
"Kau sudah mempersiapkan semua yang kita butuhkan untuk meeting kali ini Yo ? Jangan sampai membuat klien kita kecewa nantinya."
"Kau tenang saja Riel, insya Allah semuanya sudah siap."
"Aku percaya padamu." Ucap pria itu, lalu kembali menatap wajah sang asisten
" Lalu peresmian hotel kita yang di Semarang ?"
"Setelah bertemu klien, siang ini kita langsung berangkat ke Semarang Riel. Karena waktu peresmian hotel Cempaka adalah esok hari pukul 11 siang. Jadi kau ada waktu istirahat beberapa jam sebelum peresmian." Ucap Rio panjang lebar.
Azriel menghela nafasnya secara perlahan lalu memejamkan kedua matanya sejenak.
"Riel.."
"Hmm."
"Tentang permintaan Abah, apa kau akan melakukannya. Maksudku.." Ucap Rio ragu.
"Dimana acara tablig akbar nya dilaksanakan Yo ?"
"Di Masjid Agung dekat dengan Pondok Pesantren Daarul Mukminin. Kebetulan tempat itu agak dekat dengan hotel Cempaka yang akan kau resmikan nanti. Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai kesana."
Beberapa hari yang lalu saat Azriel pulang kerumah Abah Ahmad, beliau memberikan perintah padanya untuk menggantikannya memenuhi undangan sahabatnya untuk berceramah di acara pengajiannya nanti. Abah Ahmad yang kebetulan juga ada keperluan penting lainnya yang tidak bisa diwakilkan oleh orang lain, beliau menyuruh Azriel untuk menggantikan datang diacara tabliqh akbar tersebut.
Bukankah tempat itu dekat dengan alamat rumah Akia saat ini ?
"Riel.." Panggul Rio membuyarkan lamunan pria itu.
Azriel menoleh tanpa sedikitpun mengeluarkan suaranya.
"Kalau tidak salah bukankah tempat itu dekat dengan rumah Akia ? Bagaimana kabarnya saat ini ya? Maaf bukannya aku ingin mengingatkanmu padanya, aku hanya sedikit penasaran saja Riel." Ucapnya hati hati.
"Nggak apa apa Yo, kau tenang saja." Ucapnya sembari tersenyum tipis. " Entahlah aku sendiri tidak tahu Yo, setelah kejadian itu sudah 2 tahun lamanya aku memutuskan untuk tidak mengawasinya lagi. Rasanya sudah begitu lama, bagaimana rupanya sekarang ya." Ucapnya bermonolog.
Rio yang mendengar keluh kesah sahabatnya hanya bisa mengurai senyuman tipis.
"Jangan Khawatir Riel, jika memang dia jodohmu, pasti Allah akan menjaga dan membawanya kembali padamu. Kau yang lebih tahu tentang hal ini daripada aku." Ledeknya.
Azriel lagi lagi hanya tersenyum tipis sebelum akhirnya bangkit dari duduknya lalu merapikan penampilannya.
"Ayo, sudah waktunya kita pergi, jangan sampai membuat klien kita menunggu lama." Ajaknya pada Rio sesaat setelah melihat jam di tangannya.
__ADS_1
Lalu keduanya melangkah keluar ruangan, menuju arah pintu lift. Disana diluar ruangan Azriel nampak Ryan yang sedang bersiap siap merapikan beberapa berkas nya. Membungkukkan badannya sedikit kala melihat kehadiran bosnya.
"Tuan, semua sudah saya persiapkan." Sapa nya sembari menyerahkan berkas berkas nya kearah Rio.
"Ryan, kau ikut bersama kami, dan satu lagi jangan panggil aku tuan, kau bisa memanggilku seperti halnya Rio memanggil nama padaku." Titahnya pada Ryan sang sekretarisnya.
"Maaf Tuan, tapi saya tidak pantas untuk melakukan hal itu." Ucapnya lirih.
Azriel tersenyum lalu menepuk pelan pundak Ryan.
"Kau pantas, karena kau adalah saudaraku, sama seperti halnya Rio. Kalian adalah kekuatanku, kalian berdua adalah kaki dan tanganku untuk menopangku dikala aku tidak bisa berjalan sendiri." Ucapnya sembari melenggang pergi.
Ryan terharu, rasa bahagia menyelimuti hatinya. Dia beruntung pada akhirnya bisa bertemu dengan sosok Azriel yang begitu baik dan mulia. Lamunan pria itu pecah saat Rio menepuk pundaknya.
"Ayo brother, mau sampai kapan kau disini dan terus menangis seperti itu. Kau seperti wanita saja, sedikit sedikit keluar airmata. Jangan sampai kau membuat saudaraku itu menunggu." Ucap Rio lalu berjalan mengikuti langkah Azriel yang mulai menjauh dari pandangannya.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Ryan langsung berjalan cepat dibelakang Rio, menyusul langkah kedua pimpinannya dengan perasaan hati yang bahagia dan damai.
****
Suasana masjid Agung yang terlihat luas dan besar itu nampak sangat ramai. Petugas panitia nampak sibuk dengan tugas yang diamanahkan oleh kyai lutfi pada masing masing. Ada yang mengecek sound system, ada yang mengecek area, dsb.
Disalah satu ruangan seorang gadis tengah mempersiapkan dirinya didepan cermin. Balutan gamis panjang berwarna lavender dengan hijabnya yang hampir menyentuh pahanya. Membuat wajahnya yang cantik menjadi semakin cantik.
