Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Apa yang kalian lakukan ?


__ADS_3

Mobil Dhafa sudah sampai didepan gang rumah Aqila, dan Amanda langsung keluar dari mobil setelah Dhafa membuka kuncinya. Sementara setelah Amanda turun dengan segera Dhafa menekan tombol kunci kembali, membuat Aqila mengrenyit heran, lalu kembali terdiam sembari bersidekap.


Gadis itu kemudian menatap datar kearah Dhafa karena pria itu yang tidak kunjung membuka pintu.


"Sampai kapan kamu akan mengurungku disini ? Aku lelah mau cepat istirahat." Ketusnya dengan suara pelan.


"Sampai rasa marah dihatimu hilang sayang."


"Siapa yang marah ?" Ketusnya.


"Kamu." Menatap wajahnya Aqila sembari tersenyum manis. "Aku sayang kamu."


Aqila mencebik, entah kenapa rasa kesal itu kembali lagi.u


"Bukannya kamu bilang mau cari cewek cantik dan seksi, lagipula kan sudah nemu tu si Sinta Sinta anaknya pak Lurah." Ketusnya lagi dengan hati yang kembali panas dan dongkol.


Dhafa mendekat kearah Aqila dan semakin dekat membuat gadis itu memundurkan kepalanya perlahan lahan. Sikap Dhafa sungguh membuat jantungnya kembali berdisco ria.


"Kamu cemburu ?" Tanyanya dengan bibir tersungging.


Aqila gelagapan lalu berpaling demi menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah memerah.


"Siapa bilang, jangan kepedean."


"Oh gitu. syukurlah kalo kamu nggak cemburu. Berarti kan besok aku bisa tenang untuk mendekati si Sinta itu." Jawabnya santai.


"Kamu ! Terserah lah lakukan apa yang kamu mau." Lagi lagi raut wajah Aqila terlihat begitu menyeramkan. " Menyebalkan." Desisnya lagi.


Dhafa semakin melebarkan senyumnya, sungguh dia begitu gemas dengan ego gadis itu yang begitu besar.


Cup


Aqila melotot bersamaan dengan bibir Dhafa yang menjauh namun matanya masih menatap penuh memuja pada Aqila. Dan tanpa sadar gadis itu menyentuh pipinya yang dikecup oleh pria itu.


"Pulanglah ini sudah larut malam, aku akan mengantarmu sampai didepan rumah." Ucap Dhafa lembut.


Melihat gadis pujaan hatinya masih terdiam, Dhafa mengulum senyum tipis sembari menepuk pucuk kepala Aqila.


"Jangan terus berpikir yang tidak penting, aku tidak sungguh sungguh dengan ucapanku tadi. Bagiku kamu adalah wanita yang sangat cantik dan seksi dimataku. Jangankan berpaling sekedar berpikir kearah sana saja aku tidak akan sanggup. Sekarang apa kamu sudah senang ?" Bisiknya sembari menatap wajah cantik didepannya yang perlahan lahan mulai berubah ceria.


"Siapa juga yang berpikir kearah sana, mau kamu selingkuh juga silahkan saja." Ketusnya menyembunyikan rasa gugup Dan juga malu.


"Ya ya ya, wanita memang selalu benar." Gelinya karena gadis itu enggan mengakui kalau dia merasa cemburu.


"Masuklah sayang, salam buat ibu ya. Besok aku akan datang agak siang ketoko. Love you."


Aqila masuk kedalam rumah tanpa menjawab pernyataan cinta Dhafa. Sesaat sampai didalam rumah Aqila langsung menutup pintu lalu menyender dibalik pintu rumah dengan tangan yang memegang dadanya. Detak jantung gadis itu semakin berdisco lebih kencang dengan nafasnya yang tersengal sengal.


