
Seorang pria tampan berwajah mirip oppa nampak tengah serius dengan pekerjaannya saat ini. Wajah tampannya sekali kali berubah serius dan kadang terlihat santai melihat layar laptopnya. Sesekali jari telunjuknya mengetuk meja beberapa kali.
Sementara disofa panjang yang berada diruangan tersebut nampak seorang gadis sedang tiduran dengan wajah yang terlihat sangat jenuh. Mencebikkan bibirnya saat matanya melirik kearah sang pria yang masih fokus pada pekerjaannya. Terlihat jelas jika saat ini sang gadis sangat bete dan bosan.
"Aaakkkhh..gue bosan sekali." Teriaknya frustasi.
Sang pria hanya melirik sekilas sembari menggelengkan kepalanya pelan, dengan senyuman tipis dibibirnya. Tanpa memperdulikan suara cemprengnya yang menurutnya sudah biasa dia dengar.
"Hei sampai kapan loe bikin gue nunggu disini ? Sampai karatan ya, ck loe ini bener bener sahabat nggak peka tau nggak." Sungutnya dengan wajah kesal.
"Ar, kalo loe bosan tidur aja, gue masih ada kerjaan." Jawabnya santai.
"Ck loe ini sama aja dengan yang lain Ko. Gue bosan sekali, mau main sama Luna masih dirumah sakit, sedangkan si muka dingin Dhafa sama seperti loe, sibuk dengan kerjaannya. Gue mau mati saja rasanya."
Chiko Alexanders, pria tampan berwajah oppa itu hanya mengulas senyum tipis, lalu kembali fokus pada pekerjaannya yang tinggal sedikit lagi. Tentu saja sikap cueknya membuat gadis yang ternyata adalah Arumi itu semakin kesal.
"Tadi loe nyuruh gue kesini, tapi nggak tahunya loe malah nyuekin gue, tau gitu mending tadi gue belanja aja." Ketusnya.
Merasa kembali diabaikan membuat gadis itu geram sendiri. Dengan langkah cepat gadis itu menghampiri sahabatnya yang saat ini sedang sangat fokus pada pekerjaannya. Tanpa disangka oleh Chiko dengan beraninya Arumi duduk dipangkuan pria itu yang langsung memasang wajah terkejutnya.
"Ar, loe ngapain sih. Gue lagi kerja nih, bentar lagi selesai." Sungutnya dengan wajah panik.
Dadanya bergemuruh kencang karena tindakan berani gadis itu, sementara Arumi nampak menanggapi ucapan Chiko dengan mimik santai nya. Tanpa merasa bersalah gadis itu hanya menyengir kuda sembari melirik wajah kesal sahabatnya.
"Salah loe bikin gue kesel."
"Turun Ar, jangan begini. Bagaimanapun gue pria normal, jangan bikin gue bertindak lebih, loe sahabat gue, gue nggak mau nglakuin sesuatu yang bisa merusak persahabatan kita." Ucapnya pelan.
Bagaimanapun dia adalah pria normal, dengan ulah bar bar Arumi membuat jiwa lelakinya bangkit, apalagi posisi mereka terlihat sangat intim. Walau tidak dapat dia pungkiri, ada rasa bahagia saat Arumi bertindak seperti itu. Tanpa gadis itu sadari, sebenarnya dia sudah lama memendam perasaan pada sahabatnya itu. Menurutnya sikap bar bar Arumi melengkapi hidupnya yang kosong selama ini.
Arumi memandang wajah tak suka saat Chiko mengatakan hal itu. Ada perasaan tidak terima didalam hatinya, namun dia tidak tahu itu apa. Dengan santai gadis itu malah menanggapinya dengan bercanda.
"Loe ngomong seakan akan loe cinta ama gue Ko." Dengusnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Astaga, bocah ini malah bikin gue semakin blingsatan.
"Turun nggak."
