
Hamparan ilalang tinggi membentang luas ditengah padang rumput yang berwarna hijau. Hembusan angin yang terasa sejuk dan menyegarkan membuat rumput ilalang itu bergoyang seirama.
Ustazhah Syifa mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencoba mencerna dalam hati tempat yang begitu asing baginya.
Aku dimana ? Kenapa tempatnya sangat indah sekali.
Wanita itu terus melangkahkan kakinya semakin masuk kedalam taman tersebut. Ada desiran rasa aneh didalam hatinya tapi begitu nyaman dan kedua kakinya seolah merasa ringan untuk digerakkan.
Ustazhah Syifa masih terus melangkah mencoba mencari jalan keluar siapa tahu dia bisa menemukan sesuatu. Dahinya semakin berkerut saat merasa tempat itu sangatlah luas dan tiada berujung. Lelah, hampir putus asa karena tidak jua menemukan jalan keluar, wanita itu ambruk di tanah dengan kaki yang tertekuk.
Aku dimana ini ? Ya Allah berikan perlindunganmu pada hambamu ini.
Disaat hatinya mulai lelah dan putus asa, samar samar dia mendengar sebuah suara memanggilnya.
Kakak
"Sya..." Gumamnya lalu seketika berdiri dan mencari sumber suara tersebut.
Kakak
Suara itu kembali terdengar, Ustazhah Syifa semakin mempercepat langkahnya. Semakin cepat dan bahkan kini dia nampak berlarian menuju suara yang dia yakini itu adalah suara Akia.
Wanita itu terus berlari hingga sampai disebuah bukit yang dikelilingi oleh bunga dari berbagai macam jenisnya. Dibalik bukit itu ada sebuah danau dengan air yang begitu jernih, dan diseberang danau terlihat hutan kecil yang sangat rimbun.
Ustazhah Syifa berhenti sejenak untuk menormalkan nafasnya yang tersengal sengal, keringat mulai membasahi keningnya. Setelah tenang wanita itu kembali berjalan menuju danau tersebut.
Hatinya mendadak senang dengan wajah yang menyiratkan kebahagiaan. Langkahnya kembali bersemangat dengan debaran jantung yang begitu kuat karena rasa bahagia yang menyelimuti hatinya. Pandangannya tertuju pada satu arah, yaitu danau.
Disana tepatnya dipinggir danau tengah berdiri sosok perempuan berbaju putih dengan balutan hijab yang menjuntai kebawah hingga hampir menutupi seluruh tubuhnya. Tubuh gadis itu nampak bersinar terang membuat Ustazhah Syifa sedikit menutupi matanya.
Saat dia sudah berada dibelakang perempuan itu, tiba tiba sosok itu berbalik menatap dirinya dengan senyuman indah menghiasi bibirnya.
"Kakak, aku sudah lama menunggumu, kau lama sekali."
"Sya.." Panggil Ustazhah Syifa pada sosok gadis didepannya yang ternyata adalah Akia.
Masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya, gadis itu mengulurkan tangannya pada wanita tersebut.
__ADS_1
"Ayo kak, kita pergi dari sini." Ajaknya yang langsung disambut cepat oleh ustazhah Syifa.
Keduanya berjalan dengan perasaan tenang, melewati jalan yang tidak dia kenal. Bahkan wanita itu sedikit menyipitkan kedua matanya saat gadis itu menuntunnya kearah jalan yang dipenuhi oleh sinar yang terlalu menyilaukan matanya.
"Sya..."
Wanita itu terbangun dari tidurnya dengan nafas yang tersengal sengal. Peluh membasahi wajahnya, dengan cepat wanita itu mengucapkan istighfar.
"Astaghfirullah..Ya Allah aku bermimpi yang sangat aneh. Apa artinya mimpiku ini ? Kenapa aku memimpikan Akia ? Apa aku begitu merindukannya." Gumamnya lirih dengan nafas yang mulai terlihat tenang.
Diliriknya jam yang menempel didinding, waktu masih menunjukkan Pukul 2 dini hari. Masih sangat pagi sekali, dengan perlahan wanita itu beranjak dari ranjangnya dan keluar kamar, menuju kearah kamar mandi.
Sepuluh menit berlalu wanita itu kembali lalu segera membentangkan sajadahnya untuk melepaskan rindu hatinya pada sang Kholiq. Sang pencipta semesta alam, dengan khusyu Ustazhah Syifa mulai melaksanakan sholat sunnahnya.
***
Akia menatap takjub rumah yang berdiri dengan sangat kokoh yang ada didepannya. Mereka sudah sampai dirumah Azriel ketika waktu menunjukkan pukul 8 malam.
