Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Jangan Takut Menderita


__ADS_3

"Bisa kamu jelaskan pada kami semua apa yang terjadi saat ini Dhafa ?" Suara Tuan Aryan menggema diruangan tersebut mewakili semuanya yang juga penasaran.


Dhafa membalikkan badannya dengan lesu seakan tidak mempunyai semangat hidup, dan dengan gontainya dia berjalan menuju sofa kemudian menghempaskan tubuhnya disana.


"Entahlah pa, hidupku sungguh sangat rumit sekali." Keluhnya frustasi.


Mendengar itu Kyai Ahmad tersenyum simpul.


"Allah tidak akan pernah memberi cobaan pada hambaNya melebihi batas kemampuannya. Namun Allah juga tidak akan mengangkat derajat manusia jika tidak ada kemauan dari manusia itu sendiri. Intinya selalu bersabar dan ikhlas menerima cobaan yang Dia berikan, dan jangan berputus asa. Tetap berjuang semampu kita namun jangan cepat menyerah, jika memang kamu sudah tidak kuat lagi, angkat kedua tanganmu dan pasrahkan semuanya pada Allah, maka segala urusanmu akan dipermudah olehNya." Imbuh Kyai Ahmad panjang lebar.


Dhafa termenung memikirkan perkataan Kyai Ahmad dan dalam hatinya dia membenarkan semua itu.


"Sekarang bisakah kamu ceritakan apa yang sudah terjadi pada kalian ? Bagaimana bisa kamu adalah kakaknya Pipit ?" Tanya Kyai Ahmad dengan nada lembut dan tenang.


Melihat putranya hanya diam saja, membuat sang papa menghela nafas panjang, pria paruh baya itu bisa merasakan bagaimana perasaan putranya saat ini.


"Fa..."


"Ini sangat rumit pa, sungguh Fa tidak tahu jika adik Fa masih hidup. Dulu paman mengatakan padaku jika adikku tidak selamat dari kecelakaan itu." Ucap Dhafa dengan wajah sedih dan hati yang sesak menahan beban yang begitu berat melebihi pekerjaannya dikantor.


Kemudian pria itu menceritakan semuanya tanpa terlewati sedikitpun. Dari awal pamannya yang mengatakan padanya jika adiknya ikut tewas sampai pada akhirnya dia mengetahui jika semua yang dikatakan pamannya itu adalah kebohongan.


Dhafa pun mengetahuinya baru beberapa hari yang lalu, sama seperti yang lainnya diapun sempat terkejut dan syok secara bersamaan.


"Papa tidak tahu jika kehidupanmu begitu sulit Fa, maafkan papa yang kurang memperhatikanmu." Ujar Tuan Aryan sembari memeluk putranya yang terlihat sedih.


Dhafa diam hanya membalas pelukan sang papa, mencoba menghayati dekapan penuh kasih sayang yang diberikan oleh orangtua itu, jujur saja hatinya sedikit tenang karena perhatian dari sang papa.


"Sabar dan tenangkan dirimu kak, biarkan Pipit sendiri dulu untuk saat ini, aku yakin perlahan nanti dia akan menerimamu. Berikan dia waktu sendiri untuk menenangkan diri, dia terlalu terkejut dan kaget untuk menerima kenyataan ini. Bukan hanya dia bahkan kami pun tidak menyangka jika kamu adalah kakaknya." Ucap Akia sembari mengusap airmatanya.


Hati wanita yang sudah berganti status menjadi seorang ibu itu ikut bersedih namun sekaligus senang saat mengetahui kenyataan yang tidak dia sangka itu. Melihat istrinya bersedih bahkan sampai menangis, perlahan Azriel menarik pinggangnya dan merengkuh tubuhnya kedalam pelukannya.


"Jangan menangis Ratu, suamimu tidak bisa melihat kesedihanmu." Bisiknya sendu ditelinga istrinya.


Akia tersenyum sembari kepalanya mendongak menatap wajah suaminya yang selalu bisa meneduhkan hatinya.