"Nggak ah, gue mau disini aja. Gue bosan disana, apalagi loe nyuekin gue."
"Ar, please turun. Jangan bikin gue makin aakkhh...."Teriaknya pelan frustasi dengan tingkah cewek itu.
"Loe kenapa sih ?" Tanyanya dengan kening berkerut.
Tanpa Arumi duga pria itu tiba tiba menarik tubuhnya lebih dekat padanya. Melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Arumi. Tentu saja perbuatan Chiko membuat jantung gadis itu tiba tiba berdetak kencang, ada rasa aneh yang tiba tiba menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Loe ngapain meluk gue." Tanyanya gugup.
Deru nafas pria itu semakin terasa di pipinya dengan wajahnya yang semakin mendekat. Kedua mata mereka saling bertemu dan mengunci.
"Chiko." Desahnya lirih.
__ADS_1
"Sssttt...loe udah bikin gue kelabakan tau nggak Ar. Dan gue udah nggak bisa nahan lagi."
"Maksud loe ?"
Cup
Arumi melotot saat benda kenyal dan dingin itu mendarat cepat dibibirnya. Walau hanya kecupan singkat namun sukses membuat rona merah di pipinya muncul.
"Loe .."ucapnya dengan mata masih melotot sempurna. Dia begitu syok saat ciuman pertamanya dicuri oleh pria yang berstatus sahabatnya itu.
"Itu pertama untukmu kan ? Dan aku pria beruntung bisa mendapatkannya." Bisiknya pelan ditelinga gadis itu.
"Loe sialan, beraninya loe nglakuin itu sama gue." Teriaknya setelah sadar dari syoknya. Tangannya dengan brutal memukul dada bidang itu berulangkali.
Chiko hanya terdiam dengan bibir yang mengurai senyum tipis, lalu dengan lembut pria itu meraih tangan Arumi dan semakin mengeratkan pelukannya.
"Diamlah biarkan seperti ini sebentar saja." Bisiknya lembut ditelinga gadis itu, kepalanya dia susupkan diceruk leher Arumi membuat jantung gadis itu semakin berdetak kencang.
"Kenapa loe lakuin itu sama gue ko ?" Lirih gadis itu berucap.
Chiko tersenyum tipis lalu semakin mengendus leher Arumi, mencium aroma vanila gadis itu yang membuatnya mabuk kepayang. Membuat Arumi menggeliat merasakan geli. Gadis itu berontak pelan, namun tenaganya kalah telak dengan tenaga besar pria itu.
"Kau masih ingat nggak Ar dengan ceritaku dulu yang pernah bilang jika aku menyukai seorang gadis ?" Tanyanya pelan.
Arumi mengangguk pelan. "Lalu ?"
"Aku pernah bilang bukan, jika aku sangat suka, bukan cuma suka lebih tepatnya mencintainya. Namun sayang aku tidak bisa mengutarakan isi hatiku padanya. Aku hanya bisa memandang wajahnya, mengaguminya dalam diam. Ingin rasanya aku memeluk dan menciumnya namun keberanian itu selalu pudar begitu saja."
Kenapa hati gue sakit dengernya ya ? Bukankah dia sudah sering bilang sama gue, dan gue selalu santai ngedengernya. Tapi kenapa sekarang beda sih, sebenarnya ada apa sama gue ?
"Manggilnya jangan loe gue ya, ga enak dengernya. Manggil aku kamu aja, kalo nggak aku panggil sayang aja deh."
"Loe gila ya." Pekiknya keras dengan suara gugupnya.
Chiko tertawa lalu menowel hidung Arumi dengan gemas. Tangannya mengusap bibir cerry yang baru saja dikecupnya.
"Kamu nggak kepengen tahu siapa gadis itu Ar ?" Godanya dengan senyuman terbit dibibirnya.
"S-siapa ?" Tanyanya dengan dada yang bergemuruh. Lalu...
