Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Rasa itu..


__ADS_3

Setelah Akia selesai membaca satu ayat diatas, kini Azriel mulai melangkah kearah podium meraih mikrofon yang diletakkan diatas podium. Bukannya tetap berdiri disana, Azriel justru melangkah mendekat kearah para jamaah lalu duduk disebuah kursi kayu yang ada disana.


"Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh." Salamnya yang langsung dibalas serempak oleh para jamaah.


"Waalaikumussalam wr. wb."


"Alhamdulillah wasyukurillah akhirnya Allah memberi saya kesempatan untuk berada di tempat ini bertemu dengan semua saudara saudara saya dalam keadaan sehat walafiat. Semoga bapak dan ibu sekalian juga selalu diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah ya bu, pak, Aamiin." Ucapnya membuka ceramahnya.


"Subhanallah sama seperti halnya semua orang disini, jujur saya juga ingin mengatakan jika saya juga merasa kagum dengan pembacaan ayat suci Alqur'an yang dibawakan oleh Ustazhah Kia. Baru kali ini saya mendengar alunan merdu seseorang yang begitu menghayati bahkan yang mendengarnya seakan ikut larut terbuai dalam alunan nada yang beliau lafazdkan. Maaf ya Ustazhah Kia, saya jadi ikut mengidolakan anda." Ucapnya sambil melirik kearah Akia dengan disertai senyuman tipis.


Akia yang disebut sebut namanya hanya memasang wajah cuek dan acuh seperti biasa. Berusaha sekuat tenaga menyembunyikan rasa gugup dan malu yang melanda gadis itu.


Pipit dengan senyum jahilnya menyenggol pelan bahu Akiia, membuat gadis itu sontak menoleh padanya. Mendelik tajam saat Pipit malah menampilkan wajah tidak bersalahnya.


"Cie..yang punya penggemar baru, kayaknya cocok deh Sya sama kamu, secara kamunya cantik dan dia tampan. Sungguh pasangan serasi." Godanya lagi yang langsung mendapatkan cubitan kecil di lengannya.


"Sya, kamu kejam sekali sih sama sahabat sendiri." Ketusnya yang tidak di perdulikan oleh Akia.


Ceramah berlangsung sudah hampir satu jam lamanya. Tidak seperti yang sudah sudah kali ini acara tabliq akbar berjalan dengan sukses dan khidmat. Jika biasanya para jamaah nampak terlihat bosan dan bahkan sampai ada yang sampai tertidur.


Kali ini sepertinya untuk pertama kalinya para jamaah begitu antusias mengikuti jalannya ceramah. Entah itu karena pembawaan Azriel yang begitu santai atau karena mereka terlalu terpesona akan ketampanan pria tersebut.


Yang jelas saat ini suara bergemuruh tawa begitu jelas terdengar didalam masjid tersebut. Azriel terlihat begitu lihai dan tenang saat menjalankan tugasnya.


Hingga pada saatnya sesi yang selalu ditunggu tunggu oleh para jamaah, yaitu sesi tanya jawab. Dan siapa sangka jika kali ini pertanyaan dari salah satu jamaah sukses membuat hati kedua orang yang sudah berpisah lama itu kembali terpaut sekali lagi.

__ADS_1


"Ada yang mau bertanya lagi bu, pak ?" Tanya Azriel demgan nada sopan nya.


Salah satu ibu yang berada dipojok ruangan nampak mengangkat jari telunjuknya. Azriel langsung tersenyum sembari menyuruh ibu itu untuk melontarkan pertanyaan padanya.


"Silahkan bu, ingin bertanya apa ?"


Ibu itu nampak mesam mesem menahan malu. Namun karena dorongan penasaran yang begitu tinggi, membuat sang ibu akhirnya berani melontarkan pertanyaannya.


"Ustadz Azriel apa sudah mempunyai pacar ? Jika belum saya punya anak perempuan sholehah, mau nggak ustadz ganteng jadi menantu saya." Tanya ibu itu dengan senyum malu malu yang terukir dibibirnya. Sontak gemuruh tawa para jamaah kembali terdengar didalam masjid itu, tidak terkecuali Kyai Lutfi yang duduk bersama para ustadz lainnya.


Akia melotot sempurna, lalu memandang tajam kearah wanita paruh baya yang melontarkan pertanyaan konyol itu pada Azriel.


Apa apaan pertanyaannya itu, dan lagi kenapa dia hanya diam saja seolah olah dia menyetujui permintaan ibu itu. Menyebalkan sekali. gumam Akia dalam hati.


Sementara itu Azriel yang mendengar permintaan salah satu jamaah nya hanya mengulas senyum tipis. Diliriknya sekilas wajah Akia, walau hanya sebentar, tapi pria itu dapat melihat wajah Akia yang berubah masam.


