
"Jadi dia adalah.."
"Ya, Jason adalah pemuas nafsu Viona dan juga orang yang sama yang telah membuat aku mengalami kecelakaan waktu perlombaan dulu. Aku tidak menyangka jika saat ini dia sudah bebas dari penjara. Apa kau sudah mengetahui hal ini Fa ?" Tanya Akia pada Dhafa.
"Tidak, papa tidak pernah mengatakan padaku jika Jason dan Viona sudah bebas. Apa memang beliau menyembunyikan hal ini dari kita ? Aku rasa ada sesuatu yang memang papa sembunyikan dari kita semua Sya." Ucap Dhafa tegas.
"Baiklah, nanti kita tanyakan langsung pada papa. Tapi satu hal yang pasti, akan sangat berbahaya jika sampai Marco berhasil bekerja sama dengan Jason. Aku tahu siapa dia sebenarnya. Dia adalah seorang ketua gangster berdarah dingin diwilayah ini."
"Tapi sepertinya yang aku lihat berbeda dari pandanganmu kak." Celetuk Akila dengan mata yang menatap fokus kearah layar.
"Maksudmu Kila ?" Tanya Akia heran.
"Coba perhatikan reaksi dari pria itu." Ucapnya sembari menunjuk kearah Jason. "Pria itu seperti kelihatan sedang marah. Sorot matanya terlihat berbeda sekali, kalo memang dia menyetujui tawaran Marco, pasti raut wajahnya sudah berubah senang bukan ? Mendapatkan rekan untuk bekerja sama membalaskan dendam, tapi sepertinya pria itu tidak seperti itu kak."
Akia kembali menatap pada layar dengan kening berkerut.
"Kau benar Kila, eh tunggu kalian lihat ?Sepertinya Marco memberikan sesuatu pada Jason. Lihatlah raut wajahnya berubah drastis dan lihat dia bahkan menggebrak meja." Seru Akia yang dibenarkan oleh semua orang disana.
"Ada yang tidak beres Sya, mas akan menyelidikinya. Pasti ada sesuatu yang membuat Jason mengikuti perintah Marco." Ucap Azriel dengan aura dinginnya. "Kali ini aku benar benar akan membuatnya menyesali semua perbuatannya. Aku sudah salah memberinya ampunan dulu, kali ini aku pastikan tidak akan pernah melepasnya lagi."
"Aku akan pulang, dan akan ku tanyakan hal ini pada papa. Kalian berhati hatilah, mungkin saja saat ini dia sedang menyuruh seseorang untuk mengawasi kita." Pesan Dhafa pada semua orang disana.
Pria itu bangkit lalu beranjak menuju kearah pintu. Namun sebelum tangannya menyentuh handle pintu, Dhafa membalikkan tubuhnya menatap pada seorang gadis yang nampak acuh.
"Akila mau sampai kapan kau berada disitu ? Pekerjaan kantor sangat banyak, kau digaji bukan untuk berleha leha. Aku tunggu dibawah, jika sampai 5 menit kau tidak muncul, aku akan memotong gajimu 80 % bulan ini." Ancamnya lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju arah parkir mobil.
Akila melongo mendengar ancaman Dhafa, segera tersadar gadis itu langsung membereskan barang barangnya lalu secepat kilat berlari menyusul Dhafa. Gajinya dipotong 80 % yang benar saja, bulan ini dia harus membayar biaya sekolah adiknya.
"Kakak aku pergi dulu. Muuaacchh Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumussalam wr.wb." Jawab Akia dengan wajah cengonya. Namun beberapa detik kemudian gadis itu tertawa terbahak bahak membuat sang suami dan Rio menatap heran padanya.
"Kenapa kau tertawa Sya ?" Tanya Rio.
"Aku ?...hahaha..Ya Allah perutku sampai sakit. Kau lihat pria batu tadi mas, apa dia tidak bisa mencari kata kata manis untuk mengajak bareng Akila. Kenapa harus dengan mengancamnya. Ck dasar pria dingin, tidak romantis sama sekali." Dengusnya kesal tapi dengan bibir yang masih mengurai tawanya.
Kedua pria didekatnya hanya saling pandang lalu menggelengkan kepalanya. Senyuman tipis muncul dibibir Azriel saat mengingat Dhafa yang memang terlihat kaku jika dalam urusan wanita.
***
Beberapa hari setelah pertemuan, mereka kembali melakukan rutinitas seperti biasanya. Dhafa yang semakin sibuk dengan perusahaan yang kini sudah beralih ditangannya, dan begitu juga dengan Azriel, pria itu juga sibuk dengan perusahaannya sendiri dengan sesekali tetap memasang sikap waspada jika sewaktu waktu Marco melancarkan serangannya.