Akia menghela nafasnya pelan, ada sedikit rasa sesak yang dia rasakan. Dia sendiri bingung, padahal ini bukan yang pertama kali untuknya. Namun hari ini dia merasa sedikit berbeda, ada perasaan tidak enak yang dia rasakan, detak jantungnya secara tiba tiba berdetak sangat kencang dan cepat.
Akia menyentuh dadanya dengan telapak tangannya, dan disana dia dapat merasakan cepatnya jantungnya berdetak kencang.
Ada apa denganku ? Kenapa jantungku berdetak sangat kencang begini ? Aku merasa seperti akan terjadi sesuatu nanti, tapi apa ? Gumamnya dalam hati.
Akia melirik jam yang menempel di dinding. 11.45, itu berarti sebentar lagi masuk waktu zdhuhur. Aku harus segera bersiap siap. Jangan sampai aku melewatkan sholat berjamaah kali ini.
Gadis itu bergegas merapikan penampilannya, lalu meraih mukena dan segera keluar dari ruangan tempatnya istirahat dengan mukena yang sudah dia kenakan. Didepan pintu dia bertemu dengan ustazhah Syifa dan Ustazhah Pipit yang memang sengaja hendak menghampirinya.
"Assalamualaikum kau sudah siap, baru saja kami akan kekamarmu Sya." Ucap Ustazhah Syifa.
"Waalaikumussalam wr wb. Sudah kak, ayo sebentar lagi akan masuk waktu zhuhur." Ajaknya dengan senyuman manis menghiasi bibirnya.
"Jangan senyum Sya, nanti semutnya pada pindah semua kebibirmu, secara senyummu sangat manis." Goda Pipit.
Akia kembali memasang wajah datar nya saat mendengar celotehan sahabatnya.
__ADS_1
"Kau ini, tidak bisa sekali saja membuatku merasa senang Pit." Ketusnya.
"Sudah sudah, kalian ini jika bertemu selalu saja berantem, ingat kalian berdua ini kan pengajar di pesantren ini, jadi berilah contoh yang baik untuk para santriwan dan santriwati disini. Ayo cepetan nanti kita terlambat." Ucap Ustazhah Syifa mencoba melerai kedua gadis didepannya ini.
Suasana didalam masjid sudah begitu ramai dengan para jamaah entah itu perempuan ataupun laki laki. Karena seperti biasa, pengajian akan dimulai setelah selesai sholat Zhuhur.
Suasana yang tadinya ramai kini mendadak berubah tenang saat seorang pria berdiri lalu melangkah mendekat kearah mikrofon. Layaknya seorang Muazdin pada umumnya, pria itu menempelkan alat kecil ditelinganya, lalu bersiap siap untuk mengumandangkan azhan.
Kedua mata Akia sedikit menyipit, merasa seperti mengenal punggung tegap sang muazdin. Terlintas nama Azriel di kepala nya, namun buru buru dibuangnya pemikiran itu.
Ah, mana mungkin pria itu disini, aku terlalu berhalusinasi, tapi entah kenapa akhir akhir ini aku selalu memikirkannya.
"Sya, kau tahu katanya ustazd yang dijadwalkan untuk ceramah di pengajian ini tidak jadi datang karena ada halangan yang mendadak. Dan katanya lagi, beliau digantikan sama putranya yang denger denger masih muda dan sangat tampan. Bahkan nih katanya selain jadi ustazd, anaknya ini adalah seorang pengusaha sukses juga loh. Aaahh senangnya jika aku bisa berkenalan dengannya." Cicit Pipit dengan mata terpejam membayangkan sosok yang dia sendiri belum mengetahui wajahnya.
Plak
Pipit meringis saat Akia memukul lengannya.
"Hentikan pikiran kotormu itu, Ck kau ini di kepalamu yang ada hanyalah pria saja. Sudah jangan berisik, tuh sudah mau azhan." Ketus Akia tanpa mengindahkan Pipit yang cemberut.
Sementara Ustazhah Syifa hanya menggelengkan kepalanya melihat kedua juniornya yang selalu berdebat jika sudah bersama. Semenjak dari seorang pelajar sampai menjadi pengajar, kedua gadis itu memang selalu memperdebatkan sesuatu yang bahkan tidak penting untuk didebatkan.
"Ekhem."
Suara deheman dari sang muazdin membuat kedua gadis itu sontak terdiam. Pasalnya saat ini semua mata memandang kearah mereka. Maklum, suara keduanya terdengar sangat keras saat dimana semua para jamaah sedang terdiam. Akia yang merasa malu hanya bisa menunduk sembari menutupi wajahnya dengan mukena. Sedangkan Pipit, gadis itu tersenyum kikuk sembari mengatupkan kedua tangannya didada dengan gerakan memutar badan.
(*٢x) اَللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar (2x)
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar*
Deg
Deg
Deg
Akia tersentak, seketika mendongakkan kepalanya memandang punggung sang muazdin. Jantungnya berdegup sangat kencang bahkan suaranya yang sangat bergemuruh begitu dia rasakan. Wajah putihnya memucat dengan keringat yang mulai keluar.
Entah saking bahagia ataupun gugup, gadis itu mendadak membeku dengan keterdiamannya. Pikirannya kalut, dengan sekuat tenaga dia menelas salivanya yang terasa kering.
__ADS_1
Suara itu...
TBC