
Keesokan harinya mereka mengadakan pertemuan penting diresto milik Akia. Tadinya mereka berniat untuk membahas tentang Marco di mansion, tapi mengingat mama Syifa yang saat ini sedang mengandung, dan Dokter menyarankan untuk tidak membuat beban pikiran yang bisa berakibat buruk terhadap kandungannya. Maka disinilah mereka, memutuskan untuk membahas rencana yang akan mereka buat tanpa harus mengganggu ketenangan mama Syifa.
Dhafa memandang ketiga orang yang ada didepannya. Ada Azriel, Akia dan juga tidak ketinggalan sang asisten , Rio. Hari ini Papa Aryan tidak bisa ikut dalam pertemuan ini, karena harus menemani sang istri yang masih agak lemah. Beliau hanya berpesan supaya mereka berhati hati.
"Apa semua sudah datang ? Kita bisa mulai pembahasan ini." Ucap Dhafa dengan wajah datarnya.
"Tunggu." Sahut Akia cepat.
"Ada apa ? Apa ada yang sedang kau tunggu." Tanya Dhafa dengan wajah mengrenyit heran.
"Ya,,ada satu orang lagi yang sedang aku tunggu." Jawab Akia dengan santai.
"Kamu menunggu siapa sayang ?" Tanya Azriel dengan wajah herannya. Sama halnya dengan Dhafa pria itu juga merasa heran.
"Nanti kau juga tahu sendiri mas."
Dhafa mencebik, lalu kembali memainkan ponselnya dengan raut wajah datar nya, padahal didalam hatinya pria itu sangat penasaran dengan sosok yang ditunggu oleh Akia.
Drrrtt
Ponsel Akia yang berbunyi membuat semua mata beralih pada benda tipis kepunyaan gadis itu. Dengan santai Akia meraih ponselnya. Senyuman lebar terbit diwajahnya yang cantik saat dia melihat id sang penelpon.
"Assalamualaikum..naiklah keatas nanti ada Dion yang akan membawamu kesini."
Akia menutup panggilan telponnya lalu mengarahkan pandangannya kesemua orang yang saat ini nampak menatapnya dengan penuh tanda tanya.
Akia hanya mengulas senyum tipis lalu kembali ketempat duduknya semula. Hingga suara ketukan pintu membuat semua mata memandang kearah pintu.
"Permisi mbak Kia nona..."
"Suruh masuk yon." Sahut Akia cepat sebelum pria itu menyelesaikan ucapannya.
"Baik mbak."
Tidak lama kemudian muncul seorang gadis cantik yang langsung disambut hangat oleh Akia. Gadis itu bahkan sampai berdiri demi menyambut kedatangan sang tamu.
"Assalamualaikum.."
****
Di suatu Tempat.
__ADS_1
Seorang pria nampak sedang duduk disebuah kursi yang ada di salah satu club malam dikota metropolitan. Sebatang rokok terselip diantara dua jari, sesekali matanya menatap nyalang pada sosok pria didepannya.
"Bagaimana ?"
Brukk
Pria itu melempar sebuah amplop kecil berwarna cokelat didepannya. Dengan seringaian aneh di bibirnya, dia meraih amplop itu lalu membukanya perlahan lahan.
"Bagus kau membuatku puas Black." Serunya pada sosok yang dia panggil Black.
"Terima kasih bos Marco."
Marco, pria itu melambaikan tangannya pertanda menyuruh anak buahnya pergi meninggalkannya. Setelah kepergian Black, Marco menatap satu persatu lembaran foto yang ada ditangannya.
"Mana yang harus aku sapa dulu El ? Istrimu ataukah orangtuamu ? Atau mertuamu ? Hahahha kau harus menentukannya bukan El. Sungguh aku tidak sabar untuk melihat bagaimana kau menangisi keluargamu yang satu persatu pergi meninggalkanmu. Sama seperti aku yang dulu menangisi kepergian Riva."
Sorot matanya berubah sangat tajam dan mengerikan, ada aroma dendam yang begitu besar disana. Pria itu terus menatap wajah pria yang ada di lembaran foto yang dia pegang.
"Kau sudah membuatku kehilangan orang yang aku cintai El, dan kini kau harus merasakan apa yang aku rasakan selama ini. Kau bahkan membuatku harus mendekam dibalik jeruji besi dalam jangka waktu yang sangat lama. Sekarang sudah saatnya aku membalas apa yang sudah kau lakukan selama ini Selamat menikmati detik detik akhir hidupmu yang mengerikan El. Hahahaha."
"Bos."
Salah satu anak buahnya yang dia beri tugas untuk memata matai Azriel nampak datang menghampirinya.