Sementara Akia, setelah mendengar penuturan dari sang papa. Gadis itu mencoba berdamai dengan hati. Memberikan kesempatan pada Viona untuk berubah menjadi lebih baik. Seperti dirinya yang telah diberi kesempatan oleh Allah untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dari sebelumnya.
Papa Aryan mengaku jika dia memang mencabut surat gugatannya pada Viona dan Jason. Mengingat jika ternyata Viona sedang hamil saat didalam penjara, dan ternyata itu adalah anak dari Jason.
Dan uluran tangan Tuan Aryan disambut baik oleh Jason. Pria itu bahkan sampai menangis dan berlutut didepan Tuan Aryan meminta maaf atas semua kesalahan yang dia lakukan dan berjanji akan membimbing Viona menuju jalan kebaikan.
Tuan Aryan memberikan kepercayaannya sekali lagi pada Jason dan Viona. Perusahaan Jason yang dia ambil alih juga dia kembalikan lagi pada pria itu.
Dan Jason membuktikan ucapannya, pria itu benar benar tidak lagi mengusik kehidupan keluarganya. Dari yang papa Aryan dengar Jason menikahi Viona dan kini mereka sudah dianugerahi seorang putri.
Akia masih merenung meresapi perkataan papanya. Saat ini dia sedang ada dijalan menuju ke restoran miliknya. Saat sampai disebuah taman, Akia menghentikan laju mobilnya. Kakinya yang berbalut celana kulot panjang dan atasan tunik sebatas dengkul. Tidak lupa kerudung pasmina bertengger cantik dikepalanya.
Gadis itu melangkah pelan menuju ke sebuah gerobak penjual makanan kecil. Ada berbagai macam makanan pinggir jalan yang berjejer rapi disana. Dan Akia hendak mencoba membeli beberapa makanan untuk para karyawannya. Sembari dia menyisihkan sebagian rezekinya untuk orang orang yang membutuhkan.
Setelah dirasa semua yang dia inginkan sudah tercukupi, gadis itu melenggang pergi menuju mobilnya dengan menenteng beberapa kantong plastik ditangannya. Langkah kakinya diikuti oleh beberapa pasang mata milik para pedagang kaki lima yang hari ini mendapatkan rezeki berlimpah dari gadis itu. Hampir semua pedagang disana tidak ada yang tidak kebagian, karena Akia membeli hampir semua makanan dengan berbagai macam dan jenisnya.
Pedagang disana sangat takjub dan kagum dengan sosok dermawan dari gadis itu. Sayangnya mereka tidak bisa melihat jelas wajah gadis malaikat itu karena wajah Akia yang tertutup oleh masker.
__ADS_1
Akia membuka bagasi mobilnya lalu menaruh semua kantong belanjaannya disana. Saking banyaknya dia memborong jualan pada pedagang, kini bagasinya hampir penuh dengan barang belanjaan gadis itu.
Akia menatap lega, sungguh hatinya merasa nyaman dan damai tiap dia bisa membantu orang yang membutuhkan. Kedamaian yang selama ini dia cari cari, dan itu terletak pada senyuman bahagia orang orang yang menerima uluran tangannya dengan perasaan haru.
Akia menutup bagasi mobilnya, lalu berjalan hendak menuju kearah pintu kemudi. Namun sebelum langkahnya sampai disana, mendadak seseorang tidak sengaja menabrak tubuhnya hingga terhuyung kebelakang.
"Astagfirullah..mbak hati hati jika berjalan. Sikap anda bisa membahayakan orang lain." Tegurnya dengan pelan.
Sosok seseorang yang wajahnya tertutup selendang hitam itu hanya diam. Lalu memberikan sebuah amplop padanya seraya berucap lirih.
"Tolong..tolong selamatkan kami. Kami membutuhkan bantuan mu. Tolong selamatkan suamiku."
Akia termangu dalam diamnya dengan tangan yang memegang amplop cokelat.
Apa maksudnya ?
Akia tersadar dari lamunannya, lalu bergerak hendak mengejar wanita yang sudah berlari menjauh darinya.
"Hei katakan apa maksudmu ?" Serunya dengan teriakan yang keras berharap wanita itu menghentikan langkahnya. Namun wanita itu semakin mempercepat larinya sampai pada akhirnya tubuhnya menghilang dibalik tikungan.
"Apa maksud ucapannya tadi ? Meminta tolong tapi untuk siapa ? Dia bilang..."
Tangannya dengan cepat membuka amplop cokelat ditangannya dan segera melihat isi didalamnya.
Lagi gadis itu terperangah dengan mulut yang membuka lebar.
"Ini.." Viona
TBC
__ADS_1