
Wajah sumringah para tamu undangan yang menerima souvenir mahal sepertinya tidak bisa mengalahkan cerahnya wajah sepasang pengantin yang berdiri dialtar pelaminan. Terutama pengantin pria, yang sudah mirip seperti anak remaja yang baru mengenal cinta.
Bagaimana tidak, disetiap tamu yang datang silih berganti dengan ucapan selamatnya, Rio selalu memeluk pinggang istrinya dengan sangat posesif. Dan selalu menampik tangan mereka yang ingin bersalaman dengan Pipit, sekalipun itu adalah perempuan dengan satu alasan, takut kepapar wabah virus yang sedang merajalela.
Alasan yang sangat tidak logis, padahal sebelum acara, pihak panitia sudah jelas melakukan tes sebelum mereka menghadiri acara yang diselenggarakan oleh keluarga sultan tersebut, dan tentu saja pembiayaan ditanggung sepenuhnya oleh Dhafa, sang abang tercinta.
Pipit merasa kesal dan geram sendiri, pasalnya suaminya ini benar benar sudah kelewatan, selain membatasi ruang geraknya kata kata pria itu yang diucapkan pada tamu yang datang silih berganti membuatnya ingin sekali menghilang saat itu juga.
Bayangkan saja, pada setiap orang yang datang memberi selamat pada mereka, Rio selalu mengatakan hal yang membuatnya malu.
"Dia istriku, cantik seperti bidadari, awas saja jika kalian berani menyukainya."
Ucapan seperti itu selalu dia katakan pada mereka tidak perduli itu yang masih muda ataupun yang sudah tua. Terkadang Pipit sampai mencubit keras pinggang Rio hingga membuat pria itu memekik kesakitan.
"Belum sehari kita menikah kamu sudah kdrt sayang." Gerutunya sembari meringis kesakitan menahan perih.
"Bukan hanya mencubitmu, aku bahkan bisa melakukan lebih dari ini jika kamu tidak berhenti dengan sikapmu itu. Dan ingat kita menikah sudah lama, sudah 2 bulan lebih jika kamu lupa." Geram Pipit yang membuat Rio cengengesan.
"Salahkan kamu yang cantik begini sayang, rasanya aku ingin sekali mengurungmu seharian dikamar."
"Lakukan saja, maka aku akan seharian mencubitmu sampai bengkak." Ancam Pipit dengan tatapan super tajam.
Glek
"Kamu sungguh kejam sekali sayang."
"Diam dan fokus didepan."
Seketika Rio mematuhi perintah istrinya dengan sesekali melirik kesamping dimana sang istri yang selalu memberikan senyumnya pada tamu yang bersalaman dengannya.
Dia kenapa bisa berubah jadi menyeramkan begini sih. Begini ya rasanya menikah, wanita selalu benar. Pantas saja Azriel bisa ketakutan jika Akia sudah dalam mode merajuk, ternyata memang menyeramkan.
"Jangan mengumpati istrimu didalam hati sayang, kalau mau katakan saja terus terang." Ucap Pipit dengan senyuman manis, tapi justru membuat Rio bergidik ngeri dengan senyuman itu.
"N-nggak kok sayang, aku memujimu kok istriku tercinta." Jawabnya gugup.
"Oh ya ?"
"Suer." Jawabnya dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
Rio mengangguk berkali kali dengan wajah pucat pasi layaknya mayat hidup, membuat Azriel yang ada disampingnya tertawa cekikikan.
"Selamat datang dikehidupan suami suami takut istri bro. Ini belum seberapa, kamu akan mendapatkan yang lebih dari ini jika sang Nyonya sudah benar benar dalam mode marah." Bisiknya ditelinga Rio yang sukses membuatnya susah menelan salivanya.
Rio menoleh dan mendapati Azriel yang tersenyum penuh arti disana dengan sebelah mata yang mengerling dengan genitnya. Pria tampan itu merasa geli, seorang Rio yang tadinya anti dengan yang namanya wanita, kini dia harus takhluk dengan seorang gadis yang baru 2 bulan ini dia nikahi.
__ADS_1
Terlihat lucu dan menggemaskan, mungkin jika musuh musuhnya yang tahu sikap pria itu sekarang, mereka akan kehilangan rasa takutnya. Untung saja sikap tersebut tidak dia perlihatkan didepan umum, andai saja begitu sudah dapat dipastikan citranya sebagai pria yang terkenal dingin dan kejam sudah hilang berganti sebagai pria bucin.
Hari berganti siang dan terus berganti hingga tidak terasa sudah hampir dipenghujung hari. Waktu sudah menunjukkam pukul 12 kurang lima belas menit, gurat kelelahan terpancar jelas diwajah Sang istri membuat Rio merasa kasihan.
"Capek ya."
