Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Siuman akankah amnesia ?


__ADS_3

Cklek


Pintu itu akhirnya terbuka setelah hampir 7 jam lamanya tertutup. Gurat wajah lesu Dan lelah seorang dokter terlihat jelas disana. Kemunculan sang dokter tentu saja membuat perasaan mereka yang disana bercampur aduk, antara Senang dan gusar.


Akia langsung terlonjak bangun dari duduknya saat sang dokter baru saja keluar dari ruangan yang didalamnya ada suami tercintanya. Memberondong dokter itu dengan segudang pertanyaan mewakili semua orang yang ada disana.


Melihat sang menantu yang sangat antusias sekali membuat ummi Hana semakin merasa sedih. Dapat dia lihat bagaimana rapuhnya sang menantu saat melihat kondisi putranya.


"Nak, tenanglah sayang. Biarkan dokter dengan tenang menyampaikan kondisi Azriel saat ini." Lembut suara Ummi Hana begitu terdengar dielinga gadis itu.


"Maaf Ummi, Akia hanya khawatir dengan keadaan ma's Azriel." Ucapnya lirih.


Ummi Hana mengulum senyum dengan tangan yang mengelus pucuk kepala menantunya.


"Kita serahkan Sama Allah, berprasangka yang baik padaNya. Kita harus yakin dengan keajaiban yang pasti Allah berikan pada kita."


Akia mengangguk dengan gerakan yang lemah. Memberikan ruang pada dokter untuk menjelaskan kondisi terkini pria yang saat ini tengah berbaring diruang ICU.


Dokter menatap satu persatu wajah didepannya yang saat ini sedang harap harap cemas menunggu kabar darinya. Helaan nafas panjang yang keluar dari hidung sang dokter ikut menjelaskan bahwa situasi saat ini sedang tidak kondusif.


"Dokter tolong jelaskan pada kami bagaimana kondisi menantu kami." Tegas suara Tuan Aryan menimpali ucapan besannya.


"Kondisi pasien saat ini sudah melewati masa kritisnya." Ucap sang dokter yang langsung disambut wajah ceria semua orang disana.


"Tapi..."


Wajah wajah yang baru saja ceria kini kembali berubah pias saat dokter kembali melanjutkan ceritanya.


"Benturan dikepalanya begitu keras sehingga membuatnya kehilangan banyak darah. Beruntung stok darah dirumah sakit ini cukup untuk menyelamatkan nyawa pasien. Saat ini kondisi pasien masih dalam keadaan koma."

__ADS_1


"Astaghfirullah hal azdhim.."


"Inalillahi wa inna ilaihi rojiun.."


Serempak mereka mengucap istighfar dan menyebut asma Allah. Meminta ampun atas segala dosa dan mohon diberikan perlindungan.


Akia kembali lemas mendengar pernyataan dokter, tubuh gadis itu terkulai lemas dikursi tunggu.


"Ada satu hal lagi yang harus saya katakan Tuan." Ucap Dokter itu sedikit ragu.


"Katakan dokter, kami akan berusaha ikhlas menerimanya. Bahkan kabar buruk sekalipun." Sahut Kyai Ahmad dengan wajah yang sangat tenang, padahal didalam hatinya tersirat kesedihan yang sangat mendalam.


Dokter nampak menghela nafass panjang.


"Karena benturan yang sangat keras dibagian kepalanya, membuat area otak yang biasa disebut dengan Hippocampus mengalami kerusakan. Dan Karena kerusakan tersebut saya bisa menyimpulkan kondisi pasien saat ini tengah mengalami amnesia. Hanya saja berhubung pasien kasih dalam koma, kami masih belum bisa memastikan jenis amnesia yang diderita pasien. Kita berharap semoga semuanya membaik seperti semula."


Semua yang disana tidak ada satupun yang bisa mengeluarkan suaranya. Semuanya diam terpaku ditempatnya, bahkan Akia seakan seperti layaknya mayat hidup. Pandangan gadis itu terlihat sangat kosong kedepan.


"Sabar Sya, istighfar ya..Allah pasti punya rencana yang sangat indah dibalik semua kejadian ini. Tetap berkeyakinan penuh pada Allah ya."


Akia mengangguk dengan isakan tangis yang terdengar lirih. Tuan Aryan yang melihat bagaiman hancurnya putri semata wayangnya, tidak kuat lagi untuk menyembunyikan perasaan lukanya.


Bergerak cepat kearah istri dan anaknya lalu memeluk keduanya dengan erat. Tidak Ada yang diucapkan pria itu, hanya sebuah pelukan untuk menyemangati putrinya.


