
Akia melirik sosok pria yang sedang berdiri disampingnya tanpa berniat untuk menyapanya. Bibirnya membisu namun detak jantungnya kembali bergemuruh. Perasaan hatinya bercampur aduk menjadi satu, antara rasa senang, sakit ,sesak dan perasaan kecewa. Dia sendiri bingung kenapa dengan hatinya.
"Aku senang akhirnya bisa bertemu denganmu Sya. Kau begitu banyak berubah." Ucap Azriel memecah kesunyian diantara mereka.
"Ekhem..maaf Tuan Azriel saya rasa anda tidak pantas berada disini. Saya tidak ingin menimbulkan fitnah yang tidak enak diantara kita, mengingat status anda yang sebentar lagi akan menikah. Jadi saya pikir..."
"Apa statusku lebih penting daripada perasaanmu padaku Sya ?" Potong Azriel dengan tatapan tidak suka saat gadis disampingnya mengucapkan kata yang tidak dia inginkan.
"Maaf, aku hanya tidak ingin membuat calon istrimu merasa jika ada sesuatu diantara kita." Ucapnya lirih namun masih bisa terdengar jelas ditelinga Azriel.
Sementara itu Azriel hanya bisa menghela nafasnya lalu menghembuskannya pelan. Sudut matanya melirik Akia yang nampak mengusap kedua lengannya karena angin yang berhembus semakin dingin.
"Kau tidak pernah berubah, selalu merasa sok kuat padahal kenyataannya tidak." Dengusnya sembari melepas jaketnya lalu memakaikannya pada gadis itu.
Akia terkejut dengan tindakan Azriel, namun gadis itu tetap membisu dengan kedua matanya yang tertuju pada pria tersebut.
Namun sedetik kemudian Akia menunduk saat dia menyadari sikap Azriel yang dingin dan acuh padanya. Entah kenapa dilubuk hatinya gadis itu merasa sakit dengan sikap Azriel yang dingin.
Keduanya kembali membisu, saling berperang dengan perasaannya masing masing.
"Kau tahu Sya aku memang akan menikah, bahkan aku berencana untuk menikah besok dan itupun disini di ponpes Daarul Mukminin." Ucap Azriel kembali membuat Akia tersentak. " Tapi aku bingung..."
Akia menoleh dengan kening yang berkerut, merasa bingung dengan ucapan pria disampingnya. Merasa diperhatikan Azriel hanya tersenyum, senyuman yang selalu dirindukan oleh gadis itu.
"Ya, aku bingung dengan calon istriku. Apa dia sudah pantas untuk aku nikahi, apa dia sudah sempurna untuk bisa menjadi istriku, karena aku menginginkan perempuan yang pantas dan sempurna untuk menjadi istriku. Aku tidak ingin menyesal dikemudian hari." Ucapnya yang langsung mendapatkan pelototan sengit dari Akia.
"Kenapa kau melakukan itu ? Apa kau sendiri sudah merasa sempurna ? Asal kau tahu tidak ada manusia yang sempurna dimata Allah, semuanya sama. Manusia diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing masing, itu supaya sesama pasangan bisa saling melengkapi satu sama lainnya. Kenapa kau mengharapkan seseorang yang sempurna sedangkan sudah jelas tidak ada yang sempurna dimuka bumi ini ?" Sentaknya keras tanpa menyadari jika sindiran Azriel itu tertuju untuknya.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan dirimu sendiri ? Apa kau sudah merasa pantas dan sempurna untuk bisa menjadi istriku Sya ? Bukan kah dulu aku juga sudah mengatakan jika aku menerima semua kekurangan yang ada padamu karena aku pun bukan manusia sempurna ? Aku selalu menunggu jawaban itu darimu."
Akia memucat ingatannya melayang menuju tiga tahun silam saat dia menolak pria didepannya karena merasa dirinya tidak pantas untuk pria tersebut. Gadis itu refleks mundur dengan tubuh yang bergetar hebat. Bahkan air mata nya sudah nampak mengalir dikedua matang.
Azriel yang melihat tubuh Akia yang bergetar hebat nampak sedikit panik. Ingin rasanya dia merengkuh tubuh kecil itu, membawanya kedalam pelukannya.
"Ak-aku..."
"Lalu apa sekarang kau sudah merasa pantas Sya ? Kau membuat hatiku sakit karena penolakanmu waktu itu. Kau tidak tahu bagaimana sedihnya diriku saat aku tidak bisa menemanimu menjalani hari hari beratmu. Aku merasa menjadi pria yang tidak berguna sama sekali. Membiarkan orang yang aku cintai menderita sendirian." Ucapnya sendu yang membuat Akia semakin merasa bersalah.
