
Wajah yang pada dasarnya sudah menyeramkan, kini semakin terlihat seram setelah mendapat kabar dari salah satu anak buahnya. Dengan kedua matanya yang menyorot tajam pertanda jika saat ini amarah sedang menguasai pikirannya, Marco membanting semua benda yang ada didepannya dengan brutal.
"Sial ! Beraninya dia menemui gadis itu." Teriaknya dengan suara yang keras menggelegar, membuat sang pembawa berita menggigil ketakutan.
"Apa dia berbicara sesuatu pada gadis sialan itu hah !"
"M-maaf bos, wanita itu tidak berbicara sedikitpun tapi saya sempat melihat jika wanita itu memberikan sebuah amplop pada gadis itu sebelum dia berlalu pergi."
Marco semakin menggeram, namun beberapa detik kemudian muncul seringaian aneh diwajahnya.
"Kau mulai bermain main denganku rupanya Jason. Aku tahu kau tidak berdaya dan terpaksa menerima tawaranku, makanya kau menyuruh istrimu untuk menemui gadis itu. Hahahaha....menarik..sangat menarik. Marco suka sekali dengan gayamu. Come on...kita bermain main Jason." Ucapnya dengan disertai gelak tawa yang mengerikan.
"B-bos, apa yang harus saya lakukan sekarang ?" Tanya anak buahnya dengan tubuh yang menggigil ketakutan.
Marco berpaling lalu menyeringai lebar.
"Tetap awasi wanita itu, serang dia jika ada kesempatan. Kalau perlu habisi dia dengan putrinya sekaligus. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Jason..hahahahaha..."
Anak buah itu hanya mengangguk lalu segera berlalu pergi dari hadapan bosnya yang terlihat sangat menyeramkan. Saat sudah diluar ruangan, hembusan nafas lega terdengar keluar dari hidungnya.
Bos sangat mengerikan, hii ternyata menjadi anak buah seorang psikopat seperti bos Marco itu sangat menyeramkan sekali. Aku harus segera pergi. Gumamnya lalu segera meninggalkan tempat itu dengan langkah kaki yang begitu cepat.
***
Gadis itu masih asik memandangi sebuah foto yang ada ditangannya. Foto seorang pria yang sedang menggendong anak perempuan dengan seorang wanita cantik yang berdiri disebelahnya. Mereka bertiga tersenyum dengan begitu manis, terlihat jelas foto itu menunjukkan keluarga yang bahagia.
Viona ? Apa maksud dari ucapanmu ? Kenapa aku tetap belum bisa memahami ini semua. Kenapa kau ingin aku melindungi mereka ? Sungguh teka teki ini membuatku semakin bingung.
Akia memejamkan kedua matanya dengan tubuh yang bersender dikursi kayu. Saat ini dia sedang ada di pondok, sebuah tempat kenangan dirinya dengan suaminya sewaktu masih kecil dulu.
Gadis itu selalu datang ke pondok, tiap dia merasa dilema ataupun merasakan gundah dihatinya. Seperti saat ini, Akia sangat membutuhkan tempat yang begitu sunyi dan sepi. Dia butuh kesendirian untuk mencerna apa yang ada di pikiran nya saat ini.
Gadis itu terus berpikir, dari awal dirinya yang didatangi Marco, sampai teror yang datang ke mansion papanya. Hingga terakhir kemaren saat dia melihat dengan jelas CCTV yang menunjukkan adanya pertemuan Jason dan Marco.
Ada apa dibalik semua ini ?
Akia masih mencerna semua kilasan kejadian yang terjadi didepannya. Semua berputar selayaknya sebuah klise film yang diputar didepannya. Hingga pada akhirnya keningnya berkerut, saat dia mulai menyadari sesuatu.
Tunggu ! Apa Jason diancam, apa sebenarnya dia tidak ingin melakukan apa yang diperintah oleh Marco. Tapi kenapa dia tetap menyetujui tawaran pria itu.
Akia semakin bingung dengan teka teki yang ada di otak nya. Semua kelakuan Viona yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Mulai dari wanita itu yang mengenakan penutup muka sampai berbicara dengan suara pelan. Apa ada seseorang yang mengawasi wanita itu.
__ADS_1
Tolong lindungi suami dan anakku.
Kalimat itu terus saja terngiang ngiang ditelinganya.
Kenapa kau ingin aku melindungi suamimu ? Bukankah Jason adalah ketua gangster di wilayah ini, pasti akan sangat mudah untuk nya menghadapi seorang Marco. Tapi tunggu, Jason tidak melakukan tindakan perlindungan apapun untuk dirinya, itu berarti ada nyawa seseorang yang terancam. Tapi siapa ?
Tolong lindungi suami dan putriku.
Suami..suami...putriku...put...tunggu. Jangan jangan yang Viona maksud adalah...
Akia terlonjak dari duduknya, lalu secepat kilat meraih tas dan kunci mobilnya yang ada diatas meja kayu. Dengan langkah tergesa gadis itu berlari kencang menuju mobilnya. Beruntung hari ini dia menggunakan setelan celana jins dan kaos panjang yang longgar. Dan juga sebuah pasmina yang menutupi kepalanya.
Ditengah langkahnya, Akia menghubungi seseorang.
"Assalamualaikum..bang aku butuh bantuanmu. Sudah saatnya."
Hanya kalimat itu yang dia ucapkan, tanpa menunggu jawaban dari seberang gadis itu mematikan ponselnya lalu masuk kedalam mobil.
Belum juga dia menyalakan mobilnya, ponselnya kembali berbunyi. Membuat Akia urung untuk memutar kunci start mobil, diliriknya sekilas. Sebuah nomer tanpa nama, ingin dia abaikan, tapi entah kenapa tangannya malah meraih ponsel itu lalu menggeser layar hijau.
