri yang akan memotong tanganmu."


Deg


Suara itu...


Azriel menengok mencoba menangkap siluet tubuh seseorang dibalik gelapnya malam. Hati pria itu semakin dag dig dug tidak karuan. Walau malam dia masih bisa melihat jika tiga sosok didepannya adalah Rio dan istrinya, dan seseorang yang tidak dia kenal.


Kenapa dia ada disini ? Bukankah Dhafa sudah meminta papa Aryan supaya tidak membiarkan dia keluar rumah ? Astaga Sya, aku lupa jika kau memang gadis keras kepala.


"Sya.." Panggil Azriel dengan suara lirih.


Akia mendengus kesal, memandang sinis kearah Azriel lalu melangkah maju. Saat sudah sampai didepan Azriel dan kedua pria tersebut, tanpa diduga gadis itu menendang perut Marco dengan kencang.


Bugh


"Uhukk.." Suara batuk disertai darah yang keluar dari mulut Marco saat tendangan gadis itu sukses mendarat diperutnya. Dadanya semakin terasa sesak dan nyeri.


Akia menyeringai melihat Marco yang kesakitan.


"Itu untuk perbuatanmu yang sudah berani menyentuh dan juga mengancam mamaku. Sudah lama sekali aku ingin memberimu hadiah ini Marco, tapi baru sekarang aku bisa melakukannya."


TBC

__ADS_1


__ADS_2