"Tenang ya sayang, ada papa dan mama disini bersamamu nak." Bisiknya ditelinga Akia.


Setelah bisa mengontrol emosinya, gadis itu lalu melangkah mendekati sang dokter yang saat ini tengah berbincang dengan Dhafa dan Rio.


"Dokter.." Panggilnya lirih. " Bolehkah saya melihat suami saya." Sambungnya.

__ADS_1


Dokter mengangguk pelan setelah mendapat kode dari Tuan Aryan. Mempersilahkan gadis itu menuju ruang ICU tempat dimana Azriel terbaring dengan berbagai peralatan rumah sakit yang menempel ditubuhnya.


Akia melangkah menuju dimana saat ini suaminya tergeletak tak berdaya diranjang rumah sakit. Tangis yang dia tahan sedari tadi saat melangkah masuk keruangan kini tidak bisa dia kendalikan lagi. Gadis itu menangis pilu dengan tangan yang menggenggam erat lengan suaminya.


"Mas..bangunlah. Kenapa kau membiarkan aku sendirian disini. Aku tidak sanggup jika harus kehilangan dirimu lagi. Apa ini hukuman untukku Karena dulu pernah menolakmu dan juga meninggalkanmu mas. Kau boleh menghukumku, tapi jangan dengan cara seperti ini. Aku mohon bangunlah, dan hukum aku sesukamu. Aku pasti akan menerima dan menuruti semua keinginanmu."


Akia masih tersedu dengan hati yang sangat hancur. Bathinnya pilu melihat kondisi suaminya yang tidak berdaya dengan kedua mata yang terpejam.


"Aku sangat mencintaimu mas, kau ingin mendengar aku mengatakan semua isi hatiku kan. Aku akan mengatakannya setiap hari tanpa jeda asalkan Kau segera kembali disini. Aku sangat mencintaimu hingga rasanya hatiku ikut hancur melihat pemderitaanmu. Baru saja kita menjalani kehidupan yang bahagia, dan sekarang kau meninggalkanku sendiri disini."


Akia menenggelamkan kepalanya didada bidang suaminya. Sesekali dia mengecup seluruh wajah suaminya dengan berbisik pelan ditelinganya.


"Pulanglah mas aku akan menuntunmu. Akan aku lantunkan nyanyian terindah yang pasti akan membuatmu senang."


Akia lalu membenarkan posisi duduknya, tangannya meraih sebuah benda kecil yang ada ditasnya yang selalu dia bawa kemanapun dia pergi. Dengan suaranya yang indah, Akia melantunkan surat Ar-Rahman dengan nada pelan dan halus. Dengan harapan Azriel bisa mendengarnya dan Allah memberi keajaiban pada suaminya.


Cukup lama gadis itu mengaji disamping suaminya, bahkan bukan hanya sekali. Akia selalu mengulang bacaannya sampai beberapa kali hingga membuat gadis itu kelelahan dan akhirnya tertidur dengan posisi memeluk alquran kecil yang dia pegang. Sementara tangan kanannya menggenggam erat telapak tangan suaminya seakan tidak ingin terlepas dari genggamannya.


Pagi menjelang dan matahari mulai memancarkan sinarnya hingga hari yang tadinya gelap kini berubah menjadi terang. Ruangan ICU dimana Akia terbaring dengan posisi duduk memeluk tubuh suaminya kini mulai terang karena sinar matahari yang masuk melalui celah celah diruangan tersebut.


Tubuh lemah itu masih saja terpejam dengan wajah yang terlihat sembab dan mata yang sedikit membengkak karena saking lamanya dia menangis.


Sementara pria yang masih terpejam itu sedikit demi sedikit mulai menggerakkan jemari tangannya. Dari satu jemari hingga jemari lainnya. Dan kali ini bukan hanya jemarinya, tapi kedua mata itu secara perlahan membuka.


Kedua matanya nampak mengerjap menyesuaikan sinar matahari yang nampak menyilaukan matanya. Keningnya sedikit berkerut saat merasa ada sesuatu yang menimpa tubuh bagian kanannya.


Kepalanya menoleh kearah kanan, mematap kepala yang tertutup balutan hijab. Tangannya membelai lemas kepala itu hingga membuat sang empunya terbangun Karena sedikit terusik.


Mata indah itu mengerjap pelan, namun sedetik kemudian berubah menjadi tatapan melebar. Pandangannya tertuju lurus pada sosok didepannya dengan pandangan yang tidak percaya. Hingga pada akhirnya pekikan pelan namun penuh dengan sarat kebahagiaan terpancar jelas disana.

__ADS_1


"Mas..alhamdulillah kamu udah sadar."


TBC


__ADS_2