"Halo..assalamualaikum."
Gadis itu terpaku dengan wajah yang sangat memerah. Sorot matanya mendadak dingin dan tajam. Secepat kilat dia meletakkan ponselnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.Kali ini dia tidak ingin terlambat sedikitpun.
***
Wanita itu terus berlari dengan airmata yang terus mengalir keluar. Sementara disampingnya nampak seorang gadis kecil yang sudah ngos ngosan hampir kehilangan nafasnya.
"Ma..mah..Jeje ..sudah..tidak..kuat..lagi..hah..hah.." Ucap gadis itu dengan nafasnya yang terengah engah.
"Sayang mama mohon, bertahanlah. Kita harus berlari cepat kalau tidak mereka akan menghabisi kita." Ucap Wanita itu dengan airmata yang terus mengalir.
Viona terus berusaha membujuk putrinya supaya gadis kecil itu terus melangkahkan kakinya. Sesekali wanita itu menengok kebelakang berharap mereka masih jauh dibelakangnya.
Ya Allah tolong berikan keajaibanmu untukku. Datangkan seseorang penyelamat untuk kami berdua. Setidaknya tolong biarkan putriku selamat Tuhan.
Viona terus terisak dengan tubuh yang gemetar hebat. Rona ketakutan dan syok masih terlihat jelas di mata nya. Bagaimana tidak syok, melihat para bodyguardnya dibantai habis didepan matanya dan juga putrinya.
Dia yang sedang menjemput Jessy setelah selesai dengan sekolah paudnya, tiba tiba ditengah perjalanan mobil mereka dihadang oleh beberapa orang berpakaian hitam dan terlihat sangat sangar. Dengan membawa senjata pedang ditangan mereka.
Para anak buahnya keluar untuk menghadapinya, tapi mereka kalah jumlah dan tenaga. Dan didepan matanya langsung, Viona melihat dengan jelas, bagaimana dengan kejamnya mereka menghabisi para bodyguardnya.
__ADS_1
Viona terus saja berlari, kali ini dia sembari menggendong putrinya. Namun naas, kakinya tersandung sebuah batu yang tidak dia lihat. Otomatis keduanya terjatuh bersamaan dengan mereka yang datang mendekatinya.
Dengan memeluk erat tubuh Jessy, Viona memohon ampun pada segerombolan pria tersebut.
"T-tolong jangan bunuh kami. A-aku tidak kenal dengan kalian." Gugupnya dengan masih menangis terisak.
Jessy yang terlihat ketakutan memeluk tubuh mamanya dengan erat. Gadis kecil itu terlihat sangat lemah dengan tubuh yang bergetar hebat.
"Ma-ma, Jeje takut sekali." Isaknya didalam dekapan ibunya.
Viona semakin terisak, kali ini dia benar benar sangat takut, berharap keajaiban datang padanya.
"Bertahanlah sayang, mama mohon. Tenanglah, papa akan segera tiba." Bisiknya ditelinga putrinya. "Tutup matamu dan dengarkan suara musik ini ya. Mama pastikan semua akan baik baik saja. Jangan buka matanya jika mama belum menyuruhmu membuka oke." Bujuknya pada Jessy.
Beruntung putrinya itu mengangguk setuju lalu dia segera menyetel musik dengan menempelkan handsead ditelinga Jessy.
"Percuma kau lakukan itu, kami akan tetap menghabisi kalian berdua. Hahahah." Gelak tawa membuncah ditempat itu yang kebetulan terlihat sangat sepi.
"Tolong ampuni kami, aku sungguh tidak mengenal kalian. Bahkan aku tidak merasa punya masalah dengan kalian." Viona terus mengucapkan permohonannya berharap mereka mau melepaskan dirinya dan juga putrinya.
"Tapi sayangnya bos kami tidak ingin mengampunimu.Dia tetap menginginkan kepala kalian berdua, sama seperti kepala anak buah kalian itu." Ucapnya sembari menunjuk pada sebuah kardus yang berisi kepala kepala para bodyguardnya.
Viona melotot sempurna lalu menatap nyalang pada mereka.
"Kalian biadab, sungguh tidak berperikemanusiaan. Semoga Allah membalas perbuatan keji kalian." Teriaknya dengan isakan yang begitu keras.
Bagaimanapun dia juga manusia, melihat anak buah suaminya yang sudah dia anggap sebagai keluarganya sendiri, kini harus tewas dengan begitu mengenaskan.
"Hahahah..kami memang biadab. Dan sebentar lagi kalian berdua juga akan menyusul mereka ke neraka. Huahahahah."
Viona memejamkan kedua matanya erat, dia sungguh pasrah saat ini. Tidak mungkin keajaiban datang tepat waktu, mengingat tempat ini yang begitu sepi jauh dari khalayak ramai dan rumah penduduk. Pun jika dia menghubungi seseorang seperti 30 menit yang lalu, belum tentu juga dia akan datang kesini tepat pada waktunya.
Tubuh itu semakin bergetar sambil memeluk kembali Jessy. Kini hatinya semakin pasrah menerima nasibnya yang mungkin akan mati dengan cara yang menyedihkan.
Ya Allah jika aku harus mati dalam keadaan seperti ini, aku ikhlas. Tolong ampuni semua kesalahanku dimasa lalu. Mungkin ini balasan atas semua perbuatanku dulu. Bismillahirrahmanirrahim.
Ayunan pedang itu sudah mengalun kencang meluncur kearah Viona dan Jessy. Hingga akhirnya tinggal beberapa centi lagi mengenai sasaran dan sudah dapat dipastikan jika Viona dan Jessy akan langsung tewas seketika.
Bukk
Klontang
__ADS_1
"Aaakkkhh..."
TBC