"Bos mereka sepertinya sedang mengadakan pertemuan, saya yakin mereka merencanakan sesuatu."
"Hahahahah...menarik...berita yang sangat menarik. Aku tidak sabar menunggu untuk kita segera bertemu dan bermain bersama El. Pasti sangat menyenangkan ..hahahahaha."
Gelegar tawanya membahana diruangan tersebut, membuat sang anak buah merinding ketakutan mendengar suara tawa yang sangat mengerikan itu. Marco benar benar kehilangan kendali, semenjak kepergian Riva pria berubah menjadi sosok penjahat berdarah dingin.
***
Dhafa menatap wajah gadis didepannya dengan raut muka terkejutnya, bagaimana Akila bisa berada ditempat ini. Mata tajam nya menatap wajah Akila yang nampak tertunduk.
"Kila kau lama sekali kami sudah menunggumu." Sungut Akia dengan tatapan sedikit kesal.
Akila yang ditegur hanya tersenyum simpul, lalu memeluk erat tubuh gadis didepannya.
"Maaf kak, jalanan sedikit macet tadi. Jangan ngambek, nanti cantiknya ilang."
"Sya kenapa dia ada disini ? Dan kau bukannya aku menyuruhmu untuk tetap stand by dikantor ? Beraninya kau pergi tanpa seijin dariku." Ketus Dhafa dengan sorot mata tajam nya.
__ADS_1
"Aku yang memintanya kesini, jadi kau tidak berhak untuk memarahinya. Lagipula aku sudah meminta ijin pada papa untuk meminjam sekretarisnya sebentar." Jawab Akia tidak kalah ketus.
Dhafa mendengus, lalu kembali terdiam. Berdebat dengan Akia hanya akan menguras seluruh energinya, gadis itu selalu pintar membolak balikkan kata katanya.
"Kenapa Kila ada disini sayang ? Kau tahu jika masalah ini akan sangat membahayakan nyawa Kila ? Apa kamu tidak berpikir kearah sana ?" Tanya Azriel dengan nada lembut.
Akia tersenyum lalu menarik lengan Kila untuk duduk disebelahnya.
"Aku tahu mas, justru aku membawa Kila kesini karena kita membutuhkan bantuannya." Jawab Akia santai.
"Bantuannya ? Maksudmu bantuan seperti apa ? Memangnya dia bisa melakukan apa ?" Ketus Dhafa tajam.
Akia mendengus kasar. "Itulah yang tidak kau ketahui tentang Kila. Kau terlalu menutup diri sampai kau tidak tahu kemampuan dari anak buahmu sendiri."
"Apa hebatnya seorang pengkhianat seperti dirinya." Gumam Dhafa pelan tapi sayang Akila mendengar gumaman itu.
Aku bukan seorang pengkhianat Dhafa, kenapa kau selalu mengatakan hal itu. Hatiku selalu sakit tiap kau mengucapkan kata kata itu.
Akia mengambil laptop yang ada didalam tasnya, lalu meletakkan diatas meja. Gadis itu melirik kearah Akila dengan tersenyum lebar.
"Kau bisa memulainya Kila." Perintahnya yang membuat semua orang lagi lagi menatap heran padanya.
Akila mengangguk lalu mulai melakukan tugasnya dengan serius. Matanya menatap fokus kearah layar laptop dengan jari jemarinya yang bergerak lincah diatas keyboard.
Tidak berselang lama, hanya butuh waktu 20 menit gadis itu sudah menyelesaikan perintah Akia. Dengan senyuman lebar gadis itu memberikan hasilnya pada Akia.
"Sudah kak."
Akia menatap pada layar laptop didepannya, senyuman sumringah langsung menghiasi bibirnya.
"Sempurna, kau memang luar biasa Kila. Kakak benar benar bangga padamu. Kau tahu kemampuanmu ini akan sangat membahayakan jika sampai musuh mengetahuinya. Kau harus pandai pandai menyembunyikan bakat mu itu."
Akila mengangguk lalu menyenderkan tubuhnya disandaran sofa. Sementara Akia memperlihatkan hasil kerja keras gadis itu pada Azriel dan semua orang disana.
"Lihatlah mas, dengan ini kita bisa memantau semua gerakan pria itu, tanpa terlewati."
Azriel menatap serius pada layar laptop didepannya. Seketika pria itu terperangah melihat pada beberapa cuplikan video yang tertera dengan sangat jelas disana.
"Sya..ini."
TBC
__ADS_1
Maaf ya authornya gaje..hari ini badan terasa sangat sakit, jadi tidak terlalu bisa fokus pada naskahnya..🙏🙏
Semoga masih bisa mengobati rasa rindu kalian ya..