Cup
Untuk kedua kalinya pria itu mengecup kilas bibir Arumi membuat gadis itu melotot dengan wajah pucat nya, namun wajahnya semakin memucat saat dia mendengar bisikan lirih pria itu.
"Gadis itu kamu Arumi..."
Gadis itu terpaku, lalu menoleh padanya setelah sadar dengan rasa terkejutnya.
"Gue ? Bagaimana bisa ?"
Chiko mengangguk pelan, lalu membelai lembut pipi gadis itu.
__ADS_1
"Ya bisa aja, cinta kan tidak pandang bulu pada siapa dia ingin berlabuh ? Tadinya aku ingin menyimpan rapat perasaan ini, tapi sikapmu barusan membuatku tidak kuat menahannya. Aku mencintaimu selalu mencintaimu dan seterusnya akan selalu seperti itu. Aku tidak butuh penolakan jika kau tidak mau menerimanya aku dengan senang hati akan memaksamu untuk menerima cintaku." Ucapnya dengan nada tegas.
Arumi masih terdiam tanpa tahu harus berkata apa, membuat pria itu merasa gemas.
"Apa yang kau pikirkan Arumi sayang ?" Ucapnya dengan mengubah panggilannya.
Arumi menunduk malu, lalu berucap lirih. " Loe..."
"Kamu bukan loe, sepertinya aku harus menghukummu supaya kau ingat dengan perkataanku sayang." Potong Chiko cepat.
Arumi mencebik kesal, gadis itu memutar bola matanya jengah. Belum apa apa pria itu sudah terlihat posesif padanya.
"Kau tahu jika kita ..."
"Berbeda ? Itu yang ingin kau katakan ?" Tebaknya.
Arumi mengangguk lalu menatap kedua bola mata cokelat milik Chiko.
"Itu tidak masalah buatku sayang. Lagipula semenjak mengenal kalian aku menjadi tertarik dengan keyakinan yang kalian anut. Dan selama ini aku selalu belajar mengenal dunia Islam. Dan aku sudah memantapkan hatiku untuk mengenal lebih jauh agama kalian."
"Apa karena aku makanya kau ingin mengubah keyakinanmu ? Lalu bagaimana dengan keluargamu ? Aku tidak ingin kau menentang keluargamu ko."
Chiko tersenyum lalu mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Aku ingin berubah bukan karena dirimu, tapi memang keinginan dihatiku yang sudah terpendam lama. Apa itu artinya kau menerima ku ?"
"It-itu.."
"Love you, terimakasih sudah menerimaku. Dalam waktu dekat aku akan datang kerumahmu bersama keluargaku untuk melamarmu. Aku tidak ingin pacaran, sepertinya pacaran setelah menikah jauh lebih enak ya."
"Ak-aku nggak bilang setuju. Jangan seenaknya." Ketus gadis itu.
"Kau yakin ? Baiklah sepertinya aku tidak jadi membawa kedua orangtuaku. Percuma saja aku datang kerumahmu jika kau pasti menolak lamaranku." Godanya pelan.
"Hei awas saja jika kau membatalkan niatmu itu. Aku akan menghukummu." Pekiknya spontan tanpa sadar dengan ucapannya.
Chiko tergelak, puas menggoda wanita pujaan hatinya itu.
"Benarkah ? Bukankah barusan kau bilang tidak ingin menerima ku ? Lalu apa arti ucapanmu itu." Godanya lagi.
Arumi terperangah menyadari ucapannya. Dengan kesal gadis itu membalikkan tubuhnya membelakangi pria itu.
"Love you, aku tahu kau juga mencintai sayang." Bisik pria itu dengan posisi memeluk Arumi dari belakang.
Arumi tersenyum tipis lalu menyentuh lengan pria itu yang melingkar diperutnya.
"Love you too."
**TBC
Hai dipart ini author kasih moment indah sebelum kembali menangis ya..happy reading..jangan lupa tinggalkan jejak**.
__ADS_1