
Asalamualaikum..
Lega..Akhirnya setelah sekian lama bisa kembali menulis. maaf karena sudah membuat kalian menunggu, sejenak author merasa bingung untuk meneruskan ataupun berhenti menulis cerita ini .
Jujur author sedikit merasa takut, takut jika novel ini tidak sesuai dengan keinginan kalian. Apalagi mungkin isinya sedikit terasa jauh dengan judulnya. Bukan apa apa, author hanya takut jika ada yang tidak terima dengan isi didalamnya.
Author, judulnya islami tapi kok isinya bertolak belakang ya ?
Pertanyaan itu yang kadang membuat author mwrasa takut. Hehehe lebay sih sedikit.
Disini author ingin bercerita sedikit, novel ini memang menceritakan perjalanan seorang akia yang awalnya sangat arogan, berandallan lalu berubah menjadi sosok yang agamis. Jadi maklum ya jika diawal cerita isinya sedikit vulgar mungkin, soalnya ini kan cerita sebelum Akia berhijrah ya..Tapi vulgarnya masih dalam batas wajar ya..bukan yang terlalu gimana gitu.
Segitu aja, setelah pertimbangan matang, akhirnya author membulatkan tekad untuk kembali menulis ceritanya. Jangan bosan y.dan terus dukung karya author. Makasih buat pendukung author yang setia menunggu.
Wassalam.
💞 💞 💞
"Terima kasih."
Ryan menatap bingung pada sosok gadis yang saat ini sedang berada disebelahnya. Menggaruk belakang kepalanya sambil menyengir dalam. Sungguh suasana yang begitu canggung, karena saat ini mereka hanya berdua sembari menatap sosok gadis yang saat ini sedang tertidur pulas.
"Ap-apa maksudmu ? Aku tidak mengerti." Ucapnya lirih.
Akia menatap pelan wajah Ryan, lalu tersenyum tipis yang mana membuat pria itu semakin salah tingkah.
"Jangan tersenyum seperti itu padaku." Lirihnya. "Melihat senyummu membuatku semakin merasa bersalah padamu."
Akia terkekeh pelan bahkan nyaris tidak terdengar, pasalnya dia tidak ingin jika suara tawanya membuat sahabatnya sampai terbangun.
"Kau itu lucu juga ya." Kekehnya.
Ryan mengrenyit, menatap heran pada Akia, membuat tawa gadis itu seketika berhenti.
"Kenapa menatapku seperti itu ? Apa ada yang salah denganku ?" Tanyanya yang langsung diangguki kepala spontan oleh Ryan.
"Apa yang aneh ?"
"Emm..itu, nada bicaramu sepertinya berbeda. Biasanya kamu kalo bicara pake loe gue. Jujur itu bikin aku sedikit heran saja." Ucapnya jujur.
Akia terkekeh, lalu kembali memasang senyuman tipis.
"Ya aku tahu, entah kenapa tapi mulai saat ini aku ingin sedikit merubah gaya bahasaku. Ada kenyamanan tersendiri saat aku memanggil aku ataupun kamu, dan bukan loe atau gue."
"Aku turut senang mendengarnya, Bukan hanya aku, Luna mungkin juga ikut senang."
__ADS_1
Akia mengangguk pelan, dalam hati gadis itu membenarkan ucapan Ryan. Mungkin para sahabatnya akan merasa senang melihat sedikit perubahan dalam dirinya. Namun jika teringat peristiwa yang menimpa sahabatnya, gadis itu kembali murung
"Ada apa ?" Tanya Ryan heran. Tadi dia terlihat bahagia, kenapa sekarang berubah murung. Wanita memang sulit di tebak.
"Tidak apa apa. Aku hanya ingin berterima kasih karena kau sudah bersedia untuk berubah. Bersedia untuk keluar dari lubang hitam yang selama ini menjeratmu. Dan aku juga berterima kasih karena kau sudah memperjuangkan kembali apa yang memang wajib kamu perjuangkan. Walaupun dengan jalan yang sulit, namun pada akhirnya kalian akhirnya bisa bersatu kembali. Terima kasih karena sudah sedia untuk mencintai sahabatku. Dan aku ingin meminta padamu untuk selalu menjaganya, selalu membuat nya bahagia, dan jangan sekali kali kau mengulangi kesalahan yang sama." Ucapnya tulus.
Ryan terpaku, sungguh hatinya merasa senang mendengar ucapan Akia. Dengan gerakan pelan pria itu menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih sudah kembali mempercayai ku. Aku tidak akan pernah kembali menyakitinya walaupun itu hanya seujung garis kuku. Aku akan berusaha semampuku untuk membuatnya bahagia."
"Aku percaya padamu." Dengan begitu aku bisa pergi dengan tenang dan tanpa ada rasa bersalah.
"Kapan kalian akan menikah ? Jangan lupa memberiku undangan ya." Cetusnya.
Kening Ryan berkerut, merasa heran dengan ucapan Akia. Dia merasa sedikit curiga, hatinya mengatakan jika gadis didepannya seakan akan hendak pergi jauh.
"Kenapa kau meminta undangan ? Kau kan sahabatnya, bahkan kalian sudah seperti saudara, dan saudara tidak membutuhkan undangan untuk hadir di acara pernikahan saudaranya bukan ? Kenapa aku merasa kau seperti hendak pergi meninggalkan kami." Ucapnya dengan nada penuh curiga.