Gadis itu benar benar merasakan takjub yang luar biasa dengan dekorasi dan penataan yang ada dirumah tersebut. Memang jika dibandingkan dengan mansion mewah milik keluarganya, rumah Azriel sangatlah kalah.
Tapi rumah pria itu juga tidaklah kecil, lihat saja halaman yang sangat luas, dengan sebuah taman yang ada disudut pojokan sana, dan kolam hias dengan batu besar berdiri tegak ditengah tengah kolam, dengan aliran air yang membasahi batu lebar itu dan semburan air mancur kecil yang mengelilingi kolam tersebut, menimbulkan kesan mewah dan elegan.
"Ini rumahmu mas ?" Tanya gadis itu polos.
Azriel mengernyit mendengar pertanyaan istrinya yang terkesan polos. Tapi beberapa detik kemudian pria itu tergelak.
"Jika aku membawamu kesini itu berarti rumah ini adalah milikku sayang. Kau begitu terpesona sampai tidak sadar jika air liurmu menetes." Goda pria itu.
Akia sontak mengusap bibirnya, merabanya mencoba mengusap air liurnya.
Azriel makin tertawa melihat sikap polos istrinya. Membuat Akia langsung cemberut dengan wajah merah menahan malu.
"Kau kembali mengerjaiku mas ? Ck menyebalkan." Dengusnya lalu melangkah masuk meninggalkan suaminya yang masih tertawa. Saat ini mereka masih berada diluar rumah setelah Rio mengantarnya lalu segera pergi setelahnya.
Akia terus melangkah menuju pintu lalu masuk kedalam pintu yang sudah terbuka. Melempar senyum pada semua orang yang nampak berbaris menyambut kedatangannya.
"Assalamualaikum." Salamnya dengan senyum menghiasi bibirnya.
__ADS_1
"Waalaikum salam, selamat datang dirumah anda Nyonya." Sapa salah seorang art dengan sedikit membungkukkan badannya.
Akia menatap pria paruh baya didepannya lalu menganggukkan kepalanya dengan ramah.
"Jangan memberi hormat padaku pak, dan panggil saya dengan sebutan Kia saja." Pintanya pada semua art suaminya.
Pria paruh baya itu hanya menatap bingung pada nyonya barunya, ada rasa sungkan untuk menuruti kemauan sang nyonya rumah.
"Tidak apa apa pak Mun, turuti saja apa permintaan istri saya." Suara bass itu terdengar membahana disana.
Serentak semua memandang kearah asal suara, dan mereka melihat sang tuan rumah yang berjalan menuju kearah mereka.
"Baik Tuan."
Azriel tersenyum manis sembari meghampiri istrinya yang saat ini tengah terpesona dengan seyumannya. Pria itu menahan tawanya melihat sang istri yang tidak berkedip memandangnya. Merangkul mesra pinggang Akia sembari memberi isyarat pada seluruh artnya untuk meninggalkan mereka berdua.
Setelah kepergian semua artny, Azreil kini memandang wajah Akia yang masih terbengong menatap wajah suaminya.
"Mengagumiku Nyonya ?" Tanyanya dengan gerakan cepat mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.
"Aaaahhkk.." Akia memekik keras saat merasa tubuhnya melayang di udara, dengan cepat gadis itu mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh suaminya.
"Mas turunin, aku bisa jalan sendiri." Protesnya sembari mengeratkan pelukannya.
Azriel tertawa sembari mengedipkan sebelah matanya.
"Menunggumu jalan sendiri besok pagi baru sampai dikamar Sya. Suamimu memang tampan dan berkharisma, sampai kamu saja meleleh melihat mas yang hanya tersenyum. Bagaimana jika kau melihat semua yag mas miliki ? mas tidak bisa membayangkannya." Goda Azriel dengan tawa yang ditahannya.
Akia terperangah lau beberapa detik kemudian gadis itu membenamkan kepalanya di dada bidang Azriel. Dia merasa malu sekali karena kepergok mengagumi suaminya. Azreil tidak bisa lagi menahan tawanya melihat rona merah dipipi istrinya.
Cklek
Pintu kamar terbuka, Azriel masuk kedalam dengan Akia yang masih ada dalam gendongannya. Lalu pria itu menurunkan dengan hati hati tubuh istrinya.
Akia memandang takjub sekeliling kamar yang nampak dihias dengan begitu indahnya. Ranjang king size yang diatasnya ditaburi kelopak bunga mawar merah dan membentuk tanda love ditengahnya. Pandangan gadis itu masih memutar hingga dia berhenti tepat pada salah satu titik. Mulut gadis itu sampai terbuka, karena rasa haru yang memenuhi relung hatinya.
"Mas.." Suaranya tercekat dan tidak mampu keluar dari tenggorokan nya.
__ADS_1
"Kamu suka ?" Bisik pria itu sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.
TBC