Rindu Suara Azhan

Rindu Suara Azhan
S. 2. Will You Marry Me


__ADS_3

Jika kebanyakan pria diluar sana membawa pasangannya untuk Dinner berdua dengan pasangannya menyewa sebuah restoran mahal ataupun tempat tempat romantis lainnya. Berbeda halnya dengan Dhafa simuka es, ya walaupun akhir akhir ini wajahnya sudah tidak sedingin es kutub selatan tapi tetap saja panggilan itu bak sudah melekat dihati mereka yang memang mengenal pribadi pria tersebut, tanpa terkecuali Aqila sendiri.


Hati gadis itu semakin resah dan bingung, saat mobil yang mereka tumpangi menuju ketempat yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya.


Pantai..


Ya, Dhafa membawa gadis pujaan hatinya itu untuk makan malam berdua dihamparan pasir pantai yang terlihat gelap dan hanya diterangi oleh cahaya bulan dan bintang. Entah apa yang dipikirkan oleh pria tersebut, tentunya ya hanya dia sendiri yang tahu.


"Ayo turun sayang." Ajak Dhafa yang sudah turun terlebih dahulu dan kini menjulurkan tangannya pada sang kekasih yang masih bengong ditempatnya.


"Kamu yakin bawa aku kesini ?" Tanyanya ragu.


"Hmm."


Apa dia salah makan ? Masa iya kepantai pakai gaun begini sih. Tau gitu tadi nggak usah saja ganti baju, kan aneh kepantai kok pakai gaun.


"Ayo sayang, bengongnya nanti saja." Kembali suara pria itu terdengar masuk ditelinga Aqila. Dengan ragu gadis itu akhirnya menerima uluran tangan Dhafa dan turun dari mobil.


"Tunggu."


Aqila menoleh dan menatap heran pada kekasihnya yang sedang membawa selembar kain merah.


"Maaf tapi aku harus menutup matamu sayang."


"Buat apa ?" Tanyanya dengan mata melotot.


"Tidak bisakah kamu menurut saja tanpa banyak bicara ? Kenapa tiap aku suruh kamu itu harus selalu melotot begitu, kayak aku tu mau berbuat macam macam padamu, padahal kan palingan cuma satu macam saja." Godanya jahil.


"Karena memang kamu itu lebih bahaya dari apapun didunia ini." Ketus Aqila yang langsung membuat Dhafa tertawa renyah.


"Aku bahaya soalnya hatimu tidak kuat menerima cintaku yang begitu besar ya sayang." Bisiknya ditelinga Aqila.

__ADS_1


"Apa sih, pede." Elaknya dengan wajah yang sudah memerah, nyatanya yang dikatakan oleh Dhafa memang benar, dia tidak kuat menerima cinta Dhafa yang begitu besar untuknya.


"Sudah bercandanya nanti saja, sekarang ayo ikuti aku dan jangan banyak bertanya." Ucapnya yang langsung menuntun Aqila berjalan disisinya.


Mereka berjalan santai hingga akhirnya sampai ditempat yang mereka tuju.


"Apa sudah sampai ?" Tanya Aqila, karena dia merasa jika langkahnya sudah berhenti.


"Ya, kita sudah sampai, tunggu, aku akan melepaskan ikatan kain dimatamu ini." Bisiknya mesra ditelinga kekasihnya.


Dhafa membuka ikatan kainnya dan dalam sekejap Aqila mengedarkan pandangan matanya. Ekpsresi wajah antara senang, terkejut dan haru menjadi satu membingkai wajahnya yang cantik. Seketika dia berbalik dan menatap wajah kekasihnya.


"Kamu suka ?" Tanyanya dengan suara pelan dan lembut mendayu.


Aqila menganggukkan kepalanya berkali kali, kedua matanya berkaca kaca. Mendapatkan kejutan yang begitu indah dan romantis tentu saja membuat perasaan dan hatinya sangat bahagia.


"Ayo kita kesana." Ajaknya dengan menggandeng mesra tangan Aqila.


Aqila menatap pemandangan didepannya yang nampak tertata rapi dan indah. Sebuah meja lengkap dengan dua kursi. Diatas meja terdapat berbagai makanan dan juga lilin yang ditutup oleh bingkai kaca bulat dan panjang hingga membuatnya tidak akan padam diterpa angin pantai.


Disekelilingnya nampak ada empat pilar besar yang berdiri kokoh dengan hiasan bunga mengelilingi tiap tiap pilar. Ditambah dengan kain putih panjang yang menutupi pilar tersebut seperti sebuah ruangan yang tertutup oleh tirai putih. Dan kain itu nampak melambai lambai dengan begitu indah diterpa angin malam.


