
"Maaf."
Akia mendongak mencoba menatap wajah tampan suaminya. Keningnya berkerut pertanda bingung dengan ucapan pria didepannya.
"Waktu dirumah sakit, sikapku mungkin membuat hatimu terluka." Tambahnya dengan perasaan bersalah yang begitu besar.
"Tidak apa apa, aku sudah melupakannya." Jawab Akia dingin.
"Aku juga minta maaf karena tidak bisa mengingat tentang kita. Sebenarnya jujur hatiku sedikit ragu saat aku mendengar kenyataan jika kita sudah menikah. Bagaimanapun aku tidak ingin membuat luka dihatimu. Tapi kau harus tahu jika dihatiku hanya ada satu nama seorang gadis. Dan dia adalah..."
"Anzha ?" Ketus Akia memotong ucapan suaminya.
Azriel mengangguk lemah, menatap sendu gadis didepannya.
"Maka dari itu aku memintamu untuk tidak jatuh cinta padaku."
Walau sakit, Akia tetap memasang senyum dibibirnya, membuat hati Azriel semakin teriris melihatnya. Dia sendiri bingung, kenapa saat melihat wajah sedih gadis ini, dia pun ikut merasakan hal yang sama.
"Kau tahu sudah berapa lama kita menikah ?"
Azriel terdiam namun jujur dia menunggu kelanjutan ucapan Akia.
"Hampir 3 bulan kita menikah, jadi silahkan pikir sendiri, bagaimana aku tidak akan jatuh cinta padamu sementara usia pernikahan kita sudah berjalan lumayan lama."
Azriel mematung dengan hati yang berdesir mendengar ucapan gadis itu.
"Jadi kau mencintaiku ?" Tanyanya dengan kening berkerut.
"Sudah selesai, kau bisa berjalan sendiri kekamar."Ucapnya setelah selesai memakaikan baju suaminya. Gadis itu melangkah keluar dengan hati yang sedikit perih. Dia tahu saat ini suaminya berkata seperti itu karena dibawah pengaruh ingatannya, tapi tetap saja hatinya merasa tercubit dan ngilu.
Saat sampai didepan pintu gadis itu berhenti tanpa menoleh kebelakang.
__ADS_1
"Didalam agama tidak ada yang salah jika kita mencintai seseorang apalagi jika kita mencintai suami kita sendiri. Aku mencintai suamiku atas ridho Allah, dan aku yakin jika suatu saat Allah pun akan membawa kembali suamiku padaku." Ucapnya lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan suaminya yang hanya terdiam membisu.
\=\=\=
Malam semakin larut tidak terasa waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Kedua mata cokelat milik pria tampan itu mengerjap bangun. Mungkin karena sudah terbiasa makanya walaupun dalam keadaan hilang ingatan pun tubuhnya bereaksi sendiri.
Azriel menguap dengan kepalanya yang menoleh kekanan dan kekiri. Mencari sosok gadis yang menemaninya tidur. Ya, dia memutuskan untuk tidur satu ranjang dengan Akia, namun posisi mereka saling membelakangi. Namun entah kenapa serasa ada yang hilang saat Akia tidur dengan posisi berbalik membelakangi dirinya.
Pria itu beranjak bangun dari tidurnya melangkah menuju keluar kamar. Langkahnya menuju kearah dapur, saat ini tenggorokannya terasa kering, dan dia ingin mengambil air minum.
Langkahnya terhenti saat melewati sebuah ruangan yang dia yakini adalah ruangan untuk beribadah, sebuah mushola kecil yang memang ada dirumah tersebut. Sayup sayup dia mendengar suara orang mengaji dengan begitu merdunya. Hingga membuatnya tanpa sadar malah berjalan kearah mushola.
Azriel berdiri didepan pintu, kini suara itu terdengar semakin jelas. Nampak seorang gadis dengan balutan mukena putih sedang duduk bersila dengan kitab Alqur'an dipangkuannya. Bibirnya dengan fasih melantunkan surat Ar-Rahman. Tiap bait ayat demi ayat gadis itu lantunkan dengan begitu merdunya.Membuat Azriel terhipnotis dengan suara merdunya.
Namun beberapa detik kemudian pria itu tersadar, mengurungkan niatnya yang hendak masuk kedalam. Tidak ingin ketahuan secepat kilat pria itu berbalik lalu berjalan menuju dapur.
Sementara Akia nampak tersenyum tipis saat melihat bayangan sosok suaminya yang pergi dari mushola. Gadis itu sebenarnya tahu jika Azriel datang kemushola, hanya saja dia pura pura tidak tahu. Dia ingin melihat apa yang akan dilakukan suaminya, hatinya sedikit bahagia saat melihat respon positif dari pria itu walaupun pada akhirnya Azriel membatalkan niatnya.