Deg
Akia sedikit gugup, namun secepat kilat gadis itu kembali berubah datar.
"Kau ini bicara apa. Tentu saja aku akan selalu ada disini. Aku hanya ingin seperti Tamu undangan yang lain, ingin merasakan gimana rasanya dapat undangan pernikahan." Elaknya cepat.
Ryan tergelak keras, hingga airmatanya sedikit keluar. Membuat Akia menarik nafas lega, beruntung pria didepannya ini percaya dengan kata katanya.
Fyuhh..hampir saja.
Akia tersenyum tipis sembari menggaruk pelipisnya.
"Kau itu menghancurkan momen sedihku saja." Sungutnya kesal.
"Salahkan dirimu yang membuatku tertawa keras."
"Ck sudahlah. Ini sudah sore, aku harus pulang. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Sampaikan salamku pada Luna ya, aku akan sangat merindukannya."
"Oke..nanti akan aku sampaikan jika dia sudah bangun."
Akia mengangguk pelan, lalu memutar laju rodanya menuju ke arah pintu keluar.
"Kia." Panggil Ryan.
Akia menoleh sekilas. " Ada apa ?"
"Apa kau tidak ingin melakukan terapi ? Siapa tahu jika dengan terapi kedua kaki..."
__ADS_1
"Aku tidak butuh." Potong gadis itu cepat.
"Tapi Kia apa kau ti..."
"Jangan mengasihaniku, aku tidak butuh rasa simpatik siapapun. Kita memang sudah akrab, tapi bukan berarti kau bisa mencampuri semua urusanku. Jika kau tidak ingin aku melakukan sesuatu padamu, berhenti mengasihaniku dan lakukan saja tugasmu." Ucapnya dengan nada yang sudah berubah dingin dan wajah yang datar.
Glek
Ryan menelan salivanya kasar, merasakan hawa sekitarnya yang tiba tiba berubah dingin dan mencekam.
"Maaf." Lirihnya.
Akia mendengus, lalu melanjutkan kembali laju kursi rodanya. Terus melaju hingga tubuhnya menghilang dari pandangan Matta Ryan.
Maaf, tapi aku hanya tidak ingin orang merasa kasihan pada hidupku yang sudah hancur ini. Entah kenapa rasanya Allah tidak adil padaku. Semua merasa gembira dan bahagia, tidak sepertiku yang selalu merasa kesepian sepanjang hidupku. Bahkan impianku satu satunya yang selama ini mengusir kesepian ku kini hancur tidak tersisa. Semua ini gara gara kaki sialan ini. Seandainya aku tidak lumpuh, pasti saat ini aku sudah mendapatkan impianku. Menjadi seorang pembalap yang diakui seluruh dunia.
Akia menengadahkan kepalanya, menatap langit biru yang membentang luas diatas. Dia masih mengingat obrolan dengan papanya sore itu. Bagaimana dengan kerasnya Tuan Aryan menolak permintaannya. Bahkan papanya sampai tidak mau berbicara padanya sampai sekarang.
Mana ada orangtua yang mau mengabulkan permintaan putrinya yang terlihat konyol. Apalagi Tuan Aryan yang begitu sangat menyayangi putri tunggalnya itu. Tentu saja hal yang sangat mustahil untuk dia bisa mengabulkannya.
Sore itu...
"*Tidak papa tidak setuju dengan permintaan konyolmu itu. Bagaimana bisa kau meminta hal seperti itu ? Kau bisa meminta yang lain, papa pasti akan mengabulkannya, tapi tidak dengan keinginanmu itu. Kau ingin menjauh dari papa ? Apa kau tidak kasihan dengan papa Sya ?" Ucap Tuan Aryan kala itu.
Ya, Akia mengutarakan keinginannya untuk pergi sementara waktu untuk menenangkan sejenak hati dan pikirannya. Saat ini dia sedang butuh ketenangan, dan dia rasa dengan pergi sejenak, dia akan merasa tenang kembali.
"Pa, Kia mohon, Kia hanya ingin menenangkan hati dan pikiran Akia. Jika terus berada dikota ini, Akia akan selalu teringat kejadian itu." Ucapnya lirih.
"Tidak ! Sampai kapanpun papa tidak akan pernah mengijinkannya. Dan papa tidak butuh penolakan. Mulai besok papa akan menempatkan beberapa bodyguard untuk selalu menjagamu." Ucap Tuan Aryan lalu segera pergi kekamarnya tanpa memberi kesempatan pada Akia untuk melawan kata katanya*.
Akia mendesah pelan, sungguh hatinya saat ini merasa kacau.
"Aku hanya tidak ingin membuat kalian semua terbebani dengan keadaanku sekarang pa. Aku mohon mengertilah. Jika dengan cara halus papa tidak akan memberikan ijin padaku, maka maaf pa, Kia terpaksa melakukan apa yang seharusnya Akia lakukan." Gumamnya pelan.
Akia meraih ponselnya mengetik beberapa angka di ponsel nya.
"Hallo, apa kau sudah melakukan apa yang aku minta ?"
....
"Bagus, temui aku ditempat biasa satu jam dari sekarang."
Tutt
Akia menggenggam kembali ponselnya dengan sangat erat, memejamkan mata sejenak sembari menghela nafas pelan.
__ADS_1
Maaf pa, tapi aku harus melakukan ini. Jangan mencari ku, karena aku akan membuat kalian tidak pernah bisa untuk menemukanku.
TBC.