
"Apa sudah semua ?" Tanya Pipit pada Akia sembari memasukkan semua barang belanjaannya kedalam bagasi mobil, hari ini dia menemani bumil itu untuk membeli beberapa keperluan yang masih kurang untuk persediaan melahirkan nanti.
Akia nampak mengetuk ngetuk dagunya, mencoba berpikir apa ada yang kurang.
"Insya Allah nggak deh Pit."
Pipit mengangguk lalu masuk kedalam mobil setelah sebelumnya membantu sahabatnya itu yang agak kesusahan karena perut besarnya. Setelah itu dia mulai melajukan mobilnya dengan pelan pelan.
Pipit nampak fokus pada jalanan didepannya dengan sesekali matanya melirik wajah Akia yang dia rasa agak pucat, bahkan dia melihat ada tetesan keringat mengalir dikeningnya.
"Kia, apa kamu baik baik saja ? Wajahmu terlihat sangat pucat." Tanya Pipit dengan raut wajah agak khawatir.
"Nggak tahu Pit, tapi aku merasa perutku agak kencang dan sedikit sakit." Jawab Akia dengan suara lirih.
"Sejak kapan ?"
"Sebenarnya sejak tadi pagi, tapi habis itu hilang kok."
Perlahan Pipit menepi lalu menghentikan laju mobilnya, gadis itu menatap wajah Akia yang masih terlihat pucat. Pipit mendekat untuk memeriksa keadaan Akia lebih dalam lagi, dan seketika wajahnya mendadak pias saat lagi lagi Akia mengeluh sakit dibagian perutnya.
"Astaghfirullah..Pit ini sakit sekali."
"Ya Allah Akia, sepertinya kamu akan segera melahirkan." Pekik Pipit saat menyentuh perut Akia yang benar benar tengah mengalami kontraksi.
Dengan wajah panik namun tetap berusaha untuk tenang, Pipit mulai melajukan kembali mobilnya menuju rumah sakit. Tangan gadis itu sampai gemetar hebat memegang kemudi mobil.
"Bertahanlah Kia, aku mohon. Apa kamu masih kuat."
"Insya Allah Pit." Jawab Akia sembari mengurai senyuman walau agak susah karena saat ini dia benar benar mengalami rasa sakit yang begitu hebat pada perutnya.
Rasanya perutnya terasa begitu kencang dan melilit, bahkan Akia merasa nafasnya terasa sangat sesak saat rasa sakit itu kembali muncul. Yang tadinya muncul tiap 30 menit sekali sekarang rasa itu kembali tiap 10 menit sekali dan begitu seterusnya.
"Tetaplah bernafas dengan tenang dan teratur, lalu istighfarlah Kia. Kamu bisa membaca doanya kan ? Kalau tidak aku akan mewakilimu, kamu terlihat sangat kesakitan Kia." Ucap Pipit dengan wajah pucat, gadis itu merasa kasihan pada sahabatnya yang terlihat menahan rasa sakitnya itu.
"Insya Allah." Hanya itu jawaban yang Akia berikan, selebihnya dia hanya terdiam dengan mencoba menarik nafas dalam dalam, mengaturnya dengan pelan dan menenangkan pikirannya. Tidak lupa dia juga terus menerus membaca doa.
Inna rabbakumullaahullazii khalaqas-samaawaati wal-arda fii sittati ayyaamin summastawaa 'alal-'arsy, yugsyil lailan nahaara yatlubuhu hasiisaw wasy syamsa wal qamara wan-nujuma musakhkharaatim bi'amrihii alaa lahul-khalqu wal-amr, tabaarakallaahu rabbul-'aalamiin.
(surat Al-Araf ayat 54)
Artinya:
"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam."
Pipit terus melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat dengan perasaan yang berkecamuk. Tapi tunggu ada sesuatu yang gadis itu lupakan tapi apa dia juga tidak tahu. Dan untuk saat ini dia tidak ingin berlarut larut dalam pikirannya, dia harus bertindak cepat.
Tidak lama kemudian mobil yang dia kemudikan sampai dipelataran rumah sakit besar, dengan segera gadis itu keluar sambil berteriak teriak seperti orang kesetanan.
"Suster !, Dokter ! Tolong !" Teriaknya keras membahana.
Suster jaga yang ada dibagian depan langsung berlari menuju kearah Pipit dengan membawa sebuah brankar dorong. Dengan hati hati mereka mengangkat tubuh Akia yang sudah terlihat sangat lemah.
"Kia, buka matamu, cobalah jangan sampai terpejam. Kamu harus kuat Kia, demi anak anakmu aku mohon." Racau Pipit yang terus berusaha membuat Akia tetap tersadar, pasalnya bumil itu sudah terlihat sangat lemah dan tidak bertenaga.
"Nona tolong segera urus pendaftarannya diresepsionis, disini kami akan segera melakukan tindakan cepat." Kata salah satu perawat pada Pipit.
