Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
Hidayah Allah datang begitu indah


__ADS_3

Aku ingin membuatku pantas untukmu


Azriel masih termenung, kata kata yang gadis itu ucapkan berulang kali terngiang di kepala nya. Hanya satu kalimat tapi membuat pria itu merasa berbunga bunga. Seakan dunia dipenuhi oleh bunga yang tengah bermekaran, begitulah gambaran hatinya saat ini.


Astaghfirullah..Gumamnya pelan dalam hati. Mengucap istighfar berkali kali saat tersadar dengan lamunamnya. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. Namun ucapan gadis itu kembali menggema di kepala nya.


Diambilnya ponselnya lalu menatap wajah Akia yang menjadi walpaper di ponsel nya. Tersenyum tipis saat merasakan hatinya yang berdebar kencang walau hanya menatap foto gadis itu.


Sya jika kau memang ingin membuatmu pantas untukku, maka dengan senang hati aku akan selalu menunggu saat saat kau menjadi halal untukku. Walau aku harus menunggumu sampai beribu tahun lamanya, tapi akan tetap aku lakukan. Sesuai janji dan keinginanmu mulai saat ini aku tidak akan menggangumu ataupun menghubungimu.


Azriel teringat perkataan gadis itu beberapa saat lalu sebelum akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan gadis itu disana.


Flashback On


"Pergilah." Ucap Akia lirih sembari menatap wajah Azriel yang terlihat dekat dengan dirinya.


"Berikan aku sebuah alasan kenapa aku harus pergi dari sini. Selama hampir sebulan penuh ini aku tiada henti mencarimu. Aku seakan gila saat aku tidak bisa menemukanmu. Aku akui kau begitu pintar untuk bersembunyi, tapi Allah ternyata masih sayang padaku. Dan setelah akhirnya aku menemukanmu bagaimana bisa aku melepasmu ? Apa kau tidak tahu bagaimana khawatirnya diriku hmm ?" Ucap Azriel panjang lebar, ada kesedihan yang terdengar jelas ditiap kalimatnya.


Akia tertegun, mencoba mencerna apa maksud dari ucapan pria didepannya itu. Wajahnya langsung berubah pucat saat dia sadar dengan maksud perkataan Azriel.


"K-kau..


"Aku mencintaimu Sya. Apa kamu tidak bisa mengerti juga dengan maksud ucapan ku ?"


"A-aku..ca..."


"Jangan pernah ucapkan kata kata itu, karena menurutku itu sangat sakit untuk kudengar. Apapun keadaanmu aku akan tetap menerimamu dengan ikhlas. Tidak ada manusia sempurna dimuka bumi ini, bahkan aku juga bukanlah manusia sempurna seperti yang kamu bayangkan Sya. Ada begitu banyak kekurangan dalam diriku, dan aku akan membuat kita saling melengkapi dengan kekurangan ini. Aku mohon ayo pulang, dan kita bicarakan masalah ini dirumah." Ajaknya pelan dan hati hati.


Akia terdiam lalu menggeleng kepalanya pelan.


"Aku tidak bisa Riel." Ucapnya lirih.


Untuk pertama kalinya gadis itu menyebut nama pria didepannya yang mana membuat Azriel merasa bahagia.


"Kenapa Sya ? Apa yang membuatmu kekeh tidak ingin pulang ?"


"Aku..sedang menjalani terapi disini. Selain itu aku ingin belajar agama disini karena aku.." Ucapnya lirih namun terhenti dengan kepala yang tertunduk.

__ADS_1


Azriel menunggu kata kata lanjutan gadis itu dengan sabar, padahal dalam hatinya pria itu terlihat gemas dengan tingkah laku Akia yang terlihat lucu dan menggemaskan baginya.


"Karena apa Sya ?"


"Ak-aku ingin membuatku pantas untukmu."


Nyusss


Satu kalimat itu membuat hati Azriel seakan habis disiram dengan air es. Dingin dan menyegarkan, bahkan pria itu langsung membeku saat kalimat itu meluncur dari bibir gadis itu. Walaupun dengan nada gugup dan terbata bata, tapi kalimat itu terdengar sangat indah di telinga nya.


Azriel berdehem, mencoba menguasai kembali perasaannya. Pria itu berdiri lalu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya.


"Kau tidak perlu melakukan itu Sya, jika kau ingin belajar, dengan senang hati aku akan membantumu. Kau tidak perlu pergi sejauh ini hanya untuk membuatmu pantas untukku. Sudah aku katakan jika aku menerimamu dengan ikhlas bagaimanapun keadaanmu."


Akia berpaling, mencoba menyembunyikan airmatanya yang sudah mengalir.


"Kau tidak mengerti dengan hatiku Riel. Aku mohon pergilah, maaf aku tidak bisa menerima ajakanmu."


"Aku akan memaksamu pergi Sya. Jika dengan cara halus kau tidak mau menuruti perkataanku, maka dengan berat hati aku akan menggunakan cara kasar untuk membawamu kembali. Sudah cukup kau pergi jauh dan kini saatnya kau untuk kembali pulang." Ucapnya tegas.


"Dan jika kau lakukan itu maka seumur hidupku aku akan terus membencimu. Kenapa kau tidak mau mengerti, tolong jangan membuatku untuk membencimu karena aku tidak sanggup jika selama hidupku aku harus hidup dengan kebencian dihatiku." Teriaknya pada pria didepannya.


