
Allah sangat baik dengan memberikan kita rasa sakit. Itu supaya kita selalu bersyukur disaat kita merasa sehat. Sayangilah badanmu, dan jangan sia siakan sehatmu.
Maafkan author yang baru bisa up ya..insya Allah jika sudah stabil author akan crazy up. menebus hari kemaren yang tidak bisa up.
Jaga kesehatan, karena sehat itu mahal. Author doakan semoga para sahabat author ini selalu sehat dan diberikan rezeki yang melimpah..
jangan lupa tinggalkan jejak ya..🤗😘
*****
Beberapa hari sebelumnya...
"Halo Vi, apa kau dirumah sayang ? Pergilah kekantor sekarang, ada yang harus aku bicarakan denganmu penting."
Setelah pembicaraannya dengan Marco, Jason langsung secepat kilat menuju kantornya setelah sebelumnya memberitahu istrinya. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Tidak sampai 1 jam lamanya, Jason sudah sampai didepan kantornya yang menjulang tinggi. Perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan minyak itu terlihat sangat kokoh berdiri tegak dihadapannya.
Setelah memberikan kunci mobilnya pada sekurity disana, Jason langsung berlari menuju kearah lift khusus Direktur. Nafas pria itu bahkan nampak tidak teratur, pasalnya dia saat ini merasakan kekhawatiran yang begitu besar.
"Tuan, Nyonya Vi..."
"Dimana dia." Serunya memotong perkataan sekretarisnya.
"Nyonya didalam tuan." Jawab Ina sang sekretaris dengan kepala tertunduk.
Brak
"Papa.." Sambut seorang wanita yang langsung berdiri saat melihat kedatangan suaminya.
Jason langsung berlari dan memeluk erat tubuh istrinya dengan nafas yang memburu. Membuat sang istri sedikit terkejut.
"Pa..ada apa ? Kenapa kamu terlihat sangat khawatir ?" Tanya wanita itu yang ternyata adalah Viona.
Jason melepas pelukannya lalu menangkup kedua pipi istrinya.
"Apa kamu baik baik saja ? Lalu dimana Jessy ?" Tanyanya beruntun.
"Aku baik pa, Putri kita juga baik dia sedang main kerumah temannya. Ada beberapa anak buahmu yang turut menjaganya pa." Jawab wanita itu dengan dahi yang sedikit berkerut.
Jason menarik nafas lega, lalu dia merebahkan tubuhnya disofa yang ada diruangannya. Viona yang masih bingung dengan sikap suaminya, segera menyusul Jason lalu duduk disebelahnya.
"Aku ambilkan minum ya." Tawar nya dengan suara lembut.
Jason menoleh pada wajah Viona yang masih terlihat cantik. Istrinya itu benar benar telah berubah menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya. Jason sungguh merasa sangat bersyukur. Beberapa masalah yang menimpa mereka, membuat keduanya kembali menuju jalan kebaikan.
Pria itu meraih tangan istrinya yang berada di lengan nya, mengusapnya dengan penuh kelembutan. Menganggukkan kepalanya pertanda menyetujui tawaran istrinya, jujur saat ini tenggorokannya terasa sangat kering.
__ADS_1
Wanita itu bangkit berdiri lalu menuju kearah pantry yang memang berada diruangan Jason. Menuang air putih dingin yang ada di lemari pendingin.
Arah pandang mata Jason terus tertuju pada Viona. Senyuman lebar menghiasi bibirnya saat dia mengingat bagaimana besarnya perubahan istrinya selama ini. Jason tahu, pada dasarnya Viona adalah wanita yang baik, hanya saja masalah kondisi keuanganlah yang membuat Viona menghalalkan segala cara demi mendapatkan uang.
Jason meraih gelas yang diberikan Viona, lalu meneguk isinya sekaligus tanpa sisa.
"Sekarang katakan padaku, apa yang membuat papa khawatir seperti ini."
Jason kembali menghela nafasnya yang terasa berat.