__ADS_1
"Baik sus." Jawabnya dengan suara bergetar dan terisak.
Sepuluh menit kemudian gadis itu sudah kembali didepan UGD, dan berjalan mondar mandir layaknya setrikaan.
Cklek
Suara pintu terbuka membuat gadis itu seketika menoleh dan bergegas menghampirinya, seorang perawat datang dengan membawa sebuah berkas dan disampingnya ada Dokter dengan segala peralatannya.
"Nona mohon maaf, dimana suami pasien ? Ada yang harus saya bicarakan dengan keluarganya." Tanya sang Dokter.
"Astaghfirullah Ya Allah, aku melupakan sesuatu." Pipit menepuk keningnya sadar jika saat ini dia belum menghubungi Azriel, pantas saja sedari tadi dia merasa seperti ada sesuatu yang dia lupakan.
"Dokter bisakah anda tunggu sebentar, saya akan coba menghubunginya. Tadi karena panik saya belum sempat memberitahu suami pasien."
"Silahkan, tapi saya harap jangan terlalu lama nona, karena kondisi pasien yang ternyata sudah kelelahan dengan terpaksa kami harus melakukan tindakan operasi, jika kami memaksakan untuk melahirkan secara normal, kami takut akan terjadi sesuatu pada ibu dan bayinya. Untuk itu kami perlu ijin dari suami pasien."
"Baik Dokter."
Dengan gemetar Pipit mencoba mendial nomor Azriel, beruntung pria itu sudah memberitahu nomernya pada Pipit, hingga kalau terjadi sesuatu seperti saat ini dia bisa langsung menghubungi Azriel.
Tut
Tut
Tersambung namun lama tidak diangkat, Pipit terus mencoba lagi namun selalu tidak diangkat, dia tidak putus asa, hingga sampai panggilan ke-5 baru panggilan telponnya diangkat oleh sang empunya.
"Halo si..."
"Dimana tuan Azriel, aku harus bicara dengannya sekarang penting." Potongnya cepat.
Aduh kok yang nerima pria es itu sih, gimana ini. Gumam Pipit dalam hati.
"Bisakah aku bicara langsung dengannya ? Tolong ini sangat darurat." Desaknya pada pria diseberang sana yang ternyata adalah Rio.
"Jika tidak ada yang penting saya.."
"Akia akan segera melahirkan dan saat ini ada dirumah sakit Medika, dia harus segera dioperasi maka dari itu dokter memerlukan ijinnya untuk segera diberi penanganan secepatnya. Kumohon tolong beritahu beliau." Ucap Pipit dengan suara bergetar menahan tangis, sungguh saat ini gadis itu benar benar merasa bingung.
"Kami akan segera kesana, tolong lakukan apapun yang seharusnya kamu bisa lakukan." Ucap Rio diseberang sana dengan sangat ambigu membuat Pipit menjadi bingung.
"Bagaimana nona ?" Tanya sang dokter.
"Suaminya akan segera sampai dokter, mereka sedang dalam perjalanan." Jawab Pipit.
"Tapi operasi harus segera dilakukan nona, jika menunggu lama lagi kami takut akan terjadi sesuatu pada keduanya."
Pipit menarik nafas kasar, bingung, gadis itu sangat bingung sekali. Disatu sisi dia tidak berani untuk melangkah lebih jauh lagi, tapi disatu sisi dia tidak ingin sesuatu terjadi pada sahabat dan bayinya.
"Nona.." Panggil dokter membuyarkan lamunan Pipit.
Bergetar Pipit meraih berkas yang ada ditangan suster, gadis itu memejamkan matanya sejenak sambil menetralkan deru nafasnya yang sangat kacau.
"Bismillahirrohmanirrohim, Ya Allah semoga keputusanku ini sudah atas ridhomu." Bisik Pipit lirih lalu dengan mantab dia membubuhkan tanda tangannya diatas kertas putih tersebut.
"Tolong lakukan apapun untuk keselamatan sahabat dan keponakan saya dokter."
__ADS_1
Sang dokter mengangguk. "Berdoalah pada Allah nona, pasti DIA akan mendengarkan doamu."
Pipit mengangguk lemah kemudian meremas remas tangannya yang keringetan dan terasa sangat dingin. Dia menatap punggung dokter yang sudah hilang dibalik pintu operasi.
Demi menghilangkan rasa khawatirnya, gadis itu menggelar pasmina kecil yang selalu dia bawa kemana mana. Diatas selembar kain berwarna hitam itu Pipit melakukan sholat sunnah dan tidak lupa berdzikir dan mengucapkan doa pada yang Kuasa, memohon supaya Allah menyelamatkan sahabat dan juga anak anaknya.