Azriel menghela nafasnya yang terlalu berat untuk dia hirup. Seakan ada beban yang begitu besar didalam hatinya.


"Baiklah jika memang itu keinginanmu. Aku tidak akan pernah memaksamu lagi. Mulai saat ini aku tidak akan pernah lagi mengganggu ataupun memghubungimu lagi. Kau juga jangan khawatir, aku tidak akan menempatkan lagi anak buahku untuk mengawasimu. Carilah cara supaya kau bisa menjadi pantas untukku seperti yang kau inginkan. Walaupun sebenarnya aku tidak menginginkan hal itu, karena bagaimanapun juga tidak ada manusia yang sempurna didunia ini. Karena kesempurnaan sejatinya hanya milik Allah. Aku pergi dan jaga dirimu baik baik. Maaf jika aku sudah mengganggu waktumu yang berharga. Assalamualaikum."


Setelah mengatakan hal itu Azriel lalu masuk kedalam mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Akia yang terpaku dan belum sempat untuk membalas ucapan pria itu.


Dengan airmata yang berderai gadis itu menatap mobil yang semakin jauh dari pandangan matanya. Ada perasaan tidak rela saat pria itu meninggalkannya, perlahan gadis itu menyentuh dadanya yang terasa sakit dan nyeri.


Maaf Riel aku harus melakukan ini. Jika memang kita ditakdirkan untuk berjodoh, suatu saat kita pasti akan bersama. Tapi jika tidak aku harap kau bisa menemukan gadis yang lebih baik dariku.


Flashback of


Akia menatap benda yang berada di pangkuannya dengan perasaan yang tidak menentu. Benda yang diberikan oleh Ustazhah Syifa dua hari yang lalu. Ternyata saat dia dan Azriel tengah berdebat, perempuan itu tidak sengaja berada disana dan otomatis mendengar obrolan mereka.


Ustazhah Syifa yang tidak sengaja berada disana sedikit merasa tidak enak karena sudah mencuri dengar perdebatan mereka berdua. Niat perempuan itu awalnya ingin memberikan sesuatu pada Akia, tadinya dia ingin memberikannya waktu pertemuan kemaren, tapi perempuan itu melupakan niatnya karena ada panggilan tugas dari kepala sekolah dipesantren.

__ADS_1


Akia masih mengingat jelas ucapan perempuan itu saat dia memberikan benda tersebut.


Cobalah maka aku yakin kau akan merasa tenang.


Sudah dua hari ini gadis itu mengurung diri dikamarnya setelah pertemuannya dengan Azriel. Perasaan gadis itu terombang ambing antara keinginan dan perasaannya. Merasa bimbang dengan keputusannya. Apakah keputusan yang dia ambil sudah benar atau salah.


Lama gadis itu menatap benda itu, lalu setelah membulatkan tekad dengan perlahan Akia mencobanya. Dengan gugup Akia membuka pintu kamarnya lalu melajukan kursi rodanya menuju keluar rumah. Disana sudah ada Pak Min yang dengan setia menunggunya untuk menjalani terapi.


"Masya Allah neng.." Ucap Pak Min dengan wajah yang bahagia.


"Pak jangan memandang ku seperti itu, Akia merasa malu."


Pak Min tertawa lalu mengusap lembut kepala gadis itu.


"Kenapa harus malu nak, kalau terlihat cantik jika seperti ini. Ayo kita harus segera berangkat, takut panas jika kelamaan disini." Ucap pria paruh baya itu lalu bergerak menuju belakang Akia.


"Dimana abah Umar pak ? Lalu Arfan ?"


"Abah sudah pergi ke sawah, sedangkan Arfan juga sudah pergi kesekolah, tadi bapak sudah mengantarnya."


Akia mengangguk perlahan lalu menurut ketika pria itu mendorong kursi rodanya dengan pelan dan hati hati.


Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah berada di pondok pesantren Daarul Mukminin. Tempat dimana Akia menjalani terapi bersama Ustazhah Syifa. Sama seperti halnya Pak Min, perempuan itu merasa takjub dan bahagia saat melihat gadia itu.


"Masya Allah Sya, Subhanallah..kamu cantik sekali." Ucapnya dengan mata berbinar saat melihat penampilan Akia yang tertutup dengan pakaian gamis dan hijab yang menutupi seluruh tubuhnya.


Perempuan itu bahkan langsung memeluk erat Akia, seakan ia memeluk anaknya sendiri. Tidaklah segan perempuan itu mengecup kepala Akia dengan lembut dan kasih.


Hatinya teramat bahagia dengan perubahan gadis itu. Semakin bahagia saat Akia berucap lirih.


"Kak, tolong bantu aku untuk berubah, aku ingin belajar agama lebih dalam disini. Apa kakak bersedia membantuku ?"


"Masya Allah, Allahu akbar. Tentu saja kakak akan senang hati membantumu." Balasnya dengan hati yang begitu bahagia.


Terima kasih ya Allah Engkau sudah membuka hati Akia dan memberikan hidayahmu yang begitu indah ini padanya. Akan aku jaga selalu kepercayaan yang Engkau berikan pada hambamu ini. Bismillah.


TBC..

__ADS_1


__ADS_2