"Aku tidak menangis mas, hanya merasa syok, entahlah aku bingung untuk menentukan sikapku, apa harus sedih ataupun senang. Disatu sisi aku sedih melihat perjalanan hidup Dhafa dan Pipit yang begitu sulit dan penuh penderitaan, tapi disisi lain aku juga senang mereka bersaudara dengan begitu keluargaku bertambah."


Azriel tersenyum kemudian mengecup kening istrinya dalam dan pemuh kelembutan.


"Jangan takut dengan penderitaan, karena fitrah kemuliaan akan muncul saat penderitaan itu memuncak pada diri seorang mukmin. Dengan hidup Kita yang menderita harusnya bisa menjadi pacuan kita untuk lebih meningkatkan ibadah dan taqwa kita pada Allah SWT. Yakinlah setelah penderitaan akan muncul kebahagiaan yang abadi."

__ADS_1


Akia mengangguk mendengar kata kata suaminya yang begitu membuatnya merasa tenang. Dia yakin suatu saat kebahagiaan akan datang dikehidupan seluruh keluarganya. Mungkin saat ini Allah masih ingin menguji seberapa besar iman mereka terhadap Tuhannya. Dengan adanya cobaan hidup ini, apakah manusia akan semakin mendekat ataukah semakin menjauh dariNya.


***


Cklek


Ctak Ctak


Pipit membuka pintu kamarnya menutupnya kemudian langsung menguncinya hingga 2 kali supaya tidak ada orang yang bisa masuk kedalam kamarnya. Tapi sayang gadis itu lupa jika balkon kamarnya masih terbuka dan itu bisa menyebabkan seseorang masuk lewat pintu balkon.


Dan sepertinya gadis itu tidak menyadarinya, terbukti saat ini Pipit langsung duduk disofa dengan kepalanya bersender disandaran sofa yang ada dikamarnya.


Kedua matanya terpejam mencoba menahan rasa sakit dikepalanya. Gadis itu benar benar merasa tertekan, hingga dia sendiri tidak bisa merasakan rasa sakit dan perih dari luka dikakinya akibat terkena pecahan gelas kaca. Bahkan dia juga tidak memperdulikan tetesan darah yang mengalir deras dan serpihan kaca yang masih tertantap ditelapak kakinya.


Lama dia terpejam lambat laun dia mulai merasakan rasa perih dan ngilu dikakinya. Gadis itu mulai menegakkan tubuhnya dan melihat kearah kakinya. Seketika Pipit terkejut saat lantai dibawahnya sudah tergenang dengan ceceran darah yang berasal dari kakinya, bahkan jejak kakinya pun terlihat dari arah pintu sampai sofa tempatnya duduk saat ini.


"Astaghfirullah..Ya Allah kenapa aku tidak merasakan kalau ada kaca yang menancap dikakiku." Gumamnya lirih.


Pipit menekuk kaki kirinya yang terluka tangannya meraih tisu yang ada diatas meja, memgambilnya selembar lalu menempelkannya diserpihan kaca.


"Allah.." Ringisnya pelan saat rasa perih dan ngilu itu datang lagi ketika dia ingin mencabut pecahan kaca tersebut.


Keringat mulai menetes membasahi keningnya, Pipit gagal mencabutnya, selain tidak bisa menahan rasa sakitnya sepertinya kaca itu menancap lumayan dalam.


Saat dia mulai pasrah dan menyerah akan hidupnya, perlahan dia merasakan adanya sesuatu yang menyentuh kulit tubuhnya. Pipit kembali membuka mata dan melihat kebawah. Ada sosok Rio yang saat ini sedang berusaha mengobati lukanya.


"Kamu..bagaimana kamu bisa masuk kesini, aku bahkan mengunci kamarku." Serunya pada sosok pria didepannya.


Rio diam tidak menjawab, hanya melirik sekilas kemudian melanjutkan kegiatannya.