Tidak perduli dengan tatapan penuh selidik dari orang orang yang melintas dilorong tersebut, Pipit larut dalam kekusyuannya menghadap Illahi meminta kebesarannya dan mukjizatnya. Ya, gadis itu melakukan ibadahnya tepat disamping pintu ruang operasi.
Bahkan suara suara bising orang berlalu lalang tidak membuat gadis itu merasa terganggu dengan ibadahnya, gadis itu benar benar larut dalam Dzikir dan doanya dengan tangan kanannya yang terus memutar mutar tasbih kecilnya.
Dan semua itu tidak luput dari pandangan kedua pria yang baru saja datang dengan nafas tersengal sengal, siapa lagi jika bukan Azriel dan Rio. Pria itu langsung menghentikan meeting pentingnya dan rela mengalami kerugian puluhan milyar demi sang istri tercinta.
Dan saat sampai dirumah sakit, dia disuguhkan oleh pemandangan yang begitu membuatnya malu seketika. Bagaimana bisa dia dikalahkan oleh seorang gadis yang dengan begitu tenang menyatu dengan Illahinya. Sementara dirinya sendiri saking paniknya sampai lupa berdoa pada yang Kuasa. Tanpa terasa Azriel meneteskan airmatanya melihat bagaimana gadis ini begitu menyayangi istrinya.
Ya Allah aku merasa menjadi hambamu yang tidak berguna, ampuni aku Allah, sejenak aku melupakanmu sang pemberi mukjizat diatas mukjizat. Ya Allah tolong selamatkan istri dan anak anakku, aku pasrahkan semuanya padamu Ya Allah, sang pemberi kehidupan dan juga pembawa akhir kehidupan.
Cklek
Suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Azriel, tapi tidak dengan Pipit. Gadis itu sungguh sampai tidak mendengar suara apapun, dia masih sangat kusyu dalam berdoa dengan mata terpejam.
"Dokter bagaimana keadaan istri dan anak saya ?" Cecar Azriel dengan nafas memburu.
Bukannya menjawa pertanyaan Azriel. dokter justru menatap pada gadis yang saat ini sedang terbuai dengan doanya.
"Tuan, saya rasa doa nona ini dikabulkan oleh Tuhan."
"Maksud dokter ?"
"Anda tahu, semenjak istri anda masuk ruang operasi nona ini tidak sekalipun berhenti berdoa bahkan sampai 2 jam lamanya. Dan alhamdulillah istri dan kedua putra putri anda selamat dan dalam keadaan normal."
Bruk
Tubuh pria itu ambruk kelantai saking terharunya, lalu segera Azriel bersujud dilantai mengucapkan rasa syukurnya akan keajaiban yang Allah berikan padanya. Bahkan terlihat pria itu sampai menangis sesenggukan saking bahagianya dia.
"Tuan, tolong beritahu nona ini, katakan jika sahabatnya dan juga keponakannya selamat dan sehat." Pesan dokter yang diangguki kepala oleh Azriel.
Pria itu melangkah mendekati Pipit lalu dengan tangan gemetar dia menyentuh bahunya.
"Pipit, terima kasih atas perjuangan doamu, kamu dengar Akia dan keponakanmu selamat dan dalam keadaan sehat."
Merasa ada yang menyentuh bahunya, Pipit membuka kedua matanya, dan dilihatnya suami sahabatnya itu sudah ada didepannya dengan mata sembab. Tentu saja hal itu membuat Pipit menjadi panik, dia mengira telah terjadi sesuatu pada Akia.
"Tuan, kenapa anda menangis ? Apa terjadi sesuatu pada Akia ?"
Azriel menggeleng lalu memberikan senyumannya walau hanya sekilas.
"Tenanglah, istriku tidak apa apa, terima kasih sudah menjaga istriku. Dan Allah mengabulkan doamu, mereka selamat."
"Allahu Akbar." Gadis itu mengucap takbir lalu bersujud kembali mengucapkan syukur akan kemurahan Allah yang sudah mengabulkan doa doanya.
TBC
Hai akhirnya baby twins sudah lahir dengan selamat ya dan Allah ternyata mengabulkan keinginan Azriel untuk mempunyai bayi kembar, jika ada yang ingin memberikan sebuah nama untuk baby twins boleh loh, soalnya babang Azriel kan belum sempat menyiapkan nama untuk baby twins.
Sungguh luar biasa ya kesolidan Pipit terhadap Akia, ketulusan nya yang begitu besar dibalik sikapnya yang selengekan. Dan sifat ini yang sangat cocok jika dipadu padankan dengan sikap dingin rio yang berhati es. Sifat Pipit yang seperti itu justru akan membuat hati pria itu semakin menjadi berwarna.
__ADS_1
part ini lebih panjang hampir 2000 kata loh, itu karena authornya nggak mau dimarahi readersku ini..hehehe..maaf ya. yang sudah sering menggantung udah kayak jemuran aja. Jangan dibully authornya baperan.wkwkwk