Pipit hanya membalas dengan senyuman tipis sebagai jawaban atas pertanyaan Rio. Gadis itu tidak mungkin mengatakan jika dia lelah walaupun kenyataannya dia memang sangat kelelahan, bayangkan saja dari pagi sampai larut dia harus berdiri meyambut tamu undangan yang tiada henti, bahkan kedua kakinya terasa sangat kebas.
"Ajak istrimu istirahat Yo, kasihan dia pasti sangat kelelahan." Ujar Ummi Hana yang memgerti kondisi menantunya.
"Nggak papa kok Ummi, Pipit masih bisa tahan sebentar lagi." Jawabnya dengan agak sungkan.
"Udah istirahat saja, serahkan yang disini pada kami, lagipula tamunya juga sudah berkurang."
"Turuti apa kata Ummi kamu Yo, tamunya juga tinggal sedikit ini." Kali ini Kyai Ahmad yang berbicara pada putranya.
"Ya Abah, Ummi, Rio pamit kekamar dulu."
Setelah berpamitan pada semuanya Rio membawa istrinya menuju kamar mereka yang berada di president suite. Kamar yang dikhususkan untuk keluarga Khanza saja dan juga kalangan orang orang tertentu.
Sementara Rio membawa istrinya pergi dari acara, disana disudut ruangan nampak Dhafa yang menatap penuh haru pada sepasang suami istri tersebut. Perasaan bahagia menyelimuti hatinya, mendapatkan kembali sang adik setelah sekian lama berpisah dan kini harus kembali melepaskannya untuk bersanding dengan pria yang dia percayai.
Kini dia bisa bernafas dengan tenang, adiknya sudah berada ditangan orang yang tepat, dia percaya sepenuhnya jika Rio bisa menjaga dan melindungi adik satu satunya itu. Segala urusannya yang bersangkutan dengan pamannya juga sudah dia selesaikan.
Beberapa minggu yang lalu dia sudah membayar lunas semua hutang Om Lukman pada temannya. Walau diawal pria itu tidak mau menerima pelunasan, karena kesepakatan diawal pamannya akan menyerahkan Pipit jika pria itu tidak bisa melunasi hutangnya dalam waktu yang sudah dijanjikan. Dan setelah melihat langsung kecantikan Pipit, tentu saja pria itu lebih memilih Pipit daripada uangnya.
Malam yang sama...
Azriel menutup pintu kamar hotel kemudian memandang sekeliling. Seketika rasa lelah yang menyerang tubuhnya hilang seketika saat melihat istri dan kedua anaknya yang tertidur pulas dengan damainya. Hatinya diselimuti rasa hangat dan bahagia yang begitu besar.
Dia berharap jika ini bukanlah mimpi disiang bolong, dan dia akan segera sadar dari mimpinya. Perjuangannya untuk mendapatkan hati istrinya begitu berat hingga dia rela menunggu sampai beberapa tahun. Dan Allah begitu baik padanya, diakhir dia ingin menyerah Allah membuka hati istrinya dan mempersatukan mereka.
Azriel mengangkat satu persatu anaknya dan membaringkannya di box bayi yang sudah dia pesan secara khusus. Walau bukan dirumah mereka sendiri, pria itu ingin membuat istri dan kedua anaknya tetap merasa nyaman. Setelah itu dia masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Beberapa menit kemudian dia keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terlihat segar. Azriel melangkah kearah ranjang dan merangkak naik kemudian ikut merebahkan tubuhnya disisi istrinya. Mendekap erat tubuh Akia yang masih terlihat kencang dan seksi padahal wanita itu sudah melahirkan dua anak.
Merasa ada gangguan dalam tidurnya sang nyonya akhirnya membuka kedua matanya dan menatap kebelakang. Disana ada wajah sang suami yang cengengesan karena sudah berani mengganggu tidur pulasnya.
"Abi sudah selesai acaranya ?"
"Hhmm." Hanya deheman yang keluar dari bibir pria itu, pasalnya saat ini bibir nakal itu sudah bergerak kesana kemari menyentuh dan mengendus tubuh istrinya, hingga membuat sang istri menggeliat menahan geli.
" Abi geli ih."
"Hmm."
__ADS_1
Karena sang suami yang keras kepala, pada akhirnya Akia langsung berbalik dan menatap tajam wajah suaminya. Azriel membalas tatapan tajam istrinya dengan senyuman manis. Dikecupnya mata yang memberinya tatapan tajam sembari mengucapkan kata kata berupa nasehat.
"Nggak baik menatap suami dengan tatapan seperti itu Ratu, kamu mau jadi istri yang durhaka hhmm ?" Lirih dia berucap dengan tatapan syahdunya yang mampu membuat lawan bicaranya mabuk kepayang.
"Maaf, habisnya Abi sih nggak mau dengerin apa perkataanku." Cicitnya dengan wajah rasa bersalahnya.
"Abi denger Ratu."