"Aku baru saja menemui seseorang, sebenarnya aku sendiri tidak kenal siapa orangnya. Hanya saja entah darimana dia tahu semua masalalu kita. Tentang mu dan juga hubungan kita dengan keluarga Khanza."
Deg
Wajah Viona memucat dengan jantung yang sudah berdetak sangat kencang.
Khanza, itu berarti mas Aryan.
" Kenapa ? Apa kamu masih berharap sama mereka ?" Tanya Jason saat melihat dengan jelas bagaimana raut wajah istrinya yang langsung berubah.
"Apa maksudmu pa ? Kamu yang lebih tahu bagaimana diriku, apa kamu masih meragukan jika istrimu ini benar benar sudah berubah ?" Tanya Viona dengan wajah sedikit masam.
Jason tersenyum, lalu meraih kepala istrinya, mencium kening nya dengan lembut.
"Tidak, aku percaya sepenuhnya denganmu Vio. Aku tahu kau sudah benar benar berubah, dengan sikapmu selama ini yang begitu lembut dan penurut padaku. Itu sudah cukup untuk membuktikan semuanya padaku."
Viona hanya terdiam dengan mata yang sudah berkaca kaca, wanita itu begitu terharu dengan perkataan suaminya. Ucapan Jason benar, lebih indah dicintai daripada memaksakan untuk mencintai seseorang yang belum tentu mencintai kita.
"Aku mencintaimu bang, terima kasih sudah membimbingku selama ini. Selalu sabar menghadapi segala tingkah lakuku yang terkadang membuatmu kecewa. Percayalah, saat ini yang ada dihati dan pikiranku hanyalah kamu dan putri kita. Mas Aryan hanyalah orang dari masa lalu ku. Aku tidak pernah lagi berharap apapun padanya hanya saja..."
Jason masih menunggu kelanjutan cerita istrinya dengan sabar. Menatapnya dengan pandangan penuh arti. Viona menghela nafas panjang.
"Hanya saja aku berpikir kenapa kita harus kembali berurusan dengan keluarga itu. Bukankah selama ini kita selalu menghindari segala permasalahan yang menyangkut keluarga Khanza ?" Tanyanya penuh arti.
Jason mengangguk. "Kau benar sayang, aku selalu berusaha menghindar supaya tidak sampai berhubungan kembali dengan mereka, tapi sepertinya Allah selalu berusaha untuk membuat kita kembali berhubungan dengan Tuan Aryan Vio."
"Maksudmu bang ?" Tanya Viona semakin penasaran.
Jason memijat kepalanya yang terasa sakit.
"Apa kau tahu siapa pria yang sudah aku temui ? Dia Marco, seorang mafia kejam yang tidak berperasaan. Dia tidak mengincar Tuan Aryan, tapi seseorang yang punya hubungan dengan beliau."
"Katakan dengan jelas."
"Dia punya hubungan masalalu dengan Azriel. Apa kamu kenal dengannya ?"
"Azriel ? Tentu saja. Bukankah dia dulu pria yang ingin dijodohkan dengan Akia ?"
__ADS_1
"Bukan hanya dijodohkan, lebih tepatnya mereka sudah menikah kurang lebih 2 bulan yang lalu."
"Menikah ? Mereka sudah menikah ?" Tanya Viona dengan wajah terkejut. Namun tidak urung ada rasa bahagia yang menyelimuti hatinya mendengar kabar itu, dia tahu jika Azriel memang pria yang sangat cocok dengan Akia, mantan anak tirinya itu.
"Ya mereka sudah menikah."
"Lalu apa hubungannya dengan kita bang ?"
"Marco mempunyai dendam yang begitu besar pada Azriel, dia ingin menghabisi orang orang yang mempunyai hubungan dengannya. Tapi dia juga tahu, jika resiko yang dia ambil terlalu besar. Mengingat jika keluarga Khanza adalah keluarga yang mempunyai pengaruh sangat kuat di negeri ini, bahkan pengaruhnya sampai ke berbagai negara. Dan akan sangat sulit menyentuh mereka, mengingat bagaimana para pewaris Khanza adalah orang orang yang kuat dan tangguh.