Deg


Pipit membisu dengan hati yang sedikit sesak, walau sekilas dia bisa melihat sorot mata suaminya itu terlihat datar dan dingin.


Rio berdiri dan berjalan memutari kamar istrinya, sepertinya ada yang dia cari.


"Dimana kotak P3k ?" Tanyanya dengan suara dingin, bahkan pria itu enggan menatap wajah istrinya.


Pipit yang merasa takut hanya bisa memberitahunya dengan memakai telunjuk tangannya yang mengarah kearah sudut kamar dimana ada sebuah kotak tergantung yang didalamnya terdapat peralatan medis.


Rio membuka kotak kemudian mengambil beberapa peralatan medis yang dia butuhkan, dan membawanya kearah sofa dimana Pipit duduk saat ini. Saat dia mulai menyentuh kembali kaki istrinya, Pipit sedikit menekuknya berusaha menolak pertolongan pria itu.

__ADS_1


"Ak-aku bisa melakukannya sendiri." Tolaknya lirih.


Gerakan tangan Rio berhenti dan matanya beralih menatap tajam wajah istrinya membuat Pipit semakin tertunduk takut. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari Rio yang belum pernah dia ketahui, dingin dan menakutkan.


Rio meletakkan peralatan medisnya diatas meja dan beranjak berdiri kemudian duduk disofa namun berseberangan dengan istrinya dengan mata yang tidak lepas menatap kearah Pipit.


Merasa kikuk, Pipit dengan pelan dan gugup mencoba kembali mengobati lukanya sendiri walaupun terasa sulit. Namun sekuat tenaga gadis itu menahan rasa sakit dan ngilu akibat lukanya yang semakin deras mengeluarkan darah.


Melihat istrinya yang kesakitan membuat Rio semakin gemas dan tidak sabaran. Dan dengan cepat pria itu mengambil alih kembali tugasnya untuk mengobati luka dikaki Pipit.


"Ak-aku.."


"Diam !" Bentak Rio dengan suara tegas dan dingin.


Pipit berjengkit kaget, baru kali ini Rio berkata kasar dan keras padanya, walaupun nadanya tidak terlalu tinggi namun cukup untuk membuat hatinya mencelos.


"Hiks.." Isakan pelan lolos keluar dari bibirnya padahal dia sekuat tenaga menahannya.


Rio menghela nafas sejenak namun terus melakukan tugasnya. Dia menyiram luka itu dengan alkohol sebelum dia mencabut pecahan kaca tersebut.


"Aww...sakit Ya Allah." Desis Pipit lirih dengan kedua tangannya yang mencengkeram kedua sisi gamis panjangnya saat pecahan itu berhasil Rio cabut.


Beberapa menit kemudian Rio sudah selesai dengan tugasnya mengobati luka dikaki Pipit. Setelah membereskan semuanya pria itu duduk disamping istrinya dengan wajah yang masih terlihat datar.


Pletak


"Bodoh." Desis Rio setelah menyentil kening Pipit.


"Awww..sakit." Seru Pipit sembari mengusap - usap keningnya yang memerah karena sentilan pria tersebut.


"Aku akan melakukan yang lebih dari sentilan ini jika kamu tetap melakukan hal bodoh lagi." Ucapnya tegas dengan mata yang masih menatap tajam wajah istrinya.


Pipit tertunduk dengan isakan yang kembali terdengar hingga sampai sesenggukan. Membuat hati Rio merasa tercubit dan sakit.


Rio menarik tubuh istrinya, mendekap lembut namun sangat erat.


"Kamu memang bodoh." Bisiknya pelan yang diangguki kepala oleh Pipit berkali kali.


TBC


Assalamualaikum, maaf ya kemaren authornya ga up..kepalanya terasa pusing jadi sekedar melihat ponsel pun rasanya seakan berputar putar. Semoga masih tetap betah ya..

__ADS_1


Jaga kesehatan ya, sehat itu mahal sedang sakit itu murah. bener ga ? 🤗🤗🤗


__ADS_2