Sepanjang jalan mereka dialasi oleh oermadani nerwarna merah dengan kelopak bunga yang berada diatasnya. Dan jangan lupa dikanan kiri jalan ada beberapa pot tinggi dengan bunga mawar segar ditiap potnya dan lilin kecil disepanjang jalan.


Aqila tidak bisa lagi menahan airmatanya untuk keluar dari sarangnya, dengan tangan yang masih ada dalam genggaman tangan besar Dhafa. Gadis itu berhenti dan menatap penuh damba pada sosok pria didepannya ini.


"Aku mencintaimu sangat." Ucapnya yang langsung menghambur masuk kedalam pelukan Dhafa.


Dhafa tersenyum kemudian mengajak sang kekasih menuju meja makan dan mulai menyantap hidangan diatas meja Entah bagaimana cara pria itu mempersiapkan semuanya, yang pasti kejutan ini sukses membuat Aqila berbunga bunga.


Setelah menikmati hidangan Dhafa mengajak Aqila berjalan menyusuri tepi pantai, sesekali ombak kecil menyapu tepi pantai dan mengenai kulit kaki mereka yang tidak mengenakan alas kaki, membuat Aqila berteriak kegirangan.

__ADS_1


Beberapa meter dari tempatnya tadi, mendadak Dhafa menghentikan langkahnya dan menatap wajah kekasihnya dibalik temaramnya cahaya bulan. Walau gelap dia masih bisa melihat wajah cantik Aqila yang terkena sinar cahaya bulan.


Dahi gadis itu berkerut saat melihat tingkah Dhafa yang tiba tiba berjongkok didepannya dengan satu kaki yang menjadi tumpuan tubuhnya yang besar. Dua tangannya menggenggam jemari Aqila dan mengecup punggung tangannya singkat.


Dhafa mendongak menatap penuh cinta wajah gadis yang teramat dia cintai melebihi dirinya sendiri, dan dia akan melakukan apapun untuk membuat gadis dihadapannya ini agar selalu bahagia.


"Aqila, dibawah langit malam dan diatas bumi ini dengan disaksikan oleh angin dan lautan biru, aku ingin meminta sesuatu padamu yang selama ini aku idam idamkan. Sesuatu yang seharusnya sudah lama aku lakukan, namun karena kebodohanku sendiri aku akhirnya sempat kehilangan dirimu disisiku.


Aku tidak akan menceritakan kembali bagaimana awal mula kita bertemu hingga pada akhirnya aku sadar jika selama ini apa yang aku lakukan padamu itu karena aku jatuh cinta padamu dan sialnya aku terlalu gengsi untuk mengakuinya.


Aqila maukah kamu menemani hari hariku hingga aku menua nanti, hidup satu rumah dalam bentuk keluarga dengan anak cucu kita yang berada didalamnya.


Maukah kamu menerima kekuranganku tanpa harus menghilangkan kelebihanku. jika engkau mau maka mulai detik ini, jiwa dan ragaku seutuhnya milikmu. Dan tentunya juga dengan uangku, semua milikmu." Dhafa sempat terkikik geli karena ucapan terakhirnya itu, begitu juga dengan Aqila, gadis itu menahan senyum gelinya, ditengah tengah romantisnya mereka sempat sempatnya pria itu mengucapkan kata kata konyol.


"Aqila, Will You Marry Me."


Tidak ada yang lebih indah jika dibandingkan dengan apa yang ada dihadapannya saat ini, hatinya membuncah penuh haru dan bahagia. Airmata mengalir indah dikedua pipinya.


Sekarang tidak ada keraguan sama sekali dihati Aqila, melihat perubahan dan kesungguhan Dhafa yang dengan usaha kerasnya pada akhirnya mampu merobohkan dinding tebal yang dia pasang. Dan sekarang gadis itu tidak mampu lagi untuk menolak pesona yang Dhafa berikan untuknya.


Dengan hati yang mantap dia mengangguk tegas, membuat pria itu bersorak gembira.


"Yes, I Will."


"Yes !!" Pekiknya dengan menarik tangannya yang terkepal kebawah dengan kuat.


"Love you..love you anymore. Aqilaku."


Aqila menatap wajah bahagia milik Dhafa dengan senyuman manis yang terus membingkai wajah cantiknya. Dia menatap sekeliling dan tersenyum bahagia, dia tidak akan pernah melupakan kenangan ini. Selamanya tempat ini akan dia jadikan kenangan terindah dalam hidupnya, dimana pria yang begitu dia cintai melamarnya dengan disaksikan oleh alam semesta.


TBC

__ADS_1


__ADS_2