Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Rapuh


__ADS_3

"Tuan.."


"Tuan.."


"Tuan Aryan."


Tuan Aryan tersentak saat suara keras membuatnya terkejut, lalu pandangannya beralih pada sosok pria yang berstatus sebagai asistennya.


"Kau mau membunuhku ?" Sentaknya keras.


"Maaf Tuan, tapi saya sudah memanggil anda berulang kali." Jawab Dhafa sembari membungkukkan badannya.


"Hahh...sudahlah." Hela nya pelan. "Ada apa ?"


"Pukul 10 anda mempunyai janji temu dengan Tuan Azriel dari Azr.Corp di ASKZ Resto."


"Maksudmu direstoran milik putriku ?"


"Benar Tuan, dan semua atas rekomendasi beliau." Jawab Dhafa cepat.


"Baiklah persiapkan semuanya, dan jangan lupa ajak Akila juga." Perintah Tuan Aryan.


"Baik Tuan." Jawab Dhafa lalu bersiap keluar dari ruangan Tuannya.


"Dhafa ." Panggil Tuan Aryan pada asistennya.


"Anda membutuhkan sesuatu Tuan ?" Tanya pria itu sembari memandang wajah Tuannya.


Tuan Aryan menghela nafasnya pelan.


"Terima kasih sudah mau menjadi sahabat untuk putriku. Kau pria yang sangat baik, jujur jika ayah mertuaku tidak menjodohkan putriku, aku ingin kau yang menjadi menantuku." Harap pria paruh baya tersebut.


Dhafa tersenyum lebar mendengar keinginan Tuannya.


"Terima kasih atas kepercayaan Tuan, tapi Tuan Azriel juga orang yang sangat baik. Dan saya rasa Nona Muda pasti akan bahagia bersama beliau." Ucap Dhafa.


Saya yakin Tuan Azriel pasti akan bisa membahagiakan Akia Tuan. Saya tahu beliau adalah orang yang selama ini nona cari. Tapi sepertinya Nona tidak mengenalinya, dan itu akan menjadi tugas saya selanjutnya. Gumam Dhafa dalam hati.


"Ya kau benar. Dia juga pria yang baik." Jawab Tuan Aryan.

__ADS_1


"Apakah masih ada yang Tuan butuhkan ?"


"Tidak, kau boleh pergi."


Dhafa keluar dari ruangan bosnya lalu menuju kearah meja Akila. Sesaat pria itu berdiri didepan meja gadis itu yang nampak fokus dengan laptopnya sehingga tidak menyadari kedatangannya. Dhafa mendengus saat gadis itu benar benar acuh dan cuek dengan keberadaannya disana.


"Ekhem !" Deheman keras terdengar guna membuyarkan fokus gadis itu.


"Eh..Tuan..Maaf saya tidak tahu anda sedang berdiri didepan meja sayaaaa...aawww !!." Teriak gadis itu saat ujung dengkulnya kepentok meja saat hendak berdiri karena saking gugupnya dia.


Dhafa menahan senyum kecilnya saat melihat tingkah gugup gadis itu yang terlihat sangat lucu dimatanya.


Eh apa yang kupikirkan, bagaimana bisa aku mengatakan jika gadis ini sangat lucu ? Ada apa denganku ? Tapi ..dia memang lucu sih.


"Persiapkan berkas berkas untuk janji temu dengan Tuan Azriel. Harus siap dalam waktu 10 menit dan segera bawa keruanganku jika sudah siap." Ucapnya datar lalu pergi tanpa memperdulikan wajah syok Akila.


"Tapi..Tuan." Wajah Akila kaget luar biasa.


Sepuluh menit ? Gila pimpinan macam apa dia. Bagaimana bisa aku mempersiapkan berkas nya hanya dalam waktu sesingkat itu ? Dia lebih menyeramkan dari nona Akia. Ck dasar asisten menyebalkan.Umpat Akila dalam hati.


"Jangan mengumpatiku dan cepat kerjakan tugasmu." Ketus Dhafa sembari menoleh pada gadis itu.


Akila cengo, bagaimana bisa Tuannya tahu isi pikirannya. Tanpa berkata lagi gadis itu segera mengerjakan tugasnya dengan wajah yang cemberut.


Mansion keluarga Khanza.


"Kia !!!! Dimana dirimu ? Akia..Yuhuuu." Suara teriakan Chiko and the gengs membuat para art tergopoh gopoh berlarian kearahnya.


Pletak


"Eh, pea bisa nggak sih loe itu kalo dirumah orang sopanan sedikit. Nggak enak tahu sama yang punya rumah. Dasar malu maluin loe." Umpat Arumi sambil menjitak kepala Chiko.