Aqila memejamkan kedua matanya meresapi kehangatan yang mengalir disetiap aliran darahnya. Pernyataan cinta Dhafa tadi sukses membuat hatinya berdebar tidak karuan, padahal hampir setiap hari pria itu selalu mengungkapkan perasaan hatinya. Namun sepertinya malam ini Aqila merasakan perasaan yang berbeda dari hari biasanya.

__ADS_1


"Aku juga mencintaimu Dhafa." Bisiknya lirih sembari tersenyum.


Namun senyum itu langsung surut saat gadis itu teringat akan sesuatu. Dengan cepat Aqila masuk kedalam kamar dengan hati yang sudah kembali kesal. Tujuannya hanya satu, siapa lagi jika bukan...


"Amanda..!"


*******


Tiga hari kemudian...


Tengah malam saat waktu menunjukkan pukul 1 dini hari disaat semua sedang terlelap dalam mimpinya. Pipit yang merasa tenggorokannya kering secara perlahan bangun dengan mata yang masih sedikit terpejam. Kebiasaan gadis itu dari dulu adalah suka berjalan dalam keadaan mata masih terpejam.


Pipit yang lupa menyiapkan air minum dikamarnya perlahan turun dari ranjang dan bergerak keluar kamar. Gadis itu kelelahan karena dari siang heboh membersihkan dan juga mempersiapkan kamar Akia karena besok sahabatnya itu sudah diperbolehkan pulang kembali kerumah.


Pipit yang bahagia terus melakukan tugasnya tanpa mengenal lelah, padahal dirumah itu juga banyak asisten rumah tangga yang bisa mengerjakan semuanya, namun sepertinya gadis itu ingin dirinya sendiri yang membersihkan kamar Akia dan juga kamar kedua keponakannya. Mendekornya dan juga menata barang barang disana hingga kini kamar bayi itu terlihat sangat indah.


Pipit terus berjalan hingga sampai didapur, dan segera mengisi botol minumnya. Sesekali mata gadis itu mengerjap karena pandangannya nampak buram.


Setelah selesai gadis itu kembali naik dengan kondisi mata yang masih sangat berat untuk dibuka. Sesekali dia menutup mulutnya yang menguap.


Cklek


Pintu kamar terbuka namun gadis itu sedikit merasa heran, dia ingat sepertinya tadi pintunya tidak dia tutup lalu bagaimana mungkin bisa tertutup. Ah. mungkin saja dia lupa, gadis itu enggan berpikir lagi kemudian masuk kedalam kamar.


Keningnyaa berkerut saat lagi dia merasa heran, aroma kamarnya sedikit berbeda dari biasanya. Jika biasanya lebih ke girly, kenapa sekarang lebih kemaskulin.


"Aku merasa hidungku sepertinya kongslet deh."


Namun gadis itu kembali mengabaikannya lalu segera menaruh botol minumnya diatas nakas. Dia menjatuhkan tubuhnya dikasur yang sangat empuk dengan guling besar yang ada disampingnya.


Dengan gemas dia memeluk erat gulingnya dan semakin menduselkan kepalanya lebih dalam.


"Aku merasa gulingku sangat besar dan hangat. Tapi ini terasa sangat nyaman." Gumamnya lirih.


Pipit semakin mengeratkan pelukannya yang entah kenapa gadis itu merasa begitu sangat nyaman dan damai. Dan dalam sekejap gadis itu kembali berkelana kealam mimpi dengan hati yang damai.


Esok pagi..


Pipit menggeliat dengan tangan yang terbuka lebar. Sungguh tadi malam tidurnya terasa sangat nyenyak, gulingnya begitu membuatnya nyaman dan damai hingga dia sampai bangun kesiangan. Beruntungnya Pipit karena saat ini dia sedang berhalangan.


Eh, ngomong ngomong masalah guling kemana gulingnya yang empuk dan hangat itu. Dengan mengucek ngucek kedua matanya, Pipit perlahan bangun ingin duduk.


Namun sesuatu benda yang berat menindihnya, membuatnya susah beranjak dan merasa sesak. Pipit berusaha menggeser tubuhnya namun sepertinya kekuatan tubuhnya kalah dari guling besarnya.


