
Akila menatap tajam wajah tampan yang saat ini mengurung tubuhnya hingga menempel didinding apartemen. Gadis itu bahkan bisa merasakan hembusan nafas Dhafa yang menerpa pipinya. Walaupun jantungnya berdetak hebat, Akila berusaha untuk mengontrolnya.
"Lepas."
"Tidak sebelum kita menyelesaikan permasalahan diantara kita." Jawab Dhafa kembali dingin.
Akila menatap sinis kearah Dhafa. " Seingat saya kita tidak mempunyai masalah apapun Tuan Dhafa yang terhormat. Atau mungkin anda sendiri yang memang mempunyai masalah." Ketus Akila dengan tetap memasang muka dingin.
Akila masih saja berontak mencoba melepaskan diri dari jeratan pria itu, namun pria itu bukannya melepaskan malah semakin mengeratkan kungkungannya.
"Kamu berubah Akila, aku bahkan tidak mengenal Akila yang sekarang." Dhafa menatap sendu kearah Akila.
Akila terkekeh sinis. "Anda serius tuan Dhafa ? Aku tidak pernah berubah sama sekali, aku masih tetap Akila yang dulu, miskin dan selalu dihina. Hanya satu yang berubah, sifatku. Mungkin selama ini aku belajar banyak dari anda, belajar untuk mengerti bahwa semua pria itu memang brengsek dan egois. Hanya mementingkan diri sendiri tanpa tahu bagaimana perasaan orang lain. Dan untuk itu aku ucapkan terima kasih pada anda karena sudah membuatku sadar."
"Tidak bisakah kamu memaafkan aku Kila ? Dan kembalilah kekantor, maaf atas semua yang pernah aku lakukan padamu."
"Maaf ? Aku bahkan sudah memaafkanmu berkali kali sebelum kamu meminta maaf padaku. Dan kamu selalu saja mengulanginya terus dan terus. Aku punya hati yang kapan saja bisa hancur jika terus menerus disakiti. Aku lelah sungguh aku merasa sangat lelah." Ucapnya dengan suara lirih, namun hanya sekilas, gadis itu kembali menatap tajam kearah Dhafa, tatapan matanya sarat akan luka yang begitu besar.
"Dan tentang tawaranmu barusan, maaf aku sudah tidak tertarik lagi. Silahkan lakukan apapun yang kamu mau, kamu ingin membuatku menjadi pengangguran bukan, lakukan saja. Dan ingat jikapun didunia ini hanya ada satu perusahaan yang memberikan lowongan pekerjaan sekalipun hanya sebagai pemungut sampah akan aku terima asalkan itu bukan perusahaanmu tuan Dhafa." Sarkasnya lalu menyentak kuat tubuh Dhafa hingga pria itu terhuyung kebelakang.
Akila kembali memutar tubuhnya lalu meraih handle pintu.
"Aku mencintaimu Akila, tidakkah kamu merasakannya ?" Teriaknya membuat langkah Akila kembali terhenti.
Akila memejamkan kedua matanya sembari menarik nafas panjang. Kemudian tanpa berpaling gadis itu mengucapkan kata kata yang membuat Dhafa semakin sakit dan larut akan perasaan bersalahnya.
"Bahkan kamu juga tahu kalau aku mencintaimu lebih dari kamu mencintaiku Dhafa. Dan aku selalu ikhlas dan sabar menerima sikap burukmu itu dengan pemikiran karena aku mencintaimu. Tapi ternyata berusaha ikhlas dan sabar tidak cukup membuatmu berhenti melukaiku. Jika memang kamu mencintaiku, kamu pasti akan mempercayaiku seperti aku mempercayaimu Dhafa. Lalu untuk apa rasa cinta itu ada jika dihatimu tidak ada sedikitpun kepercayaanmu yang kamu berikan padaku ? Pernahkah kamu berpikir jika aku terluka karenamu walau hanya sedikit Dhafa."
"Akila..maaf, aku sungguh minta maaf." Ucap Dhafa untuk kesekian kalinya.
Akila menghapus airmatanya kasar lalu segera melangkah cepat keluar dari apartemen Dhafa. Bahkan gadis itu sampai berlari saking takutnya jika Dhafa mengejarnya.
__ADS_1
Sementara itu Dhafa nampak terduduk karena gagal untuk meluluhkan hati Akila. Semua ini salahnya, salah bibirnya yang tidak bisa mengontrol ucapannya. Nyatanya hati dan mulutnya berbanding terbalik. Memang mulutnya berkata pedas, tapi siapa sangka hatinya pun ikut terluka melihat gadis yang dicintainya selalu mengeluarkan airmata dan itu karenanya.
Papanya berkata benar, bahwa kita akan merasakan kehilangan saat orang yang kita cintai meninggalkan kita. Beruntungnya dia, Akila hanya membencinya, tidak seperti papanya yang harus kehilangan Mama Kayla untuk selama lamanya.