Aku yakin tidak akan lama kau akan tersadar kembali mas. Aku tidak akan menyerah.
Sementara itu ditempat yang jauh dari khalayak ramai, seorang pria nampak tertawa senang saat mendengar kabar yang dibawa oleh salah satu anak buahnya. Seringaian menyeramkan terliihat jelas diwajahnya.
Marco, pria itu nampak memainkan korek api yang ada ditangannya. Menghidupkannya lalu mematikannya, begitu terus dia mengulanginya berkali kali. Tatapan matanya tertuju pada salah satu anak buahnya yang saat ini berdiri didepannya dengan kepala tertunduk.
"Apa kau yakin dengan yang kau katakan itu ?"
"Yakin bos."
"Kau tahu apa akibatnya jika kau salah membawa informasi bukan."
"Ampun bos." Jawabnya dengan tubuh yang terlihat gemetar. Pria itu bahkan memutar sebuah cuplikan video rekaman dimana didalamnya terlihat sosok Azriel yang saat itu sedang menjalani perawatan dirumah sakit.
__ADS_1
Marco tertawa sangat keras, terlihat sangat puas dengan berita yang dibawa oleh anak buahnya.
"Tidak kusangka dewa keberuntungan berpihak padaku. Niat mendapatkan budaknya kini aku malah mendapatkan rajanya. Huahahahah...El aku sungguh beruntung." Ujarnya dengan tawa yang menggelegar. Dia mengibaskan tangannya menyuruh sang anak buah pergi dari hadapannya.
"El, sungguh tidak kusangka ternyata kecelakaan itu malah membawa keberuntungan padaku. Baiklah kali ini aku akan mengubah niat awalku. Akan aku pastikan jika kali ini rencanaku akan berhasil. Hahahah..ternyata aku tidak perlu repot repot turun tangan El, karena kali ini kau sendiri yang akan melakukannya untukku."
Suara tawa Marco semakin terdengar keras, membuat para anak buahnya bergidik ngeri. Pria itu memanfaatkan keadaan Azriel yang saat ini sedang mengalami hilang ingatan demi mencapai tujuannya. Dia akan membuat Azriel sendiri yang menghabisi seluruh keluarganya, termasuk istrinya sendiri. Dan jika rencananya itu berhasil dia akan menikmati detik detik dimana Azriel merasa terpuruk karena kehilangan keluarga dan orang yang dia cintai.
Membayangkan itu membuuat Marco semakin tidak sabar untuk segera melakukan rencanya. Pria itu memanggil Black, salah satu anak buah kepercayaannya yang selaku siaga kapanpun dia membutuhkan tenaganya.
"Black.." Panggilnya.
Seorang pria nampak lari tergopoh gopoh menuju ruangan bosnya. Nafasnya terengah engah dengan dada yang turun naik.
"Bos.."
"Buat janji pertemuan dengan El..eh tidak maksudku dengan bos El. Kita harus membahas sesuatu yang penting dengannya. Ingat pertemuan ini harus terjadi dan jangan sampai si Rio bedebah itu mengetahuinya. Bagaimanapun caranya kau harus berhasil membuatku bertemu dengannya. Jika kau gagal kau akan mendapatkan hukuman dariku. Kau mengerti !"
"Baik bos."
"Pergilah dan bawakan aku seorang gadis ." Perintahnya dengan seringaian dibibirnya. "Malam ini aku ingin merayakan keberuntunganku. Huahahahah..."
Black segera pergi dari ruangan bosnya dan langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Marco. Dia harus melakukannya dengan segera dan hati hati, karena jika gagal bukan hanya dirinya yang mendapatkan hukuman, tapi sudah pasti seluruh keluarganya yang akan menjadi taruhannya.
Sementara ditempat lain seseorang nampak menyeringai dengan tatapan matanya yang menghunus tajam. Tangannya melepas mikrofon kecil yang menempel ditelinganya.
Aku akan menunggu saat saat kau muncul dan melakukan rencanamu b******k, akupun tidak sabar untuk segera menyambutmu.
TBC
Assalamuakaikum..hai sahabat, maaf yya authir akhir akhir ini sedikit sibuk jadi up nya agak tersendat. Tapi author akan usahhain untuk tetap Up setiap hari.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya.
Marhaban ya ramadhan, dibulan yang suci ini author mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankannya. Dan juga authir ucapkan Minal Aidhin wal faizhin, mohon maaf lahir dan bathin..🙏🙏m