Pipit perlahan membuka matanya dan mengerjapkan matanya berkali kali berusaha menjernihkan pandangannya.


Apa ini ? Kenapa gulingku terasa berat dan..ini hangat. Eh tunggu ini seperti bukan guling tapi...


Pipit mendongak perlahan dengan jantung yang berdetak kencang, matanya terpejam dan mengintip secara perlahan lahan. Berdoa semoga yang ada dipikirannya tidaklah menjadi kenyataan.

__ADS_1


Pandangan mata itu tertuju pada sebuah benda bidang tanpa baju, dan perlahan naik keatas mendapati sebuah bibir agak tebal namun seksi. Jantung gadis itu semakin berdetak kencang sebelum akhirnya dia berteriak kencang saat sudah sadar siapa guling yang saat ini memeluknya dengan sangat erat.


"Aaaaaa.....!!!!!"


Brak !


"Apa yang kalian lakukan !"


***


Mobil yang ditumpangi Azriel sudah memasuki area perumahan elit tempat dia tinggal. Saat sudah sampai Azriel segera menggendong tubuh istrinya, sementara kedua anaknya sudah dibawa oleh ummi dan mertuanya.


"Kenapa rumah sepi ya mas, dimana Pipit ? Apa belum bangun, tapi tumben kalo belum bangun. Ini sudah pukul 9 loh, tidak biasanya dia seperti itu." Ucap Akia sembari sedikit meringis kecil saat merasa perutnya agak perih.


"Mungkin dia kecapekan Ummi, pak Mun bilang kemaren seharian dia sibuk mempersiapkan kamar untuk baby twins. Apa sakit sekali ? Wajahmu terlihat agak pucat Ummi, apa mau kekamar ?" Tanyanya dengan nada khawatir.


Akia menggeleng sambil tersenyum


" Tidak apa apa Abi, Ummi pengen duduk disini, rasanya bosan tidur terus dikasur."


"Apa kamu yakin ?"


Akia mengangguk lalu mengusap lembut rahang kokoh suaminya.


"Makasih sudah memberikan kasih sayangmu yang begitu besar padaku Abi. Aku sangat beruntung bisa mendapatkanmu disisiku."


"Aku juga sayang." Balasnya lembut lalu mengecup kening istrinya dengan durasi agak lama.


"Baiklah Abi juga akan mencari Rio, pria itu juga sangat menyebalkan. Tidak biasanya dia bersikap seperti ini, dia melupakan perintahku untuk menjemput kita. Lihat saja aku akan memberinya hukuman."


"Jangan terlaku keras padanya Abi."


Azriel tidak menjawab namun hanya tersenyum sembari mengusap pucuk kepala Akia yang terbalut hijab. Pria itu berjalan menuju kearah tangga hendak menuju kamar Rio, sahabat sekaligus asisten pribadinya.


Namun baru satu langkah menginjak anak tangga, dia sudah dikejutkan oleh teriakan suara perempuan dan itu berasal dari lantai atas. Dengan cepat Azriel berlari keatas dan disusul oleh Tuan Aryan dan juga Kyai Ahmad.


"Aaaaaaa...!!"


Azriel mendobrak pintu yang dia sendiri tidak tahu jika pintu itu tidak dikunci, pasalnya pria itu sangat panik karena teriakan tersebut. Namun seketika kedua matanya membelalak sempurna saat melihat pemandangan didepannya.


"Apa yang kalian lakukan !" Teriaknya menyadarkan dua insan didepannya.


Tuan Aryan dan Kyai Ahmad pun sampai dikamar. Dan seketika Kyai Ahmad mengucapkan istighfar dengan kepala yang langsung berbalik.


"Kalian !" Desis Tuan Aryan dengan tatapan penuh arti.


TBC


Hayo apa yang terjadi kira kira ya ? 🤔

__ADS_1


__ADS_2