
Tes
Bunyi setetes darah yang jatuh kelantai mengiringi heningnya suasana didalam ruangan tersebut. Mata Azriel melebar dengan sempurna, begitupun dengan Marco. Pria itu terkejut melihat aksi gadis didepannya yang bergerak secara tiba tiba. Tangannya mengusap pipinya yang terasa perih karena goresan peluru yang menyerempetnya.
Marco menggeram, suasana hatinya berubah jelek. Kedua tangannya terkepal kuat pertanda jika saat ini amarah menguasai hatinya.
"Kau ! Beraninya melukai wajahku." Umpatnya pada gadis didepannya sembari membersihkan darah yang mengalir diluka goresan akibat ulah gadis itu.
"Itu peringatan kedua untukmu karena tidak mengindahkan perkataanku. Beruntung aku hanya melukai pipimu, tapi bisa saja aku mengambil nyawamu detik ini juga jika kau terus saja berbuat sesukamu."
Akia meniup ujung pistolnya sembari menyeringai melirik sinis kearah Azriel. Beruntung dia datang tepat waktu, jika tidak sudah dipastikan dia akan kehilangan Rio yang pasti akan membuat Azriel menyesal seumur hidup.
Flashback on
Setelah turun dari mobil Azriel, Akia berjalan masuk kedalam rumah sakit. Namun baru saja dia sampai didepan ruangan dimana Luna dirawat, gadis itu menghentikan niatnya untuk masuk dan malah berbalik kembali pulang, setelah Beberapa saat yang lalu menerima panggilan telepon. Tujuannya saat ini adalah mansion milik papanya.
Dengan mengendarai ojek gadis itu meminta sang driver untuk mempercepat kendaraannya. Namun karena merasa jika laju motornya masih berjalan agak lambat, gadis itu meminta sang driver untuk berhenti sejenak lalu menggantikannya untuk memegang kendali.
Mengabaikan suara teriakan ketakutan sang driver, Akia melajukan motor dengan kecepatan super tinggi. Dan hanya selang 10 menit gadis itu sudah sampai dimansion papanya dengan sang driver yang sudah menggigil dengan wajah yang begitu pucat. Perjalanan yang seharusnya dilalui dengan waktu 25 menit, tapi gadis itu berhasil menjangkaunya dalam waktu yang sangat singkat.
Akia tersenyum melihat sang driver yang sedang terduduk ditanah dengan wajah pucat dan keringat dingin merembes dikeningnya. Merasa bersalah gadis itu membuka tasnya lalu memberikan beberapa lembar uang pada sang driver.
"Mas makasih ya,,maaf sudah membuat anda jadi takut. Ini ada sedikit rezeki, terimalah. semoga bermanfaat." Ucapnya lalu memberikan lembaran uang itu demgan senyuman merekah dibibirnya.
Dengan tangan gemetar sang driver menerima pemberian Akia dengan sedikit ragu. Namun karena gadis itu yang begitu kuat meyakinkannya, akhirnya dia menerima uang itu dengan hati yang berbunga. Sedikit terkejut saat menghitung jumlah uang yang ternyata sebesar 2 juta rupiah. dengan cepat driver tersebut langsung sujud syukur atas rezeki yang dia dapat.
Tersadar driver tersebut hendak kembali mengucapkan terima kasih, namun diurungkannya saat melihat gadis itu sudah masuk kedalam mansion. Dengan tubuh yang masih gemetar, driver ojek itu kembali melajukan motornya dengan kecepatan rendah.
Sementara Akia saat sampai didalam mansion, gadis itu langsung menuju kegarasi. Membuka penutup sebuah benda yang tersimpan rapi disana.
Akhirnya aku kembali menggunakanmu lagi Black. Bathinnya sembari membelai kedua motor besarnya. Kali ini dia ingin menggunakan si Black untuk menyusul suaminya.
__ADS_1
"Black, aku percayakan padamu. Tolong bantu aku kali ini." Gumamnya lalu mulai menstater motornya dan langsung bergerak melesat perlahan keluar dari mansion. Sesampainya diluar pagar gadis itu langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Beruntung kali ini dia memakai celana jins dan kaos panjang, sehingga tidak membuat semua geraknya menjadi susah.
Pak Min yang heran hanya bisa melihat kepergian nona mudanya dengan perasaan berkecamuk. Jujur ada ketakutan didalam hatinya saat melihat nonanya kembali menaiki motor besarnya. Namun seperti biasa sekurity itu hanya bisa mempercayai jika sang nonanya tidak akan pernah kembali kemasa lalunya yang kelam.
Flashback of
Akia menatap sinis Marco yang saat ini tengah berjalan kearahnya. Dengan santai gadis itu berjalan menghampiri Rio yang saat ini masih terkejut dengan kedatangannya.
"Kau tahu Marco, bukan hanya melukai wajahmu, bahkan aku bisa mengambil nyawamu detik ini juga. Bagiku sangatlah mudah untuk menghabisi seseorang. Bukankah sudah kukatakan sebelumnya jangan pernah mendekati keluargaku jika kau masih menyayangi nyawamu. Apa tidak cukup dengan kirimanku tempo hari ?" Ucapnya santai tapi mengandung makna yang sangat dalam.
