
Malam semakin larut namun kedua mata gadis itu masih enggan untuk terpejam. Pikirannya mengembara jauh memikirkan hari esok. Akan kemana dia mencari pekerjaan, dia tidak mungkin untuk lama lama menganggur.
Akila beranjak bangun dari tidurnya kemudian duduk bersender di tembok. Tangannya meraih ponselnya lalu membuka aplikasi M-Banking nya.
Helaan nafas dia keluarkan dari hidungnya saat melihat deretan jumlah angka uang yang selama 3 tahun lebih dia kumpulkan. Ada hampir sekitar 100 juta uang yang ada ditabungannya. Namun uang itu adalah uang khusus unyuk biaya sekolah adiknya, Amanda sampai kuliah.
Apa yang harus aku lakukan ? Aku takut untuk menggunakan uang ini, tapi jika tidak aku gunakan darimana aku membiayai kehidupan kami sehari harinya.
Akila memijit keningnya yang terasa pening, lalu kembali gadis itu menghela nafas panjang.
"Aku harus cepat cepat mencari pekerjaan baru, jangan sampai ibu curiga kalau aku sudah tidak bekerja di kantor Tuan Aryan." Gumamnya dengan suara pelan.
Akila mendesah dengan mata yang terpejam.
Ya Allah aku tahu engkau tidak akan pernah memberi cobaan pada hambamu melebihi batas kemampuanku. Maka dari itu aku akan menerima cobaan ini dengan ikhlas ya Allah. Aku yakin Engkau telah menyiapkan sesuatu yang indah untukku.
Suara dering ponselnya terdengar menandakan ada pesan yang masuk kedalam benda pipih tersebut. Jantung gadis itu mendadak bergetar saat melihat inisial sang pengirim pesan.
"Kak Akia ?" Gumam Akila lirih.
Dengan hati yang dag dig dug gadis itu membuka pesan yang dikirim oleh kakak angkatnya itu.
💬 Assalamualaikum..Akila kakak dengar kamu mengundurkan diri dari kantor papa. Apa terjadi sesuatu Kila ? Ini seperti bukan dirimu saja.
Dengan hati berkecamuk Akila membalas pesan kakak angkatnya itu.
💬 Tidak terjadi apapun kak, aku baik baik saja. Kila hanya ingin menemani ibu saja dirumah, kasihan ibu sudah semakin tua jadi waktunya Kila menjaga ibu.
Pesan terkirim tapi belum dibaca oleh Akia, membuat gadis itu kembali meletakkan ponselnya diatas nakas.
Ting
💬 Aku ingin bertemu denganmu besok direstoranku Kila. Aku harap kamu datang.
Akila menghela nafas, lalu menyenderkan kepalanya didinding.
Tidak, aku tidak ingin berurusan lagi dengan keluarga Khanza, apalagi dengannya. Sudah cukup aku selalu membuat repot kak Kia dengan segala keluh kesahku. Kini saatnya aku harus memulai hidupku sendiri dengan usahaku sendiri.
Akila kembali merenung dalam kesunyian malam yang semakin larut. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tapi ingatannya masih melayang pada kejadian siang tadi dikantornya. Dimana dia memutuskan untuk pergi dari perusahaan K.Z.Group.
__ADS_1
Flashback On
Pagi itu Akila nampak menimang nimang amplop cokelat yang ada ditangannya. Perasaan resah namun lebih dominan ke rasa takut memenuhi hatinya. Bukan takut karena akan dimaki maki ataupun dibentak bentak seperti biasanya. Tapi rasa takut akan ditolaknya kembali surat pengunduran dirinya yang entah sudah keberapa kalinya.
Ya, amplop cokelat itu berisi surat pengunduran dirinya yang selalu ditolak oleh Dhafa dengan alasan jika dia belum mendapatkan sosok pengganti yang sesuai seperti Akila. Alasan yang tidak logis sebenarnya, tapi entah kenapa Akila merasa jika pria itu hanya mencari cari alasan saja dan tidak berniat untuk mengabulkan keinginannya.
Akila menghela nafas panjang lalu mengeluarkannya kasar. Tekad gadis itu sudah bulat, dan dia harus bisa keluar dari kantor ini, jika perlu hari ini juga. Gadis itu sudah tidak tahan lagi dengan sikap Dhafa yang masih saja terlihat dingin dan ketus padanya.
Walaupun jujur dia menyukai pria dingin itu, tapi jika setiap hari selalu dimaki dan dihujat, pertahanannya lama lama akan roboh. Dia hanyalah seorang wanita yang mudah untuk menangis jika hatinya tersakiti. Bahkan pria itu masih saja menganggapnya seorang pengkhianat karena bersekongkol saat menghilangnya Akia dulu, padahal kejadiannya sudah sangat lama, dan Dhafa pun tahu cerita yang sebenarnya.
Namun tetap saja pria itu selalu menyalahkan dirinya seakan akan dia yang mengusulkan rencana kaburnya Akia waktu itu.
Akila sudah tidak tahan lagi, menerima makian demi makian dari orang yang sangat dicintainya, tentu saja membuat hatinya sangat sakit. Namun lagi lagi gadis itu hanya bisa menutupinya dengan senyuman palsunya.
Akila berdiri lalu menatap ruangan yang pintunya tertutup rapat. Kembali menghirup udara panjang panjang lalu menghembuskannya lagi. Begitu terus dia ulangi sampai pada akhirnya keberaniannya sudah bulat.
"Bismillahirrohmanirrohim." Gumamnya membaca basmallah.
Akila sudah berdiri didepan pintu ruangan presdir lalu dengan hati yang mantab gadis itu mengetuk pelan pintunya.