Seperti halnya Akia dan juga Dhafa. Mereka pewaris yang sangat tangguh dan kuat melebihi Tuan Aryan sendiri."
"Dhafa ? Sahabat Akia ? Apa dia.."
"Seperti dugaanmu, Tuan Aryan mengangkat Dhafa menjadi anaknya dan menyerahkan seluruh kerajaan bisnisnya pada putra angkatnya itu, sementara Tuan Aryan sendiri saat ini tengah vakum dari dunia bisnis. Dia ingin menghabiskan waktunya dengan istrinya yang saat ini sedang mengandung.
Kamu tahu sayang, semenjak Tuan Aryan menyerahkan bisnisnya pada Dhafa, kini pengaruh mereka semakin kuat, mengingat jika sosok Dhafa yang terkenal dingin dan sangat berbahaya dikalangan para pembisnis. Pria itu benar benar mirip seperti sosok Akia yang kejam dan tanpa ampun terhadap lawannya. Maka dari itu Marco membutuhkan seseorang yang juga mempunyai pengaruh kuat diwilayah ini. Dan Itu..."
"Kamu ?" Tebak Viona tepat sasaran.
"Ya, kamu juga tahu siapa aku sebenarnya, seorang ketua gangster diwilayah ini. Tapi sungguh saat ini aku tidak menyangka, jika Marco akan meminta bantuanku."
"Kamu bisa menolaknya bang ?"
"Aku bisa saja menolaknya sayang, bahkan detik itu juga aku bisa menghabisi nya, tapi dia tahu kelemahanku. Hingga kini aku tidak bisa melakukan hal lain selain menuruti keinginannya." Ucapnya lesu.
Viona tercekat, suaminya tidak mungkin menuruti keinginan pria itu.
"Kamu tidak bisa menuruti keinginannya bang ? Bukan kah kita sudah berjanji kalau kita tidak akan lagi mengusik kehidupan mereka bang ? Aku tidak ingin sesuatu terjadi pada kita. Cukup sekali aku merasakan dinginnya jeruji besi bang, sungguh aku tidak ingin lagi kembali kesana. Kamu tahu bagaimana mengerikannya sikap Mas Aryan kan ?"
"Jika aku mampu, aku sudah melakukannya Vio. Tapi dia mengancamku dengan keselamatan putri kita sebagai jaminan nya. Aku bingung apa yang harus aku lakukan ?" Keluh Jason dengan wajah frustasi.
Satu sisi dia tidak ingin kembali berurusan dengan keluarga Khanza, tapi satu sisi lagi keselamatan putrinya terancam, dia sangat menyayangi putrinya. Sungguh saat ini dia merasa sangat dilema.
Tidak,,aku tidak akan membiarkan sesuatu hal terjadi lagi pada keluargaku. Aku harus berbuat sesuatu. Cukup sekali aku melakukan kesalahan, aku juga ingin hidup dengan tenang dan damai, tanpa terusik siapapun. Gumam Viona dalam hati.
Wanita itu mulai berpikir keras sembari melirik suaminya yang terlihat sangat berantakan. Nampak wajahnya yang terlihat sangat kusut dan masam.
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan mas. Aku tahu posisimu sangat sulit saat ini. Kita bahkan tidak bisa meminta bantuan pada teman teman gengmu itu. Tapi lain halnya jika orang itu bisa membantu kita. Aku sangat yakin dengan kekuatan dan keahliannya." Ucap Viona dengan ekspresi wajah yang terlihat sangat yakin.
"Orang itu ? Siapa maksudmu sayang ?"
Viona menatap Jason dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun keyakinan yang begitu besar dapat pria itu lihat dimata istrinya.
"Percaya padaku bang, aku akan menemuinya. Biarkan orang itu menganggap jika aku mengemis bantuannya, tapi aku sangat yakin jika dia mampu melakukan hal itu. Hanya dia satu satunya harapan kita."
"Siapa Vio ?"
__ADS_1
"Akia...mantan anak tiriku. Aku akan menemuinya dan meminta bantuannya." Ucapnya dengan senyum lebar.
TBC