Marco membelalakkan matanya mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Kejadian saat dia mendapatkan kiriman sebuah paket misterius. Didalamnya terdapat sebuah benda yang sangat misterius dengan secarik kertas yang berisi surat peringatan.
"Jadi kaulah pelaku yang menerorku beberapa hari yang lalu ?"
"Bukan menerormu, lebih tepatnya memberikanmu sebuah peringatan." Ketus Akia dingin.
Marco menggeram, langkahnya semakin cepat menuju Akia. Namun gerakan langkahnya terhenti saat tangannya dicekal oleh Azriel. Pria itu memberikan isyarat untuknya supaya dia mundur.
"Jangan terlalu percaya diri, aku kesini hanya untuk menyelamatkan seseorang yang sangat berharga untuk suamiku. Aku tidak ingin dia menyesal, karena akibat dari hasutan seseorang, membuatnya kehilangan sosok sahabat sekaligus saudaranya." Dengus Akia dengan kasar.
Gadis itu melempar pistol kearah Azriel setelah sebelumnya membuang semua pelurunya.
"Kali ini cobalah gunakan hatimu bukan otakmu. Berpikirlah dengan jernih, dan tanyakan pada hatimu, apa benar Rio sudah berkhianat padamu. Jangan sampai aku memukul keras kepalamu itu supaya kau kembali pulih dari amnesiamu itu." Ucapnya lagi, kali ini gadis itu merasa geram akan tingkah suaminya yang dengan mudahnya bisa termakan omongan Marco.
"Ayo kita pergi Yo, tidak ada gunanya kita berada disini bersama dengan orang orang yang tidak berguna seperti mereka."
Akia menarik lengan Rio untuk segera meninggalkan tempat itu.Namun baru satu langkah dia berjalan suara tepukan tangan menghentikan langkah keduanya.
Prok prok prok
Marco tertawa dengan suara yang keras membahana. Bahkan suara tawanya sampai terpingkal pingkal, entahlah apa yang membuat pria itu begitu senang.
__ADS_1
"Sungguh pemandangan yang begitu mengesankan. Satunya sahabat satunya berstatus istri, tapi keduanya adalah seorang pengkhianat. Bagaimana bos, sungguh pemandangan yang begitu indah bukan."
Nafar Azriel semakin memburu mendengar perkataan Marco, apalagi dengan jelas dia melihat bagaimana Akia menarik lembut tangan Rio, dan jangan lupakan sikap gadis itu yang begitu mencemaskan Rio dibanding dirinya.
"Rio, aku beri kesempatan untukmu asalkan kau bersedia untuk mengakui pengkhianatan yang sudah kau lakukan padaku. Kemarilah maka aku akan memaafkanmu."
Rio hanya terdiam dengan bibir sedikit terangkat. Namun pria itu tetap bergeming ditempatnya tanpa menuruti perintah Azriel. Melihat itu membuat Azriel semakin merasa geram.
"Diammu membuatku mengerti dengan keputusanmu Yo."
"Maaf Riel, tapi aku memilih untuk berada dipihak istrimu." Suara tegas Rio akhirnya terucap dibibirnya, dengan mata yang terarah tajam tanpa ada rasa takut sedikitpun.
Akia tersenyum sinis, sebenarnya dalam hati gadis itu merasa takut jika dia menjadi sosok istri yang durhaka terhadap suaminya. Tapi apalah daya, hanya ini satu satunya cara untuk membuat suaminya kembali tersadar.
"Jangan bersikap seolah olah kau merasa terkhianati tuan Azriel. Karena sebenarnya justru dirimu sendirilah yang sudah berkhianat pada hatimu. Aku yakin sebenarnya hatimu tidak mengijinkan untuk kau melakukan hal seperti ini. Entah sebab apa yang membuatmu bisa menjadi seperti ini. Aku sendiri juga merasa bingung dengan perubahan drastis sikapmu itu. Kau seperti bukan sosok Azriel yang aku kenal. Bahkan aku juga tidak mengenal sosok Darel didalam hatimu."
Setelah mengatakan hal itu Akia langsung berbalik menuju pintu keluar yang diikuti oleh Rio dibelakangnya. Sementara Azriel hanya diam terpaku dengan tubuh yang terasa kaku.
Darel..kenapa dia bisa mengenal nama panggilanku saat bersama Anzha ?
Azriel masih terbengong dalam lamunannya hingga tanpa dia sadari jika Akia dan Rio sudah pergi menjauh dari ruangan tersebut. Sebuah tepukan membuat alam bawah sadarnya menghilang dan kembali kealam sekarang.
"Siapkan penerbangan kita esok hari Marco. Hubungi markas, kita harus segera pergi keParis." Titahnya dengan mata yang terjurus kedepan, dimana sosok istrinya menghilang. Menatap penuh arti dengan sudut bibirnya yang sedikit terangkat.
TBC
Assalamualaikum....Authornya kena demo, karena sering menggantung. Maafkan aku ya readersku tersayang..🤣🤣🤣 bukan maksud aku..hehehe..
Yuks ah cap cus..jangan lupa tinggalakn jejak ya.
Baca juga karya Author yang lain..Airaku si gadis tangguh.
__ADS_1