Tok
Tok
Tok
Suara dingin khas milik Dhafa terdengar membuatnya kembali merasakan getaran hebat dijantungnya. Perlahan dibukanya pintu itu, dan pemandangan pertama yang dia lihat adalah sosok pria yang sangat tampan dengan tingkat fokusnya yang begitu tinggi menatap layar laptopnya.
"Apa kamu kesini hanya untuk berdiri disana dengan terus memandangku seperti itu. Jika benar keluar dan tutup pintunya." Akhirnya suara dingin dan pedas itu kembali terdengar, membuat Akila merasa gugup.
"Maaf Tuan."
"Ada apa." Tanya Dhafa tanpa mengalihkan pandangan matanya dari layar laptopnya, tapi siapa tahu jika sebenarnya pria itu menatap dalam wajah gadis didepannya yang terlihat sangat gugup.
Melihat Akila yang masih diam mematung, membuat Dhafa menghela nafas panjang namun tidak sampai membuat Akila tersadar.
"Kuberi waktu sepuluh menit, jika dalam waktu sepuluh menit kamu masih diam, lebih baik keluar dari ruanganku. Aku tidak punya waktu banyak untuk meladeni seorang pengkhianat sepertimu." Kembali ucapan Dhafa terdengar pedas dan tajam menusuk hati Akila.
Akila memejamkan matanya, sungguh hatinya terasaa perih, bahkan kedua matanya nampak berkaca kaca. Hal inilah yang semakin membuatnya membulatkan tekad untuk pergi dari kantor ini.
__ADS_1
Tidak ingin mendengar ucapan pedas lagi, Akila langsung melangkah masuk lalu tanpa permisi dia memberikan amplop miliknya pada Dhafa.
Terlihat Dhafa melirik sekilas lalu kembali menatap layar didepannya. Sebenarnya pria itu sudah bisa menduga apa isi didalam amplop itu, hanya saja seperti biasa dia pura pura tidak tahu.
"Apa itu." Tanyanya dingin seperti biasanya.
"Ini surat pengunduran diri saya Tuan."
Dhafa mendesis lalu menatap tajam Akila. Tersenyum miring saat melihat raut wajah Akila yang terlihat tenang kali ini.
" Percuma Akila karena seperti biasa aku tidak akan pernah menandatangani surat bodoh itu sebelum aku mendapatkan pengganti yang cocok untukku."
Akila tersenyum kecut, karena seperti biasa dia selalu mengalami hal seperti ini.
"Anda orang yang hebat Tuan, saya rasa akan sangat mudah bagi anda mendapatkan pengganti saya dalam waktu yang singkat. Lagipula ada asisten Rama yang dengan sigap bisa membantu pekerjaan anda."
Dhafa mengepalkan kedua tangannya kuat, rahangnya mengeras.
"Siapa kamu berani mengaturku, kamu hanya sekretarisku dan seorang...."
"Pengkhianat, itu yang ingin anda katakan bukan Tuan. Jadi saya mohon beri kesempatan pada pengkhianat ini untuk mengundurkan diri dari perusahaan ini. Jika anda menadatangani surat pengunduran diri saya, itu akan memudahkan saya untuk mencari pekerjaan ditempat lain." Ucapnya memotong cepat perkataan Dhafa.
Dhafa tertawa keras namun sarat akan ejekan pada gadis itu. Lalu pria itu menatap tajam gadis didepannya yang masih tetap berdiri tegap dengan mata yang menjurus kearahnya. Namun detik berikutnya gadis itu nampak menundukkan kepalanya, tubuhnya terlihat sangat gemetar menahan tangis, dan itu tidak luput dari penglihatan Dhafa.
"Kamu begitu sombong dan percaya diri hingga berani keluar dari perusahaan ini. Memang apa yang kamu miliki hingga dengan santainya kamu berkata akan melamar diperusahaan lain hah. Kamu harus ingat, dulu kamu masuk keperusahaan ini saja karena rekomendasi dari adikku Akia, jika saja bukan karena dia aku tidak akan menerima gadis bodoh sepertimu untuk menjadi sekretarisku." Ucap Dhafa dengan kata kata yang menusuk tajam.
Akila mencoba memberanikan dirinya menatap wajah tampan didepannya ini. Wajah yang selama ini memenuhi ruang hatinya, dan wajah orang yang juga berkali kali membuat harga dirinya jatuh.
Akila tersenyum miring, melihat bagaimana angkuhnya pria didepannya.
"Karena saya bodoh maka tolong dengan segenap hati Tuan menandatangani surat pengunduran diri saya, dan biarkan saya pergi dari sini. Maaf sudah membuat anda repot dengan tingkah saya selama ini."
Dhafa semakin menggeram. " Kamu berani mengaturku."
Akila menghela nafas. " Tuan saya sudah sangat lelah berdebat dengan anda. Sekarang tanpa atau dengan ijin anda saya akan tetap mengundurkan diri saya. Saya ucapkan terima kasih karena sudah menerima orang bodoh ini bekerja di perusahaan anda dan saya permisi undur diri."
Akila berbalik lalu tangannya meraih handle pintu, namun baru saja pintu terbuka dan belum sempat kakinya melangkah keluar, suara berat Dhafa kembali terdengar.
"Sekali kamu melangkah satu langkah dari ruanganku, maka aku akan selamanya menganggapmu sebagai pengkhianat Akila. Dan kamu tahu apa konsekuensinya sebagai pengkhianat. Dia akan dicoret bahkan perusahaan akan membuat daftar hitam supaya kamu tidak akan diterima diperusahaan manapun."
__ADS_1
Akila kembali menghela nafas panjang, hatinya sudah bulat lalu dengan pasti gadis itu meneruskan langkahnya keluar dari ruangan presdir meninggalkan Dhafa yang nampak terlihat sangat marah.
TBC