Akila terus berlari menjauh dari apartemen Dhafa, hingga dia tidak sempat memperhatikan kondisi jalan. Sebuah mobil mendadak muncul dari arah belakang membuat Akila yang tidak menyadarinya hanya bisa memekik dengan tubuh yang sudah ambruk bersidekap ditanah.
Ckitttt
"Astaghfirullah."
Suara berat milik seseorang didalam mobil yang terlihat sangat terkejut saat tiba tiba ada seseorang yang melintas didepan mobilnya. Beruntung orang itu bisa menguasai laju mobilnya hingga tidak sampai menabrak orang itu.
Dengan wajah paniknya dia turun dari mobilnya lalu memeriksa bagian depan.
Pas disana dia melihat seorang gadis yang berjongkok tepat satu centi dari ujung mobilnya dengan kedua tangan yang berada dikedua sisi telinganya.
Pria itu bernafas lega karena kondisi gadis itu yang tidak terluka. Mungkin hanya merasa syok, untuk itu dia berusaha pelan menyadarkan gadis itu.
"Apa aku sudah mati ? Tapi kok tidak terasa sakit ya. Apa memang begini ya rasanya mati ?" Cicit Akila yang membuat pria itu mengerutkan keningnya heran.
Apa dia mengira jika saat ini dia sudah mati ? lucu sekali.
Sudut bibir pria itu terangkat membentuk sebuah senyuman kecil. Kemudian dia membungkuk lagi untuk menyentuh bahu Akila yang masih menunduk.
"Hei nona, anda baik baik saja. Anda belum mati dan masih didunia."
"Benarkah ?" Tanyanya sambil mendongak menatap sosok pria berbadan tinggi dan tegap didepannya. Hingga wajah cantiknya mampu dilihat oleh pria itu.
"Akila ? Astaghfirullah apa yang terjadi ? Kenapa kamu menyeberang jalan sembarangan. Bagaimana jika kamu tadi benar benar tertabrak ?" Berondong pria itu mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
Akila mengrenyit menatap wajah tampan didepannya yang sepertinya dia kenal. Dan seketika senyum gadis itu terbit saat dia sudah ingat sosok pria didepannya.
__ADS_1
"Tuan Rio ? Maaf tadi saya tidak memperhatikan jalanan." Cicitnya dengan wajah menahan malu.
Rio, pria itu tertawa bahkan tawa yang belum pernah Akila lihat. Karena ada beberapa pria dingin yang ada disekitarnya selain Dhafa, dan pria ini salah satunya. Bahkan dia sempat mendengar jika sosok didepannya ini lebih kejam dan sadis dari Dhafa.
"Jangan bersikap formal padaku, aku bukan bosmu. Panggil saja aku Rio, supaya kita lebih akrab dan tidak canggung."
"B-baiklah Tu-..eh Rio." Gagapnya dengan wajah kikuknya.
"Sudahlah nanti kamu juga bakalan terbiasa. Oh iya ngomong ngomong kamu ngapain ada disini ? Bukankah ini area apartemen milik simuka es Dhafa ?" Tanyanya tanpa sadar jika dirinya pun sama sama si muka es.
"Itu..tadi aku ada urusan dengan Tuan Dhafa." Jawabnya dengan sedikit gugup.
"Oh begitu." Rio manggut manggut. " Trus kenapa kamu pulang sendiri ? Kemana muka es itu ?"
"Tuan Dhafa masih ada pekerjaan Yo, jadi tidak bisa mengantarku pulang."
"Ck dasar muka es, apa salahnya meninggalkan pekerjaannya sebentar. Ya sudah kalau begitu ayo aku antar kamu pulang."
"Nggak usah Yo, aku naik taksi saja." Elaknya halus.
"Kamu yakin ? Dijam segini jarang loh ada taksi lewat, apalagi ini kawasan elite milik Tuan Khanza. Biasanya hanya mobil pribadi yang boleh lewat sini setelah diatas jam 7 malam."
Akila terdiam, nampak gadis itu termenung memikirkan perkataan Rio. Sebelum akhirnya dia menyetujui tawaran Rio.
"Baiklah aku akan ikut denganmu."
Rio tersenyum senang, padahal apa yang dia katakan adalah bohong. Tidak mungkin tidak ada taksi yang lewat dijalan tersebut. Tapi pria itu hanya kasihan, malam malam begini membayangkan seorang Akila sendirian naik taksi, dia takut sesuatu terjadi pada gadis itu. Karena banyak kejadian kasus pemerkosaan terhadap penumpang yang dilakukan oleh sopir sopir taksi.
Keduanya masuk kedalam mobil, dan setelahnya Rio melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju arah rumah Akila. Walaupun arahnya berlawanan dengan tujuannya, belum lagi jarak yang lumayan jauh, namun Rio tidak memperdulikan hal itu, yang penting saat ini dia bisa mengantar Akila sampai rumah dengan selamat.
Tanpa mereka sadari jika dibelakang mereka telah berdiri sosok Dhafa yang hanya menatap sendu melihat keakraban Rio dan gadis pujaan hatinya.
__ADS_1
TBC