"Hei gadis cantik, jangan asal mukul pala orang, kasian nanti wajah tampan gue jadi lebam, kan kasian nanti cewek cewek pada kabur." Cengir Chiko sembari mengusap usap dahinya yang kena jitakan gadis disebelahnya.


"Aden, nona muda sedang ada di taman belakang." Sapa mbok Inem padaa ketiga orang itu.


"Astaga Mbok, ngagetin aja. Mbok kayak jaelangkung ih, datang tak diundang, pulang tak diantar. Ato jangan jangan mbok emang jaelangkung ya."


Pletak

__ADS_1


"Sakit dodol." Umpat Chiko saat jitakan untuk yang kedua kalinya mendarat di kepala nya. Siapa lagi pelakunya jika bukan Arumi. "Gue cium juga loe lama lama." Kesalnya.


"Emang berani." Tantang Arumi, sementara mbok Inem dan Luna hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum tipis melihat tingkah absurd keduanya.


Dengan cepat Chiko meraih kepala Arumi dan mendaratkan ciumannya dipipi gadis itu, membuat Arumi dan kedua orang disana melotot lebar.


"Sudah." Ucap Chiko dengan wajah puasnya.


Sementara Arumi wajahnya berubah menjadi merah saking malunya. Dengan gerakan cepat gadis itu meninju perut Chiko yang seenaknya saja mencium pipinya.


"Ampun Ar, sumpah deh tenaga loe kuat bener ya, makan apa sih loe. Lagian kenapa loe marah sih, kan loe yang nantangin gue tadi." Teriaknya membela diri.


Arumi hendak membalas ucapan Chiko namun dibatalkan niatnya karena seruan Luna yang sudah merasa kesal melihat tingkah bar bar keduanya.


"Loe berdua bisa diem kagak, mpet gue ngeliatnya. Tujuan kita kesini bukan buat ngeliatin loe berdua berantem, tapi buat jengukin sahabat kita, loe berdua lupa." Teriak Luna membahana diruangan tamu tersebut.


Arumi dan Chiko langsung menoleh dan saling berpandangan. Lalu keduanya langsung tersenyum lebar sambil berangkulan.


"Kita nggak berantem kok, kita cuma bercanda aja, ya nggak." Sahut Arumi sembari menyubit perut Chiko yang spontan membuat pria itu meringis menahan sakit.


"I-iya, kita nggak berantem kok." Balas Chiko dengan wajah merah padam menahan sakit.


Luna mendengus, lalu pergi meninggalkan kedua orang tersebut.


"Lepasin dodol, mau loe gue cium lagi." Desis Chiko pada Arumi.


"Ihh..amit amit dicium sama loe." Arumi bergidik ngeri lalu menyusul langkah Luna yang sudah mendahului Ke taman belakang.


Chiko hanya terdiam mendengar ucapan Arumi. Otaknya masih mencerna arti ucapan Arumi.


"Apa maksudnya..apa gue terlalu menjijikkan gitu. Eh Arumi, enak saja loe bilang amit amit,,wajah gue sangat tampan tau, loe aja yang belum ngerasain ciuman maut gue." Pekik pria itu lalu ikut menyusul langkah kedua sahabatnya yang sudah menghilang dari pandangan matanya.


Langkah ketiganya berhenti tepat di pintu belakang mansion mewah tersebut. Bukan pemandangan taman yang membuat langkah mereka terhenti, namun sosok gadis yang berada disana yang membuat ketiganya tertegun.


Dapat mereka lihat seorang Akia yang biasanya dingin dan datar, kini terlihat sangat rapuh dan hancur. Gadis itu terlihat merenung sendiri dengan wajah yang berurai airmata. Mereka tahu memang kebiasaan Akia dari dulu yang tidak ingin memperlihatkan sisi lemahnya didepan banyak orang. Gadis itu selalu mencari tempat sunyi dan sepi untuk menenangkan hatinya.


Ketiga orang tersebut saling melempar pandangan, lalu serentak memutuskan untuk membatalkan niatnya yang ingin menemui Akia. Karena mereka rasa percuma juga, bukannya menghibur, sudah dipastikan kalo Arumi dan Luna pasti akan ikut bersedih melihat keadaan Akia. Mereka tidak ingin menambah kesedihan gadis itu.


Saat mereka berbalik hendak keluar tanpa disangka mereka berpapasan dengan seseorang yang juga sama ingin bertemu dengan Akia.

__ADS_1


"Kalian..!"


TBC


__ADS_2