"Maaf.." Ucapnya lirih, hanya kata maaf yang bisa dia ucapkan.
"Tidak cukup kata maaf untuk menebus kesalahanmu Sya. Kau harus dihukum untuk semua kesalahanmu. Dan aku pastikan kali ini aku tidak akan pernah membiarkanmu kembali pergi."
Akia melongo, pria ini kembali menjadi sosok yang menyebalkan, selalu berbuat seenaknya. Padahal baru saja hatinya merasa tersentuh karena ucapan pria itu, namun lagi lagi ucapannya membuyarkan rasa kagum nya.
Baru saja dia membuat perasaanku melayang, namun tiba tiba dia menjatuhkannya kembali. Menyesal aku sudah mengaguminya tadi. Gerutunya dalam hati.
"Sya." Panggilnya pelan. " Entah ini salah atau benar, ataukah ini terbilang terburu buru, tapi aku sudah tidak ingin lagi kehilanganmu. Sudah cukup selama ini kau pergi jauh dariku."
Akia menatap bingung pria yang saat ini sedang berjongkok tepat dihadapannya. Ditatapnya wajah Azriel dengan cermat, lalu beralih pada sebuah kotak kecil berwarna merah yang ada ditangannya.
"Akia Syakayla Khanza, maukah engkau bersama sama denganku melewati hari hari yang indah berdua. Berdua kita saling menyempurnakan agama kita dalam sebuah ikatan janji suci pernikahan. Melengkapi tulang rusukku dan menjadi ibu untuk anak anakku ?" Ucap Azriel dengan senyuman yang sangat menawan.
Akia menutup mulutnya yang terbuka lebar dengan airmata yang sudah mengalir. Tidak percaya dengan kejutan yang datang tiba tiba dari pria itu. Akankah dia senang ataupun bingung dengan lamaran Azriel.
"Sya.." Panggilnya lagi saat gadis itu masih melamun. " Aku lelah berjongkok lama." Keluhnya memberi isyarat.
__ADS_1
Akia tersadar lalu terkekeh pelan, masih dengan airmata yang mengajak sungai, gadis itu secara perlahan menganggukkan kepalanya. Dia sudah memantabkan hatinya, kali ini sudah tidak ada lagi keraguan. Dia percaya sepenuhnya pada sosok pria yang saat ini sedang berjongkok dihadapannya.
Azriel bernafas lega seakan beban yang selama ini mengganjal hilang sirna. Perlahan pria itu berdiri, melemaskan ototnya yang sedikit kaku karena lama berjongkok tadi.
"Sya, maaf aku tidak bisa memasangkan cincin ini secara langsung. Kau tidak keberatan bukan ?" Ujarnya dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Akia tersenyum simpul, lalu meraih kotak cincin dari tangan Azriel. Kini kedua matanya terbuka lebar saat menatap cincin berlian bermata merah yang terlihat sangat indah.
"Ini..untukku ?" Tanyanya yang diangguki kepala oleh Azriel. " Tapi ini pasti sangat mahal. Aku tidak..."
"Tidak pantas memakainya, begitu ?" Potong Azriel cepat yang langsung membuat akia terdiam.
"Sampai kapan kau akan merasa dirimu rendah dan tidak pantas menerima apa yang memang pantas untukmu Sya ?"
"Maaf." Ucapnya lirih, lalu segera memakai cincin itu dijari manisnya.
Suasana mendadak senyap keduanya larut dalam pikiran masing masing. Entah kenapa situasi kini berubah menjadi canggung.
"Sya."
"Mas."
Serentak mereka saling memandang sebentar lalu tertawa bersamaan. Merasa lucu dengan tingkah masing masing.
"Kau memanggilku mas ?" Tanya Azriel dengan senyuman kecil terbit dibibirmya.
"Aku hanya ingin bersikap sopan saja, bagaimanapun kau adalah calon imamku." Ucapnya dengan wajah yang sudah memerah.
__ADS_1
Sudah kuputuskan untuk berhenti melangkah jauh, apa yang selama ini aku cari pada akhirnya tujuanku adalah dirimu. Terima kasih karena sudah memberikan ku cinta yang begitu indah. Aku menerima mu karena Allah, aku mencintaimu karena Allah. Allah yang menyatukan kita, dan aku berdoa semoga Allah jualah yang nanti memisahkan kita hingga maut menjemput.
TBC