Sontak para jamaah saling melempar pandangan, bingung dengan ucapan ustadz didepannya. Begitu pula Akia, mendengar jika pria didepannya akan segera menikah, entah kenapa hatinya merasa sesak dan sakit.


"Pada bingung ya..haha..begini bapak ibu, saat ini tulang rusuk saya sedang mengembara jauh dan belum tahu jalan pulang. Itu karena saya belum menempelkan lem di tulang rusuk saya, makanya dia masih bebas berkeliaran kemana mana. Nanti jika sudah waktunya tiba saya akan membeli lem dan menempelkannya biar dia tidak lepas lepas lagi dari tubuh saya."Candanya sambil melirik kearah Akia.


Para jamaah yang mendengar ucapan sang ustadz sontak tertawa bersamaan, tidak menyangka jika seorang ustadz seperti Azriel bisa membuat lelucon yang begitu sukses menghibur para jamaah. Seandainya mereka tahu jika yang di ucapkan Azriel adalah kenyataan, ah seandainya.


Akia yang mendapat lirikan sekilas itu hanya tertunduk dengan wajah yang sudah bersemu merah. Perkataan Azriel selalu sukses membuatnya salah kaprah. Beruntung Pipit yang berada disebelahnya tidak melihat perubahan diwajahnya, kalau tidak sudah dipastikan jika gadis itu akan meledeknya habis habisan.


***

__ADS_1


Hari sudah berganti sore dan sebentar lagi akan menuju petang. Namun gadis itu seakan enggan untuk beranjak pergi dari tempat itu. Seolah kakinya terasa lengket dan sulit untuk digerakkan. Angin sore yang terasa sejuk dan dingin perlahan berhembus membuat ujung gamis dan hijab panjangnya melambai lambai tertiup angin.


Akia masih betah dengan kesendiriannya menatap hamparan luas pematang sawah yang padinya masih nampak hijau, dan sebagian sudah menguning. Entah apa yang dipikirkan gadis itu, berdiri dan merenung sendirian disana.


Setelah acara pengajian selesai, gadis itu dengan cepat pergi meninggalkan masjid itu. Tanpa memberitahukan kepergiannya pada kedua sahabatnya, dan juga tanpa sepengetahuan pria itu tentunya.


Sedari tadi Akia sebenarnya ingin cepat cepat meninggalkan acara itu, namun hatinya tidak enak dengan Kyai Lutfi yang juga berada disana, merasa tidak sopan jika dia pergi sebelum acara selesai.


Sekuat tenaga Akia menahan semua rasa gundah di dalam hatinya. Dan buru buru menyelinap pergi sebelum orang orang menyadari ketidakhadirannya disana.


Aku bingung, sungguh sangat bingung. Semuanya terasa mendadak dan aku tidak siap untuk menerima semua ini. Apa yang harus aku lakukan ? Jika aku pergi lagi aku sudah merasa lelah, dunia begitu sempit, dia pasti akan kembali menemukanku.


Di satu sisi aku senang karena pada akhirnya aku bisa menemukan orang yang selama ini aku cari, tapi di sisi lain kenapa harus dia. Orang yang justru ingin aku lupakan ?


Berapa banyak lagi rahasia yang belum aku ketahui tentangnya ? Dia begitu penuh dengan misteri. Aku tahu masa lalunya yang begitu kelam, aku tahu siapa dia sebenarnya. Waktu 3 tahun cukup untukku mengetahui siapa sosoknya yang sebenarnya.


Akia menghembuskan nafasnya yang terasa berat, lalu mengusap lengannya saat angin yang berhembus terasa dingin dikulitnya.


Dan apa maksud dari ucapannya tadi. Tulang rusuk ? Apa yang dimaksud olehnya itu aku ? Tapi kenapa ? Bukan kah aku sudah menyuruhnya untuk melupakan ku ? Ah Sya apa yang kau pikirkan, jelas jelas dia mengatakan jika dia akan segera menikah, itu artinya dia sudah mempunyai calon pendamping kan. Lalu apa lagi yang kau harapkan ?


Ya Allah aku bingung, entah kenapa aku merasakan sakit dihatiku saat dia berkata jika dia ingin segera menikah. Apa aku menyesal dengan keputusanku dulu yang menolaknya dan menyuruhnya untuk mencari wanita lain.


Tanpa dia sadari air mata nya menetes mengalir pelan dikedua pipinya yang putih. Di keheningan sore gadis itu nampak terisak pelan tanpa satu orang pun yang menemani kesendiriannya. Hati gadis itu begitu rapuh walaupun dari luar tidak nampak sama sekali, karena saking pintarnya Akia menutupi kerapuhan hatinya.


"Sepertinya kau memang senang sekali menghilang dan hidup sendirian ya. Setiap aku menemukanmu kau pasti selalu sendiri dan hanya melamun seperti orang yang tidak mempunyai semangat hidup."

__ADS_1


TBC


__ADS_2