
Tuan Aryan nampak terlihat sangat serius mendengar perkataan orang diseberang sana. Saat ini pria yang masih terlihat muda diusianya yang sudah sangat matang itu sedang menerima panggilan telepon dari seseorang.
Akia masih saja sabar menunggu papanya selesai bicara dengan seseorang yang dia sendiri tidak tahu siapa yang saat ini menghubungi papanya. Hanya saja dia sedikit heran saat papanya itu meminta ijin untuk menerima telepon dan melangkah menjauh dari ruang keluarga.
Selama yang dia tahu, papanya tidak pernah bersikap seperti itu, sepenting apapun pembicaraan itu, papanya selalu menerima telpon itu didepan keluarganya. Dan tentu saja perbuatan papanya sekarang mau tidak mau menimbulkan sedikit pertanyaan dihatinya.
Akia memang sekarang sedang dimansion papanya, duduk berhadapan dengan Dhafa dan Azriel yang duduk disebelahnya. Semenjak pulang dari Semarang, keesokan harinya Dhafa sudah mulai tinggal bersama papanya.
Dahinya mengerut frustasi, pasalnya saat ini dia dihadapkan oleh dua makhluk yang sama sama dingin dan datar.
Akia mendecak sebal saat merasa suasana begitu membosankan. Dia melirik kesana kemari seolah mencari sesuatu.
"Mbok .." Panggilnya keras membahana membuat kedua pria dingin secara serentak menatap tajam padanya.
"Apa !" Matanya mendelik sebal kearah Dhafa lalu melirik kilas kearah suaminya.
"Ck, kau ini tidak pernah berubah. Tiga tahun menghilang tetap saja sifat bar barmu masih melekat." Dengus Dhafa dengan wajah dinginnya.
"Jaga mulutmu, jangan seenaknya mengatakan hal buruk tentang istriku." Sahut Azriel cepat dengan tatapan menghunus tajam kearah Dhafa.
Dua pria dingin itu saling melemparkan tatapan mautnya, seakan ada kobaran api ditengah tatapan mereka. Mungkin jika Akia melangkah dan berhenti ditengah diantara mereka, sudah pasti saat ini dirinya terbakar karena saking panasnya kobaran api yang mereka berdua ciptakan.
Akia memijat keningnya yang mendadak pusing, melihat sikap kedua pria yang begitu berarti dihatinya itu. Satu suaminya, dan satu kakaknya.
"Arfaann....!" Teriaknya melengking membahana memanggil adiknya itu.
"Berisik !" Sahut kedua pria itu bersamaan.
Akia mendengus kesal, lalu wajahnya berubah ceria saat pemuda tampan itu datang dengan nafas yang terengah engah. Arfan pemuda itu juga ikut serta pulang Ke jakarta, atas permintaan Tuan Aryan. Dia ingin mansion nya menjadi ramai dan hangat dengan adanya kedua putranya. Ya, sama seperti Dhafa, Tuan Aryan juga meminta supaya Arfan ikut keJakarta dan mengadopsinya.
Tentu saja kabar gembira itu disambut baik oleh Akia, karena sebelum papanya mempunyai niat untuk mengadopsi Arfan, gadis itu sudah berencana untuk selalu membawa Arfan kemanapun dia pergi. Tidak lupa Pak Min juga ikut kembali Ke jakarta, setelah sebelumnya meminta maaf pada tuannya.
"Kakak kenapa memanggilku ?" Tanyanya dengan suara terbata bata.
Akia langsung berdiri menghampiri Arfan, lalu bergelayut manja di lengan pemuda tersebut.
"Arfan ayo kita pergi, temani kakak main game yuk dikamarmu. Kita tinggalkan saja kedua kakakmu yang lagi bermesraan itu." Ujar Akia yang ditanggapi dengan ekspresi bingung oleh Arfan.
Pemuda itu tentu saja bingung, kakaknya memanggil dia dengan suara yang begitu kerasnya hanya untuk menemaninya bermain game. Bahkan dia sampai meninggalkan meja belajarnya dan berlari sekencang mungkin menghampiri kakaknya itu.
Arfan lalu mengalihkan pandangannya pada kedua pria yang saling melemparkan tatapan tajam diantara keduanya.
__ADS_1
"Kakak ada apa sebenarnya ?" Tanya Arfan dengan wajah polosnya pada kedua kakak dan kakak iparnya itu.
"Diam !" Sahut keduanya serentak lalu keduanya beralih menatap tajam kearah Arfan.
Arfan cengo, mendadak hawa di tempat itu berubah mencekam. Pemuda itu sampai meraba tengkuknya yang tiba tiba merinding.
"Oke..baiklah, lanjutkan saja acara kalian berdua. Arfan mau nemenin kakak main game."
Tanpa aba aba pemuda itu langsung melarikan diri meninggalkan tempat yang terasa mencekam itu. Pemuda itu tidak ingin terjebak oleh perang dingin yang saat ini sedang terjadi antara kedua kakaknya.
"Istriku pergi, dan itu karenamu." Ketus Azriel dengan pandangan mata tetap mengarah tajam pada Dhafa.