"Trus kalau denger kenapa jawabnya cuma ham hem ham hem gitu." Gerutunya dengan mimik wajah cemberut dan pipi menggembung.
Azriel terkekeh mandapati sang istri yang tengah merajuk, dia menarik kembali tubuh sang istri supaya lebih dekat dengannya.
"Tubuhmu bahkan aroma tubuhmu saja sudah membuatku candu Ratu. Jadi katakan padaku, bagaimana caranya supaya suamimu ini bisa menjauh darimu, bahkan hanya dengan mencium wangi tubuhmu saja sudah membuatku begitu lengket seperti lem." Kata kata Azriel sukses membuat rona merah muncul dipipi istrinya.
Padahal mereka sudah menikah hampir 2 tahun tapi tetap saja wanita itu selalu tersipu dengan kata kata romantis yang diucapkan oleh sang suami.
"Gombal."
"Bukan gombal sayang itu namanya romantis, bahkan Nabi saja setiap hari selalu berkata romantis pada Aisyah dan juga istri lainnya, dan bahkan Beliau mempunyai panggilan khusus untuk istrinya Aisyah yaitu Ya Humaira, Ya Aisy, Ya Uwaisy. Sama seperti Nabi, akupun mempunyai panghilan khusus untuk istri tercintaku ini, yaitu Ratuku." Jelasnya panjang lebar.
Hati wanita cantik itu seketika berbunga bunga, jujur dia memang sangat bahagia dengan panggilan sayang Azriel padanya. Itu membuatnya seakan akan jika dia memang yang paling utama bagi pria itu, walau tanpa dijelaskan pun pasti dia prioritas utama Azriel dari apapun setelah Tuhannya.
"Ayo sekarang kita istirahat karena ini sudah larut malam, kalau kamu tidak ingin kubuat semakin lelah malam ini."
Bukannya menuruti perkataan sang suami, Akia malah membuat garis garis abstrak didada bidang Azriel, membuat pria itu menggeram. Pasalnya gerakan nakal jemari istrinya membangkitkan kembali rasa gairahnya yang sempat meredup tadi.
"Ratuku, sayangku, bidadari syurgaku, belahan jiwaku, kamu tahu akibat dari tindakanmu ini hm ?" Geramnya karena menahan gairah.
Akia twrkekeh pelan karena berhasil mengerjai sang suami. Bukannya berhenti wanita itu malah meneruskan gerakannya membuat Azriel kalang kabut. Dan dengan gerakan cepat dia sudah berada diatas tubuh istrinya dan menguncinya dengan posesif.
"Aku tidak akan melepaskanmu malam ini Ratu." Ucapnya dengan suara yang sudah berubah serak namun terdengar seksi ditelinga Akia.
Akia tersenyum kemudian mengalungkan kedua lengannya dileher kokoh Azriel. Wanita itu mengedipkan sebelah mata pada sang suami dengan gaya nakal sebelum dia melabuhkan kecupan singkat dibibir seksi Azriel.
Mendapat lampu hijau dari sang Nyonya tentu saja tidak disia siakan oleh Azriel. Kapan lagi moment langka sang Nyonya yang meminta duluan, dan dengan segera pria itu membalas semua perlakuan manis istrinya. Membawanya terbang menuju syurga dunia sampai berkali kali hingga pada akhirnya membuat sang istri benar benar kewalahan dan terlelap dalam tidur dengan tubuh yang sudah remuk seakan habis dihajar preman.
Azriel tersenyum sembari melihat istrinya yang sudah terlelap dalam tidurnya. Kelelahan dan itu semua karena ulahnya. Tersenyum geli saat kembali mengingat suara sang istri yang terdengar sangat seksi saat mengucapkan namanya.
Tidak mau kembali berkhayal yang takutnya malah membuatnya kembali khilaf, pria itu lalu ikut memejamkan kedua matanya menyusul sang istri yang sudah terlelap. Mengabaikan mungkin lebih tepatnya tidak mau tahu dengan nasib sahabatnya disana yang menderita karena ulah saudaranya, siapa lagi jika bukan babang Dhafa yang ganteng. Xixixixi.
TBC
mau tau yang terjadi sama babang Rio, besok lagi ya. Bukan gantung ih, cuma waktunya udah ga ada, maaf kemaren nggak bisa up.
3 hari mempersiapkan acara pelepasan princess dan pada akhirnya subhanallah Allah menyapa dengan mendatangkan rasa sakit ditubuhku. Jadi maaf ya, author masih dalam mode menikmati rasa sakit, jadi baru bisa up. Inipun sedikit demi sedikit bikin partnya. 🤗🤗😘
__ADS_1
Maaf juga Aira belum bisa Up🙏
Makasih untuk yang masih tetap bertahan dikarya author ini. Lovee you full..pastinya setelah suami dan anak anak ya..hahahaM