"Salahkan dirimu yang begitu posesif pada istrimu, Ck pria sepertimu ternyata bisa posesif juga ya." Sahutnya dengan tidak kalah tajam nya.
"Ada apa ini ?"
Tiba tiba Tuan Aryan datang menghampiri anak dan menantunya. Kedua matanya menyipit saat menyadari ada yang tidak beres diantara keduanya.
"Kenapa sikap kalian seperti itu ? Sangat kaku kayak kanebo kering."
"Salahkan putramu pa."
"Kenapa kalian berdua ini ? Sikap kalian sudah seperti anak kecil minta permen saja." Dengus Tuan Aryan .
"Semua karena salahnya." Lagi lagi mereka membawa serempak.
Tuan Aryan nampak pusing melihat tingkah kekanakan mereka berdua. Menggendikkan kedua bahunya acuh lalu berjalan meninggalkan keduanya menuju kekamarnya.
"Lanjutkan saja perang dingin kalian sampai pagi. Tadinya papa ingin mengatakan sesuatu pada kalian, tapi sepertinya kalian sedang bermesraan, jadi papa memutuskan besok saja kita berbicara."
Ucapan terakhir Tuan Aryan mulai menyadarkan kedua pria dingin itu. Saling menatap sinis dengan wajah yang terlihat bergidik.
"Daripada bermesraan denganmu, lebih baik aku melakukan hal yang menyenangkan bersama istriku. Hiiiii....membayangkannya saja sudah membuatku mual."
Dhafa melotot sempurna, raut wajah pria itu benar benar menunjukkan jika saat ini dia sangat kesal sekali.
"Kau pikir aku ini belok ? Aku masih waras dan tulen. Aku bahkan bisa membuat anak sekarang juga." Ucapnya sombong.
"Sama siapa ? Pacar saja nggak punya gimana mau bikin anak. Jangan jangan kamu itu memang penyuka sesama jenis ya."
"B*****k, mulut dijaga." Dengusnya kasar.
__ADS_1
"Hahhahah...santai bro. Tidak perlu marah jika kenyataannya kau itu memang tidak belok, dan masih lurus." Gelak tawa Azriel membahan keras diruangan itu, mereka berdua tidak sadar jika saat ini keduanya terlihat sangat akrab.
Wajah Dhafa merah padam, malu tentu saja pria itu sedikit malu. Bagaimanapun apa yang dikatakan Azriel memang nyata, sampai umurnya yang sudah matang aja dia sama sekali tidak mempunyai pasangan. Bahkan ketiga sahabatnya saja sudah memiliki anak.
Mengingat hal itu membuat Dhafa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu terlihat sedang tersenyum canggung.
"Aku sibuk kerja makanya tidak sampai memikirkan masalah pasangan."
Azriel manggut manggut.
"Kau itu sama kayak Rio, terlalu sibuk kerja sampai sampai melupakan jika kalian juga butuh pasangan."
Dhafa kembali mencebik, pasalnya pria didepannya itu seenaknya saja menyamakan dengan pria aneh itu.
"Kami jelas saja berbeda." Sahutnya cepat.
"Ya, kalian memang tidak sama, walaupun Rio tidak pernah berpacaran, setidaknya dia punya banyak pengalaman . Kau bisa bertukar pendapat dengannya jika menyangkut masalah wanita, dia ahli dalam memberi masukan." Usul Azriel yang langsung mendapatkan lemparan bantal sofa di mukanya.
"Sial, kau mengejekku enak saja bilang aku tidak berpengalaman."
"Siapa tahu ? Bahkan aku yakin jika kau itu juga belum pernah merasakan yang namanya ciuman bukan ?" Tanyanya lagi dengan senyum remeh dibibirnya.
Dhafa tersedak air liurnya sendiri. Bocah ini kenapa mendadak berubah jadi jahil dan usil sih. Berani sekali dia mengejekku, tapi darimana dia tahu jika aku memang belum pernah berciuman ?
"Aku punya ide."
Dhafa menatap curiga wajah yang tiba tiba berubah sumringah itu. Dia merasa jika pria didepannya itu pasti sudah menyiapkan sebuah rencana.
"Bagaimana jila kalian berdua, maksudku kau dan Rio ikut dalam ajang pencarian jodoh disebuah acara TV yang kemaren kebetulan sedang berlangsung. Siapa tahu disana kalian bisa mendapatkan jodoh kalian." Usul Azriep dengan nada santai, tapi tidak dengan Dhafa, pria sukses melotot sempurna.
"Kau gila ya, atau memang sudah tidak waras."
"Itu sama aja dodol, ujung ujungnya tidak normal." Sahut Azriel dengan senyuman kecil terbit dibibirnya.
"Lama lama dekat denganmu aku benar benar bisa gila. Ck lebih baik aku pergi saja." Ketus Dhafa yang langsung berdiri dari duduknya dan berjalan ke kamar nya dengan gaya sok cool nya.
Sementara Azriel nampak duduk termenung seorang disana semenjak kepergian Dhafa. Wajah pria itu mendadak murung, lalu memejamkan kedua matanya dengan kepala yang bersender disandaran sofa.
Aku selalu berharap kebahagiaan ini akan selalu abadi, dan tidaklah semu.
TBC
__ADS_1